Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Fajar Berdarah Dan Era Baru
Langit di atas Kastil Bayangan mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan yang pekat. Matahari sedang bersiap untuk terbenam, menyisakan cahaya terakhir yang memanjang di atas rumput halaman belakang yang luas. Di tengah lapangan itu, sesosok figur berdiri tegak menantang angin malam.
Arion Von Astra
la tidak mengenakan zirah, juga tidak mengenakan jubah kebesarannya. Tubuhnya hanya dibalut kemeja kain tipis yang setengah terbuka, memperlihatkan sisa-sisa perban yang melilit dada dan lengannya. Luka- lukanya memang telah pulih sekitar 70 persen, namun bekas-bekas luka ritual darah itu masih memerah di kulitnya. Meski tanpa perlindungan logam sedikit pun, punggungnya terlihat sekeras karang. Arion menarik napas panjang, lalu melepaskan aura tipisnya.
Hanya sebuah denyutan kecil, namun cukup untuk menggetarkan tanah di bawah kakinya. Ini adalah panggilan sang predator bagi kawanannya.
Dari arah hutan kabut yang mengelilingi kastil, sebuah siluet merah melesat dengan kecepatan gila. Liora muncul, mendarat dengan dentuman halus di samping Arion.
Jubah dan separuh wajahnya bersimbah darah segar-sisa dari pembantaian para assassin Kerajaan yang mencoba mendekat. la tidak berkata apa-apa, hanya berlutut dengan napas yang masih memburu dan senyum haus darah yang belum pudar.
Tak lama kemudian, Hanz melangkah keluar dari pintu belakang kastil. Pria raksasa itu tampak mengerikan; tubuhnya masih membara merah karena baru saja meninggalkan tungku, dan uap asap putih keluar dari pori-pori kulitnya seperti mesin uap yang dipaksa bekerja melampaui batas.
Di tangannya, ia masih memegang palu godam yang mengepulkan panas.
Di belakang mereka, barisan Black Knight mulai bermunculan dari balik bayangan bangunan. Mereka bergerak serentak, tanpa suara, lalu menghujamkan lutut ke tanah di belakang Arion.
Arion perlahan membalikkan tubuhnya. Cahaya jingga dari matahari yang hampir tenggelam membungkus siluet tubuhnya yang masih berbalut perban. Meski fisiknya belum pulih sepenuhnya, dominasi yang ia pancarkan membuat udara di halaman itu terasa membeku. la melangkah tenang, mendekati Liora yang masih berlutut dengan wajah bersimbah darah. Arion berhenti tepat di depan Liora.
la tidak memintanya berdiri dengan kata-kata. Sebaliknya, Arion mengulurkan tangan kakunya, menyentuh lembut dagu Liora dan menuntunnya untuk berdiri.
Jemari Arion yang pucat kemudian bergerak perlahan, mengusap noda darah yang mulai mengering di pipi Liora dengan gerakan yang hampir terasa seperti belaian hangat, namun tetap menyimpan kedinginan.
"Seorang lady tidak boleh membiarkan darah mengotori wajahnya..." bisik Arion pelan.
Liora mengikuti tuntunan tangan Arion, tubuhnya gemetar saat ia berdiri tegak di hadapan tuannya. Ia memejamkan mata, menikmati sapuan ibu jari Arion di wajahnya. Baginya, darah itu adalah persembahan, dan sentuhan Arion adalah restu yang paling ia dambakan selama tujuh tahun ini.
"Maafkan kekacauan ini, Tuan Muda," jawab Liora dengan nada rendah yang penuh pengabdian.
Arion melepaskan sentuhannya tanpa senyum, lalu melanjutkan langkahnya.
la berjalan melewati barisan Black Knight yang menunduk kaku, seolah sedang memeriksa barisan pedang yang siap ia ayunkan. Hingga akhirnya, langkahnya berhenti di depan sosok raksasa yang masih berdiri tegak dengan uap panas yang mengepul dari kulitnya.
Hanz.
Hanz berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Arion dengan mata yang penuh dengan harga diri seorang pengrajin besar. la adalah satu-satunya yang belum menekuk lutut sejak Arion keluar ke halaman.
Arion berdiri tepat di depan dada bidang Hanz. la mendongak sedikit, menatap mata sang penempa. Seketika, pupil mata ungu Arion yang tadinya tenang berubah menjadi vertikal-tajam dan predatoris.
Aura intimidasi yang sangat pekat meledak dari tubuhnya, menekan atmosfer di sekitar mereka hingga rumput di bawah kaki Hanz merunduk rata dengan tanah.
"Apa kau tidak mau menunduk?" ucap Arion dingin dan mengancam.
Mata ungu itu menatap tajam, seolah-olah setiap inci keberadaan Hanz sedang diadili oleh sang predator. Hanz merasakan tekanan yang luar biasa berat menghantam bahunya, sebuah beban yang memaksa jiwanya untuk patuh.
la melihat mata itu-mata persis seperti tujuh tahun lalu yang membuatnya menyerahkan seluruh hidupnya demi sebuah janji kesetiaan. Hanz terkekeh rendah, suara tawanya berat seperti gesekan logam.
"Hah... jadi kau benar- benar sudah mendapatkan taringmu kembali, hah?" Dengan perlahan dan penuh rasa hormat yang tulus, Hanz menekuk satu lututnya yang sekeras baja ke tanah.
Brak!
Tanah di bawahnya retak akibat beban tubuh dan tekanan aura Arion yang tak terbendung.
"Kau menang, Tuan Muda," geram Hanz sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Singa yang galak lebih baik daripada raja yang lemah. Aku tunduk pada kehendak mu." Arion menatap kepala Hanz sejenak sebelum meredam auranya.
la berbalik kembali menghadap matahari yang kini tinggal separuh di cakrawala, meninggalkan para pengikutnya yang kini bersatu dalam kepatuhan mutlak.
Arion berdiri tegak di depan Hanz yang masih berlutut.
Aura intimidasi yang memancar dari mata ungu predatornya perlahan mereda, namun otoritasnya kini terasa jauh lebih absolut.
"Hanz," suara Arion terdengar dingin dan tak terbantahkan.
"Tidak perlu ada dua penguasa di satu kastil..."
Hanz tetap menunduk, merasakan beratnya pernyataan itu.
la sadar bahwa Arion tidak sedang hanya bicara tentang kastil ini, melainkan tentang masa depan Kerajaan yang akan mereka gulingkan.
"Bersiaplah,"
lanjut Arion sambil menatap seluruh pasukannya.
"Setelah semua kembali dari perbatasan, kita akan mengadakan pertemuan. Aku butuh informasi... aku butuh setiap detak jantung musuhku ada di atas mejaku."
Arion mulai melangkah.
Saat melewati Hanz, ia berhenti sejenak dan meletakkan tangannya di pundak kiri sang penempa raksasa itu.
Sentuhan tangannya terasa sedingin es, namun memiliki tekanan yang mantap.
"Dan Hanz... simpan zirah itu. Aku akan memakainya saat aku sudah merasa layak menggunakannya kembali."
Arion berjalan melewati Hanz, menuju barisan Black Knight yang secara otomatis terbelah, menciptakan jalan setapak yang agung bagi tuannya. Di tengah langkahnya, Arion berhenti sejenak, suaranya kembali bergema di halaman yang sunyi itu.
"Hanz, buatkan zirah baru untukku dan seluruh pasukan ini. Zirah hitam yang lama... Itu adalah kejayaan masa laluku yang sudah mati. Kita tidak akan kembali ke sana." Arion melirik jubah-jubah hitam pasukannya yang mulai usang.
"Kita akan memulai era baru. Buatkan zirah yang mencerminkan kegelapan dan kengerian yang akan kita bawa. Hitam dengan aksen ungu yang pekat, warna dari sisa-sisa jiwa yang kita renggut."
Pernyataan itu membuat para ksatria yang berlutut merasakan gairah baru. Ini bukan lagi tentang memulihkan kehormatan Pangeran yang terbuang, tapi tentang membangun kekaisaran bayangan yang akan melumat segalanya.
"Era Black Knight yang lama telah berakhir malam ini," pungkas Arion tanpa menoleh lagi.
"Besok, dunia tidak akan melihat kembalinya seorang Pangeran... mereka akan melihat lahirnya Prahara yang akan menelan matahari mereka." Arion terus berjalan masuk ke dalam kegelapan kastil, meninggalkan pasukannya yang kini memiliki tujuan baru yang lebih mengerikan.