NovelToon NovelToon
Story Of Hazel Lyra Raven

Story Of Hazel Lyra Raven

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Dark Romance / Mafia / Time Travel / Reinkarnasi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:944
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.

Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??

kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!


Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar

Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 3

Pagi di kampus, suasananya rame. Mahasiswa lalu-lalang sambil ngobrol, ada yang buru-buru masuk kelas, ada juga yang nongkrong di taman. Lyra duduk di kursi panjang deket gedung utama, buku terbuka di pangkuannya tapi pikirannya masih nyangkut ke semalam. Ballroom, Veronica, Pharma, semua momen itu masih muter di kepalanya kayak kaset rusak.

Tiba-tiba... suara yang familiar masuk.

Pharma:

"Ah, kebetulan. Lyra, kamu di sini ternyata."

Lyra langsung reflek noleh, dan di sana - Pharma. Bukan sekadar lewat, tapi bener-bener berhenti di depannya, dengan gaya yang agak terlalu casual buat seorang dosen. Senyumnya lebar, tangan masuk ke saku jas putih yang khas, auranya kayak dokter favorit semua pasien.

Lyra (dalem hati):

Yaelah, pagi-pagi udah caper. Mau apalagi sekarang, huh?

Tapi Lyra nggak nunjukin wajah terganggu. Dia malah nyender ke kursi, tatapannya tenang.

Lyra:

"Pagi, Dokter. Ada perlu? Atau cuma sekadar inspeksi mahasiswi yang lagi pura-pura belajar?"

Pharma ketawa kecil, nadanya lembut banget - beda sama pas ngobrol sama orang lain biasanya yang agak dingin atau suka ngegas.

Pharma:

"Kamu selalu punya cara unik buat ngejawab, ya. Aku suka."

Lyra sedikit mendengus, tapi nggak nolak.

Lyra:

"Harusnya kan Bapak lebih sibuk ngurusin pasien atau ngobrol sama... Veronica?"

Seketika, mata Pharma agak meredup. Dia nggak keliatan kesal, tapi jelas ada sesuatu di balik senyumnya yang nggak stabil.

Pharma:

"Veronica cuma... ya, hubungan profesional. Jangan salah paham."

Lyra (sarkas):

"Oh, iya, hubungan profesional yang kebetulan bisa diantar pulang malem-malem, ya? Noted."

Pharma diem sebentar, terus nyengir lagi, tapi kali ini agak canggung. Dia lalu duduk di kursi samping Lyra, bikin beberapa mahasiswa yang lewat pada ngeliatin heran, karena jarang banget ada dosen yang senyaman itu sama mahasiswanya.

Pharma (nunduk dikit, suaranya lebih pelan):

"Aku nggak suka kamu salah paham, Lyra. Semalam... mungkin keliatannya berlebihan, tapi aku-"

Lyra cepat motong omongannya.

Lyra:

"Kalau dosen caper ke mahasiswi, itu jatuhnya apa ya? Catatan etika? Atau headline di buletin kampus?"

Pharma ketawa tipis, jelas-jelas tahu Lyra lagi ngeles. Tapi bukannya mundur, dia malah semakin ngasih perhatian.

Pharma:

"Kamu boleh bilang aku caper, tapi aku nggak bisa pura-pura biasa aja kalau kamu di depan mataku. Mau kamu sekeras apapun ngejawab, aku tetap bakal nyari celah buat deket sama kamu."

Lyra noleh, tatapannya tajam, tapi di dalam dadanya, jantungnya nggak bisa bohong kalau sempet kebawa deg-degan.

Lyra (pelan, tapi ketus):

"Kalau gitu siap-siap aja, Dok. Soalnya aku bukan cewek yang gampang dibuat jatuh sama senyuman manis kayak semalam."

Pharma senyum lagi. Senyum yang, entah kenapa, kali ini lebih tulus.

Pharma:

"Itu tantangan, ya?"

Dan Lyra cuma mendengus, nutup bukunya, terus berdiri.

Lyra:

"Aku ada kelas. Jangan sampai dosen telat gara-gara sibuk ngejar mahasiswinya sendiri."

Pharma ngakak kecil, terus bangkit juga, ngikutin langkah Lyra.

Tapi satu hal jelas - ini bukan cuma dosen biasa yang lagi perhatian. Pharma emang lagi sengaja cari cara biar Lyra ngelihat dia beda.

---

---

Sore hari, kampus mulai sepi. Mahasiswa udah pada bubar, tinggal sisa beberapa yang nongkrong sambil nyelesain tugas. Lyra baru aja keluar dari gedung fakultas waktu HP-nya bergetar. Nama Papa muncul di layar.

Lyra:

"Halo, Pa?"

Ratchet:

"Lyra, pulang jangan dulu. Papa ada meeting di Medika Raven, kamu ikut ke sana sekarang. Ada berkas yang harus kamu tanda tangani. Nanti ada mobil jemput."

Lyra mendesah, agak malas.

Lyra:

"Pa, bisa nggak besok aja? Aku capek."

Ratchet:

"Sekarang, Lyra." klik

Sambungan langsung diputus. Lyra menghela napas panjang. Medika Raven? Itu kan rumah sakit utama punya keluarga mereka, tempat Papa banyak kerja bareng dokter-dokter top.

Pas Lyra lagi nunggu di depan gerbang kampus, mobil hitam elegan berhenti. Kaca jendela turun perlahan, dan... siapa lagi kalau bukan Pharma di balik kemudi.

Pharma (senyum kecil, agak jail):

"Naiklah. Ternyata kita satu tujuan."

Lyra refleks melotot.

Lyra:

"Serius? Papa yang nyuruh kamu juga?"

Pharma:

"Begitulah. Katanya, lebih efisien kalau kita berangkat bareng. Jadi... ayo."

Lyra awalnya ragu, tapi akhirnya buka pintu dan duduk di kursi penumpang. Begitu pintu nutup, aroma khas dalam mobilnya langsung bikin suasana aneh-bersih, segar, tapi juga ada sedikit bau obat-obatan.

Mobil melaju pelan keluar dari gerbang kampus. Suasana awalnya hening, cuma ada suara jalanan sore yang padat.

Lyra (nyender, sinis):

"Papa bener-bener pinter bikin aku repot. Padahal aku udah capek."

Pharma (santai, melirik sebentar):

"Kalau gitu anggap aja aku supir pribadi sementara. Gratis, lho."

Lyra:

"Supir pribadi biasanya nggak sok sok manis ke penumpangnya."

Pharma ketawa kecil. Tangannya tetap tenang di setir, tapi matanya melirik Lyra dengan ekspresi yang terlalu lembut buat ukuran dirinya.

Pharma:

"Kamu sadar nggak sih, Lyra? Di depan orang lain aku bisa jadi dokter paling nyebelin, paling sok sibuk, tapi di depan kamu... aku jadi pengen ngerem semua itu."

Lyra nyengir miring, setengah sarkas.

Lyra:

"Ah, jadi aku semacam obat penenang buat kamu, gitu? Jangan lebay, Dok."

Pharma:

"Kalau iya kenapa? Kamu bikin aku lupa kalau dunia ini penuh intrik."

Lyra mendengus, langsung noleh ke jendela, pura-pura nggak peduli padahal pipinya memanas.

Beberapa menit kemudian, lampu kota mulai menyala. Mobil mereka melaju masuk ke area lebih megah, jalanan besar dengan papan nama Medika Raven Hospital yang menjulang tinggi. Bangunannya megah, penuh kaca dan cahaya putih, kayak istana modern.

Pharma pelan-pelan memarkirkan mobil di area VIP. Begitu mesin mati, dia nggak langsung keluar. Malah nyender sebentar, ngeliatin Lyra.

Pharma (lebih pelan, jujur):

"Kamu siap? Rumah sakit ini penuh orang yang bakal berebut perhatian kamu-dan aku bukan pengecualian."

Lyra kaget sesaat, terus langsung pasang wajah datar.

Lyra:

"Kalau kamu udah ngaku kayak gitu, jangan salahin aku kalau aku bener-bener nggak peduli."

Dia buka pintu mobil, keluar tanpa nungguin. Tapi jantungnya masih deg-degan gara-gara kalimat Pharma barusan.

---

---

Lobi utama Medika Raven sore itu masih ramai. Cahaya lampu kristal gantung bikin ruangan megah itu berkilau, dindingnya kaca tinggi dengan logo rumah sakit keluarga Raven terpampang gagah. Lyra masuk duluan, langkahnya cepat, heels-nya memantul di lantai marmer.

Pharma nyusul dari belakang dengan gaya tenangnya. Semua mata staf rumah sakit langsung noleh-bukan cuma karena dia dokter bedah muda paling cemerlang, tapi juga karena auranya yang selalu different.

Tiba-tiba, dari arah resepsionis, seorang pria tinggi dengan rambut unik-poni panjang jatuh di kanan-kiri wajah tapi bagian belakang rambutnya pendek rapi-datang. Wajahnya kelihatan ramah, senyum tipis yang kayaknya jadi default.

Loen Watson (sambil angkat map berkas):

"Dok, laporan pasien ruangan 502 udah saya revisi. Kalau ada waktu-"

Dia berhenti karena matanya langsung nyangkut ke Lyra.

Loen (sopan, agak kaget):

"Eh... maaf. Nona Raven, ya? Saya Loen Watson, dokter muda di sini. Bawahan-eh maksud saya rekan kerja-Dr. Pharma."

Lyra refleks senyum kecil, tapi dalam hati agak kaget karena jarang ada dokter muda yang cara nyapanya sopan banget.

Lyra:

"Oh... hai, Dokter Loen. Panggil Lyra aja."

Pharma tiba-tiba nyelip di antara mereka, nadanya setengah malas tapi jelas:

Pharma:

"Loen, jangan bikin kesan seakan-akan kamu dokter paling sopan di dunia. Lyra udah cukup tau siapa aku-dan itu lebih dari cukup."

Loen cuma nyengir miring, jelas udah terbiasa jadi sasaran sindiran.

Loen:

"Tenang aja, Dok. Saya cuma basa-basi. Toh saya udah tau siapa bapak malaikat setengah setan satu ini."

Pharma mendelik tipis, tapi nggak beneran marah. Lyra sempat nahan ketawa melihat interaksi mereka.

Lyra (kepoin, nada sinis):

"Bapak malaikat setengah setan? Kedengerannya cocok banget, ya."

Loen (ikut ngakak):

"Persis! Kalau lagi operasi, dia bisa kayak dewa penolong. Tapi kalau di balik layar... yah, Nona, hati-hati aja. Kadang pasien pun bisa jadi bahan eksperimen."

Lyra melotot ke Pharma, setengah kaget setengah geli.

Lyra:

"Pharma... jangan bilang rumor itu bener?"

Pharma pura-pura batuk kecil, terus merangkul pundak Loen agak kasar.

Pharma:

"Loen suka lebay. Anggap aja dia stress kebanyakan shift jaga. Ayo, kita ke ruangan Papa kamu, Lyra."

Loen ketawa, tapi tatapannya ke Lyra berubah serius sesaat, kayak mau bilang: "Iya, rumor itu nggak sepenuhnya salah."

---

Lorong menuju ruang meeting rumah sakit panjang, lampunya redup elegan, cat dinding krem dipadu panel kayu. Lyra berjalan di samping Pharma. Dari luar, tampak normal. Tapi di dalam, pikirannya udah kayak kaset rusak-muter-muter soal "ini kan pernah kejadian... tapi dulu nggak ada orang ketiga yang ikut."

Loen ada di belakang mereka, bawa map, sesekali nyusul ke samping dengan ekspresi tenang. Dan entah kenapa, kehadirannya bikin udara nggak terlalu sesak.

Lyra (monolog dalam hati):

"Di kehidupan sebelumnya... aku nggak pernah ketemu dia. Semua yang ada cuma aku, Papa, Paul, Pharma, dan akhirnya Veronica... Tapi sekarang? Ada Loen. Apa ini tanda aku bisa ubah jalan ceritanya?"

Pharma, tanpa sadar, masih main gaya andalannya: langkah percaya diri, senyum tipis yang bikin orang campur aduk antara ilfeel dan kagum.

Tiba-tiba Pharma noleh ke Lyra.

Pharma:

"Kamu kelihatan tegang. Apa karena mau ketemu Papa kamu, atau karena aku ada di sebelahmu?"

Lyra langsung ngelirik tajam, tapi sebelum sempat jawab, Loen nyeletuk santai dari belakang.

Loen:

"Dok, jangan bikin orang tambah deg-degan. Rumah sakit ini udah cukup bikin pasien stres. Jangan nambah korban."

Lyra nggak bisa nahan senyum. Dia sengaja sedikit melambat, biar posisinya sejajar dengan Loen. Dan untuk pertama kali sejak jatuh dari jendela itu, Lyra merasa ada ruang bernapas.

Lyra (lirih, ke Loen):

"Terima kasih ya, Dokter Loen. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah... ya, makin terpojok."

Loen cuma angkat bahu, senyumnya sederhana.

Loen:

"Tenang aja. Kalau kamu butuh kabur dari drama orang-orang sini, aku biasanya nongkrong di ruang perawatan luka. Jarang ada yang ke sana."

Kalimat itu sederhana, tapi buat Lyra yang udah tau betapa sakitnya masa lalu (dan betapa sakitnya ditusuk Veronica nanti), rasanya kayak tiket emas untuk punya tempat berlindung.

Pharma di depan mendadak noleh lagi, alisnya naik tipis, kayak sadar sesuatu. Tapi dia nggak ngomong apa-apa-cuma tatapan tajam yang bikin Lyra sedikit bersalah karena... yah, hatinya goyah.

---

Mau gue terusin adegan mereka masuk ruang meeting bareng Ratchet? Bagian itu bisa jadi menarik karena:

Ratchet bakal sibuk ngomel-ngomel,

Lyra nyadar lagi kalau situasinya sama persis dengan kehidupan sebelumnya,

plus muncul dilema kecil: Pharma masih nunjukin ketertarikan, tapi Loen diam-diam jadi "jalan keluar."

---

Pintu ruang meeting kebuka otomatis, dan seperti biasa, suasana langsung bikin siapa pun tegang. Dinding kaca tinggi memperlihatkan panorama kota Jakarta malam hari, meja panjang kayu hitam di tengahnya penuh tumpukan berkas medis, diagram, dan laptop.

Dr. Ratchet Raven udah duduk di ujung meja, kacamatanya agak melorot ke bawah hidung, wajahnya capek tapi tetap berwibawa. Rambut hitam dengan uban tipis di pelipisnya bikin dia kelihatan lebih tua dari umur aslinya.

Ratchet (tanpa basa-basi):

"Kamu telat tiga menit, Pharma. Dan kamu..." (matanya pindah ke Lyra) "...telat lima menit. Dari kecil sampai segede gini nggak bisa tepat waktu, Lyra. Aku harus ganti semua jam di rumah pakai alarm klakson, hah?"

Lyra refleks mau ketawa kecil, tapi langsung diselamatkan Loen yang nyodorin map ke meja.

Loen:

"Maaf, Dok. Saya sempat tahan mereka di lobi. Ada berkas urgent."

Ratchet cuma ngedumel, tapi nerima alasan itu. Sementara Pharma duduk santai, sandaran kursinya ditarik ke belakang, senyum tipis masih nempel.

Pharma:

"Ratchet, jangan keras-keras sama Lyra. Mahasiswa baru pasti masih kaget ritme dunia medis, apalagi dengan bayang-bayang nama besar Raven Family."

Nada suaranya lembut, tapi Lyra langsung merasa ada yang salah. Dalam ingatan kehidupan sebelumnya, kalimat itu persis sama. Waktu itu dia malah tersipu dan jatuh makin dalam ke aura Pharma. Tapi kali ini, Lyra cuma diem, matanya dingin, sambil berpikir: "Kamu manis di depan Papa-ku, tapi nanti aku tau siapa kamu sebenernya..."

Ratchet buang napas panjang, mulai ngomel-ngomel soal rumah sakit, jadwal operasi, dan pasien yang suka ngeyel. Paul nggak ada di situ (dia pasti masih sibuk dengan dunia kepolisiannya), jadi Lyra harus duduk manis.

Loen duduk agak di pojokan, sibuk corat-coret di mapnya. Tapi sesekali, Lyra melirik ke arahnya, ngerasa nyaman sama keberadaan dokter muda itu-sekadar penyeimbang di antara ayahnya yang bawel dan Pharma yang bikin detak jantungnya berantakan.

Tapi...

Hati kecil Lyra tau: penyelamatnya bukan Loen.

Loen bisa jadi tempat kabur, iya. Tapi bukan dia yang bisa nyeret Lyra keluar dari putaran sejarah busuk Veronica-Pharma-dirinya sendiri. Ada orang lain... entah siapa. Dan Lyra sadar, tugasnya adalah nemuin siapa orang itu sebelum semuanya terulang.

---

---

Hujan gerimis nempel di kaca tinggi Medika Raven. Malam makin larut, parkiran rumah sakit sepi. Lyra berdiri di lobi, jaket tipis menempel di pundaknya, nungguin Pharma yang lagi sibuk angkat telpon di beberapa langkah jarak darinya.

Dari cara wajah Pharma berubah, Lyra udah tau siapa di seberang. Nada suaranya melembut, hampir nggak sopan buat ditunjukin di depan orang lain.

Pharma (sambil senyum tipis, ke telpon):

"Veronica? Kamu di mana? ...Jam segini?"

Lyra langsung diem. Nama itu masih kayak duri. Veronica. Cewek yang dulu di kehidupan sebelumnya ngedorong dia keluar jendela lantai 20, nyapunya dengan manis, tapi ngebunuhnya tanpa kedip.

Pharma geser jas putihnya, jalan ke arah Lyra.

Pharma:

"Lyra, aku ada urusan mendadak. Veronica... dia butuh dianterin pulang. Jadi, kamu bisa pulang sendiri, kan?"

Kalimat itu kayak cambukan. Deja vu banget. Dulu pun persis begini-Pharma ninggalin dia demi Veronica.

Lyra cuma ngelirik dingin, tanpa sepatah kata pun. Dalam hatinya, monolog bergemuruh:

"Ya Tuhan... kenapa sama persis? Apa aku beneran dikutuk untuk ulang kejadian ini? Tapi tidak, sekarang aku sadar. Aku nggak akan jadi gadis bodoh lagi."

Pharma ngebuka pintu, nyalain mobil sport putihnya, dan dalam sekejap raungan mesin menjauh, ninggalin Lyra sendirian di lobi rumah sakit.

Ratchet masih kejebak di ruang meeting dengan laporan setebal kamus. Loen? Udah pulang lebih dulu, karena dia nggak pernah betah dengerin Ratchet ngomel sampe jam segini.

Lyra menarik napas panjang. Sendiri. Ditinggal. Lagi.

Tapi kali ini dia nggak nangis. Dia berdiri di tengah lobi kosong, bayangan tubuhnya terpantul di marmer hitam mengilap. Pandangan matanya tajam.

Lyra (berbisik ke dirinya sendiri):

"Kalau dulu aku pasrah... kali ini aku bakal rencana. Veronica, kamu boleh rebut Pharma di depan semua orang. Tapi ingat... sekarang aku tau siapa dirimu."

---

1
AEERA♤
bacaa woee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!