Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: MALAM TERAKHIR DI SEOUL
Hujan turun deras di Seoul malam itu. Bukan gerimis halus, tetapi hujan lebat yang membuat jalanan menjadi basah dan berkilat oleh lampu neon. Di sebuah bar kecil di Gangnam, suara riuh rendah hampir menenggelamkan deru hujan di luar.
Kang Ji-hoon, seorang editor berusia 28 tahun, duduk di meja bersama beberapa rekan kerja. Mereka adalah sesama editor dan penulis yang sering bekerja sama. Malam itu, mereka membahas tentang alur cerita sebuah novel web yang sedang populer.
“Tapi kalau tokoh utamanya langsung mendapatkan kekuatan terhebat di awal cerita, bukankah itu akan membosankan?” kata Park Min-soo, editor senior yang wajahnya sudah memerah karena minuman.
“Sekarang pembaca ingin kepuasan instan,” balas Choi Yuna, seorang penulis muda. “Mereka tidak ingin menunggu terlalu lama.”
Ji-hoon hanya mendengarkan sambil memutar gelas kosong di tangannya. Sepanjang hari ia telah mengedit tiga bab berbeda, mencoba memperbaiki alur yang berantakan dan dialog yang kaku. Pikirannya masih penuh dengan kalimat-kalimat yang belum sempurna. Ia merasa lelah.
Setelah beberapa jam, mereka memutuskan untuk pulang. Hujan sudah berkurang. Ji-hoon menolak tawaran tumpangan dan memilih berjalan kaki ke stasiun kereta bawah tanah. Udara malam yang dingin membuatnya sedikit segar.
Ia berjalan menyusuri trotoar yang sepi. Pikirannya masih terpaku pada satu naskah yang harus diselesaikan besok. Ia memikirkan bagaimana cara memperbaiki adegan pertarungan yang menurutnya kurang menegangkan.
Saat menyeberang jalan di zebra cross, lampu untuk pejalan kaki masih hijau. Ji-hoon melangkah dengan tenang. Ia tidak menyadari bahaya yang datang.
Dari arah kanan, terdengar suara mesin mobil yang dipacu dengan kencang. Ban berdecit di atas aspal basah.
Ji-hoon menoleh. Cahaya lampu depan mobil itu menyilaukan matanya. Ia tidak sempat bereaksi.
Tubuhnya terlempar ke udara saat mobil menghantamnya. Ia jatuh dengan keras di atas aspal. Suara benturan memekakkan telinga, lalu dunia di sekitarnya menjadi sunyi sejenak.
Ia terbaring tak berdaya. Hujan jatuh ke wajahnya. Suara-suara sekitar terdengar sayup, seperti dari balik air. Terdengar teriakan, langkah kaki yang tergesa, dan seseorang yang berbicara lewat telepon.
Rasa sakit mulai menjalar dari seluruh tubuhnya. Napasnya tersengal-sengal. Matanya melihat ke arah langit gelap yang terus diguyur hujan.
Kesadarannya mulai memudar. Kegelapan perlahan menyelimuti pandangannya.
Namun, tepat sebelum ia kehilangan kesadaran sepenuhnya, sebuah suara aneh terdengar di dalam kepalanya. Suara itu jernih, datar, dan tidak seperti suara manusia.
**[Kondisi hos: kritis. Jiwa terdeteksi mengalami pergeseran dimensi. Cocok untuk percobaan.]**
**[Memulai transmigrasi paksa.]**
**[Mencari wadah yang cocok di Dimensi Berdekatan-7… Ditemukan.]**
**[Memulai transfer.]**
Ji-hoon tidak sempat memprotes. Ia hanya merasakan sensasi aneh, seperti tubuhnya ditarik dengan paksa melalui sebuah lorong sempit. Cahaya putih terang memenuhi seluruh persepsinya. Lalu, kegelapan total.
***
Di sebuah kamar rumah sakit yang mewah, seorang pemuda terbaring di atas tempat tidur. Kamar itu sunyi, hanya terdengar bunyi bip ritmis dari monitor di sampingnya.
Jari pemuda itu bergerak sedikit. Kelopak matanya berkedut.
Lalu, Kang Ji-hoon membuka mata.
Hal pertama yang ia rasakan adalah kebingungan. Ia melihat langit-langit kamar yang tinggi dan bersih. Kepalanya terasa sangat berat. Perlahan, ia mencoba menoleh.
Ruangan di sekelilingnya bukan kamar rumah sakit biasa. Ada sofa kulit, meja kayu mahoni, dan vas bunga segar. Jendela besar ditutupi tirai tebal.
*Ini bukan rumah sakit umum*, pikirnya. *Terlalu mewah.*
Ia mencoba untuk duduk, tetapi rasa pusing yang hebat membuatnya terjatuh kembali ke bantal. Saat itulah, banjir ingatan yang kacau memenuhi kepalanya.
Dua set ingatan yang berbeda saling berbenturan.
Satu set adalah ingatannya sendiri: Kang Ji-hoon, editor, Seoul, hujan, dan tabrakan mobil.
Set yang lain adalah ingatan orang lain: Kang Min-jae, usia 18 tahun, putra seorang ilmuwan yang hilang, calon siswa akademi Hunter yang tertunda karena kecelakaan.
*Siapa aku?* Pikiran itu membuatnya panik.
Dengan usaha besar, ia kembali mencoba duduk. Kali ini berhasil. Di seberang kamar, ada sebuah cermin besar. Ji-hoon menatap bayangannya di cermin.
Wajah yang ia lihat bukan wajahnya sendiri.
Itu adalah wajah yang lebih muda, dengan garis rahang yang tegas dan mata yang besar. Tampan, tetapi asing sama sekali.
“Ini… bukan aku,” gumamnya. Suaranya serak dan terdengar aneh di telinganya sendiri.
Namun, ingatan Min-jae perlahan menjadi lebih jelas. Ia ‘mengingat’ kecelakaan itu — sebuah mobil hitam yang menyerempetnya. Ia ‘mengingat’ dirawat di rumah sakit keluarga ini. Ia ‘mengingat’ pamannya, Dae-hyun, yang menjaganya sejak ayahnya menghilang.
Dan ia ‘mengingat’ satu hal paling penting: dunia ini bukan dunia yang ia kenal.
Di sini, dua puluh tahun lalu, muncul yang disebut “Gerbang” atau “Gates” — portal ke dimensi lain yang penuh monster dan sumber daya ajaib. Manusia dengan kemampuan khusus, disebut “Hunter”, bertugas memasuki Gerbang dan menghadapi bahaya di dalamnya. Seluruh tatanan masyarakat berubah karena keberadaan Gerbang.
Ji-hoon merasa mual. *Transmigrasi?* Ini adalah alur cerita yang sering ia baca dan edit. Tetapi sekarang, ini terjadi padanya. Sungguh-sungguh.
Pintu kamar terbuka.
Seorang pria paruh baya berpakaian rapi masuk. Wajahnya tegas, tetapi matanya menunjukkan kelelahan dan kekhawatiran. Ini adalah Dae-hyun, paman Min-jae, yang juga seorang pejabat tinggi di guild Hunter bernama “Chrono Vanguard”.
“Min-jae? Kamu sudah bangun?” suara pria itu dalam dan tenang.
Ji-hoon terdiam sejenak. Dua identitas dalam dirinya saling tarik-menarik. Akhirnya, ingatan Min-jae yang mengambil alih.
“Paman…” katanya. Suaranya masih serak.
Dae-hyun mendekat dan duduk di tepi tempat tidur. “Dokter bilang kamu akan pulih sepenuhnya. Cedera kepalamu sudah sembuh. Tetapi kamu koma selama tiga hari. Kami sangat khawatir.”
“Aku… di mana?” tanya Ji-hoon, mencoba bertanya hal yang aman.
“Di rumah sakit keluarga, seperti biasa. Semua biaya sudah diurus.” Dae-hyun menarik napas. “Min-jae, tentang akademi…”
Akademi Hunter. Ji-hoon teringat. Min-jae seharusnya masuk akademi itu enam bulan lalu, tetapi tertunda karena kecelakaan. Keluarganya menaruh harapan besar padanya untuk menjadi Hunter yang sukses, terutama setelah ayahnya menghilang secara misterius.
Tetapi Ji-hoon, yang sekarang mendiami tubuh ini, bukanlah calon Hunter. Ia hanya seorang editor. Ia tidak memiliki kemampuan bertarung.
“Aku… butuh waktu,” ucapnya pelan. Konflik dalam dirinya terasa seperti badai.
Dae-hyun mengangguk, tetapi matanya tetap tajam. “Aku mengerti. Tetapi ingat, batas pendaftaran ulang adalah minggu depan. Jika kamu lewatkan, kamu harus menunggu setahun lagi. Dan dengan keadaan ayahmu sekarang, lebih baik kamu memiliki posisi yang kuat di kalangan Hunter.”
Keadaan ayahnya. Ingatan tentang Dr. Kang Min-soo muncul — seorang ilmuwan yang bersemangat, selalu sibuk dengan penelitian tentang “resonansi dimensi”. Satu tahun lalu, ia menghilang setelah sebuah insiden di lab Ouroboros Research Division. Berita resmi menyebutkan kecelakaan eksperimen, tetapi jasadnya tidak ditemukan. Ada banyak bisikan tentang konspirasi.
Ji-hoon kembali merasakan sakit kepala. Terlalu banyak informasi. Terlalu banyak tekanan.
“Aku mengerti, Paman,” katanya, mencoba meniru sikap patuh Min-jae. “Aku akan memikirkannya.”
Dae-hyun tampak puas, atau setidaknya tidak ingin mendesak lebih jauh. Ia berdiri. “Istirahatlah dulu. Besok kita bisa bicara lebih lanjut.” Saat hendak keluar, ia berhenti di pintu. “Dan Min-jae… selamat datang kembali.”
Setelah pintu tertutup, Ji-hoon kembali menatap cermin. Wajah asing itu masih menatapnya.
*Jadi ini nyata*, pikirnya. *Aku mati. Lalu dipindahkan ke sini. Menjadi orang lain. Di dunia yang memiliki monster dan Hunter.*
Rasa panik mulai muncul kembali. Ia ingin berteriak, ingin menyangkal semuanya. Tetapi ia tahu itu tidak mungkin.
Lalu, naluri lamanya sebagai editor mulai bekerja. Pikirannya yang terlatih menganalisis keadaan.
*Jika ini adalah sebuah cerita, maka ini adalah Bab 1. Tokoh utama baru tiba di dunia baru. Dia bingung dan takut. Konflik sudah menunggu: tekanan keluarga, misteri ayah yang hilang, akademi Hunter yang berbahaya.*
Ia menarik napas panjang, memaksa diri untuk tenang. Ji-hoon mungkin seorang editor, tetapi ia juga seorang yang berhasil selamat dari tabrakan dan proses transmigrasi yang aneh itu. Sekarang, ia harus bertahan di sini.
Matanya beralih ke jendela. Tirai tertutup rapat, tetapi ia bisa membayangkan dunia di luar sana — dunia yang asing dan penuh dengan Gerbang dan Hunter. Dunia di mana ia, Kang Ji-hoon dalam tubuh Kang Min-jae, harus mencari tempatnya.
*Pertama-tama, aku harus belajar*, ia berpikir. *Memahami dunia ini. Memahami peran yang harus aku jalani. Lalu, memutuskan jalan sendiri.*
Namun di balik tekadnya yang baru tumbuh, ada satu pertanyaan yang terus menghantui:
Suara yang ia dengar sebelum transmigrasi itu… dari mana? Dan mengapa memilih dirinya?
***
Ji-hoon merasa haus. Matanya tertuju pada gelas air di meja samping tempat tidur. Dengan susah payah, ia meraihnya.
Tetapi sebelum tangannya menyentuh gelas, sesuatu yang aneh terjadi.
Gelas itu bergerak sendiri.
Hanya bergeser sedikit, sekitar satu sentimeter, di atas meja.
Ji-hoon mengernyit. Ia mengira itu hanya halusinasi atau tangannya yang gemetar. Ia fokus kembali pada gelas itu.
Gelas itu bergerak lagi. Kali ini lebih jelas.
Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan kekuatan Kang Min-jae yang ia ingat. Dalam ingatan Min-jae, ia tidak memiliki bakat khusus sebagai Hunter.
Lalu, kekuatan apa ini?
Dan di suatu tempat, jauh di dalam benaknya, ia merasa ada yang mengawasi. Sebuah kesadaran asing yang memperhatikan setiap reaksinya.
Pertarungan untuk bertahan hidup mungkin sudah dimulai, padahal ia bahkan belum memahami aturannya.
***