NovelToon NovelToon
Magic Knight: Sunder-soul

Magic Knight: Sunder-soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Antagonis
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Arion Saga

Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Kemarahan Yang Pedih

Senja menyingsing di ufuk barat, menyiram dataran luas yang kini bersimbah darah dengan warna jingga yang memuakkan.

Di antara tumpukan mayat pasukan Beast dan bau besi yang menyengat, sebuah legenda yang sempat mati mulai bernapas kembali.

Berita tentang kembalinya Pangeran Arion mengangkat pedang tersebar lebih cepat dari api yang melalap padang rumput kering.

Bagi dunia bawah tanah, dia adalah poros ketakutan yang telah hilang selama tujuh tahun.

Di sebuah rumah jagal yang pengap, Liora duduk di atas meja potong.

Di sekelilingnya, karkas hewan tergantung bersama tubuh- tubuh pria yang cukup bodoh untuk menantang "Matahari" yang mereka pikir sudah padam.

"L-Liora-sama... kabar dari Dataran Siluets... Sang Pangeran... Arion von Astra telah kembali. Tatapan maut itu telah kembali ke matanya. Tapi... ia tidak memiliki kekuatan seperti dulu."

Pupil mata Liora bergetar hebat.

Sebuah senyum gila merekah.

"Aku tidak butuh dewa yang tak terkalahkan," bisiknya.

"Asalkan sorot mata predator itu ada di sana... aku akan menyeret seluruh dunia ke neraka untuknya."

Hanz menggeram, suaranya berat seperti gesekan logam saat membaca laporan tentang kondisi tubuh Arion yang tersegel.

la tahu Arion yang sekarang tidak akan bisa menghancurkan gunung dengan satu tebasan seperti dulu.

"Kekuatanmu hilang, sirkuit mana mu hancur... tapi kau masih berani menghunus pedang murni?" Hanz terkekeh kasar, sebuah tawa yang penuh dengan rasa hormat yang aneh.

"Aku tidak pernah mengikutimu karena kau kuat, Tuan Muda. Dunia ini penuh dengan monster kuat yang membosankan. Tapi kau..."

ia menatap pijar api di tungku pembakarannya,

"...kau memiliki percikan kecil di matamu yang selalu menggetarkan gairah kerajinanku. Percikan yang membuat besi dingin sekalipun ingin membara."

Ia membuang puntung cerutunya dan meraih palu godamnya dengan genggaman yang menghancurkan.

"Jika kau sudah siap untuk kembali menggoncang dunia dengan tubuh rapuh itu, maka aku akan memberimu cakar yang paling tajam. Aku tidak akan membiarkan percikan itu padam hanya karena zirah sampah!"

Nyx menarik belati peraknya, menatap pantulan bulan yang dingin di bilahnya.

Baginya, berita tentang kelemahan fisik Arion bukanlah sebuah masalah, melainkan sebuah peluang.

"Tuan... kau tidak perlu mengeluarkan kekuatan besar agar aku bisa mengikuti mu," bisik Nyx pada kegelapan malam.

"Aku akan menjadi kekuranganmu itu sendiri. Di mana kau tidak bisa menjangkau, aku akan berada di sana. Di mana tanganmu terlalu lelah untuk memotong, aku akan membersihkan segalanya sebelum kau sempat memerintah."

Nyx tidak mengikuti Arion karena rasa hormat yang buta, apalagi ketakutan.

Baginya, dunia ini adalah rawa yang tenang dan menjijikkan.

"Aku tidak peduli apakah kau akan membawa kedamaian atau kehancuran mutlak,"

Sementara itu, di benteng perbatasan, Sebas merapikan selimut Arion dengan penuh hormat.

Sebas merasakan aura mengerikan yang terasa familiar, aura yang dulu pernah berdiri berdampingan dengannya.

"Bersiaplah, Tuan Muda. Keluargamu yang retak... para monster yang pernah kau pimpin... mereka semua sedang pulang ke rumah."

***

Arion terdiam sejenak. Keheningan di dalam tenda itu terasa mencekik. Perlahan, sepasang mata ungu itu mulai berkaca-kaca, memancarkan kesedihan yang begitu dalam- kesedihan dari seorang anak yang kehilangan ibunya, dan kesedihan dari seorang pangeran yang dikhianati oleh dunianya sendiri.

"Hei..." suaranya pecah, bergetar di udara yang berat.

"Hei... Kenapa?" la menatap tangannya yang gemetar, tangan yang seharusnya menggenggam dunia, namun dipaksa untuk menggenggam kehampaan.

"ΚΕΝΑΡΑ... ΚΕΝΑΡΑ?!"

Suara Arion meledak dalam teriakan yang tertahan, sebuah raungan jiwa yang menuntut keadilan pada takdir.

Seketika, aura intimidasi yang tadinya hanya menekan, kini meledak menjadi badai energi pekat yang mengoyak bantal dan mengguncang tiang-tiang tenda.

Arion berdiri. Setiap inci ototnya berteriak kesakitan, tulang-tulangnya terasa seperti diremukkan kembali, namun ia mengabaikannya. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan luka di jiwanya.

Dengan wajah yang pucat pasi, ia menyeret langkahnya yang berat.

la meraih Sunder-Soul, membiarkan ujung sarung pedang itu menyentuh tanah dan menyeretnya saat ia berjalan menuju pintu tenda.

Sret... sret... sret...

Suara gesekan pedang di atas tanah itu terdengar seperti lonceng kematian.

Saat Arion menyibak tirai, ia disambut cahaya rembulan.

Wajahnya yang hancur oleh kesedihan menyimpan kemarahan yang amat dalam.

Tepat saat itu, sebuah kilatan merah mendarat keras.

Liora dan Nyx berlutut dengan kepala tertunduk dalam, menyerahkan seluruh kesetiaan mereka pada sosok yang baru saja muncul dari kegelapan.

Namun, Arion terus berjalan. la melewati mereka begitu saja, namun tidak ada keangkuhan di sana.

Langkah kakinya berat dan goyah.

Arion tidak menoleh bukan karena ia acuh atau tidak mengenali kehadiran mereka, melainkan karena ia masih terbenam terlalu dalam di palung kesedihannya sendiri.

Pikirannya masih terjebak pada bayangan ibunya di dunia nyata dan senyum masa kecil Arion yang telah dirampas.

la berjalan seperti orang yang sedang meratapi kematian dirinya sendiri.

Liora, yang mendongak sedikit, bisa melihat pundak Arion yang bergetar samar-bukan karena takut, tapi karena menahan beban emosi yang terlalu besar untuk dipikul oleh tubuh yang sudah hancur itu.

la melihat profil samping wajah Arion; mata itu tidak menatap ke depan, melainkan menatap jauh ke masa lalu yang penuh duka.

Nyx mengepalkan tangannya di atas tanah. la bisa merasakan "hawa dingin" yang memancar dari Arion bukan hanya intimidasi, melainkan kesepian yang teramat murni.

Arion terus berjalan beberapa langkah menjauh dari mereka, seolah ia perlu berdiri di tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh lukanya. Di sana, di bawah rembulan yang dingin, ia berhenti.

Kemarahan dinginnya perlahan mulai mengambil alih, menelan kesedihan yang tadi hampir menenggelamkannya.

Para prajurit yang dikenal tak kenal takut itu mendadak membeku.

Mereka melihat tuan mereka keluar dengan kondisi yang memprihatinkan-tubuh yang belum pulih dan langkah yang goyah.

Namun, wajah Arion... wajah itu adalah perpaduan yang mengerikan antara gestur kesedihan yang hancur dan kemarahan yang amat dalam.

Matanya memerah, menunjukkan sisa-sisa air mata yang tidak pernah jatuh, namun tatapannya mengandung janji akan kehancuran bagi siapa pun yang berani menghalanginya.

Vorgon dan para komandan lainnya mundur satu langkah secara instingtif.

Mereka ketakutan, sebuah rasa takut yang murni karena mereka merasa sedang berdiri di hadapan sesosok dewa yang sedang berduka.

Namun di balik ketakutan itu, kekaguman yang luar biasa membakar dada mereka.

Inilah pemimpin yang mereka tunggu.

Bukan pangeran yang arogan, melainkan pria yang membawa seluruh luka dunianya di pundaknya dan tetap memilih untuk berdiri.

Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, namun aura pekat yang menyelimutinya seolah berteriak ke seluruh penjuru benteng bahwa masa-masa persembunyian telah berakhir.

Di kejauhan, Sebas hanya menundukkan kepala dengan hormat, air mata tipis mengalir di pipinya.

"Akhirnya... Anda berhenti menahan diri, Tuan Muda."

Arion berdiri di tempat yang sunyi, beberapa langkah dari Liora dan Nyx.

la mengangkat Sunder-Soul tepat di depan dadanya.

Matanya yang ungu kemerahan karena sisa tangis kesedihan kini menatap bilah pedang itu dengan intensitas yang mengerikan.

Tanpa ragu, ia menggenggam mata pedang itu dengan tangan kirinya dan menyeretnya ke atas.

Crak.

Logam hitam itu mengoyak dagingnya dengan rakus.

Darah segar Arion tidak menetes ke tanah; darah itu seolah memiliki nyawanya sendiri, merayap dan meresap masuk ke dalam pori-pori bilah Sunder-Soul.

Seketika, pedang itu mengeluarkan suara berdenging rendah yang menyakitkan telinga-sebuah jeritan kuno yang terbangun dari tidurnya.

Cahaya ungu gelap mulai berpijar dari sela-sela logam, namun di saat yang sama, tubuh Arion tersentak hebat.

Inilah kekuatan bumerang dari Sunder- Soul. Sebuah kontrak terlarang yang menuntut bayaran instan.

Saat pedang itu mulai menyerap energinya, Arion merasakan sirkuit mana-nya yang sudah hancur dipaksa bekerja melampaui batas.

Rasanya seperti ribuan jarum panas ditusukkan langsung ke saraf- sarafnya.

Setiap kali aura ungu itu semakin terang, rasa sakit yang menghunjam jantung Arion semakin berlipat ganda.

Keringat dingin bercampur darah mulai mengucur dari pelipisnya.

Visi matanya memburam, dan paru-parunya terasa seperti terbakar, namun ia tidak melepaskan genggamannya.

la tahu benar konsekuensinya: Semakin besar otoritas kematian yang dipancarkan pedang ini, semakin besar kehancuran yang harus ditanggung oleh tubuh penggunanya.

Liora, yang melihat otot-otot lengan Arion bergetar hebat dan wajahnya yang menahan perih luar biasa, menggigit bibirnya hingga berdarah.

la ingin berlari menopang tuannya, namun ia tahu ini adalah ritual pengukuhan. Arion menggeram pelan, sebuah suara yang lahir dari puncak penderitaan fisik.

"Sakit ini..." bisiknya dengan bibir yang memucat,

"...tidak ada apa-apanya dibandingkan penghinaan yang kalian berikan."

Aura hitam-ungu itu akhirnya meledak, membentuk pusaran energi yang meluluhlantakkan tanah di bawah kaki Arion. Arion berdiri di pusat badai itu, tampak seperti dewa kematian yang rapuh.

la memegang senjata yang bisa membunuh siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

Angin malam di Perbatasan Barat bertiup kencang, membawa aroma tanah kering dan sisa-sisa pertempuran.

Di dataran luas yang tak berujung itu, di bawah langit malam yang pekat, Arion berdiri menjauh dari tenda medisnya.

la membalikkan badan, menatap ratusan prajurit dan para ajudannya yang masih bersujud. Dengan sisa tenaganya, ia menghentakkan Sunder-Soul ke tanah.

BRAK!

Tanah dataran barat yang keras itu retak di bawah Hujaman bilah pedang hitamnya.

Arion bertumpu pada gagang pedang, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit bumerang yang menghancurkan sarafnya.

Darah merembes dari sudut bibirnya, namun suaranya tetap terdengar otoriter di tengah desau angin.

"Dengarlah..." bisik Arion, namun suaranya menembus barisan prajurit.

"Kita mungkin akan hancur... kekuatan di luar sana jauh lebih besar dari pemimpin kalian yang rapuh ini. Aku bisa mati kapan saja di tengah jalan. Kalian... masih akan mengikutiku?"

Keheningan sempat menguasai dataran itu sebelum sebuah gemuruh tekad meledak.

"Hancur?"

Liora mendongak dengan tatapan gila yang penuh pemujaan.

"Jika kau hancur, maka biarkan kami menjadi serpihan yang akan menusuk musuhmu! Kami tidak mengikuti kekuatanmu, Tuan... kami mengikuti jiwamu!"

"HANCUR BERSAMAMU, BANGKIT BERSAMAMU! DARAH KAMI MILIKMU, TUAN!"

Suara ratusan ksatria pecah, menggetarkan cakrawala perbatasan.

Mereka siap menjadi tameng daging, siap luluh lantak asalkan pria di depan mereka tetap berdiri. Di tengah sorak-sorai fanatik itu, Arion memejamkan mata, membayangkan wajah Elara untuk terakhir kalinya sebelum kegelapan merayap di visinya.

"Elara..." bisiknya sangat pelan.

"Maaf... mungkin aku akan menghancurkan kerajaanmu."

Seketika, cahaya ungu pekat di bilah Sunder- Soul meredup drastis.

Beban dari kekuatan bumerang itu akhirnya mencapai puncaknya.

Tubuh Arion kehilangan seluruh tumpuannya. la tersungkur ke depan, jatuh dalam ketidaksadaran yang dalam.

Sebelum tubuhnya menyentuh debu tanah, tiga bayangan bergerak dengan kecepatan kilat. Sebas, Liora, dan Nyx secara serentak menangkap tubuh tuan mereka.

Mereka mendekap Arion dengan penuh rasa hormat dan perlindungan, seolah-olah sedang memegang permata paling berharga di dunia yang retak.

"Tugasmu sudah cukup untuk malam ini, Tuan Muda," bisik Sebas dengan mata berkaca- kaca. Liora dan Nyx saling melirik, sebuah kesepahaman tanpa kata terjalin di antara para monster itu.

Mereka segera membopong tubuh Arion, meninggalkan dataran luas itu dengan satu tujuan pasti: Membawanya pulang ke kastil milik mereka sendiri, tempat di mana mereka akan menyusun rencana untuk meruntuhkan kekaisaran.

Bersambung...

1
Leon 107
ngak tau lagi apa yang mau dibaca...
Leon 107
pertama...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!