Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-H
Sebuah kata "Sah" telah merubah segalanya. Maura atau Lala kini sudah resmi menjadi nyonya Aska Priawan. Segala ucapan dan do'a di berikan kepada sepasang pengantin baru ini. Lala hanya mengamini semua ucapan dan do'a untuk pernikahannya. Tangis haru pun terdengar dari kedua belah pihak.
Malam ini menjadi malam pertama yang seharusnya bagi sepasang pengantin namun berbeda dengan Lala. Dirinya di tinggal seorang diri di dalam kamar pengantin. Entah kemana perginya sang suami. Karena lelah Lala pun tak mempermasalahkannya. Lala sedikit lega karena dirinya lolos dari sebuah kalimat yang bernama malam pertama.
Pagi hari seperti biasa Lala bangun saat kumandang adzan terdengar. Lala bangun dari tidurnya, membersihkan diri kemudian menjalankan tugasnya sebagai umat muslim. Hingga matahari menampakkan sinarnya seorang lelaki yang menyandang status suami itu belum juga menampakkan dirinya hingga Lala merasa bingung harus apa. Lala memutuskan untuk memesan menu sarapan layanan pesan antar untuk berdua karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan dari orang lain.
Tepat pukul 9 pagi terdengar suara ketukan dari luar. Lala pun segera membukanya dan berharap itu adalah suami nya. Namun harapan nya runtuh begitu saja saat orang yang di lihat di depan pintu kamarnya adalah asisten dari suaminya.
"Maaf Nyonya, saya diminta tuan untuk menjemput anda dan mengantarkan anda ke rumah." Ucap Fajar asisten Aska.
"Oh,, baiklah. Sebentar saya ambil tas saya." Ucap Lala tak menunggu lama.
Walaupun di hatinya begitu banyak pertanyaan mengapa suami nya tak datang dan kemana perginya dia semalam namun Lala tak ingin ikut campur terlalu dalam walaupun dirinya berhak namun Lala merasa sungkan.
Sampai di rumah minimalis Lala dan Fajar di sambut oleh seorang ART yang di percaya Aska untuk mengurus rumah.
"Selamat datang Nyonya. Perkenalkan saya Murni."
"Salam kenal Bu. Saya Maura Ibu bisa panggil saya Lala." Maura.
"Eh, Nyonya panggil Bibi saja." Klarifikasi Bi Murni.
"Oh, baiklah."
"Mari nyonya saya tunjukan kamar nyonya." Ajak Bi Murni.
"Kamar saya." Batin Maura.
Namun, Maura hanya mengikuti saja kemana Bi Murni membawanya. Bi Murni membawa Maura ke lantai atas. Fajar hanya menunggu mereka di ruang tamu. Setelah Bi Murni menyelesaikan tugasnya barulah Fajar akan berpamitan. Karena dirinya harus memastikan terlebih dahulu pekerjaan ART bos nya bekerja dengan baik.
"Silahkan nyonya. Ini kamar anda. Dan kamar tuan ada di ujung sana. Jika anda kesulitan atau membutuhkan sesuatu anda bisa memanggil saya di belakang." Ucap Bi Murni.
"Ah,, ya. Terima kasih Bi. Maaf jika saya nanti akan merepotkan anda." Ucap Maura tulus.
"Tidak nyonya sudah kewajiban saya. Kalo begitu saya permisi kebelakang lagi nyonya." Pamit Bi Murni.
"Silahkan Bi." Maura.
"Astaga! Pernikahan apa ini. Kenapa berpisah kamar. Kenapa dia pergi di saat malam pertama kita. Ada apa ini. Apakah semua keluarga nya tau? Apa rencana mereka sebenarnya?"
Pertanyaan demi pertanyaan hadir di fikiran Maura. Dan semua tak menemukan jawabannya. Maura memilih untuk membereskan semua bawaannya ke dalam lemari. Saat dirinya akan merebahkan diri terdengar ketukan dari luar.
"Iya Bi?" Tanya Maura setelah melihat siapa yang mengetuk pintu kamar nya.
"Maaf Nyonya. Tuan mengatakan anda bersiap malam ini bawa pakaian seperlunya saja untuk pergi honeymoon nanti ada Mas Fajar yang menjemput anda. Dan sebelumnya Anda di minta untuk makan malam terlebih dahulu." Jelas Bi Murni.
"Hah! Ah, iya Bi. Terima kasih informasinya." Maura.
Maura kembali memasukkan beberapa pakaian dan keperluannya kedalam koper kecil miliknya. Setelah makan malam benar saja ada Fajar menjemput dirinya. Walau begitu banyak pertanyaan hang muncul di otaknya Maura tetap memilih bungkam.
Saat di bandara Fajar menemui Aska yang tengah duduk di ruang tunggu bersama seorang wanita dengan penampilan yang begitu sempurna. Maura sedikit terhenyak melihatnya.
"Sudah sampai..."
"Ayo kita berangkat."
Maura terdiam melihat Aska yang bangkit dari duduknya bersamaan dengan wanita tersebut bahkan tanpa menyapa dirinya dan Fajar. Yang lebih membuat Maura bengong Aska menggandeng tangan wanita tersebut dengan lembut membuat dirinya merasa semakin asing dengan suaminya.
"Nyonya."
Lanjut lagi ya....