NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:483
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perlawanan

Setelah masuk ke kamar hotel, mereka ber tiga langsung merasakan kelegaan karena berada di tempat yang aman dan nyaman. Kamar tersebut cukup luas dengan tiga tempat tidur yang rapi, serta fasilitas yang lengkap. Rohita segera memeriksa setiap sudut kamar untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah atau yang bisa membahayakan mereka. Dewi membantu Devi untuk duduk di salah satu tempat tidur dan memberikan air minum karena dia terlihat sangat lelah dan stres.

Setelah beberapa saat, mereka mulai merasa lebih tenang. Devi akhirnya berhenti menangis dan mulai berbicara tentang apa yang dia rasakan. “Aku benar-benar takut pada Rio, teman-teman. Aku tidak ingin melihatnya lagi dan tidak ingin berbicara dengannya sama sekali,” ujar Devi dengan suara yang masih sedikit gemetar. Rohita duduk di sebelahnya dan menepuk pundaknya dengan lembut. “Kita tidak akan membiarkan dia menyakitimu lagi, Devi. Kita akan selalu ada di sisimu untuk melindungi mu,” kata Rohita dengan nada yang hangat dan penuh janji.

Dewi juga duduk bersebelahan dengan mereka dan berkata, “Tapi kita harus punya rencana. Rio tidak akan mudah menyerah dan dia sudah bilang bahwa dia akan menunggu kita. Kita tidak bisa hanya diam dan berharap dia akan pergi sendiri.” Rohita mengangguk dan mulai berpikir keras tentang apa yang harus mereka lakukan. Akhirnya, dia mengusulkan sebuah rencana yang cukup berisiko namun mungkin bisa membantu mereka keluar dari situasi ini.

“Bagaimana kalau kita pura-pura mau berbicara dengannya? Aku akan pergi bersama Devi menemukannya di kamar nya, sementara Dewi bisa membantu kita dari luar jika ada sesuatu yang salah. Kita akan pura-pura tidur dengan dia—tidak dalam arti yang buruk, tapi hanya untuk membuat dia merasa bahwa kita sudah mau menerima nya kembali dan kemudian kita bisa mencari cara untuk kabur dari sini atau mendapatkan bukti bahwa dia sedang memaksa Devi,” ujar Rohita dengan suara yang rendah dan penuh perhitungan.

Devi merasa sedikit ragu dengan rencana itu. “Tapi bagaimana kalau dia tahu bahwa kita sedang berpura-pura? Apa yang akan terjadi padaku dan kalian berdua?” tanya Devi dengan suara yang penuh kekhawatiran. Dewi segera menjawab, “Kita akan ...selalu siap membantu kamu, Devi. Kita akan merencanakan semuanya dengan matang agar tidak ada yang salah. Selain itu, kita bisa mencari cara untuk mendapatkan bukti bahwa dia sedang memaksamu, sehingga jika ada masalah nantinya kita bisa melaporkannya ke pihak berwenang.”

Setelah beberapa saat membahas detail rencana, mereka akhirnya sepakat untuk melaksanakannya malam itu saja. Mereka tahu bahwa semakin cepat mereka bertindak, semakin baik untuk keselamatan mereka semua. Rohita mulai mengatur langkah-langkah yang harus dilakukan: Devi akan datang menemui Rio dengan wajah yang dibuat-buat lembut dan mau mendengarkan kata-katanya, sementara Rohita akan menyamar sebagai teman Devi yang ingin membantu memperbaiki hubungan mereka berdua. Dewi akan berada di luar kamar Rio untuk mengawasi situasi dan siap mengambil tindakan jika ada yang tidak berjalan sesuai rencana.

Mereka juga membahas tentang apa yang harus dilakukan jika rencana mereka terbongkar. Rohita sudah menyiapkan beberapa nomor kontak yang bisa mereka hubungi jika terjadi masalah, termasuk nomor teman dekat yang tinggal di daerah itu. Dewi juga menyimpan beberapa barang penting seperti dompet, kunci motor, dan telepon genggam di dalam tasnya yang akan dia bawa saat mengawasi dari luar.

Sebelum berangkat menemui Rio, Rohita memberikan semangat kepada Devi dan Dewi. “Kita harus tetap tenang dan tidak menunjukkan bahwa kita sedang berpura-pura. Ingat, keselamatan kita semua ada di sini. Kalau kita bisa melakukan ini dengan benar, kita bisa segera keluar dari situasi ini dan Rio tidak akan pernah mengganggu kita lagi,” ujar Rohita dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan.

Devi mengangguk perlahan, meskipun wajahnya masih menunjukkan rasa takut yang tersisa. “Aku akan mencoba yang terbaik, teman-teman. Aku tahu aku bisa mengandalkan kalian berdua,” ujar Devi dengan suara yang sudah lebih tenang. Dewi kemudian memeluk Devi dan Rohita secara bergantian, memberikan dukungan dengan cara yang dia bisa.

Setelah merasa siap, mereka mulai bergerak menuju kamar Rio yang terletak di lantai atas hotel. Langkah mereka terasa berat karena ketegangan yang mereka rasakan, namun mereka tetap fokus pada tujuan mereka. Saat sampai di depan pintu kamar Rio, Rohita memberi isyarat kepada Dewi untuk bersembunyi di sudut koridor, sementara dia dan Devi akan mengetuk pintu kamar. Dengan napas dalam-dalam, Devi mengangkat tangan untuk mengetuk pintu, siap menghadapi mantan pacarnya dan menjalankan rencana yang telah mereka susun bersama.

Ketika pintu kamar Rio terbuka, wajahnya langsung menunjukkan ekspresi senang melihat Devi dan Rohita yang berdiri di depan pintunya. “Devi… kamu benar-benar datang. Aku sangat senang,” ujar Rio dengan suara yang penuh harapan. Devi hanya mengangguk dengan wajah yang dibuat-buat tenang dan berkata, “Aku mau mendengarkan apa yang kamu mau katakan, Rio. Dan Rohita mau membantu kita berdua untuk berkomunikasi dengan baik.”

Rio mengizinkan mereka masuk ke dalam kamar. Kamar tersebut cukup luas dengan satu tempat tidur besar, meja kerja, dan balkon kecil. Dewi yang sedang bersembunyi di luar kamar segera memperhatikan setiap gerakan dan suara yang keluar dari dalam. Rohita mulai berbicara dengan Rio dengan nada yang ramah namun tetap waspada. “Kita tahu bahwa kamu menyesal dengan apa yang telah kamu lakukan, Rio. Devi juga ingin memberikan kesempatan kedua untuk kamu, tapi kamu harus menunjukkan bahwa kamu benar-benar berubah,” ujar Rohita dengan cara yang membuat Rio merasa bahwa dia sedang berada di pihaknya.

Sementara itu, Dewi mulai melakukan bagian dari rencana mereka. Dia perlahan mendekat ke pintu kamar dan mulai menggoda Rio dengan suara yang lembut dan menyakitkan hati. “Rio… kamu tidak perlu hanya fokus pada Devi saja kan? Aku juga bisa memberikan sesuatu yang kamu inginkan,” ujar Dewi dengan suara yang terdengar dari luar pintu yang sedikit terbuka. Rio merasa terkejut dan mulai bergerak ke arah pintu, tertarik dengan suara yang dia dengar.

Rohita melihat ini sebagai kesempatan yang tepat. Saat Rio sedang fokus pada suara Dewi dari luar dan berusaha mendekati pintu, Rohita dengan cepat bergerak ke arah kantong celana Rio yang terbuka. Dia tahu bahwa kunci mobil Rio ada di sana—kunci yang bisa mereka gunakan untuk kabur jika ada masalah. Dengan gerakan yang cepat dan hati-hati, Rohita mengambil kunci mobil dari kantong Rio dan menyembunyikannya di dalam saku bajunya.

Namun Rio menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan mulai berbalik dengan wajah yang marah. “Apa yang kamu lakukan?! Kamu semua sedang berpura-pura bukan?!” seru Rio dengan suara tinggi, mulai bergerak ke arah Rohita untuk mengambil kembali kunci mobil. Namun sebelum dia bisa mencapai Rohita, Devi yang sudah siap dengan tindakan nya segera menendang bagian pelipis Rio dengan keras.

Dampak tendangan itu membuat Rio pingsan dan jatuh ke lantai kamar dengan keras. Rohita segera mengecek kondisi Rio untuk memastikan bahwa dia hanya pingsan dan tidak terluka parah. “Kita harus segera keluar dari sini! Sekarang adalah kesempatan yang tepat!” ujar Rohita dengan suara yang cepat dan penuh kegembiraan karena rencana mereka berhasil.

Dewi yang sudah membuka pintu kamar dari luar segera masuk dan membantu Devi yang masih merasa sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan. Mereka dengan cepat keluar dari kamar Rio dan menutup pintunya rapat, kemudian berlari dengan cepat menuju lift untuk pergi ke lantai dasar hotel. Mereka tahu bahwa mereka tidak punya banyak waktu sebelum Rio sadar kembali dan mulai mengejar mereka.

Setelah keluar dari kamar Rio dan sampai di lantai dasar hotel, mereka langsung berlari menuju parkiran luar tempat mobil Rio dan motor Rohita berada. Rohita masih menyimpan kunci mobil Rio di dalam saku nya, namun dia memutuskan untuk menggunakan motor nya sendiri karena lebih cepat dan mudah untuk manuver di jalanan.

Mereka dengan cepat naik ke atas motor—Rohita di depan sebagai pengemudi, sementara Devi dan Dewi duduk di belakang sebagai penumpang. Rohita langsung menyalakan mesin motor dan mulai mengendarainya keluar dari area parkiran hotel dengan kecepatan yang cukup tinggi. Mereka semua merasa lega karena berhasil keluar dari kamar Rio dan menghindari bahaya yang mengancam Setelah beberapa lama berkendara, mereka akhirnya tiba di depan kost tempat Rohita tinggal. Pintu kost masih terbuka, dan suasana di sekitarnya terlihat damai seperti biasanya. Ketiganya turun dari motor dengan hati-hati, kaki mereka merasa sakit karena lama berada di atas motor namun hati mereka merasa sangat lega karena bisa kembali dengan selamat. Rohita membuka pintu kost dan mengajak kedua gadis itu untuk masuk. “Akhirnya kita kembali ke rumah,” ucapnya dengan senyum yang jarang muncul di wajahnya, membuat Dewi dan Devi juga ikut tersenyum dengan rasa syukur yang dalam.

Setelah memasuki kost, suasana damai yang mereka rasakan langsung berubah dengan cepat. Devi yang baru saja masuk ke dalam ruangan langsung menekuk badan sedikit, tangannya berada di perutnya yang mulai mengeluarkan suara keroncongan yang jelas terdengar. “Aduh, aku benar-benar sangat lapar sekali!” teriaknya dengan ekspresi kesusahan di wajahnya yang biasanya ceria. “Rasanya seperti belum pernah makan selama berhari-hari!”

Rohita yang sedang menutup pintu kost kemudian menoleh ke arah dapur yang terletak di sudut ruangan. Dia berjalan mendekat ke lemari es dan membukanya, namun wajahnya langsung menunjukkan ekspresi kecewa ketika melihat isi lemari es yang hampir kosong. Hanya ada beberapa botol air dan sepotong kecil es batu yang tersisa di sana. Dia kemudian memeriksa lemari kayu yang biasanya digunakan untuk menyimpan makanan, namun juga hanya menemukan beberapa bungkus teh dan gula pasir yang sedikit.

“Tidak ada makanan sama sekali di sini,” ucap Rohita dengan nada sedikit marah, seperti biasanya ketika menghadapi hal yang tidak diinginkannya. Dia menghela napas dalam-dalam dan menatap ke arah jendela, mencoba untuk mengendalikan emosinya agar tidak menyakitkan perasaan kedua gadis muda tersebut.

Dewi yang sudah masuk ke dalam kamar lalu keluar lagi dengan langkah yang pelan mendekati Devi. Dia melihat wajah Devi yang semakin lesu karena lapar dan merasa iba. “Kita memang tidak punya makanan di sini, Devi. Aku juga mulai merasa lapar,” ucapnya dengan suara lembut, tangannya menyentuh bahu Devi dengan penuh perhatian.

Devi mengangguk perlahan, matanya melihat sekeliling ruangan berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa dimakan. “Kira-kira apa yang bisa kita lakukan ya? Rasanya aku tidak tahan lagi seperti ini,” ucapnya dengan suara yang sedikit lemah. Dia sudah terbiasa untuk selalu makan dengan cukup, dan kondisi saat ini membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Rohita yang masih berdiri di depan lemari kemudian berbalik menghadap kedua gadis itu. Meskipun ekspresinya masih menunjukkan kemarahan, namun di dalam hatinya dia merasa bertanggung jawab untuk menyediakan makanan bagi mereka berdua yang sudah menjadi teman baginya. “Baiklah, kita harus mencari cara untuk mendapatkan makanan. Aku bisa pergi ke warung dekat sini untuk membeli sesuatu yang bisa dimakan,” katanya dengan nada yang lebih tenang. “Namun kita harus berhati-hati, jangan sampai ada yang menyusul kita atau melihat kita keluar.”

Devi langsung menunjukkan ekspresi senang ketika mendengar kata-kata Rohita. “Benar sekali! Kita bisa membeli mie instan atau nasi goreng saja, yang penting bisa mengenyangkan perut kita,” ucapnya dengan semangat yang mulai kembali muncul. Dewi juga mengangguk dengan senyum lembut. “Aku bisa membantu memasaknya setelah kamu membeli bahan makanannya, Rohita,” katanya dengan suara yang penuh kesediaan.

Rohita mengangguk dan mulai mengambil jaketnya yang berada di kursi. Dia melihat sekeliling ruangan satu kali lagi untuk memastikan tidak ada yang salah, kemudian membuka pintu kost dengan hati-hati. “Aku akan cepat kembali. Kalian tinggal di sini saja dan jangan buka pintu untuk siapapun selain aku ya,” katanya dengan nada tegas sebelum keluar dari kost dan menjelajahi jalan malam yang sudah mulai tiba untuk mencari makanan bagi dirinya dan dua teman barunya.

1
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!