NovelToon NovelToon
SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

SANDIWARA ISTRI YANG TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istana yang Menjadi Penjara

​Mobil sedan hitam milik Dimas perlahan memasuki halaman rumah yang sangat kukenal. Rumah bergaya kolonial modern ini adalah peninggalan paling berharga dari Ayah dan Ibu. Dindingnya yang putih bersih tertutup tanaman rambat yang terawat, dan taman kecil di depan teras masih menyisakan harum bunga sedap malam yang kusukai. Namun, entah mengapa, saat aku melangkah masuk melewati pintu jati besar itu, perasaan yang kurasakan bukan lagi kehangatan, melainkan sebuah kecanggungan yang menyesakkan.

​Aku kini bukan lagi Larasati, si gadis pemilik rumah ini. Aku adalah istri Dimas. Dan di dalam benakku yang tradisional, ada sebuah bisikan yang terus menghantuiku: Setelah menikah, rumah ini bukan lagi wilayahku sepenuhnya. Aku harus tunduk pada imamku.

​"Laras? Kenapa melamun di depan pintu?" suara Dimas memecah lamunanku. Ia meletakkan kunci mobil di atas meja konsol dan merangkul pinggangku dengan posesif.

​"Ah, tidak apa-apa, Mas. Hanya... rasanya aneh kembali ke sini dengan status yang berbeda," jawabku sambil mencoba tersenyum, meski kakiku masih terasa sedikit berat untuk melangkah. Rasa oleng di kepalaku memang sudah berkurang dibanding di rumah sakit tadi, tapi kelelahan yang luar biasa masih menggelayuti tubuhku.

​Dimas membimbingku duduk di sofa ruang tamu yang empuk. Ia berlutut di depanku, lalu melepaskan sepatu tumit tinggi yang kukenakan dengan sangat lembut. Perlakuan manisnya selalu berhasil membuatku merasa seperti ratu, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.

​"Mas... aku merasa tidak enak. Rumah ini milik orang tuaku, tapi sekarang kamu tinggal di sini bersamaku. Bukankah seharusnya seorang istri mengikuti suaminya? Aku merasa... aku tidak pantas lagi bersantai-santai di sini seperti saat aku masih lajang," ucapku jujur.

​Dimas mendongak, menatapku dengan mata teduhnya yang memikat. "Laras, sayangku. Bukankah kita sudah sepakat? Untuk sementara kita tinggal di sini agar kamu tidak perlu beradaptasi terlalu keras di lingkungan baru. Lagipula, aku sudah berjanji pada Paman untuk menjaga aset ini, bukan? Jangan berpikir kamu tidak pantas. Justru sekarang, kamu harus mulai belajar menjadi istri yang sepenuhnya fokus pada rumah tangga."

​Aku mengangguk pelan. "Mungkin kamu benar. Tapi aku merasa harus mulai melakukan sesuatu. Aku ingin mulai menulis lagi, menyelesaikan draf novelku yang tertunda—"

​"Tidak, Laras," potong Dimas cepat. Suaranya masih lembut, tapi nadanya tidak menerima bantahan. "Lihat kondisimu. Kamu tadi hampir pingsan di rumah sakit. Menulis itu menguras pikiran dan saraf. Aku tidak mau kamu kelelahan lagi. Untuk saat ini, aku ingin kamu berhenti menulis. Biarkan aku yang bekerja mencari nafkah. Tugasmu hanya satu: istirahat dan pastikan tubuhmu kembali sehat."

​"Tapi Mas, menulis adalah duniaku..."

​"Duniamu sekarang adalah aku, Laras," Dimas menggenggam tanganku erat, sedikit terlalu erat hingga aku merasa sedikit perih. "Bukankah kamu sendiri yang bilang ingin menjadi istri yang berbakti? Istri yang berbakti adalah istri yang mendengar saran suaminya demi kebaikannya sendiri."

​Aku terdiam. Kalimatnya terasa seperti kebenaran yang mutlak, namun di sudut hatiku yang terdalam, ada rasa sesak yang mulai tumbuh. Aku merasa sayapku sedang dipatahkan secara perlahan dengan alasan kasih sayang.

​Dimas kemudian merogoh saku jasnya, mengeluarkan botol vitamin tak berlabel yang sama seperti semalam. Ia mengambil segelas air dari meja dan menyodorkannya kepadaku bersama sebutir pil putih.

​"Ayo, minum lagi vitaminmu. Dokter bilang ini harus diminum rutin agar sarafmu tidak tegang. Aku tidak mau melihatmu oleng lagi seperti tadi pagi," ucapnya dengan senyum yang sangat manis—terlalu manis hingga terasa seperti madu yang menyembunyikan racun.

​Aku menatap pil itu dengan ragu. Ada firasat yang meneriakiku untuk menolak, namun tatapan Dimas seolah mengunci logikaku. Aku tidak ingin dianggap sebagai istri yang membangkang di hari pertama kami menempati rumah ini sebagai suami istri. Akhirnya, aku menerima pil itu dan menelannya.

​"Pintar. Sekarang, pergilah ke kamar di atas. Istirahatlah. Aku harus memeriksa beberapa dokumen kantor di ruang kerja bawah," Dimas mengecup keningku, lalu membantuku berdiri.

​Aku berjalan menaiki tangga kayu menuju lantai dua dengan langkah yang terasa semakin berat setiap detiknya. Kepalaku mulai berdenyut lagi. Aku menoleh ke bawah, melihat Dimas yang sedang berdiri di ruang tamu, menatap ke arahku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Ia tidak lagi tersenyum. Wajahnya datar, dingin, dan tampak asing.

​Sesampainya di kamar, aku merebahkan diri di atas ranjang. Mataku menatap langit-langit kamar yang dulu terasa sangat nyaman, namun kini terasa seperti sedang menghimpitku. Aku merasa asing di rumahku sendiri. Aku merasa tidak pantas lagi memiliki kehendak atas hidupku sendiri.

​Kenapa tubuhku terasa semakin lemah setiap kali aku meminum vitamin itu? tanyaku dalam hati.

​Aku mencoba meraih laptopku yang tergeletak di meja samping tempat tidur, ingin sekadar membuka draf tulisanku untuk mencari ketenangan. Namun, tanganku mendadak mati rasa. Jemariku kaku, sulit untuk digerakkan seolah-olah saraf-sarafnya sedang tertidur paksa.

​Dalam kegelapan yang mulai menyergap kesadaranku karena pengaruh obat, aku mendengar suara pintu ruang kerja di bawah tertutup dan terkunci. Aku sendirian di lantai atas, terpenjara di dalam istana peninggalan orang tuaku sendiri. Aku tertidur dengan air mata yang mengalir tanpa kusadari, meratapi kebebasanku yang perlahan-lahan sirna di tangan pria yang kupanggil imam.

​Aku tidak tahu bahwa di bawah sana, Dimas tidak sedang memeriksa dokumen kantor. Ia sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang, membicarakan tentang aset rumah ini dan tentang betapa "patuhnya" istrinya saat ini. Malam itu, di rumah yang seharusnya menjadi tempat teramanku, aku justru sedang diantarkan menuju jurang kelumpuhan yang akan mengubah hidupku menjadi neraka.

1
Anonim
PADAHAL KAU BISA MENJALIN KONTRAK DENGAN IBLIS DIAVLO LARAS
kozci
PENASARAN BANGET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!