NovelToon NovelToon
Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Darah Naga Dan Cahaya Bulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kutukan / Fantasi Timur / Fantasi Wanita / Demon Slayer / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:54
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
​Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Bayangan Tiba di Solaria

​Pagi itu, langit Solaria tidak menunjukkan tanda-tanda badai, namun udara di dalam aula utama terasa begitu berat hingga Aethela merasa seolah-olah ia sedang tenggelam di bawah air. Ia berdiri di samping takhta ayahnya, mengenakan gaun sutra berwarna perak pucat yang berkilau seperti pantulan bulan di atas danau. Mahkota kristal kecil melingkar di kepalanya, terasa seperti duri yang menekan pelipisnya.

D bawah tatapan ratusan bangsawan Solaria yang berbisik-bisik, ia merasa bukan sebagai manusia, melainkan sebagai komoditas yang sedang menunggu untuk ditimbang dan dinilai harganya. Setiap kali ia menarik napas, ia merasakan getaran sihir di ujung jemarinya—sebuah peringatan bahwa emosinya sedang tidak stabil.

​"Tetaplah tenang, Putriku," bisik Raja Solaria, tangannya yang gemetar menggenggam lengan kursi takhta.

​"Aku tenang, Ayah," jawab Aethela dengan suara yang datar, meski jantungnya berdegup kencang di balik korsetnya.

​Tiba-tiba, suara terompet ditiup—bukan dengan nada kemenangan yang biasanya terdengar di Solaria, melainkan nada rendah dan mengancam yang bergema di sepanjang dinding batu. Pintu besar aula terbuka perlahan, dan untuk sesaat, cahaya matahari yang masuk terhalang oleh bayangan besar.

​Rombongan dari Obsidiana masuk. Mereka tidak mengenakan pakaian sutra atau emas; mereka mengenakan zirah hitam legam dengan aksen kulit naga yang kasar. Di barisan paling depan, berjalan seorang pria yang kehadirannya seolah menyerap seluruh cahaya di ruangan itu.

​Napasnya tertahan. Ia telah membaca tentang Valerius, namun melihatnya secara langsung adalah hal yang berbeda. Pria itu tinggi, dengan bahu lebar yang mencerminkan kekuatan seorang prajurit. Rambutnya hitam sekelam malam di Obsidiana, dan matanya... matanya berwarna emas cair yang tajam, seperti predator yang sedang mengunci mangsanya.

​Saat Valerius melangkah maju, Aethela merasakan sihir bulannya bereaksi dengan keras. Rasanya seperti ada arus listrik yang melompat dari kulitnya ke arah pria itu. Ia harus mencengkeram rok gaunnya agar tangannya tidak gemetar.

​Valerius tidak menyukai kemegahan. Ia membenci bau parfum yang terlalu manis di aula ini dan musik kecapi yang terdengar lemah di telinganya. Baginya, setiap langkah di atas karpet merah Solaria adalah bentuk penghinaan terhadap kesederhanaan prajuritnya.

​Namun, saat matanya menyisir panggung di ujung aula, segala keluh kesahnya menghilang.

​Ia merasakan hantaman fisik. Ia telah mempersiapkan diri untuk menemui seorang putri yang lemah, namun wanita yang berdiri di sana tampak seperti personifikasi dari cahaya bulan itu sendiri. Rambut perak Aethela berkilau, kontras dengan kulitnya yang pucat. Tapi yang paling mengganggu Valerius adalah matanya—ungu gelap, penuh dengan kecerdasan dan... kebencian yang murni.

​Dia membenciku, pikir Valerius, dan anehnya, hal itu membuatnya merasa lebih baik. Ia lebih suka dibenci daripada dicintai dengan kepalsuan.

​Saat ia berhenti tepat di depan takhta, ia tidak membungkuk rendah. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang nyaris tidak sopan.

​"Raja Solaria," suara Valerius bergema, rendah dan serak. "Aku datang untuk mengklaim apa yang telah dijanjikan oleh perjanjian damai kita."

​Ia mengalihkan pandangannya langsung ke Aethela. Untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka hanya tinggal beberapa langkah.

​Valerius merasakan tarikan sihir yang hampir menyakitkan. Ada aroma dingin seperti salju dan bunga malam yang menguar dari tubuh Aethela. Insting naganya berteriak, bukan untuk menyerang, tapi untuk memiliki. Ia bisa melihat denyut nadi di leher Aethela yang berdetak cepat. Wanita ini takut, tapi dia berdiri tegak. Valerius menghargai keberanian itu.

​Perspektif: Aethela Vespera

​Aethela menatap langsung ke mata emas Valerius. Ia tidak akan berpaling. Ia ingin pria ini tahu bahwa meskipun ia menyerahkan tubuh dan sihirnya, ia tidak akan pernah menyerahkan jiwanya.

​"Pangeran Valerius," ucap Aethela, suaranya jernih dan kuat, mengejutkan para bangsawan di sekitarnya. "Apakah Obsidiana begitu putus asa hingga harus mengirim Pangeran Perangnya hanya untuk menjemput seorang pengantin?"

​Sudut bibir Valerius terangkat sedikit—nyaris sebuah senyuman, tapi lebih mirip seringai serigala. "Obsidiana tidak pernah putus asa, Putri. Kami hanya memastikan bahwa aset berharga kami sampai dengan selamat tanpa ada gangguan dari mereka yang ingin merusak perdamaian ini."

​Aset berharga. Kata-kata itu menusuk Aethela. Benar saja, ia hanyalah sebuah barang baginya.

​Valerius melangkah lebih dekat, menaiki satu anak tangga panggung. Ia mengulurkan tangannya yang dibungkus sarung tangan kulit hitam. "Waktunya telah tiba, Aethela. Mari kita akhiri sandiwara di istana yang nyaman ini. Kerajaanku menunggu, dan sihirmu... sihirmu sangat dibutuhkan."

​Aethela menatap tangan itu. Jika ia menyambutnya, tidak ada jalan kembali. Ia menoleh ke arah ayahnya yang tampak layu di takhtanya, lalu kembali ke arah Valerius.

​Dengan tarikan napas panjang, ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Valerius. Saat kulit mereka bersentuhan—meski terhalang kain tipis sarung tangannya—sebuah ledakan energi statis terjadi. Lilin-lilin di aula berkedip hebat, dan pendaran perak samar meledak dari titik sentuhan mereka.

​Valerius tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia mempererat genggamannya. Matanya berkilat dengan sesuatu yang tidak bisa diartikan Aethela—apakah itu kepuasan, atau justru ketakutan yang sama dengannya?

​"Ayo," bisik Valerius, suaranya hanya bisa didengar oleh Aethela. "Mari kita lihat apakah kau benar-benar bisa menahan kegelapan di rumahku."

​Aethela mengangkat dagunya. "Jangan meremehkanku, Naga. Kau mungkin memiliki api, tapi akulah yang mengendalikan pasang surut air."

​Di bawah tatapan penuh kecemasan dari seluruh kerajaan Solaria, sang Putri Mahkota ditarik pergi oleh sang Pangeran Bayangan. Pertemuan pertama mereka bukan ditandai dengan janji cinta, melainkan dengan deklarasi perang batin yang baru saja dimulai.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!