NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Sisi Perhatian

Deru mesin motor tua Bima akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah minimalis bercat putih milik Kirana. Tepat pada detak detik yang sama, rintik hujan pertama yang berukuran besar mulai jatuh menghantam aspal dengan ritme yang cepat. Perhitungan Bima tentang waktu dan kecepatan berkendara terbukti akurat secara statistik; mereka sampai satu menit sebelum langit benar-benar pecah.

Kirana segera turun dari boncengan, melepas helmnya, dan menyerahkannya kembali kepada Bima. "Pas banget, Bim! Gila, kalau lo telat semenit aja tadi di lampu merah, kita berdua pasti udah basah kuyup," ujar Kirana dengan napas sedikit lega sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan akibat angin jalanan.

Bima menerima helm tersebut, lalu menaruhnya di atas tangki motor. Ia tidak langsung menghidupkan mesinnya kembali untuk pulang. Sepasang matanya yang tajam menatap Kirana dengan saksama, memastikan tidak ada setitik pun air hujan yang sempat mengenai kemeja gadis itu.

"Buruan masuk," kata Bima, suaranya terdengar berat namun ada ketegasan yang tidak bisa dibantah di dalamnya. "Sampai di dalam, lo langsung bersih-bersih. Mandi pakai air anget. Habis itu bikin teh anget, minum biar badan lo nggak drop."

Kirana tertegun sejenak mendengarkan rentetan perintah dari mulut Bima. Biasanya, cowok ini sangat irit bicara dan hanya akan mengeluarkan kalimat panjang jika sedang menjelaskan alur sistem mekanika di lab. Mendengar perhatian yang begitu detail dan protektif seperti ini membuat Kirana merasa agak aneh, namun ada rasa hangat yang mendadak menyusup di hatinya.

"Iya, Bima. Ini gue juga mau langsung masuk kok," jawab Kirana polos, masih mengira kalau sikap protektif Bima murni karena performa kerja sama tim mereka untuk proyek besok pagi. "Lo sendiri gimana? Itu hujannya udah mulai deras, lo nggak mau neduh dulu di teras rumah gue?"

Bima melirik langit yang kini mulai menumpahkan air dengan ganas, lalu kembali menatap Kirana. Rasa gengsi dan sifat kaku Tekniknya langsung mengambil alih. "Gak usah. Gue udah biasa kena hujan. Yang penting bagian lo aman. Gue balik sekarang."

Sebelum Kirana sempat membalas, Bima sudah menurunkan kaca helmnya, memutar arah motor, dan melaju menembus tirai hujan yang mulai lebat. Kirana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keras kepalanya cowok itu, lalu bergegas masuk ke dalam rumah sebelum pakaiannya ikut basah.

Sesuai instruksi kaku dari Bima, Kirana langsung mandi dan berganti pakaian dengan baju rumahan yang nyaman. Saat ia sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk di ruang tengah, ibunya masuk membawa secangkir teh manis hangat yang mengepulkan uap wangi.

"Nih, diminum dulu tehnya, Ra”. Seakan-akan Ibunya Kirana tau apa yang hendak Kirana lakukan.

*Tok! Tok! Tok!*

Suara ketukan pintu depan memecah keheningan rumah, bersahutan dengan suara derasnya air hujan di luar.

"Siapa ya malam-malam hujan gini?" gumam ibu Kirana hendak beranjak, namun Kirana menahannya. "Biar Kirana aja yang lihat, Bu."

Kirana berjalan ke pintu depan dan membukanya sedikit. Di balik pagar, seorang pengemudi ojek online dengan jas hujan hijau yang basah kuyup sedang berdiri sambil membawa sebuah kantong plastik besar berlogo restoran premium terkenal.

"Permisi, atas nama Mbak Kirana?" tanya pengemudi itu setengah berteriak melawan suara hujan.

"Iya, betul, Pak. Tapi saya nggak ada pesan makanan," jawab Kirana bingung.

"Ini sudah dibayar pakai aplikasi non-tunai oleh Mas Danu, Mbak. Katanya tinggal diserahkan ke Mbak Kirana," jelas sang pengemudi sambil menyerahkan kantong plastik tersebut. Setelah Kirana menerimanya dan mengucapkan terima kasih, pengemudi itu langsung pamit pergi.

Kirana membawa kantong plastik itu ke meja makan dengan perasaan campur aduk. Begitu dibuka, isinya adalah satu porsi sup ayam ginseng hangat, paket dimsum kesukaannya, dan sebuah catatan kecil yang ditulis dengan rapi:

> *“Ra, di luar hujannya deras banget, aku khawatir kamu kelaparan atau kecapekan habis diskusi proyek tadi. Sup hangat ini dimakan ya, biar badan kamu tetap fit. Diminum juga vitaminnya yang aku selipin di dalam. Istirahat yang cukup ya, Ra. — Kak Danu”*

Kirana menatap mangkuk sup yang masih mengepul hangat itu, lalu beralih menatap cangkir teh hangat yang tinggal setengah di atas meja. Kedua perhatian itu datang di saat yang bersamaan, mengetuk pintu hatinya dengan cara yang sangat berbeda. Makanan yang dibawa oleh Danu dan perhatian yang diberikan oleh Bima walau hanya berupa kata-kata saja.

Di satu sisi, ada Bima. Cowok yang sekilas tampak cuek, kaku, dan penuh perhitungan, namun diam-diam memastikan fisiknya baik-baik saja. Di sisi lain, ada Danu. Kating yang selalu tahu cara bersikap manis, peka terhadap kebutuhannya, dan memberikan perhatian yang begitu lembut serta terstruktur hingga membuatnya merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita.

Kirana duduk di kursi meja makan, memandangi sup dan teh hangat itu bergantian dengan perasaan yang mendadak menjadi sangat bingung.

Mengapa kedua kakak tingkatnya yang berbeda jurusan itu bisa memberikan perhatian yang begitu intens di hari yang sama? Bagi Kirana yang selama ini menganggap hubungan mereka hanya sebatas pertemanan dan senior-junior kampus, situasi malam ini mulai terasa rumit dan sulit diprediksi dengan logika sastra mana pun.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!