namanya Mahesa Kalandra, seorang duda yang bangkrut hingga istrinya membuangnya dengar seorang anak gadis yang masih berumur lima tahun, istrinya lari dengan boss nya dan lebih nelangsanya lagi ketika orang tuanya menfitnah dengan meminjam uang di suatu pinjaman online dengan mengatas namakan identitasnya, kini dia lari di kejar rentenir hingga hidupnya nyaris berakhir, mampukah dia bangun dari keterpurukan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Checilia yang genius
Pagi ini hari pertama Checilia masuk TK di usianya yang tepat lima tahun, tak ada pesta ulang tahun tak ada kemeriahan apapun, hanya saja sebelum berangkat tadi ayahnya sudah mempersiapkan sekotak kue donuts karakter dengan harga lima puluh ribu rupiah, setidaknya Mahendra masih ingat ulang tahun anaknya, daripada dirinya yang mulai kecil tak dapat kasih sayang dari orang tuanya, Mahendra ingat sekali kapan terakhir kali di peluk oleh ibunya, waktu itu kelas enam SD dan baru mau masuk kuliah karena waktu itu Mahendra menyelamatkan dompet ibunya yang terjatuh, pelukan hanya sebagai rasa terimakasih dompetnya di temukan bukan merupakan pelukan kasih sayang, maka dari itu meskipun dia hanyalah single parent dia tak akan meninggalkan anaknya sedetik pun, anaknya adalah prioritas utama dalam hidupnya.
"assalamualaikum pak Hendra, selamat pagi ini mau jemput Checilia biar saya bawa sekalian ke sekolah dari pada saya nganggur". Sapa gadis cantik berhijab putih dengan seragam guru yang berwarna coklat muda itu, ternyata ustadzah Zahira juga mengajar di TK dimana checill sekolah, Mahendra sungguh tak enak hati terus menyusahkan sang ustadzah baik hati dan cantik jelita itu.
"Waalaikumsalam Bu guru, maaf jadinya merepotkan ini, saya jadi nggak enak sama Bu guru". Jawab Hendra sungkan.
" nggak apa apa pak, kan sekalian kita searah juga biar nanti checill pulang pergi nya bersama saya". Hendra sebenarnya tak enak hati tapi gadis berusia dua puluh tiga tahun itu seperti nya sangat menyayangi checill yang memang cerdas dan menurut, maklum juga dia adalah putri satu satunya di keluarga nya.
Dan akhirnya mereka berdua berangkat ke sekolah, dan Hendra pun mulai aktifitas nya membersihkan dan menyiapkan segalanya sebelum menerima pasien berikutnya, sekarang tak lagi menunggu karena pasien yang antri sudah di jadwal dan Hendra membatasi sehari hanya bisa menangani sepuluh orang.
Sore harinya ketika habis magrib Hendra yang telah berjanji akan mendatangi rumah om Jo membawa sang putri juga, dan mereka mengendarai motor matic merk Vario yang di berikan om Jo siang tadi telah diantar oleh salah satu pesuruhnya, matic berwarna hitam itu melaju di jalanan dengan kecepatan sedang, checill yang bahagia diajak jalan jalan sore begitu gembira dan antusias sekali, sambil bernyanyi riang kadang hafalan surat pendek mulutnya tak bisa diam selalu berceloteh, Hendra hanya diam menikmati suara celotehan sang putri.
Sesampainya di rumah om Jo, seorang satpam yang ternyata tadi mengirim motor segera membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan Mahendra dan putrinya masuk, ternyata di dalam om Jo telah menunggu di ruang tamu.
"Rumah kakek Jo buuesarr sekali ya yah, nanti kalau checill udah gede akan checill belikan ayah rumah seperti ini". celoteh si kecil dan Mahendra hanya mengucap Aaminn.
"silahkan masuk Hendra, silahkan duduk dulu". Ucap om Jo, Hendra kemudian duduk dengan hati hati di sofa yang terbuat dari busa pilihan dari Italia itu, sofa lembut di bungkus kain beludru halus sungguh Hendra baru pertama kalinya duduk di tempat semewah ini, apalagi melihat lantai yang terbuat dari granit istimewa dan semua tiang di rumah itu berukir indah rumah yang benar benar besar dan mewah, checill yang duduk di sisi ayahnya hanya terbengong memandangi kemewahan rumah itu, dari sudut ruangan terlihat seorang wanita dengan muka judesnya dan sikapnya yang angkuh berbisik "dasar norak, kampungan banget darimana si Jo tua bangka itu membawa manusia udik macam itu". Batin perempuan itu lalu seseorang berteriak memanggilnya.
"mbak Ririn, dimana kalung berlian ku yang ku taruh di meja rias, mau aku pakai malam ini tahu". Teriak sang majikan cewek.
"nggak tahu non Kia, memang non Kia menaruhnya dimana?" jawab si kepala asisten rumah tangga yang ternyata bernama Ririn, seorang wanita muda yang sekaligus jadi asisten pribadi dari pak Jonathan Permana.
Dengan ngomel ngomel Kiara, putri kedua pak Jonathan itu marah kepada asisten pribadi ayahnya itu karena tidak sekali dua kali dia kehilangan barang berharganya, dan ayahnya selalu menuduh Kia menghilangkan barang barangnya di jalan karena Kiara sudah terkenal gadis yang pelupa.
"eeee ini siapa? Cantik sekali, kenalan dong namaku Kiara panggil aja kak Kia, kamu siapa gadis cantik". Sapa Kiara setelah dia keluar dari kamarnya mau keluar rumah dan melewati kamar tamu ternyata ada tamu seorang gadis cantik dengan lelaki dewasa.
Checill memandang ayahnya dan ayahnya menganggukkan kepala sebagai tanda setuju.
" namaku checill kak, dan ini ayahku kami kesini di undang sama kakek ganteng". Ucap gadis kecil berhijab lucu berwarna hijau daun itu.
Kiara yang mendengar sebutan kakek ganteng menatap ayahnya tak percaya sang ayah di sebut ganteng sama checill, dia lalu tertawa terbahak bahak, ada ada saja bikin geer sang ayah saja.
"lucu sekali kamu, keriput gitu di bilang ganteng bikin geer dia aja kamu checill". Kiara belum bisa berhenti tertawa karena celotehan Checil yang dianggap sangat lucu.
kemudian Ririn keluar untuk menyuguhkan minuman dan cemilan pada tamu sang boss, dengan Kiara masih belum beranjak keluar.
"ketemu mbak kalung ku?" tanya Kiara.
"nggak ketemu non, mbak Ririn nggak tahu". jawab Ririn dengan suara yang sangat meyakinkan.
" kalungnya ada bulat bulat warna hijau ya kak?" tanya Checil tiba tiba.
"iya kok checill tahu?" heran juga Kia dan semua orang yang ada di ruang tamu.
"lha itu, ada di saku Tante itu?" jawab checill sambil menunjuk ke arah Ririn, membuat Ririn melotot tak percaya, sementara Mahendra langsung membungkam mulut putrinya sambil minta maaf, baru datang sudah membuat permusuhan.
"ahh nggak usah di percaya mbak Kia, mbak Ririn dia hanya anak kecil pasti terinspirasi dari tontonan cerita Barbie di tiktok, maafkan kami". Hendra memohon maaf pada semua orang terutama Ririn dan Kia atas kegaduhan yang di buat putrinya, sementara om Jo tersenyum dan mengangguk, pasti hanya salah faham karena selama ini Ririn adalah asisten nya yang sangat setia, tak mungkin dia berbuat keji meskipun sekecil apapun.
"kurang ajar gadis ini, kenapa tahu aku yang ngambil kalung berlian si Kia, jika mereka memasalahkan aku akan fitnah dia bahwa dia yang telah menaruh kalung itu di saku blazer ku". Batin Ririn geram sekali, jangan sampai rencananya yang bertahun tahun di susun akan berantakan begitu saja karena kedatangan gadis kecil ini.
Hendra mulai mengurut dan memijat kaki dan seluruh tubuh om Jo, benar saja, tak ada satupun syaraf yang rusak, semuanya normal saja, tetapi dengan pijatan dan urutan Hendra di titik syarafnya membuat om Jo merasa agak relax, harus pelan pelan mencari sumber penyakit orang tua ini.
Setelah bapak dan anak ini pulang tengah malam ternyata checill sudah tertidur terpaksa dia menyetir satu tangan dan tangan yang lain memeluk sang anak di pangkuannya sebelum nya tadi checill sudah dapat wejangan dari ayahnya "jangan ngomong sembarangan kepada orang yang baru kita kenal karena tak semua orang itu baik, ada yang jahat sejahat nenek sihir ". Nasehat ayahnya dan checill mengerti berjanji tak akan ngomong sembarangan lagi.
"tapi itu benar yah, kalung kak Kia ada di saku baju Tante jahat yang tiap ngeliat checill selalu melotot" Checil tak mau di salahkan.
"iya nak, ayah tahu kamu punya kelebihan itu tetapi kadang orang akan memusuhi kita ketika mereka tahu usahanya di jegal orang, biarkan selama itu bukan urusan kita biar mereka sendiri yang memutuskannya". Nasehatnya lagi membuat sang putri berfikir dan mencoba memahami nasehat dari ayahnya sampai dia tertidur dalam perjalanan .
🥰🥰🥰