NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pelatih mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang pemuda seperti Dimas. Ia sempat terkejut, lalu tertawa keras sambil melanjutkan makannya. Setelah beberapa detik, ia tenang kembali dan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum hangat.

“Baiklah, seperti yang saya katakan tadi, adik ipar saya itu manajer tim voli profesional, tim Depok Thunder,” kata pelatih dengan semangat, matanya berbinar sambil menepuk meja kayu. Aroma daging sate maranggi yang baru dibakar memenuhi udara.

Dimas hanya mengangguk pelan, meskipun sebenarnya ia tidak terlalu paham apa maksud pelatihnya.

“Gini deh, biar gampang,” lanjut sang pelatih, “kalau kamu mau ikut seleksi tim itu, dan kamu lolos, kamu bisa dapat kontrak awal sekitar lima ratus juta rupiah. Itu baru tanda tangan, belum gaji per musimnya, bisa tujuh puluh sampai delapan puluh juta.”

Dimas terdiam, matanya melebar. Lima ratus juta? Ia bahkan belum pernah ikut turnamen besar, apalagi main di liga profesional. Tapi jumlah uang itu… cukup untuk membayar biaya kuliah sampai lulus.

Pelayan datang membawa tiga piring besar berisi sate maranggi yang masih mengepulkan asap, potongan dagingnya terlihat empuk dengan bumbu kacang kental dan sambal kecap yang harum. Pelatih langsung berdiri, membantu si pelayan meletakkan piring, lalu duduk kembali dengan antusias.

“Maaf ya, saya kalau lihat sate nggak bisa nunggu lama,” katanya sambil tertawa, lalu mengambil setusuk sate dan langsung memasukkannya ke mulut. “Hmmm... mantap! Ini baru energi pemain voli sejati.”

Dimas nyaris kehilangan fokus dari pembicaraan soal uang karena pemandangan pelatihnya yang makan secepat kilat. Dalam beberapa menit saja, separuh piringnya sudah habis, sementara Dimas baru mencicipi potongan pertama.

“Jadi, gimana? Mau ikut saya buat seleksi minggu depan di GOR Ragunan?” tanya pelatih sambil meneguk es teh manisnya. “Kalau kamu lolos, saya dapet bonus juga, sepuluh persen dari uang kontrakmu. Jadi, ini sama-sama untung.”

Dimas tersenyum kecil. “Saya ngerti, Pak. Jadi Bapak semacam pencari bakat juga ya?”

“Betul! Tapi nggak asal-asalan. Saya cuma bawa orang yang benar-benar punya potensi.”

Dimas menatap sate di piringnya, lalu kembali ke pelatih. “Kalau memang sepadan seperti yang Bapak bilang, kenapa nggak dicoba? Tapi saya harus balik dulu, ada latihan kampus sore ini.”

Pelatih tertawa lebar. “Bagus! Pemain yang disiplin, saya suka! Nih, bungkusin aja sate kamu, biar nggak dingin di jalan.”

Pelayan datang membawa plastik dan membungkus sisa sate Dimas. Setelah itu, Dimas berdiri, menyampirkan tas di bahunya. “Oke, Pak. Minggu depan saya siap coba. Seperti Bapak, saya juga nggak bisa nahan diri… kalau dengar uang sebanyak itu.”

Pelatih terbahak, mengangkat gelas es tehnya. “Nah, itu baru semangat atlet sejati!”

Dimas tersenyum, melangkah keluar dari sate maranggi.

Sementara itu, Dimas berjalan menuju halte kampus untuk naik bus antar-jemput Universitas Indonesia yang akan membawanya kembali ke asrama. Ia duduk dengan nyaman di kursi dekat jendela.

Bus antar-jemput itu gratis bagi mahasiswa untuk berkeliling kampus, dan Dimas, sambil menatap pemandangan sore dari balik kaca, menarik napas dalam-dalam. Ia tidak menyangka memiliki bakat seperti yang dikatakan pelatihnya tadi.

“Gila… apa sistem baru saja menunjukkan kemampuan asliku?” pikir Dimas dalam hati.

Ia mulai bertanya-tanya: apakah selama ini dia memang punya bakat itu tapi tidak sadar, atau apakah ini hanya keberuntungan sesaat? Atau justru dia telah menyia-nyiakan tahun-tahun sebelumnya tanpa pernah benar-benar mencoba? Banyak keraguan muncul di benaknya, tapi rasa gembira yang ia rasakan saat ini jauh lebih besar dari semuanya.

Dimas kemudian memanggil sistem dalam pikirannya.

“Sistem.”

Seketika, panel berwarna biru muda muncul di depan matanya seperti biasa.

[Misi Selesai. Nilai: A. Smash sebanyak 3 kali. Hadiah: Rp150.000.000]

Dimas tertegun melihat jumlahnya seratus lima puluh juta rupiah! Ia buru-buru menutup panel itu, khawatir ada orang lain di bus yang melihatnya.

Dengan empat belas juta di rekening, lima puluh juta di kamar, dan sekarang seratus lima puluh juta dari sistem… berarti totalnya sekitar dua ratus empat belas juta, ” gumam Dimas dalam hati. “Aku harus simpan sebagian besar, tapi mungkin aku bisa beli beberapa pakaian baru… dan mungkin mobil biasa untuk ke kampus.”

Untuk kenyamanan, dia ingin bergerak bebas dan melakukan beberapa bisnis juga.

Dimas sampai di asramanya di Universitas Indonesia. Hal pertama yang ia lakukan adalah melahap makan malam yang dibelinya di kantin fakultas perutnya sudah keroncongan sejak sore. Setelah itu, ia sempat melempar lipatan kertas ke tong sampah untuk mengusir bosan, lalu langsung menuju kamar mandi untuk mandi.

Selesai mandi, Dimas mengenakan kolor dan duduk di tempat tidurnya. Ia membuka antarmuka sistem sekali lagi. Di layar, tumpukan uang tunai digital mengambang di hadapannya. Dimas menatapnya takjub, lalu memutuskan untuk mengumpulkannya ke saldo fisiknya.

Tumpukan ratusan juta rupiah terlihat luar biasa di matanya. Sebelumnya Ia bahkan belum pernah memegang uang tunai sebanyak itu, dan sekarang ia merasa seperti orang kaya baru.

Di tangannya, masih ada setengah tumpukan lagi, lalu sistem juga menunjukkan potongan gaji yang baru saja masuk. Ia melihat tanda terima sebesar Rp150.000.000 dan tersenyum puas.

Ia menaruh uang itu di rak pakaian, menyelipkannya di balik tumpukan baju kuliahnya, bersama uang lainnya yang ia terima sebelumnya.

“Berarti aku punya empat belas juta di rekening, dan dua ratus juta di kamar,” gumam Dimas sambil menghitung. “Totalnya dua ratus empat belas juta rupiah. Kalau aku mau buka Agensi Iklan sendiri, butuh paling nggak satu miliar. Ya sudahlah, pelan-pelan aja, kerja keras dulu.”

Dimas dulu pernah bekerja sebagai staf kecil di sebuah Agensi Iklan Kota Yogya, sebelum ia memutuskan kuliah lagi. Itu masa jayanya ia sempat menghasilkan tiga puluh juta sebulan dan kadang bisa bantu keluarganya di kampung.

1
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!