NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Langit malam mulai meredup sempurna, menyisakan cahaya bulan yang lembut menembus tirai tipis di ruang tengah. Suara jam berdetak pelan, seperti denting waktu yang enggan bergulir cepat.

Elena membuka pintu kamarnya perlahan. Suasana apartemen kecil mereka begitu tenang, nyaris tak terdengar. Ia melangkah keluar dengan langkah ringan, mengenakan kaus tipis dan celana panjang santai. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya tanpa rias.

Ia berhenti di ambang ruang tengah.

Leon masih di sana.

Duduk bersila di atas sofa, selimut kecilnya membungkus setengah tubuhnya, dan sebuah mainan di hadapannya.

Elena menatapnya dengan senyum kecil yang dipaksakan. Tapi di dalam dadanya, ada sesak yang sulit dijelaskan.

Ia melangkah mendekat, lalu duduk di samping Leon.

Tanpa berkata apa-apa, ia menyandarkan tubuhnya pelan ke punggung sofa, menatap ke arah langit-langit, berusaha menahan emosi yang sempat mengendap sejak pagi.

“Leon,” ucapnya pelan.

Bocah itu menoleh. “Iya, Ma?”

Elena tersenyum kecil, lalu memalingkan wajah ke arah anak itu. “Maaf…”

Leon berkedip. “Untuk apa, Ma?”

Elena menghela napas panjang. “Karena Mama tidak bisa seperti ibu-ibu lainnya. Yang bisa pulang cepat, antar-jemput ke sekolah, bantu PR setiap sore. Mama sibuk… terlalu sibuk.” Suaranya bergetar halus.

Leon menatap wajah ibunya beberapa detik.

Kemudian dia tersenyum… hangat. Lembut. Terlalu dewasa untuk anak seusianya.

“Aku tahu, Ma,” ucapnya tenang. “Mama kerja keras supaya semuanya baik-baik saja. Supaya kita bisa hidup nyaman. Aku ngerti kok.”

Elena menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. “Kau… tidak marah?”

Leon menggeleng. “Tidak. Aku malah bangga.”

Kata-kata itu menusuk. Pelan. Dalam.

Elena meraih Leon, memeluknya erat. Wajahnya terkubur di bahu kecil anak itu.

“Kadang Mama merasa bersalah. Karena kau harus tumbuh… terlalu mandiri.”

Leon hanya membalas pelukannya, tak banyak bicara. Tapi matanya menatap ke kejauhan… jauh lebih dewasa dari anak usia enam tahun.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan.

Kemudian Elena melepaskan pelukannya perlahan, mengusap rambut Leon dengan lembut. Tapi pikirannya belum sepenuhnya tenang. Ia memandangi wajah putranya. Wajah kecil yang begitu mirip dengannya.

Ia mengalihkan pandang.

“Andai saja dia tahu,” bisiknya nyaris tak terdengar.

Leon menoleh. “Siapa, Ma?”

Elena menggeleng cepat. “Tidak… bukan siapa-siapa.”

Namun benaknya kembali pada satu nama.

Alexander Thorne.

Pria itu… ayah biologis Leon. Pria yang tidak tahu apa pun tentang hasil dari proyek genetika eksklusif yang disepakati bertahun lalu, atas nama riset. Pria yang kemarin malam tidur dengannya seolah ia adalah satu-satunya yang bisa menyelamatkannya, lalu pagi ini memberinya jarak seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Elena mengembuskan napas pelan.

Alexander tidak boleh tahu.

Tidak boleh tahu bahwa "proyek itu berhasil." Bahwa benih yang disumbangkannya, secara legal dan ilmiah, telah menjadi seorang anak laki-laki yang kini ada di depannya.

Karena jika Alexander tahu… jika ia tahu dia menyembunyikan putranya selama ini, Elena tak yakin pria itu tidak akan mencoba mengambil Leon dari dirinya.

Alexander Thorne bukan tipe pria yang membiarkan sesuatu yang ‘miliknya’ lepas begitu saja.

Tapi Leon bersikap biasa. Di depan Elena, ia hanya anak kecil. Tidak ada yang mencurigakan.

Elena membelai rambut Leon lagi, seolah ingin menenangkan dirinya sendiri. "Kau tahu, kadang Mama merasa kau terlalu dewasa untuk usiamu."

Leon tersenyum kecil, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Elena.

Elena menahan napas. Senyumnya getir.

Dan dalam hatinya, ia berdoa satu hal, semoga rahasia ini tidak pecah.

Karena jika Alexander tahu... ia tak yakin bisa mempertahankan Leon.

Dan ia takkan sanggup kehilangan anak itu.

***

Langit kota London dihiasi kilau lampu-lampu tinggi yang memantul indah di permukaan Sungai Thames. Malam terasa bersih setelah hujan sore yang mengguyur singkat. Udara masih menyimpan sisa sejuknya, membelai wajah siapa pun yang berjalan di antara trotoar basah yang mengilap.

Elena menggandeng tangan kecil Leon dengan hati-hati. Ia mengenakan mantel panjang berwarna krem dan sepatu hak rendah, rambutnya digulung rapi ke belakang. Di sampingnya, Leon berjalan dengan langkah ringan. Bocah itu tampak gagah dalam kemeja putih dan rompi biru tua, celana bahan hitam, serta sepatu mengilap yang terlihat baru. Wajahnya penuh semangat, dan sorot matanya memantulkan kekaguman.

“Mama, benar kita mau makan di restoran itu?” tanyanya sambil menunjuk ke arah bangunan tinggi dengan papan nama bercahaya elegan: La Verité.

Elena mengangguk, menatap anaknya penuh kelembutan. “Ya, malam ini kita makan di sana. Sebuah hadiah kecil untukmu.”

Leon menatapnya dengan mulut sedikit terbuka. “Karena aku ulang tahun?”

Elena tersenyum samar. “Bukan, Sayang. Karena Mama ingin kau tahu… bahwa kau layak mendapatkan hal-hal indah. Meski kita tidak selalu bisa.”

Leon menggenggam tangan ibunya lebih erat. Ia tidak bertanya lagi. Tapi senyum di wajahnya lebih dari cukup untuk membalas ucapan Elena.

Begitu memasuki restoran, mereka disambut oleh cahaya hangat dan aroma masakan Prancis yang harum menggoda. Interiornya bergaya klasik-modern: perpaduan antara dinding marmer putih, perabot kayu gelap mengilap, dan lampu gantung kristal yang menggantung seperti bintang beku.

Pelayan menghampiri mereka dengan ramah, lalu mengantar ke meja yang terletak di dekat jendela besar yang menghadap ke taman kota. Leon tampak terpesona, tak henti menatap sekeliling ruangan.

“Tempat ini… seperti di film,” ucapnya lirih.

Elena tertawa kecil. “Kalau begitu, kita sedang jadi tokoh utamanya malam ini.”

Setelah memesan makanan, mereka duduk dalam keheningan yang menyenangkan. Leon menyibukkan diri dengan melihat daftar menu anak-anak yang penuh ilustrasi lucu, sementara Elena memandangi wajah putranya—wajah kecil yang begitu ia jaga dengan segenap hidupnya.

Tidak lama kemudian, hidangan pun datang. Leon mendapat steak mini dengan kentang panggang berbentuk bintang, sementara Elena memilih salmon panggang dengan saus lemon ringan.

Percakapan mengalir ringan di antara keduanya. Mereka membicarakan sekolah, film kartun yang sedang Leon sukai, dan tentang harapan-harapan kecil yang biasa ditulis anak-anak dalam buku harian rahasia.

Namun, saat mereka tengah menikmati pencuci mulut, Elena mendongak… dan pandangannya tiba-tiba bertemu dengan seseorang.

Seorang pria, dengan jas gelap rapi dan wajah yang tidak asing.

Steve.

Jantung Elena mencelos seketika.

Ia mengenal pria itu dengan sangat baik. Ia adalah seniornya semasa bekerja di Drexler BioLabs. Pria yang pernah begitu dekat dengannya. Dan pria yang… mengetahui proyek donor genetik yang pernah mereka kerjakan bersama.

Steve berjalan mendekat, wajahnya berubah dari bingung menjadi terkejut. “Elena?”

Elena berusaha tetap tenang. Ia bangkit berdiri dengan senyum tipis. “Steve… lama sekali.”

Steve tampak tak percaya. “Tuhan… aku sudah mencarimu bertahun-tahun. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu di sini.”

Tatapannya kemudian beralih ke Leon, yang duduk diam di kursinya, menatap pria asing itu dengan penasaran.

“Siapa dia?” tanya Steve lembut. “Anakmu?”

Elena menarik napas perlahan. “Ya. Namanya Leon.”

Steve tampak terguncang sesaat. “Tapi… bukankah waktu itu… Dr. Reese mengatakan kehamilanmu gagal? Aku… aku sempat berharap kau tidak terluka.”

Elena menunduk sedikit, berusaha menenangkan debar jantungnya. “Aku baik-baik saja. Waktu itu… banyak yang terjadi. Aku pernah menikah, tapi sekarang aku sudah bercerai, dan Leon tinggal bersamaku.”

Kebohongan kecil itu terucap dengan tenang. Tapi Elena tahu, setiap kata darinya adalah tameng bagi keselamatan Leon.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!