NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Parasit di Dapur Mewah

​​"Ini apa?"

​Elena menatap mangkuk di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di dalam mangkuk porselen mahal itu, terdapat gumpalan bubur berwarna abu-abu yang sudah dingin, dengan taburan bawang goreng yang terlihat layu dan menyedihkan.

​Bu Suti, kepala pelayan yang sudah bekerja di rumah ini selama lima tahun, tersenyum manis. Senyum yang tidak mencapai mata. 

Wanita paruh baya itu berdiri dengan tangan terlipat di depan perut, sikap tubuhnya santai, terlalu santai untuk seorang bawahan yang sedang melayani majikan.

​"Itu oatmeal sehat, Bu," jawab Bu Suti dengan nada bicara seperti sedang membujuk anak kecil yang rewel. "Ibu kan bilang minggu lalu mau diet ketat supaya Pak Kairo melirik Ibu lagi. Jadi saya buatkan yang tawar, tanpa gula, tanpa susu. Sayang kalau masak baru terus dibuang-buang, kan? Bahan makanan mahal, Bu."

​Elena mengangkat sendok perak di tangannya, mengaduk pelan gumpalan itu. Teksturnya lengket dan keras. Ini bukan oatmeal baru matang. Ini sisa kemarin yang dipanaskan ulang di microwave sampai kering.

​"Sayang uang belanja, ya?" ulang Elena pelan. Dia meletakkan sendok itu kembali ke meja dengan bunyi denting yang tajam. "Bu Suti, kalau tidak salah ingat, jatah uang belanja dapur bulan ini lima puluh juta rupiah. Benar begitu?"

​Wajah Bu Suti sedikit berubah, tapi dia cepat-cepat menutupinya dengan tawa kecil yang meremehkan. "Ah, Ibu ini. Ibu kan tidak pernah urus dapur. Harga barang di pasar sekarang naik semua, Bu. Cabai mahal, daging mahal. Lima puluh juta itu pas-pasan buat makan satu rumah. Belum lagi buat makan satpam, tukang kebun, sopir. Ibu harusnya bersyukur saya bisa atur supaya cukup."

​Elena memiringkan kepalanya. "Lima puluh juta untuk makan lima orang staf dan dua majikan yang jarang di rumah? Warung Padang di depan kompleks saja omzetnya tidak sampai segitu buat kasih makan satu kelurahan."

​Bu Suti mulai terlihat tersinggung. Nada suaranya meninggi. "Maksud Ibu apa? Ibu menuduh saya korupsi? Saya ini sudah ikut Pak Kairo dari sebelum nikah sama Ibu, lho! Bapak saja tidak pernah komplain masakan saya. Kok Ibu yang biasanya cuma tahu beres tiba-tiba cerewet begini?"

​Elena berdiri dari kursi makan. Dia tidak menyentuh bubur menyedihkan itu sama sekali.

​"Saya tidak menuduh. Saya sedang melakukan audit fisik," kata Elena datar. "Minggir. Saya mau lihat kulkas."

​Bu Suti langsung panik. Dia bergeser menghalangi jalan menuju dapur bersih. "Eh, Bu! Dapur itu kotor, berminyak. Nanti baju Ibu bau. Biar Mina saja yang ambilkan kalau Ibu mau buah. Jangan masuk ke sana, Bu!"

​"Mina!" panggil Elena lantang tanpa mempedulikan ocehan Bu Suti.

​Mina, pelayan muda yang kemarin membantunya jualan live, muncul dari balik pintu dengan wajah takut-takut.

​"Ya, Bu?"

​"Pegang Bu Suti. Jangan biarkan dia keluar dari ruang makan ini."

​Mina melongo. "Hah? Sa... saya pegang Bu Suti?"

​"Lakukan atau kamu saya pecat sekarang juga," ancam Elena dingin.

​Mina yang takut kehilangan pekerjaan langsung memberanikan diri memegang lengan Bu Suti. "Maaf ya, Bu Suti... sebentar saja..."

​"Lepas! Apa-apan kamu, Mina! Kurang ajar!" Bu Suti meronta, tapi Elena sudah berjalan cepat melewati mereka menuju area dapur dan gudang penyimpanan (pantry).

​Elena membuka pintu kulkas dua pintu yang besar itu. Kosong. Hanya ada beberapa botol air mineral, sisa sayuran layu di laci bawah, dan telur yang tinggal dua butir.

​Dia beralih ke freezer. Seharusnya di sana ada stok daging. Berdasarkan laporan kartu kredit yang dia baca semalam, ada transaksi senilai sepuluh juta rupiah di supermarket daging premium dua hari lalu.

​Elena membuka laci freezer.

​Kosong. Hanya ada es batu dan sosis curah murahan.

​"Hebat," gumam Elena sinis. "Wagyu grade A5 berubah jadi sosis ayam seribuan. Sihir macam apa ini?"

​Dia membuka lemari penyimpanan kering. Beras premium yang harusnya ada lima karung, tinggal setengah karung. Minyak zaitun impor hilang. Cokelat batangan mahal hilang. Bahkan gula pasir pun nyaris habis.

​Rumah ini cangkang kosong. Luarnya mewah, dapurnya seperti rumah kosong yang ditinggal penghuni setahun.

​Elena kembali ke ruang makan dengan langkah lebar. Bu Suti sedang memarahi Mina, tangannya menunjuk-nunjuk muka pelayan muda itu.

​"Kau lihat tas besar di dekat pintu belakang itu?" tanya Elena pada Mina, mengabaikan amukan Bu Suti.

​Mina mengangguk cepat. "Iya, Bu. Itu tas Bu Suti. Katanya hari ini mau cuti pulang kampung, anaknya sunatan."

​"Ambil tasnya. Bawa ke sini. Sekarang."

​Wajah Bu Suti memucat seketika. Warna darah seolah tersedot habis dari wajahnya yang tadi merah padam karena marah.

​"Jangan!" jerit Bu Suti. Dia mencoba lari mengejar Mina, tapi Elena dengan sigap menghalangi jalannya. 

Tubuh Elena memang masih lemah, tapi tatapannya cukup untuk membekukan nyali orang.

​"Kenapa panik, Bu Suti? Cuma tas baju kotor, kan?" tanya Elena santai, bersedekap dada.

​"Itu privasi saya! Ibu tidak berhak geledah barang pribadi saya! Ini pelanggaran HAM! Saya lapor Pak Kairo nanti kalau Ibu semena-mena sama orang kecil!" Bu Suti berteriak histeris, air mata buaya mulai keluar. "Mentang-mentang orang kaya, bisa seenaknya injak-injak harga diri pembantu!"

​Mina datang menyeret sebuah tas travel besar yang terlihat sangat berat. Resletingnya bahkan terlihat tegang saking penuhnya isi tas itu.

​"Berat sekali, Bu Suti. Bawa baju atau bawa batu bata?" sindir Elena.

​"Jangan dibuka! Itu pakaian dalam saya! Malu!" Bu Suti mencoba menyambar tas itu.

​Elena menendang tas itu menjauh, lalu berjongkok. Tanpa ragu, dia menarik resleting tas itu dengan kasar sampai terbuka lebar.

​Brukk.

​Isi tas itu tumpah ruah ke lantai marmer yang mengkilap.

​Bukan pakaian dalam. Bukan baju ganti.

​Tiga balok daging sapi wagyu yang masih beku. Lima botol minyak zaitun. Dua toples selai impor. Satu botol wine mahal tahun 2010 milik Kairo. Dan tumpukan deterjen, sabun cuci piring, sampai pewangi pakaian jatah bulanan rumah.

​Keheningan melanda ruang makan itu. Mina menutup mulutnya kaget. Bu Suti mematung dengan wajah pucat pasi.

​Elena mengambil sebotol wine itu. Dia memutarnya pelan, membaca labelnya.

​"Bu Suti, saya tidak tahu kalau anak ibu yang mau sunatan itu seleranya wine Prancis seharga tiga puluh juta," kata Elena dingin. 

"Dan daging ini... sepuluh kilo? Mau buka katering atau mau kasih makan satu kampung pakai uang belanja saya?"

​Bu Suti gemetar. Kakinya lemas. Dia tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai, bersujud di kaki Elena. Tangisannya kali ini terdengar lebih putus asa.

​"Bu... Bu Sora... ampun, Bu! Itu... itu saya cuma ambil sisa! Ya, sisa! Daging itu sudah mau kadaluarsa, daripada dibuang kan mubazir saya bawa pulang. Wine itu juga... botolnya sudah berdebu, saya pikir sudah tidak diminum Bapak. Saya tidak mencuri, Bu! Saya cuma menyelamatkan barang!"

​"Menyelamatkan barang ke dalam tas pribadi?" Elena tertawa kecil. Tawa yang mengerikan. "Alasanmu lebih buruk daripada rasa bubur tadi."

​Elena berdiri, mundur selangkah agar tidak tersentuh tangan Bu Suti yang kotor. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

​"Mina panggil satpam, Bu?" tanya Mina ragu.

​"Tidak," jawab Elena singkat sambil menekan tombol panggil di layar ponsel. "Satpam di sini lembek. Mereka pasti sudah disogok wanita ini dengan rokok atau makanan curian juga."

​"Lalu Ibu telepon siapa? Pak Kairo?"

​"Polisi," jawab Elena tegas.

​Mata Bu Suti melotot sampai hampir keluar. "Polisi?! Jangan, Bu! Demi Allah jangan polisi! Saya punya anak kecil! Saya janda! Tolong kasihan sama saya, Bu! Potong saja gaji saya, tapi jangan penjarakan saya!"

​"Halo, Polsek Metro? Selamat pagi. Saya mau melaporkan tindak pidana pencurian di kediaman Bapak Kairo Diwantara. Pelakunya tertangkap tangan dengan barang bukti senilai kurang lebih lima puluh juta rupiah. Ya, saya tunggu. Alamatnya di..."

​Elena menyebutkan alamat dengan lancar, mengabaikan raungan Bu Suti yang makin menjadi-jadi. Wanita itu meraung-raung, memaki Elena dengan sebutan istri durhaka, istri gila, sampai wanita mandul.

​Elena hanya berdiri tegak, menatap jam dinding.

​"Simpan tenagamu buat menangis di sel, Bu Suti. Di sana tidak ada oatmeal, tapi setidaknya gratis."

​Lima belas menit kemudian.

​Sirine mobil patroli terdengar meraung memasuki halaman rumah mewah itu. Dua orang petugas polisi berseragam cokelat masuk dengan tegap. Mereka tidak butuh waktu lama untuk memahami situasi. Barang bukti berserakan di lantai, pelaku menangis histeris di pojok.

​"Bawa dia, Pak," kata Elena sambil menyerahkan botol wine sebagai bukti utama. "Saya akan menyusul ke kantor polisi nanti siang untuk BAP."

​Saat polisi sedang memborgol tangan Bu Suti dan menyeretnya keluar, sebuah mobil sedan hitam berhenti mendadak di depan pintu utama.

​Kairo turun dari mobil. Dia baru saja pulang dari lari pagi di taman kompleks—kebiasaan rutinnya. Dia memakai baju olahraga yang basah oleh keringat, earphone nirkabel masih menggantung di leher.

​Kairo terkejut melihat mobil polisi parkir di depan rumahnya. Lebih kaget lagi saat melihat kepala pelayan kepercayaannya, Bu Suti, diseret keluar dengan tangan di borgol.

​"Lepaskan saya! Saya tidak salah! Nyonya itu yang gila!" teriak Bu Suti saat melewati Kairo. "Pak Kairo! Tolong saya, Pak! Istri Bapak memfitnah saya! Dia mau mengusir semua orang lama Bapak!"

​Kairo menahan lengan salah satu polisi. "Tunggu. Ada apa ini?"

​Polisi itu memberi hormat sedikit. "Maaf, Pak. Kami menerima laporan pencurian dari pemilik rumah. Tersangka tertangkap tangan membawa kabur aset senilai puluhan juta."

​Kairo menatap Bu Suti, lalu menatap tas besar yang dibawa polisi lain sebagai barang bukti. Dia melihat botol wine favoritnya menyembul dari sana.

​Rahang Kairo mengeras. Dia menatap ke arah pintu rumah.

​Di sana, Elena berdiri bersandar di kusen pintu sambil memegang cangkir kopi panas yang baru diseduh Mina. Dia terlihat sangat tenang, kontras dengan kekacauan di depannya.

​Kairo melepaskan lengan polisi itu, membiarkan mereka membawa Bu Suti yang terus berteriak.

​Dia berjalan menaiki tangga teras, berhenti tepat di depan Elena. Napasnya masih sedikit memburu sisa lari pagi, bercampur dengan kebingungan.

​"Kau memanggil polisi?" tanya Kairo. "Kenapa tidak lapor aku dulu?"

​Elena menyesap kopinya pelan, menikmati aroma arabika yang harum. Dia menatap Kairo dari balik uap panas cangkirnya.

​"Kalau lapor kamu, paling cuma dikasih pesangon lalu disuruh pergi. Kamu terlalu sibuk urus perusahaan sampai tidak sadar rumahmu digerogoti tikus," jawab Elena santai.

​"Bu Suti sudah kerja lima tahun," kata Kairo, masih mencoba mencerna situasi. "Dia yang mengurusku waktu kau sibuk belanja."

​"Dan selama lima tahun itu dia mencuri pelan-pelan," potong Elena. Dia menunjuk ke arah mobil polisi yang mulai menjauh. "Gula, beras, daging, wine. Dia bahkan memalsukan laporan belanja. Kamu menggaji maling untuk meracunimu dengan makanan sisa, Kairo."

​Elena berbalik badan, hendak masuk kembali ke dalam rumah.

​"Tunggu," panggil Kairo. Suaranya tidak lagi membentak seperti kemarin malam, tapi lebih ke arah heran. "Kau... sejak kapan kau peduli soal dapur? Kau bahkan tidak tahu letak gula dan garam."

​Elena berhenti, menoleh sedikit ke belakang lewat bahunya. Rambut panjangnya berayun lembut.

​"Sejak aku sadar kalau aku mau resign dari rumah ini, aku harus pastikan neraca keuangannya bersih dulu. Aku tidak mau dituduh bangkrut karena boros, padahal uangnya dimakan pembantu."

​Elena tersenyum tipis, senyum yang mengandung ejekan halus.

​"Selamat, Pak Kairo. Satu benalu sudah pergi. Tinggal satu lagi, kan? Sabar ya, proses cerai butuh waktu."

​Wanita itu melenggang masuk, meninggalkan Kairo yang berdiri mematung di teras. Pria itu menyeka keringat di dahinya, tapi rasa panas di dadanya bukan karena olahraga.

​Dia baru sadar, selama ini dia tidak tahu apa-apa soal rumahnya sendiri. Dan istrinya yang dia anggap bodoh itu... baru saja melakukan pekerjaan manajerial yang lebih efisien daripada HRD di kantornya.

​"Membersihkan sampah..." gumam Kairo mengulang kata-kata Elena.

​Dia menatap punggung Elena yang menghilang di balik lorong. Untuk pertama kalinya dalam setahun pernikahan mereka, Kairo merasa dia harus mengejar wanita itu. 

Bukan untuk marah, tapi untuk bertanya: Siapa kamu sebenarnya?

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!