Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.
Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.
Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Ditarik Kembali
Langit di atas pemakaman umum itu mendung, seolah mendukung suasana hati rombongan yang datang dengan wajah muram. Meisya berdiri lemas di pelukan Mama Revan, sementara petugas pemakaman mulai menyiapkan peralatan untuk membongkar nisan bertuliskan "Bayu Pratama".
Revan berdiri di samping mereka dengan tatapan kosong. Namun, tepat saat petugas hendak menancapkan cangkul pertama, sebuah jeritan melengking memecah kesunyian.
"Aduh! Perutku... Mas Revan, sakit!" Meisya merosot ke tanah sambil memegangi perut bawahnya. Wajahnya meringis hebat, keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Meisya!" Revan langsung panik. "Ma, Meisya kesakitan! Pak, berhenti dulu! Hentikan pembongkarannya!"
"Jangan dipaksa, Revan! Lihat ini calon cucu Mama bisa bahaya!" teriak Mama Revan histeris. Tanpa pikir panjang, Revan segera membopong Meisya menuju mobil, meninggalkan petugas makam yang kebingungan.
Ketua tim pembongkaran segera menghubungi nomor yang membayar jasa mereka. "Halo, Dokter Adila? Maaf, Dok, pembongkaran tertunda. Pihak keluarga tadi ada yang pingsan kesakitan, jadi dibawa ke rumah sakit pusat."
Di seberang telepon, Adila yang sedang memarkirkan mobilnya di rumah sakit merasakan darahnya mendidih. "Rumah sakit pusat? Ke sini?"
"Iya, Dok."
"Baik. Biarkan saja. Tugas kalian tetap laksanakan begitu mereka pergi. Jangan berhenti sampai jenazah itu masuk ke ambulans," instruksi Adila dengan suara bergetar karena murka. Ia tahu betul, ini adalah taktik distraksi murahan dari Meisya.
Adila menghela napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah rotasi pertamanya di bawah pengawasan dr. Adrian Dewantara, Sp.OG. Dokter spesialis paling jenius namun paling dingin yang pernah ada. Salah sedikit saja, karier kedokterannya bisa tamat di tangan pria itu.
Di lobi rumah sakit, Maya dan Sari sudah menunggu dengan wajah cemas.
"Dila! Akhirnya datang juga," bisik Maya sambil menarik lengan Adila. "Kamu sudah dengar? dr. Adrian sudah di ruang bangsal. Dia benci orang telat walau cuma semenit."
"Dan tebak siapa yang baru saja masuk IGD?" Sari menimpali dengan wajah kesal. "Suamimu, mertuamu dan si parasit itu! Katanya dia mengeluh nyeri perut hebat."
Adila merapikan jas putihnya, mengancingkannya dengan mantap. "Biarkan saja. Aku tidak punya waktu untuk drama mereka. Ayo, kita ke bangsal."
Ketiganya berjalan cepat menuju ruang rawat inap kelas satu. Di sana, seorang pria tinggi dengan jas dokter yang sangat rapi berdiri membelakangi mereka, sedang membaca rekam medis. Auranya begitu mengintimidasi, membuat lorong rumah sakit yang sibuk mendadak terasa senyap.
"Selamat pagi, Dokter Adrian," sapa Adila dengan suara stabil.
Pria itu berbalik perlahan. Matanya tajam di balik kacamata frameless. Dr. Adrian Dewantara hanya mengangguk tipis, nyaris tidak terlihat.
"Pagi. Adila, Maya, Sari. Kita punya pasien baru di ruang VVIP 01. Keluhan nyeri abdomen pada kehamilan trimester kedua. Katanya karena stres berat," suara dr. Adrian rendah dan tanpa ekspresi. "Adila, kamu yang pegang anamnesis awal. Laporkan padaku dalam sepuluh menit."
Jantung Adila mencelos. VVIP 01? Itu pasti tempat Meisya dibawa oleh Revan.
"Ada masalah?" tanya dr. Adrian saat melihat Adila bergeming sesaat.
"Tidak, Dokter. Saya laksanakan," jawab Adila tegas.
Adila melangkah menuju ruangan itu diikuti Maya dan Sari yang saling lirik dengan cemas. Begitu pintu dibuka, pemandangan yang memuakkan kembali tersaji. Meisya berbaring di tempat tidur dengan infus terpasang, sementara Revan duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Mama Revan dan Tiara berdiri di sudut ruangan, sibuk menyumpah-nyumpah.
"Oh, lihat siapa yang datang!" Mama Revan langsung menghampiri Adila. "Kamu puas sekarang? Gara-gara gertakan gilamu tadi, Meisya hampir keguguran! Kamu mau membunuh anak ini, hah?!"
Adila tidak bergeming. Ia membuka papan jalannya, memegang stetoskop dengan tangan yang sangat tenang. "Mah, saya di sini bukan sebagai menantu Anda. Saya di sini sebagai dokter yang bertugas di bawah instruksi Dr. Adrian. Mohon kerja samanya untuk tidak mengganggu proses pemeriksaan."
"Sok sekali kamu!" Tiara mencibir. "Kak Revan, lihat istrimu! Bahkan di saat Meisya kritis, dia masih bersikap dingin seperti ini."
Revan menatap Adila dengan tatapan kecewa. "Dila, tolong... jangan sekarang. Periksa dia dengan benar."
Adila mendekati bed Meisya. Ia melihat Meisya yang memejamkan mata sambil sesekali mengaduh. Adila mulai melakukan pemeriksaan fisik. Tangannya dengan sangat profesional menekan beberapa titik di perut Meisya.
"Sakit, Mbak... pelan-pelan..." rintih Meisya.
Adila tersenyum tipis, sebuah senyuman yang hanya bisa dimengerti oleh sesama medis. "Nyeri tekan di kuadran bawah? Tapi kontraksinya tidak teraba, Meisya. Detak jantung janin juga stabil."
Tiba-tiba, pintu terbuka. dr. Adrian masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang membuat semua orang terdiam.
"Bagaimana, Dokter Muda Adila?" tanya dr. Adrian sambil menatap tajam ke arah Meisya, lalu ke arah Revan yang masih memegang tangan pasien.
"Izin melaporkan, Dokter. Pasien mengeluh nyeri hebat, namun secara objektif, palpasi abdomen menunjukkan otot yang rileks. Tidak ada tanda-tanda pelepasan plasenta atau ancaman abortus yang nyata," lapor Adila dengan bahasa medis yang lugas.
Dr. Adrian mendekat. Ia menatap Meisya yang mendadak berhenti mengaduh karena terpesona sekaligus takut melihat aura sang dokter spesialis.
"Dokter, tolong selamatkan cucu saya..." rengek Mama Revan.
Dr. Adrian tidak menoleh pada Mama Revan. Ia justru menatap Revan yang duduk di samping bed. "Anda suaminya?"
Revan ternganga. "E-eh... saya..."
"Dia suaminya!" sahut Mama Revan cepat.
Adila mengepalkan tangan di balik papan jalannya. Namun, sebelum ia sempat bicara, dr. Adrian sudah menyela dengan suara yang sangat dingin.
"Kalau Anda suaminya, kenapa Anda membiarkan istri sah Anda Dokter Muda Adila bekerja sendirian sementara Anda menggenggam tangan wanita lain di depan wajahnya?"
Hening. Ruangan itu seketika terasa membeku. Revan langsung melepas tangan Meisya seolah terkena setrum.
"Dan untuk Anda, Pasien," dr. Adrian beralih pada Meisya. "Diagnosis saya sederhana Malingering. Anda memalsukan gejala untuk mendapatkan perhatian. Adila, siapkan berkas rawat jalan. Pasien ini tidak butuh rawat inap. Dia hanya butuh belajar jujur."
Adila menatap dr. Adrian dengan rasa kagum yang tak terbendung. Sang "Ice Prince" baru saja memberikan tamparan medis yang paling telak dalam hidup Meisya. Sementara Revan, Mama, dan Tiara hanya bisa berdiri mematung dengan wajah yang memerah karena malu luar biasa.