NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu dari Masa Lalu

Setelah konferensi pers yang menggegerkan Jakarta itu, Alex benar-benar menepati janjinya. Ia tidak ingin berlama-lama di hiruk-pikuk kota yang penuh dengan kamera wartawan. Sore itu juga, mereka kembali ke Bogor, membawa Adrian yang mungil serta membawa sebuah nisan marmer yang indah untuk memperbaiki makam ayah Almira.

Kemenangan melawan Nadia Mahendra memberikan napas baru bagi rumah tangga mereka. Almira kini tidak lagi dipandang sebelah mata oleh para pelayan di mansion. Mereka menunduk hormat, bukan karena takut pada Alex, tapi karena rasa segan pada Nyonya Eduardo yang ternyata memiliki jasa besar bagi perusahaan.

Beberapa hari kemudian, Alex memutuskan untuk mengadakan acara syukuran sederhana di desa kelahiran Almira. Ia ingin membersihkan nama mendiang ayah mertuanya secara total di mata penduduk desa.

"Al, kamu sudah siap?" tanya Alex sambil merapikan kemeja batiknya di depan cermin.

Almira masuk ke kamar dengan menggendong Adrian yang sudah ganteng memakai baju koko kecil. "Sudah, Alex. Tapi... apa tidak berlebihan kalau kita potong dua ekor sapi untuk warga desa?"

Alex tersenyum, ia mendekat dan mencium pipi Adrian, lalu beralih mencium kening Almira. "Itu belum seberapa dibanding rasa sakit yang kamu rasakan kemarin, Al. Aku ingin semua orang tahu bahwa keluarga Yusuf adalah orang terhormat."

Suasana desa yang biasanya sepi kini ramai luar biasa. Tenda-tenda besar didirikan di lapangan dekat rumah lama Almira. Bau masakan gule dan sate menyeruak ke udara. Warga desa berkumpul dengan wajah ceria, mereka tidak menyangka bahwa Almira yang dulu berangkat sebagai pelayan kini pulang sebagai seorang ratu.

Sari, sahabat kecil Almira, berlari memeluk Almira dengan air mata bahagia. "Al! Kamu hebat banget! Aku liat di TV kamu berani banget berdiri di depan semua orang itu!"

Almira tertawa sambil membalas pelukan sahabatnya. "Ini semua berkat doa kamu juga, Sar."

Alex berdiri di samping Almira, menyalami warga satu per satu dengan ramah. Hilang sudah sosok Tuan Besar yang angkuh dan dingin. Ia tampak menikmati suasana pedesaan yang tenang. Ia bahkan sempat menggendong Adrian berkeliling untuk melihat pohon-pohon kelapa, sesuatu yang membuat hati Almira merasa sangat hangat.

Saat acara makan-makan biasa bersama sedang berlangsung, di tengah keramaian itu, muncul seorang pria tua dengan pakaian kumal. Wajahnya penuh kerutan dan jalannya sedikit pincang. Ia berdiri di pinggir tenda, menatap Alex dengan pandangan yang sangat dalam dan penuh rasa bersalah.

Rendy, yang selalu waspada, segera mendekati pria itu. "Maaf, Pak, ada yang bisa dibantu? Kalau mau makan, silakan ambil di sebelah sana."

Pria tua itu menggeleng. "Saya tidak mau makan. Saya ingin bicara dengan Tuan Alexander Eduardo. Tolong... ini soal kecelakaan dua tahun lalu."

Rendy terkejut. Ia segera memberi kode kepada Alex. Alex yang sedang mengobrol dengan Pak RT langsung menoleh. Begitu mendengar kata "kecelakaan", wajah Alex kembali menegang. Ia meminta Almira untuk tetap bersama Adrian, sementara ia masuk ke dalam rumah tua bersama pria itu dan Rendy.

Di dalam rumah yang remang-remang, pria tua itu duduk dengan tangan gemetar. Nama pria itu adalah Pak Darma, mantan mekanik di garasi pribadi keluarga Eduardo bertahun-tahun lalu.

"Tuan Alex... saya sudah tidak kuat menahan rahasia ini. Penyakit saya sudah parah, dan saya tidak mau mati membawa dosa," ucap Pak Darma dengan suara parau.

Alex menatapnya tajam. "Apa maksudmu, Pak? Apa hubungannya dengan kecelakaan yang membuatku lumpuh?"

Pak Darma menarik napas panjang. "Dua tahun lalu, saat Tuan akan pergi ke luar kota dan mengalami kecelakaan maut itu... rem mobil Tuan tidak blong secara alami. Seseorang menyuruh saya untuk mengendurkan baut dan memotong sedikit kabel sensornya."

Alex menggebrak meja kayu di depannya. "Siapa?! Siapa yang menyuruhmu?"

"Bukan orang luar, Tuan," tangis Pak Darma pecah. "Orang itu tahu persis jadwal perjalanan Tuan. Dia memberikan saya uang banyak untuk mengobati istri saya yang sakit saat itu. Dia adalah... Paman Tuan sendiri, Tuan Bramanto Eduardo."

Alex terpaku. Dunianya seolah berhenti berputar. Bramanto adalah adik dari ayahnya, orang yang selama ini terlihat paling mendukung Alex saat ia sedang terpuruk. Bramanto adalah orang yang sering membesuknya saat ia masih dirawat di rumah sakit.

"Paman Bram?" bisik Alex tidak percaya. "Kenapa dia tega? Dia sudah punya segalanya."

"Dia ingin menguasai penuh saham perusahaan saat Tuan dianggap tidak mampu lagi memimpin karena cacat permanen, Tuan. Dia bekerja sama dengan pihak lain untuk memastikan Tuan tidak akan pernah bisa berjalan lagi," lanjut Pak Darma sambil menyerahkan sebuah amplop berisi rekaman percakapan telepon yang ia simpan secara sembunyi-sembunyi sebagai jaminan keselamatannya.

Alex keluar dari rumah dengan wajah pucat dan mata yang menyala karena amarah yang luar biasa. Ia merasa dikhianati oleh darah dagingnya sendiri. Ternyata, selama ini musuh terbesarnya bukanlah Nadia Mahendra, melainkan orang yang ia panggil "Paman".

Almira, yang melihat perubahan wajah suaminya, langsung menghampiri. Ia menitipkan Adrian pada Bi Inah dan memegang tangan Alex yang sangat dingin.

"Alex? Ada apa? Apa yang pria itu katakan?" tanya Almira cemas.

Alex tidak bisa bicara. Ia hanya menarik Almira ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di bahu istrinya. Tubuh pria perkasa itu bergetar. Hatinya hancur berkeping-keping menyadari bahwa orang yang ia percayai ingin melihatnya mati atau lumpuh selamanya.

"Keluargaku... mereka ingin membunuhku, Al," bisik Alex sangat pelan.

Almira tertegun. Ia tidak bertanya lebih lanjut, ia hanya mengeratkan pelukannya. Ia mengusap punggung Alex dengan lembut, mencoba memberikan kehangatan di tengah badai informasi yang menghancurkan hati suaminya.

"Aku di sini, Alex. Aku, Adrian, dan Ibu... kami adalah keluarga aslimu sekarang. Kami tidak akan pernah mengkhianatimu," kata Almira dengan suara yang sangat tulus.

Momen itu terasa sangat emosional. Di tengah pesta desa yang ramai, di bawah langit sore yang mulai menguning, Alex menangis dalam diam di pelukan istrinya. Hasratnya untuk membalas dendam sangat besar, namun kehadiran Almira membuatnya merasa tidak sendirian.

Setelah beberapa saat, Alex melepaskan pelukannya. Matanya yang tadinya basah kini berubah menjadi sangat dingin dan fokus. Sisi "Singa Eduardo" kembali bangkit, namun kali ini lebih bijaksana karena didampingi oleh Almira.

"Rendy," panggil Alex.

"Ya, Tuan?"

"Simpan bukti dari Pak Darma. Jangan beri tahu siapa pun, termasuk Paman Bram. Aku ingin dia merasa menang untuk sementara. Kita akan pulang ke Jakarta besok. Aku akan mengadakan acara keluarga besar minggu depan."

Alex menatap Almira. "Al, kali ini perangnya akan terjadi di dalam rumah kita sendiri. Kamu siap?"

Almira menggenggam tangan Alex kuat-kuat. "Selama kita bersama, aku tidak takut pada siapa pun, Alex."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!