Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang yang Menimbang Jiwa
Gedung itu berdiri seperti kesimpulan yang belum selesai.
Kaca-kaca tinggi memantulkan langit pagi yang pucat, dan langkah-langkah orang yang datang terdengar lebih pelan dari biasanya—seolah setiap orang menyadari bahwa hari ini, kata-kata akan ditimbang lebih berat daripada bukti.
Carmela melangkah masuk tanpa pengawalan berlebihan. Setelan yang ia kenakan sederhana, rapi, tidak mencolok. Tidak ada simbol yang meminta simpati. Di sampingnya, Matteo berjalan setengah langkah di belakang—bukan karena hierarki, melainkan karena kesepakatan diam yang mereka buat semalam: hari ini, Carmela berdiri di depan.
Ruang sidang terbuka. Kamera dipasang. Kursi-kursi terisi. Wajah-wajah netral menunggu dengan kesabaran yang terlatih.
Ketika palu diketuk, udara berubah.
Ketua sidang membuka dengan pernyataan singkat—tentang tujuan, tentang keterbukaan, tentang kepentingan publik. Nada formal, kata-kata dingin. Setelah itu, pertanyaan pertama datang seperti pengukur suhu.
“Apakah Anda merasa konflik kepentingan hadir dalam keputusan-keputusan Anda belakangan ini?”
Carmela menatap lurus. “Konflik kepentingan selalu mungkin. Itulah sebabnya sistem dibuat—untuk mendeteksi dan mengelolanya, bukan menyangkal keberadaannya.”
“Apakah Anda mengungkapkannya?”
“Ya.”
“Secara lengkap?”
“Secara relevan,” jawab Carmela. “Keterbukaan tanpa konteks bisa sama berbahayanya dengan penutupan.”
Beberapa anggota sidang mencatat. Yang lain menunggu.
Pertanyaan bergeser ke Matteo.
“Apakah Anda pernah memengaruhi keputusan yang diambil oleh Carmela?”
Matteo berdiri. “Tidak.”
“Apakah Anda pernah mencoba?”
Matteo tidak tergesa. “Saya pernah mengemukakan pendapat. Saya tidak pernah meminta keputusan.”
“Dan perbedaan antara keduanya?”
Matteo menatap penanya. “Yang satu menghormati batas. Yang lain melanggarnya.”
Ruangan hening sesaat. Jawaban itu sederhana—dan sulit dipatahkan.
Lalu pertanyaan yang ditunggu-tunggu datang, dibungkus nada netral yang hampir ramah.
“Jika diminta memilih antara posisi Anda dan hubungan personal Anda, apa yang akan Anda lakukan?”
Carmela berdiri sebelum mikrofon didekatkan. Ia tidak meminta waktu. Ia tidak meminta klarifikasi.
“Saya tidak akan menerima pertanyaan itu,” katanya.
Gelombang kecil bergerak di ruangan.
“Alasannya?” tanya ketua sidang.
“Karena pertanyaan itu memaksa pengorbanan palsu,” jawab Carmela. “Seolah integritas hanya bisa dibuktikan dengan kehilangan. Padahal integritas sejati adalah menjaga batas tanpa menghancurkan yang lain.”
Kamera menangkap wajah-wajah yang terkejut—bukan karena pembangkangan, melainkan karena ketepatan.
“Namun,” lanjut Carmela, suaranya tenang, “jika yang Anda maksud adalah apakah saya bersedia mundur jika terbukti melanggar—jawabannya: ya. Tanpa syarat.”
Ruangan kembali diam. Itu bukan jawaban yang mereka harapkan—dan justru karena itu, mengikat.
Satu anggota sidang yang sejak awal diam akhirnya berbicara.
“Banyak yang menilai Anda terlalu berani. Transparansi Anda dianggap risiko.”
Carmela mengangguk. “Transparansi selalu risiko. Tapi ketertutupan yang rapi adalah risiko yang lebih mahal.”
“Apakah Anda tidak takut?” tanyanya.
Carmela menoleh sebentar ke Matteo—sekilas, cukup. “Takut. Tapi takut bukan alasan untuk berhenti.”
Matteo merasakan sesuatu mengendur di dadanya. Bukan lega—kepercayaan.
Sidang berlanjut dengan detail teknis, tabel, dan kronologi. Carmela menjawab tanpa berputar. Matteo mengakui tanpa berlebih. Tidak ada dramatisasi. Tidak ada penyangkalan emosional.
Lalu, di tengah alur yang nyaris mekanis, ketua sidang menghentikan sesi.
“Kami akan meminta satu pernyataan penutup.”
Semua mata kembali ke Carmela.
Ia berdiri. Tidak membawa catatan.
“Saya tidak datang untuk meminta keringanan,” katanya. “Saya datang untuk menunjukkan cara saya bekerja. Jika cara itu tidak sesuai dengan standar Anda—katakan. Jika sesuai—biarkan ia diuji oleh waktu.”
Ia berhenti sejenak. “Saya percaya kepercayaan publik tidak dibangun oleh kesempurnaan, melainkan oleh konsistensi saat diawasi.”
Kalimat itu tidak meninggi. Tidak pula ditutup dengan retorika. Ia selesai.
Waktu tunggu terasa panjang.
Mereka duduk di ruang kecil di belakang sidang. Tidak ada kamera. Tidak ada pertanyaan. Hanya dua gelas air dan jam yang berdetak terlalu keras.
“Apapun hasilnya,” kata Matteo pelan, “aku bersamamu.”
Carmela tersenyum tipis. “Aku tahu.”
Ia memejamkan mata sejenak—bukan untuk berdoa, melainkan untuk mengingat: mengingat siapa dirinya sebelum semua ini, dan mengapa ia memilih tetap berdiri.
Pintu terbuka.
Keputusan dibacakan tanpa basa-basi.
Tidak ada sanksi. Tidak ada pengangkatan. Pengawasan diperketat. Batasan dipertegas. Rekomendasi dibuat—teknis, ketat, jelas.
“Ini bukan pembebasan,” kata ketua sidang. “Ini kepercayaan bersyarat.”
Carmela mengangguk. “Saya menerimanya.”
Matteo menghela napas pelan. Ia tahu arti kata-kata itu: ruang bernapas, bukan kemenangan.
Di luar gedung, sorotan kamera menunggu. Pertanyaan datang cepat.
“Apakah Anda puas?”
Carmela berhenti. “Saya bertanggung jawab.”
“Apakah hubungan Anda akan berubah?”
“Tidak,” jawab Carmela. “Kami sudah berubah—ke arah yang lebih jujur.”
Matteo berdiri di sampingnya, tidak berbicara. Ia tahu hari ini bukan miliknya.
Malam itu, vila kembali sunyi.
Tidak ada perayaan. Tidak ada kelelahan yang dirayakan. Hanya makan malam sederhana dan keheningan yang nyaman.
“Ruang itu mencoba menimbang jiwamu,” kata Matteo.
Carmela mengangguk. “Dan aku memilih tidak mengurangi beratnya.”
Matteo tersenyum kecil. “Itu pilihan yang berani.”
“Tidak,” balas Carmela. “Itu pilihan yang setia.”
Mereka duduk lama, membiarkan hari itu mengendap. Di luar, hujan turun tipis—membersihkan debu tanpa ribut.
Saat hendak tidur, ponsel Carmela bergetar.
Satu pesan, tanpa nama pengirim.
Ujian berikutnya tidak akan di ruang terbuka. Bersiaplah.
Carmela menutup layar. Ia menatap Matteo.
“Ini belum selesai,” katanya.
Matteo menggenggam tangannya. “Aku tahu.”
Carmela menghela napas. “Kali ini, mereka akan menyerang dari dalam.”
Matteo mengangguk. “Dan kita akan menutup celahnya.”
Lampu dimatikan. Malam menyelimuti vila—bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai ruang tenang sebelum langkah berikutnya.