Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Sing a song
"Ngga lucu sumpah, gue mau mandi udah siang. Udah buruan ngga usah pake nyanyi-nyanyi segala!" wajahnya sudah memerah selain karena matahari yang mulai muncul malu-malu, tapi karena kesal yang tertahan dan frustasi.
"Tiap hari di mess saya sering denger mars militer, tepat jam segini. Ini karena saya bantuin kamu ngambil air nih, bantuin anak KKN jadinya saya absen denger mars yang bisa bikin semangat patriotisme memacu adrenalin. Nah sekarang kamu gantinya, mesti nyanyiin lagu kebangsaan buat saya sambil angkut air."
Siapa suruhhh!!!
Dan yahhh! Ivy hanya bisa melongo mendengar ucapan Panji itu, untuk kemudian kembali menyembur, "ah lebay banget! Harus banget gitu denger mars?!"
Jangankan Ivy, Panji saja sudah tertawa dengan alasan basinya yang so nasionalisme sekaleehhh itu. Jika Abi mendengar atau menyaksikan ia mungkin sudah ditimpuk berkas kepindahan ke Kongo sekarang, bikin maluuu!
Russel akan semakin membully nya bersama para sepupu. Beruntung mereka tak tau.
"Nyanyi apaaaa?!" ia sudah hampir menangis di tempat, jengkel dan goser-goser di tanah menghadapi perwira satu ini, pantes aja si May...
Panji, seolah mendapatkan semangat baru, syarafff di tubuhnya seperti langsung menghasilkan hormon endorfin yang melonjak, salah satu hormon kebahagiaan saat berjumpa dengannya.
Ivy itu semacam pemuas dahaganya akan hiburan, akan vitamin see dan tak tau saja..sejak tadi, apalagi ketika melihat wajah Ivy yang tersirami cahaya pagi itu jantungnya mulai berdetak lebih cepat, reaksi kimia dalam tubuhnya itu seperti sejenis karbon hitam bahan bakar baterai yang bisa menghasilkan sengatan kejutan di dalam dada. Apakah sosok gadis yang justru diinginkannya bukanlah May, pasalnya saat bersama May perasaan yang dirasakannya hanyalah suka saja, suka karena dulu ia melihat May yang begitu masuk kriteria idaman seorang pasangan, beban jodoh dan yeah...hanya itu.
Benar May yang dulu ia kenal sosok baik, lembut, penyayang, keibuan, terlihatnya sebelum akhirnya kejadian sore itu membuatnya membuka mata. Tapi apakah itu yang ia butuhkan untuk sosok pasangannya?
Karena antara idaman dan kebutuhan itu jelas berbeda. Panji tidak membutuhkan sosok yang lemah lembut, ia tidak membutuhkan sosok yang keibuan karena jelas ia sudah memiliki ibu, posisi ibu ada di uminya, umi Fara, Mak cut, dan umma. Karena sifat keibuan seorang wanita akan muncul dengan sendirinya nanti. Ia justru membutuhkan sosok teman untuk mengisi kekosongan, teman bertengkar dalam versi berlawanan jenis tentunya. Teman bertukar pikiran dan teman hidup yang satu frekuensi dengannya.
Oke, dan akhirnya Ivy mengalah, ia melirik Panji dengan sekilas dimana wajah tengilnya itu tengah menunggunya bernyanyi, "Indo----- raya? Tanah pusaka, mengheningkan cipta, gugur bunga, rayuan pulau kelapa, satu nusa satu bangsa, syukur?" ia mulai mengabsen lagu lagu kebangsaan dengan jarinya sembari mata yang merotasi berpikir, bibirnya itu...tipis tapi selalu ekspresif.
Ucapan dan ekspresi Ivy itu selalu mengundang tawa, sehingga Panji senang sekali menjahilinya, "yang paling kamu hafal aja." Ia bersiap mengangkat kedua jerigen.
Ivy menghela nafasnya, sebelum itu Panji memberikan seragam miliknya beserta kresek hitam yang dibawa sebelum kesini, pada Ivy, "bawain."
Ivy menerimanya tanpa banyak bertanya, "oke...gue nyanyi, tapi jangan ngetawain kalo suara gue pas-pasan?!" tunjuk Ivy pada Panji yang mengangguk.
Ia mengambil nafasnya, sementara Panji mulai menenteng kedua jerigen, dalam langkah dimana pagi dengan cerah mentari sudah mulai terlihat dan menghangatkan bumi timur ini.
Gradasi warna yang hampir sama dengan senja tapi lebih pada euforia menyenangkan itu membuat langkah keduanya mulai diikuti oleh bayangan.
Ivy mendekap seragam Panji yang aroma maskulin nan segarnya menyeruak.
"Dari yakin ku teguh...
Hati ikhlas ku penuh, akan karunia mu....
Tanah air pusaka, Indo-----merdeka, syukur aku sembahkan, kehadiratmu Tuhan."
Suaranya yang biasa sewot dan berteriak-teriak penuh energi itu mendadak lembut dan merdu, menggiring suasana yang tadinya penuh canda menjadi khusyuk penuh rasa syukur. Ivy menjejakan kakinya pada tanah yang dicampuri oleh batu-batu yang bervariasi ukurannya, sesekali ia kesulitan dan harus berhati-hati, berbeda dengan Panji yang memakai sepatu delta.
Panji mendengus puas, kini garis wajahnya sudah kembali dialiri keringat dengan otot dan urat tangan yang menonjol kala mengangkat, Ivy melihat itu berkilau tersinari cahaya dari ufuk timur, hatinya cukup tersentuh juga dengan apa yang Panji lakukan, tapi---ia segera mengalihkan pandangan dari samping.
"Ganti lagu, dikasih syukur yang ada saya ngantuk." Ucap Panji, tapi kali ini Ivy tak sewot seperti tadi, "ck. Katanya terserah, yang penting dinyanyiin."
"Yang ini bisa nebak ngga lagu apa coba?! Kalo emang rasa nasionalisme Lo tinggi..."
"Coba.." tantang Panji.
Ivy menarik nafasnya, "melambai-lambai nyiur di pantai.... berbisik-bisik raja kelana...memuja pulau nan indah permai, tanah airku....."
Ivy bernyanyi khusyuk kadang sampai memejam tapi kemudian melirik langkahnya, dan Panji, tentu saja si breng sek ini menikmati pemandangan di sampingnya.
Ia sudah tau jawabannya tapi membiarkan Ivy terus bernyanyi.
"Apa?" kini Ivy bertanya, tapi Panji justru---"coba terusin, saya mulai tau." ia membuat gestur seolah sedang berpikir.
Ivy berdecak sekali dan mendelik meski kemudian melanjutkan, "tanah airku Indo-----, negeri elok amat kucinta, tanah tumpah da rahku yang mulia, yang kupuja sepanjang masa ....tanah airku aman dan makmur, pulau kelapa yang amat subur...pulau melati pujaan bangsa, sejak dulu kala...ihhh! Masa ngga hafal?!" ia mengomel lagi sambil menghentak kakinya.
Panji tertawa, "rayuan pulau kelapa."
Ivy mengangguk. Kemudian Panji memilih menghentikan ayunan langkahnya sejenak, dan beristirahat di pinggiran jalan dengan nafas yang cukup tersengal, "sebentar. Istirahat dulu."
Ivy tak mengomel atau menyalahkan, jangan Panji yang ia tak tau sudah berapa kali balikan membawa jerigen air berat ia saja yang baru sekali ini tanpa membawa apapun cukup lelah.
Ivy tak lagi sungkan untuk duduk di sampingnya sekarang.
"Udah berapa kali balikan bawa air?" tanya Ivy sekarang masih mendekap seragam dan menggenggam kresek hitam Panji.
"3."
Matanya membulat sempurna, "hah?! Ya ampun." Gelengnya takjub, "berat loh, cape...gue aja cape, padahal cuma jalan doang."
Panji menumpukan kedua sikunya di lutut, "memang, makanya Lo mesti hemat, karena ngga tiap hari saya kesini." Panji menepuk jidat Ivy membuat gadis ini mengaduh dan kembali sewot, "ihhh Panji! Jorok ihhh, tangan kamu kotor ihh, basah!" tunjuknya dan mengusap keningnya sendiri.
Panji terkekeh, gilaaa! Itu jidat apa pualam?!
"Punya urusan apa sampai kesini segala? Ngga takut dimarahin kesatuan bukannya kerja malah disini?" tanya Ivy memancing gestur kebingungan yang ditutupi oleh gerakan peregangan dari Panji, "urusan sama Ema Flo."
Begitu saja jawabnya tanpa ingin menjelaskan, Panji hampir lupa, "sini kreseknya."
Ia langsung merebut pelan kresek dari tangan Ivy, tanpa ada perlawanan Ivy menyerahkan itu, "bawa apa?"
"Sarapan." Jawab Panji sekenanya. Tanpa ba bi bu Panji membuka bungkusan berisi nasi bersama lauknya.
Hanya menatapnya penuh ekspresi takjub, tak percaya sekaligus geli, Ivy mendengus geli, "heh. Bisa-bisanya Lo...ya ampun."
"Kenapa?" tanya Panji sudah ingin melahap menggenggam bungkus nasi di tangan kiri sementara tangan kanannya siap menyuap.
Ivy tertawa, "pake tanya kenapa lagi. Yang bener aja, ini lagi ngangkut air loh, belum sampai rumah...mana di pinggir jalan begini. Ya oke kalo belum sarapan, tapi bisa mungkin nanti di rumah, toh ngga akan kena usir, ada air minum terus....ehhh!" matanya membeliak kaget saat Panji sedikit menumpahkan air dari jerigen untuknya mencuci tangan dan kembali mendekap sarapannya.
"Panji jorok ih Panji, sumpah. Cuci tangan ngga pake sabun. Terus ntar minumnya?!"
Panji menunjuk ke arah kresek dimana ada botol air minum, "kebetulan saya beli dua, kalau kamu mau..."
Ivy melirik keresek yang berisi satu porsi nasi lain, ia menggeleng, "engga. Nanti aja di rumah."
Panji mengangguk, see....jika ia memberi langsung padanya? Padahal Ivy sudah menunjukan gelagat ingin...tapi gadis itu menolak, memilih tak lagi menatapnya dan menatap lurus saja.
.
.
.
.
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati