Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan Dan Tawa Histeris
Ia kembali tertawa, kali ini lebih keras, hingga suaranya memantul di dinding-dinding kost yang sempit. Beberapa penghuni kost mengintip dari balik jendela dengan wajah ketakutan.
"Nikmati malammu dengan jurnal-jurnal itu, Sayang. Sementara itu, aku akan kembali ke sisi Attar, karena sebentar lagi, tidak akan ada lagi pahlawan yang bisa diandalkan oleh Livia," ucap Sheila sambil berbalik, melambaikan tangannya dengan angkuh.
Ayub mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menyadari bahwa Sheila bukan sekadar wanita egois; dia adalah predator yang tidak akan berhenti sebelum korbannya hancur. Namun, di dalam hati Ayub, api perlawanan justru semakin berkobar. Jika Sheila pikir tugas-tugas kuliah bisa menghentikannya untuk melindungi Livia, maka wanita itu salah besar.
Di saku celananya, ponsel Ayub bergetar. Sebuah pesan dari Livia: "Ayub, kamu di mana? Aku merasa ada yang mengikutiku di hotel."
Napas Ayub tertahan. Ia menatap mobil Sheila yang melaju pergi, menyadari bahwa permainan ini sudah berubah menjadi sangat berbahaya.
****
Livia Winarti Samego menggenggam map cokelat berisi berkas gugatan cerainya dengan tangan yang dingin. Matahari Jakarta siang itu menyengat kulit, namun ia merasa menggigil. Sejak pagi, ia merasakan sepasang mata mengawasi gerak-geriknya dari balik kaca jendela hotel. Rasa tidak nyaman itu semakin memuncak saat ia memarkirkan mobilnya di pelataran Pengadilan Agama.
Suasana pengadilan yang ramai oleh hiruk-pikuk orang-orang yang ingin melepaskan ikatan legal mereka tidak membuat Livia merasa aman. Ia melangkah terburu-buru menuju pintu utama, namun perasaannya mengatakan ada sesuatu yang salah. Sebuah van hitam dengan kaca yang sangat gelap terparkir tidak jauh dari jalur pejalan kaki, mesinnya menderu halus seolah siap melesat kapan saja.
Tepat saat Livia berada di area yang sedikit lengang, pintu geser van itu terbuka dengan sentakan kasar. Dua orang pria berbadan besar dengan masker hitam melompat keluar.
"Mau apa kalian?! Lepaskan!" jerit Livia saat lengan kokoh salah satu pria itu mencengkeram bahunya.
"Ikut kami, Mbak. Jangan banyak suara kalau tidak mau terluka," desis pria itu dengan suara parau.
Livia meronta, kakinya menendang udara, dan map cokelat di tangannya jatuh berhamburan ke aspal panas. "Tolong! Tolong saya!" teriaknya sekuat tenaga. Namun, teriakan itu segera teredam oleh sebuah kain beraroma kimia menyengat yang didekapkan ke wajahnya. Tubuh Livia lemas, ia diseret dan didorong masuk ke dalam kegelapan van tersebut. Pintu tertutup dengan suara dentum yang final, meninggalkan berkas-berkas perceraiannya berserakan di tanah, terinjak oleh ban mobil yang melesat pergi.
****
Di dalam van yang melaju kencang, Livia mencoba mempertahankan kesadarannya. Di sudut kursi yang lebih nyaman, duduk seorang wanita yang tampak sangat kontras dengan situasi penculikan yang kasar ini.
Sheila Nandhita duduk dengan menyilangkan kaki, menatap Livia dengan pandangan yang penuh kemenangan. Penampilannya hari ini sangat mencolok; ia mengenakan blazer merah darah yang tajam, rok span ketat di atas lutut yang menonjolkan lekuk tubuhnya, dan sepasang sepatu hak tinggi yang ujungnya runcing seperti belati. Sebuah selendang sutra menutupi sebagian rambutnya, dan kacamata hitam besar menyembunyikan matanya yang menyimpan kegilaan.
Sheila melepaskan kacamata hitamnya perlahan, lalu meledak dalam tawa yang mengerikan. "Hahaha! Lihatlah dirimu, Livia. Sang Nyonya Pangestu yang agung, sekarang berakhir di lantai mobil seperti barang rongsokan."
"Sheila... apa... apa maumu?" bisik Livia lemah, kepalanya berputar hebat akibat efek obat bius ringan.
"Mauku?" Sheila membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Livia. Bau parfum mahalnya yang menyengat terasa mencekik. "Aku ingin kamu menghilang, Liv. Kamu adalah gangguan. Kamu membuat Attar merasa bersalah, dan kamu membuat pemuda ingusan itu berani melawan aku. Kalau kamu hilang dari peredaran, segalanya akan kembali ke tanganku."
Sheila menyentuh pipi Livia dengan ujung kuku merahnya yang panjang. "Attar milikku. Harta Pangestu milikku. Dan kamu? Kamu hanya akan menjadi kenangan pahit yang dilupakan." Ia kembali tertawa histeris, tawa yang bergema di ruang sempit van itu, seolah-olah dia sedang merayakan kematian seorang musuh besar.
****
Di saat yang sama, di salah satu ruang seminar universitas, Ayub Sangaji tidak bisa duduk diam. Kakinya terus mengetuk-ngetuk lantai dengan gelisah. Ponsel di sakunya sudah bergetar berkali-kali—pesan dari Livia yang tak sempat ia balas tadi pagi—dan sekarang, saat ia mencoba menghubungi balik, nomor Livia sudah tidak aktif.
"Ayub! Fokus pada presentasi! Kenapa kamu malah melamun?" suara tegas Pak Jamal, sang Rektor, memecah keheningan ruangan.
Maaf, Pak. Tapi saya punya urusan darurat. Saya harus pergi sekarang," ucap Ayub sambil menyambar tasnya.
"Duduk!" bentak Pak Jamal, wajahnya memerah. Di belakang Pak Jamal, dua dosen penguji menatap Ayub dengan pandangan mengancam. "Jika kamu melangkah keluar dari pintu ini sekarang, Ayub, saya pastikan beasiswamu dicabut dan kamu akan kena sanksi skorsing satu semester. Pilih mana: masa depanmu atau urusan tidak jelasmu itu?"
Ayub mengepalkan tangan di bawah meja. Ia tahu ini adalah perangkap Sheila. Rektor ini sudah dibeli atau ditekan oleh wanita itu. Dadanya terasa sesak oleh amarah. Firasatnya mengatakan Livia dalam bahaya besar. Ia teringat tatapan mata Livia yang penuh luka, teringat bagaimana wanita itu berterima kasih padanya saat ia membawakan sarapan.
'Masa depanku tidak ada artinya kalau aku membiarkan nyawa seseorang hilang hanya karena aku takut pada ancaman', batin Ayub. Namun, para dosen itu berdiri di depan pintu, seolah sengaja membarikade jalan keluarnya.
****
Sementara itu, di Rumah Sakit Medika, waktu seolah berhenti berputar. Attar Pangestu masih duduk di samping ranjang VVIP ibunya. Bunyi detak jantung dari monitor adalah satu-satunya melodi yang menemani kesunyiannya. Rahmi belum juga siuman sejak melewati masa kritisnya.
Attar menggenggam tangan ibunya, air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak kusam di pipinya. Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit Jakarta yang mulai mendung.
"Ma... Livia tidak datang hari ini," bisiknya pelan. "Aku tahu aku sudah menghancurkan hatinya. Tapi kenapa perasaanku tidak enak sekali, Ma? Seperti ada sesuatu yang menarik jantungku keluar."
Attar meraih ponselnya, mencoba menghubungi Livia untuk kesekian kalinya. Tetap saja, hanya suara operator yang menyambut. Ia tidak tahu bahwa istrinya saat ini sedang berada di bawah ancaman wanita yang dulu ia puji-puji kecantikannya. Pengkhianatan Attar telah membukakan pintu bagi iblis untuk masuk ke dalam hidup mereka, dan kini, iblis itu mulai menagih tumbalnya.
Attar tidak sadar bahwa di luar sana, mobil van hitam yang membawa Livia sedang melaju menuju sebuah gudang tua di pinggiran kota, diikuti oleh mobil merah Sheila yang berkilat di bawah lampu jalan yang mulai menyala.
Di kampus, Ayub tiba-tiba berdiri. Persetan dengan beasiswa. Persetan dengan Pak Jamal. Ia menatap sang Rektor dengan mata yang berkilat tajam. "Bapak bisa mengambil beasiswa saya, tapi Bapak tidak bisa mengambil nurani saya."
Ayub menerjang pintu, mendorong salah satu dosen yang mencoba menghalanginya, dan berlari menuju parkiran motor. Ia harus menemukan Livia. Ia harus menyelamatkan satu-satunya cahaya yang tersisa di tengah kegilaan ini.