NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. HADIAN MERASA TERABAIKAN

Sinar lampu kamar yang lembut menerangi wajah Hadian yang sedang duduk di atas karpet lantai, menatap buku matematika di depannya dengan ekspresi wajah yang penuh kesusahan. Tangan kanannya terus menggaruk kepalanya, sementara tangan kirinya mencoba menuliskan angka-angka di buku latihan dengan gaya tulis yang sedikit tergesa-gesa. Di sebelahnya, Alea sudah tertidur pulas di atas kasur lipat kecil yang ditempatkan di sudut kamar, boneka Kiki-nya masih terpeluk erat di pangkuannya.

Rian yang baru saja selesai membersihkan dapur masuk ke kamar dengan membawa mangkuk buah potong yang sudah dia siapkan untuk anak-anaknya. Dia langsung melihat ekspresi wajah putranya yang tampak kesal dan frustasi, membuatnya langsung mendekat dengan hati-hati.

“Kenapa nih Nak? Seperti ada yang membuat kamu kesusahan ya?” tanya Rian dengan suara lembut, duduk bersebelahan dengan Hadian dan menempatkan mangkuk buah di atas lantai dekat buku-bukunya.

Hadian menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab, masih tidak menghiraukan mangkuk buah yang biasanya disukainya. “Aku tidak mengerti soal ini Papa. Bu guru bilang kalau ini adalah materi penting untuk ujian minggu depan, tapi aku tidak bisa mengerjakannya dengan benar,” jelasnya dengan suara yang sedikit menyendiri, menunjuk pada baris soal yang penuh dengan angka dan simbol matematika. “Bu Mama biasanya selalu mengajari aku kalau ada soal yang aku tidak mengerti, tapi sekarang dia jarang ada di rumah. Kadang aku sudah tidur dia baru pulang, dan paginya aku bangun dia sudah pergi lagi.”

Rian merasa hati sedikit terjepit mendengar keluhan putranya. Dia melihat wajah Hadian yang sudah mulai menunjukkan bekas air mata di sudut matanya, jelas bahwa putranya tidak hanya kesusahan dengan pelajaran, tapi juga merindukan kehadiran ibunya yang jarang menemani dia seperti dulu.

“Aku mengerti rasamu Nak,” ujar Rian dengan nada yang penuh kasih, mengusap pundak putranya dengan lembut. “Bu Mama memang sedang sangat sibuk bekerja akhir-akhir ini, tapi kamu harus tahu bahwa dia melakukannya untuk kebaikan kita semua. Dia juga pasti merindukan kamu dan ingin selalu ada untuk membantumu belajar.”

Hadian mengangguk perlahan, tapi ekspresi wajahnya masih tetap menunjukkan rasa kecewa yang dalam. “Aku tahu itu Papa, tapi aku benar-benar butuh bantuan untuk soal ini. Kamu juga sudah capek kerja seharian, aku tidak ingin menyusahkanmu lagi,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar, menahan air mata yang ingin keluar.

Rian langsung mengambil buku matematika dan melihat soal yang sedang membuat Hadian kesusahan. Dia perlahan membaca setiap kalimat soal, mencoba mengingat kembali cara menyelesaikannya seperti yang pernah dia pelajari dulu di sekolah. Meskipun sudah cukup lama tidak menyentuh materi matematika seperti itu, tapi dia berusaha sekuat mungkin untuk mengingat langkah-langkah penyelesaiannya.

“Tenang saja Nak, Papa akan mencoba membantumu ya,” ujar Rian dengan senyum menenangkan, mulai menjelaskan setiap langkah penyelesaian soal dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Hadian. “Kita kerjakan satu per satu ya, jangan terburu-buru. Jika ada yang tidak kamu mengerti, jangan sungkan untuk bertanya padaku.”

Dengan kesabaran yang luar biasa, Rian menghabiskan hampir dua jam untuk membantu Hadian mengerjakan soal-soal matematika yang sulit itu. Kadang-kadang dia harus berpikir lama untuk menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan konsep matematika yang cukup kompleks kepada putranya yang baru kelas satu SD. Namun dia tidak pernah merasa bosan atau kesal, karena dia tahu bahwa ini adalah waktu berharga yang bisa dia habiskan bersama putranya dan membantu memenuhi kebutuhan anaknya akan perhatian dan bimbingan yang biasanya diberikan Novi.

Setelah mereka berhasil menyelesaikan sebagian besar soal, Hadian mengeluarkan hembusan lega dan menunjukkan senyum kecil yang akhirnya muncul di wajahnya. “Terima kasih Papa! Sekarang aku sudah mengerti cara mengerjakannya. Kamu memang hebat juga seperti Bu Mama ya!” ujarnya dengan suara yang penuh semangat, langsung mengambil sepotong apel dari mangkuk buah dan memakannya dengan senang.

Rian merasa sangat bangga melihat wajah putranya yang kembali ceria. Dia mengusap kepala Hadian dengan lembut dan berkata, “Kamu juga hebat lho Nak! Cukup dengan sedikit penjelasan kamu sudah bisa mengerti. Jika kamu terus belajar dengan giat seperti ini, kamu pasti akan menjadi orang yang pintar dan sukses kelak.”

Saat itu, pintu kamar terbuka perlahan dan Novi masuk dengan membawa tas kerja yang sudah dia lepaskan dari pundaknya. Dia melihat Rian dan Hadian yang sedang duduk bersama di lantai, dengan buku-buku dan mangkuk buah di sekitar mereka. Ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi penuh kesedihan dan rasa bersalah ketika menyadari bahwa dia telah melewatkan momen berharga untuk membantu putranya belajar.

“Hadian, sudah selesai belajar ya?” ujar Novi dengan suara yang lembut, mendekat ke arah mereka dan mencium dahi putranya. “Maafkan Bu Mama ya Nak, Bu Mama tidak bisa menemani kamu belajar karena harus bekerja. Apakah kamu sudah mengerti semua pelajaranmu?”

Hadian mengangguk tapi tidak melihat langsung ke arah ibunya. “Sudah Bu Mama, Papa sudah membantuku belajar. Aku sudah mengerti semua soalnya sekarang,” jawabnya dengan suara yang sedikit dingin, menunjukkan bahwa dia masih merasa sedikit tersinggung dengan kejar-kejutan ibunya yang jarang ada di rumah.

Novi merasa hati sangat sakit mendengar jawaban putranya. Dia duduk bersebelahan dengan Rian dan Hadian, mengambil tangan putranya dengan lembut dan berkata, “Aku benar-benar menyesal Nak. Bu Mama sudah terlalu fokus pada pekerjaan dan melupakan bahwa kamu masih sangat membutuhkan kehadiran dan bantuan ibumu. Mulai sekarang, Bu Mama akan lebih mengatur waktu dengan baik ya. Kamu bisa bilang kalau ada pelajaran yang kamu tidak mengerti, Bu Mama akan selalu ada untuk membantumu belajar.”

Hadian akhirnya melihat ke arah ibunya dengan mata yang sudah mulai merah karena menahan air mata. “Benarkah Bu Mama? Kamu tidak akan pergi lagi saat aku sedang belajar kan?” tanyanya dengan suara yang penuh harapan.

“Tentu saja Nak, janji Bu Mama,” jawab Novi dengan suara yang penuh cinta, membungkus putranya dengan pelukan yang erat. “Bu Mama juga merindukan waktu bersama kamu dan Kakak Alea. Kita akan menemukan cara agar Bu Mama bisa bekerja namun juga tidak mengabaikan waktu untuk keluarga kita.”

Rian melihat momen itu dengan rasa lega dan haru. Dia mengambil tangan istri dan memeluknya dengan lembut, memberikan dukungan yang penuh kepada Novi yang jelas sedang merasa sangat bersalah dengan apa yang telah terjadi. “Kita bisa bekerja sama untuk mengatur semuanya Sayang,” ujarnya dengan suara lembut di telinga istri. “Kita tidak perlu bekerja sendiri-sendiri, karena kita adalah keluarga yang harus saling membantu satu sama lain.”

Setelah itu, Novi bergabung dengan mereka untuk membantu Hadian menyelesaikan sisa soal yang belum selesai. Alea yang sudah terbangun karena suara pembicaraan mereka juga ikut bergabung, duduk di pangkuan ibunya dan melihat dengan penuh rasa kagum ketika ibunya dan kakaknya bekerja sama mengerjakan soal matematika.

“Bu Mama, aku juga mau belajar matematika ya!” ujar Alea dengan suara yang ceria, membuat semua orang tertawa ringan. Novi mencium pipi putrinya dan berkata, “Tentu saja Sayang, nanti kalau kamu sudah masuk SD, Bu Mama juga akan membantumu belajar ya. Kamu pasti akan menjadi anak yang pintar seperti Kakak Hadian.”

Saat jam menunjukkan sudah hampir pukul sepuluh malam, Rian memutuskan bahwa sudah saatnya anak-anak untuk tidur agar mereka bisa bangun segar keesokan harinya untuk sekolah. Dia membantu Hadian menyusun buku-bukunya ke dalam tas ransel, sementara Novi membawa Alea ke kasur lipatnya untuk membantu putrinya tidur.

Sebelum tidur, Hadian mendekat ke arah ibunya dan memeluknya dengan erat. “Terima kasih Bu Mama sudah mau membantu aku belajar nanti ya,” ujarnya dengan suara yang sudah mulai mengantuk. “Aku cinta kamu dan Papa.”

Novi merasa mataharinya sedikit berkaca-kaca mendengar kata-kata putranya. Dia mencium dahi Hadian dan berkata, “Aku juga cinta kamu Nak, lebih dari apa pun di dunia ini. Tidurlah dengan nyenyak ya, besok pagi Bu Mama akan sarapkan kamu dan mengantarmu ke sekolah.”

Setelah anak-anak tertidur pulas, Rian dan Novi keluar kamar dan duduk bersama di ruang tamu yang sudah dipadamkan sebagian lampunya agar tidak mengganggu anak-anak yang sedang tidur. Suasana menjadi tenang dengan hanya suara kipas angin yang berputar dan suara nyamuk yang sedikit terdengar dari luar rumah.

“Aku tidak menyadari bahwa aku telah melupakan hal yang paling penting, Sayang,” ujar Novi dengan suara yang penuh kesedihan, menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. “Aku terlalu fokus pada impian untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarga kita sehingga aku melupakan bahwa kebahagiaan mereka tidak hanya datang dari uang atau barang-barang mewah, tapi dari waktu yang kita habiskan bersama sebagai keluarga.”

Rian memeluk istri dengan lembut dan berkata, “Itu tidak masalah Sayang, kita semua bisa membuat kesalahan. Yang penting adalah kamu menyadari hal itu dan bersedia untuk memperbaiki diri. Anak-anak sangat mencintaimu dan mereka hanya ingin kamu ada di sana untuk mereka. Kita bisa menemukan cara untuk menyelaraskan pekerjaanmu dengan waktu keluarga kita. Misalnya saja kamu bisa mengatur jadwal kerja agar tidak terlalu larut malam, atau kita bisa mengajak anak-anak untuk membantu kamu di pekerjaan sambilanmu jika memungkinkan. Begitu mereka merasa terlibat, mereka akan lebih mengerti mengapa kamu harus bekerja keras.”

Novi mengangguk mendengar kata-kata suaminya yang penuh hikmat. “Kamu benar sekali Sayang. Aku akan berbicara dengan Kakak Wati besok untuk mengatur jadwal kerja yang lebih fleksibel. Jika perlu, aku akan mengurangi jumlah pekerjaan sambilan agar aku bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan kamu dan anak-anak,” jelasnya dengan suara yang tegas dan penuh komitmen. “Aku tidak ingin kehilangan momen-momen berharga dengan mereka. Mereka tumbuh dengan sangat cepat dan aku tidak ingin menyesal nantinya karena tidak bisa melihat mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang baik.”

Rian memberikan senyum hangat dan mencium dahi istri. “Itu adalah keputusan yang tepat Sayang. Kita bisa menemukan cara lain untuk meningkatkan penghasilan keluarga kita tanpa harus mengorbankan waktu bersama anak-anak. Misalnya saja kita bisa mempertimbangkan untuk memulai usaha kecil di rumah yang bisa kita kelola bersama-sama, atau aku bisa mencari pekerjaan lepas di waktu senggang setelah pulang kerja dari pabrik.”

Mereka berbicara lama tentang berbagai ide dan rencana untuk masa depan keluarga mereka. Novi menceritakan tentang beberapa kesempatan bisnis kecil yang mungkin bisa mereka jalankan bersama-sama, sementara Rian memberikan ide tentang cara menghemat pengeluaran keluarga agar mereka tidak perlu terlalu bergantung pada penghasilan tambahan dari pekerjaan sambilan Novi.

Di pagi hari berikutnya, Rian terbangun oleh suara percakapan yang riang dari dapur. Dia segera bangun dan pergi ke dapur, dan melihat Novi sedang memasak sarapan pagi sambil berbincang dengan Hadian dan Alea yang sudah berpakaian siap untuk sekolah. Suasana di dapur sangat hangat dengan candaan dan tawa yang keluar dari bibir anak-anak, sesuatu yang sudah jarang mereka rasakan selama beberapa minggu terakhir.

“Papa sudah bangun ya? Sarapan sudah siap lho!” ujar Alea dengan suara ceria ketika melihat ayahnya masuk ke dapur. Novi juga menoleh dan memberikan senyum yang penuh kebahagiaan kepada suaminya.

“Selamat pagi Sayang,” ujar Novi dengan suara lembut. “Aku sudah memasak bubur ayam kesukaan kamu semua. Setelah sarapan, aku akan mengantarmu ke stasiun sebelum mengantar anak-anak ke sekolah.”

Rian merasa sangat bersyukur melihat keluarga kecilnya yang kembali penuh dengan kebahagiaan dan kehangatan. Dia tahu bahwa masih ada tantangan yang akan datang dan mungkin akan ada masa-masa sulit yang harus mereka lalui bersama, tapi dia juga yakin bahwa dengan cinta, pengertian, dan kerja sama yang penuh dari seluruh anggota keluarga, mereka pasti akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada di depannya.

Saat mereka menyantap sarapan pagi bersama dengan penuh kebahagiaan, Rian berdoa dengan tulus dalam hati bahwa momen indah seperti ini akan terus ada dalam kehidupan keluarga mereka. Dia bertekad untuk selalu menjadi suami dan ayah yang baik, yang tidak hanya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara materi, tapi juga selalu ada untuk memberikan cinta, perhatian, dan bimbingan yang sangat dibutuhkan oleh istri dan anak-anaknya. Karena dia tahu bahwa tidak ada harta benda di dunia ini yang bisa menggantikan kebahagiaan dan keharmonisan keluarga yang penuh cinta.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!