Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.
Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.
Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
"Orion, aku tidak pernah belajar tentang pembangkit listrik dan produksi teknologi di Kolonial, jadi, apa setiap barang produksi yang di ciptakan kolonial memiliki daya tenaga sendiri.?"
[Tentu ada Komando. semua barang seperti cincin, earphones dan semua barang lainnya yang menghubungkan komunikasi antar satelit dan barang yang bisa aktif, memiliki daya plasma antariksa sendiri. Tergantung kebutuhan barang itu sendiri, tapi kebanyakan barang produksi seperti itu, hanya di gunakan untuk keperluan militer, dan untuk tempat tinggal kolonial masih membutuhkan baterai plasma untuk menyalurkan energi ke rumah atau gedung]
"Ehm, begitu ya, aku paham. Pantas saja, semua kapal induk maupun kapal perang tidak pernah mati daya energinya. Baiklah, kalau begitu Orion, aku gunakan baterai plasma saja untuk membangun pemukiman."
[Confirm. Batrei sudah siap di ruang navigasi.]
"Kalau begitu, Orion kita pindah ketempat lebih rendah, scan sketsa ku ini, dan mulai di kerjakan sekarang. Tempatnya sesuai titik, jangan merusak alam, apalagi merusak air terjun ini."
[Confirm. Menghubungkan kesemua robot pekerja, Confirm. Memberikan perintah sesuai sketsa, Confirm.]
WONG. Sekitar 50 robot keluar dari Atlas dan terbang menuju tempat yang sudah di tentukan oleh Rudy. Dan 1 robot produksi serba guna di terbangkan kesana.
Masing-masing robot memiliki tugasnya, ada yang mencari bahan baku, ada yang membentuknya, dan ada yang memasangnya.
"Orion, berapa lama pembangunan selesai.?"
[Dengan sketsa yang Komando miliki, pembangunan ini termasuk skala terkecil dan hanya membutuhkan waktu 1 hari saja]
"Baiklah kalau begitu, besok waktunya pergi ke kota."
....
Pagi hari pun tiba.
Rudy bersiap untuk berangkat kedalam kota, ia menggunakan pakaian seadanya, dan membawa beberapa keping emas yang sudah di cetak sendiri.
"Persiapan selesai, waktunya berangkat."
Belum juga keluar kapal, Rachel sudah terdeteksi mendekati Atlas.
"Rachel.?"
Rudy pun langsung bergegas keluar dan menemuinya. Ia menunggu di depan hutan, tempat Rachel biasanya keluar.
Lalu, Rachel pun muncul disana. "Kenapa kau kemari.?"
"Rudy?"
"Apa kau meninggalkan pekerjaan seorang kaisar.?" tanya Rudy.
"Aku sudah menyelesaikan semua dokumen, tidak ada dokumen lagi yang harus di periksa. Jadi aku keluar kesini."
"Ah begitu ya. Hari ini aku berencana pergi ke kota, kau bisa menunggu disini."
"Ke kota.? untuk apa kau kesana.? apa ada sesuatu yang menarik perhatian mu.?"
"Ya mau bagaimana lagi, aku tidak pernah berjalan di tengah kota yang berdiri di atas bumi, apalagi pada era tahun 220. Aku hanya ingin berjalan-jalan aja."
"Apa kota disana begitu menarik perhatian mu.? Aku rasa kau akan kecewa saat berada disana."
"Aku hanya ingin melihat saja." sahut Rudy dan langsung berjalan melewati Rachel.
"Tunggu."
"Apa apa lagi.?"
"A, aku ikut, aku ikut kesana." sahut Rachel dengan malu.
"Ehm, apa tidak masalah seorang Ratu berjalan di luar istana.? apalagi tanpa pengawal."
Rachel pun mengangkat jarinya. "Aku punya pengawal disini"
"Hm, baiklah. kita pergi."
....
Beberapa saat kemudian, mereka berdua berjalan di tengah kota dan melihat banyak sekali kedai di sana.
di setiap jalan, banyak pedagang kaki lima yang membuka kios.
"Woo, begini ya kota para era tahun 220. Benar-benar ramai."
"Kota ini, setidaknya menampung sekitar 400rb sampai 450rb penduduk. Jalanan disini sangat banyak, dan pemukiman nya sangat luas. Aku mengajakmu ke sini karena hanya tempat ini yang ramai. Selebihnya hanya pemukiman biasa, tempat penginapan dan restoran."
"Begitu ya, Luas juga ternyata. Kau juga mengenali kotamu dengan baik."
"Aku sering berkeliling sendirian di kota ini, bahkan aku pernah bermain petak umpet dengan prajurit Kekaisaran di seluruh kota."
"Ha.?"
"Meskipun dulu sempat tersesat, tapi lama kelamaan aku hafal dengan jalannya."
"Tidak bisa di pikirkan, bermain petak umpet di seluruh kota."
"Kalau tidak begitu, bagaimana bisa aku menemukan tempat rahasia mu.? bahkan aku bisa menghilang tanpa ketahuan prajurit keamanan." kata Rachel tersenyum.
Rudy pun melihatnya, Wajah Rachel sangat berbeda dari sebelumnya. Lebih ceria, sering tersenyum, dan sangat berbeda dengan sikap dinginnya dulu.
"Lihat, disana adalah restoran, disana ada toko buku, disana ada toko herbal. Di pusat jajanan kota ada disini."
Rudy hanya tersenyum melihat versi Rachel seperti itu.
"Sayangnya, disini tidak ada penjual roti yang sangat mirip dengan punyamu."
"Itu tidak mungkin ada, butuh mesin untuk memproduksinya."
"Mesin.?"
"Ya seperti Axiom. yang bekerja sendiri setelah program perintah di tanamkan."
"Ehm, aku tidak tau apa yang kau bicarakan, dari awal kita bertemu sampai sekarang, aku benar-benar tidak paham maksudmu. Apalagi kau memiliki rumah besar dengan bentuk aneh, dan barang-barang aneh lainya, Aku juga merasa heran dengan barang yang tiba-tiba mengeluarkan cahaya, apalagi cahaya warna warni. Sampai sekarang pun, aku hanya terkejut dan mencobanya saja setiap kali kau mengeluarkan benda aneh lagi."
"Aku tau maksudmu, hanya saja ada ketimpangan waktu yang sangat jauh, jadi sulit menjelaskannya. Tapi kau tenang saja, asal kau memahami cara yang aku jelaskan, itu sudah cukup."
"Sejujurnya aku tidak paham sama sekali, hanya mengikuti intruksi mu saja. Saat aku memakai alat komunikasi yang kau berikan, dan Axiom sebagai pelindung ku, aku hanya mengikuti arahanmu saja."
"Apa kau tidak merasa curiga, atau aneh padaku.?"
"Kau memang sangat aneh, dan aku memang sudah curiga dari awal padamu, tapi pikiran dan hatiku sudah lama terguncang. Mungkin kau benar, kalau aku sudah gila, mangkanya aku bisa menerima hal aneh yang kau tunjukan."
"Hm, kau memang agak stress. Hahaha."
"Stress.? kau mengeluarkan kata aneh lagi. Aku tidak paham."
"Ya, tidak masalah kau tidak mengerti maksudku. Asalkan kau percaya padaku, bahkan hal mustahil sekalipun bisa aku lakukan. Seperti membelah lautan, menghancurkan gunung, melubangi bumi, bagimu itu adalah hal yang sangat mustahil kan.? tapi bagiku, itu adalah hal yang wajar."
"Sebenernya, siapa yang gila.?"
"Hahaha. sudahlah"
....
Beberapa saat kemuan, mereka berdua pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah restoran pinggir jalan.
"Ini daging panggang nya." kata pelayan restoran.
"Terima kasih" sahut Rachel.
"Aku heran, kenapa orang-orang disini tidak ada yang mengenalimu.?" tanya Rudy
"Aku tidak pernah menunjukkan wajahku ke publik saat menjadi kaisar. Dan pada umumnya, seorang kaisar tidak pernah keluar dari istana, sekalipun keluar, pengawalan nya sangat ketat. Jadi meskipun kau berteriak aku adalah kaisar Andorra, kau akan jadi bahan tertawaan."
"Begitu ya. Apa kau suka jadi kaisar.?" tanya Rudy
Rachel pun langsung membeku seketika. Wajahnya kebingungan dan terkejut.
"Ada apa.? kau tidak suka ya.? bukankah menjadi kaisar bisa mengendalikan segalanya.? memiliki kekayaan tak terbatas, dan berdiri di atas puncak sosial."
"Hm, kau bisa bicara sesukamu, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Bagiku, menjadi kaisar adalah kutukan."
....