"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Perjamuan Terakhir dan Hilangnya Sang Bayang
Bulan-bulan berlalu dengan sandiwara yang tertata sangat rapi. Berkat bantuan Jake, Achell berhasil menyelesaikan ujian akhirnya melalui program khusus di rumah sakit dan apartemen rahasia. Victor? Pria itu tetap dibiarkan dalam kegelapan. Jake hanya memberikan informasi bahwa Achell "masih trauma dan butuh waktu sendiri", sementara Sophie dan Julian menjadi benteng kokoh yang menolak setiap kedatangan Victor di sekolah.
Hari yang dinanti pun tiba. Hari kelulusan St. Jude’s Academy.
Gedung aula sekolah dihiasi dengan bunga-bunga lili putih. Victor datang lebih awal, mengenakan setelan jas terbaiknya. Ia membawa sebuah kotak perhiasan berisi kalung berlian murni—bukan zamrud seperti milik Clara—sebagai permohonan maaf yang sudah ia siapkan berbulan-bulan. Ia yakin, di hari bahagia ini, Achell akan luluh dan kembali ke pelukannya.
"Di mana dia, Jake?" tanya Victor saat melihat Jake berdiri di lobi dengan setelan formal yang sangat rapi.
"Dia ada di ruang rias. Dia tidak ingin diganggu sampai namanya dipanggil ke panggung," jawab Jake datar. Ia melirik arlojinya. "Kau duduklah di barisan belakang, Victor. Dia bilang dia gugup jika melihatmu di barisan depan."
Victor mengangguk patuh—sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Ia duduk di barisan paling belakang, matanya tak lepas dari panggung.
Satu per satu nama dipanggil. Hingga akhirnya...
"Lulusan terbaik dengan predikat Summa Cum Laude, Gabriella Rachel De Alfa!"
Achell muncul. Ia tampak sangat cantik dan bercahaya dalam jubah kelulusannya. Tidak ada lagi raut kesedihan; yang ada hanyalah ketenangan yang mematikan. Ia menerima ijazahnya, membungkuk ke arah penonton, dan sesaat, matanya bertemu dengan mata Victor di kejauhan. Achell memberikan sebuah senyum tipis—senyuman perpisahan yang tidak disadari oleh Victor.
Setelah upacara selesai, aula menjadi sangat ricuh dengan kerumunan orang tua dan siswa. Victor segera berdiri, meraba kotak perhiasan di sakunya, dan mencoba menerobos kerumunan untuk menemui Achell.
"Achell! Gabriella!" panggil Victor.
Namun, langkahnya terhalang oleh Sophie dan Julian yang tiba-tiba berdiri di depannya, pura-pura sibuk berfoto dan menghalangi jalan.
"Oh, Tuan Edward! Maaf, kami tidak melihat Anda," ucap Sophie dengan nada yang sengaja dibuat-buat. "Selamat ya, Achell tadi sangat luar biasa, kan?"
"Minggir, Sophie. Aku harus menemuinya," desis Victor.
"Sebentar, Tuan, biarkan kami lewat dulu!" Julian menimpali sambil membawa tumpukan buku yang besar, sengaja menyenggol bahu Victor agar pria itu tertahan.
Hanya butuh waktu tiga menit bagi Victor untuk melewati mereka, namun tiga menit itu sudah cukup bagi Achell. Saat Victor sampai di tempat Achell berdiri tadi, gadis itu sudah menghilang. Yang tertinggal hanyalah sebuah amplop putih di atas kursi kayu yang tadi diduduki Achell.
Victor menyambar amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya bukan surat panjang penuh air mata seperti dulu. Hanya ada satu lembar kertas kecil dan sebuah kunci.
"Kunci mansionmu, Uncle. Terima kasih untuk sepuluh tahun ini. Aku sudah melunasi 'hutang' hidupku dengan rasa sakit di aspal malam itu. Jangan mencariku. Karena saat kau membaca ini, aku sudah berada di atas awan, mengejar mimpi yang pernah kau dan orang tuaku kubur hidup-hidup."
— Gabriella Rachel.
Victor lari keluar aula seperti orang gila. Ia melihat mobil Jake meluncur keluar dari gerbang sekolah. Ia segera masuk ke mobilnya dan mengejar dengan kecepatan tinggi. Ia mengikuti mobil itu sampai ke Bandara Heathrow.
"ACHELL!" teriak Victor saat ia sampai di terminal keberangkatan internasional.
Ia melihat Jake berdiri di sana, sendirian, sambil memasukkan tangan ke saku celana. Tidak ada Achell. Tidak ada koper.
"Di mana dia, Jake?! Di mana Achell?!" Victor mencengkeram kerah baju sahabatnya itu dengan mata yang merah padam.
Jake melepaskan tangan Victor dengan tenang, lalu menunjuk ke arah papan pengumuman keberangkatan. Di sana tertera status: Flight to Zurich - Departed.
"Dia sudah pergi, Victor. Ke tempat di mana tidak ada yang menuduhnya pencuri. Ke tempat di mana dia tidak perlu menjadi 'gadis kecil berbau susu' untuk mendapatkan perhatianmu," ucap Jake dengan nada puas.
"Kau... kau membantunya pergi?" Victor merosot, berlutut di tengah keramaian bandara yang bising.
"Aku hanya mengembalikan sayapnya yang kau patahkan," balas Jake. "Selamat ulang tahun yang terlambat, Vic. Ini adalah hadiah sesungguhnya dari Achell: Kebebasannya dari dirimu."
Victor menatap langit melalui jendela kaca raksasa bandara. Sebuah pesawat baru saja lepas landas, membelah awan London yang kelabu. Ia menggenggam kotak berlian yang kini tak berguna lagi. Sanksi terberat bagi pria yang memuja kendali adalah menyadari bahwa ia baru saja kehilangan kendali atas satu-satunya hati yang tulus mencintainya.
Achell pergi, dan ia tidak meninggalkan alamat, nomor telepon, atau jalan pulang.