Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Yang Tak Sama
Sejak malam itu dimana dia meluapkan isi hatinya pada keluarganya, Ella jarang pulang ke rumah. Wanita itu lebih sering tidur di apartemen milik Davin.
Hubungan antara Davin dan Ella pun masih berjalan dengan lancar. Mereka sudah siap untuk menikah, Namun untuk kali ini Ella punya rencana lain. Tentu saja semua rencana itu di bantu oleh Davin juga.
Davin dan Ella hanya berhubungan lewat ponsel. Selebihnya mereka tidak pernah bertemu agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Selain itu, Ella juga ingin meminta restu Nenek Cahya. Davin pun juga punya rencana meminta restu pada wanita itu. Tak hanya itu saja, Davin juga punya niat untuk mengajak Ella untuk bertemu dengan Daddy dan Mommy nya.
Siang ini, Davin memarkirkan kendaraan roda empatnya di depan gedung dimana sang Mommy berada.
Dengan penampilannya yang cool dan beribawa, Davin masuk ke dalam butik yang selama ini Mommy Ayra kelola.
Banyak wanita yang memandangnya penuh kagum pada putra sulung Daddy Nalendra itu. Lagipula siapa yang tidak terpesona akan ketampanannya, Siapapun akan terkesima dengan pria yang pernah menjadi model tersebut.
"Kak.. Aku mau gaun yang ini aja.." Davin menghentikan langkahnya, Di depan sana tepat di hadapan patung manekin. Seorang gadis dan pria sedang mengamati atau melihat sebuah gaun.
Gaun cantik rancangan Mommy nya yang pastinya harganya sangat mahal. Davin masih di sana, Dia ingin tahu apa yang akan dua manusia itu ingin lakukan.
Lentera bergelayut manja di lengan Araka. Entah ada acara apa yang pasti dua orang pengkhianat itu sedang mencari gaun.
"Kamu suka gaun itu?
"Iya kak. Tapi.." Gadis itu menunduk..
"Tapi harganya mahal untuk ukuran gaun biasa..
"Tapi kamu suka kan?
"Suka dong..
"Ya udah kita ambil.." Lentera tersenyum senang. Akhirnya Araka mengabulkan permintaannya. Sementara di belakang dua orang itu ada salah satu karyawan Mommy nya yang tengah mendampingi. Di tangan karyawan itu, Ada gaun berwarna putih yang jika di perhatikan dari segi modelnya sangat sederhana dan harganya lebih murah dari yang di pajang pada patung manekin tadi.
"Mbak.. Kita ambil gaun yang ini ya.."
"Baik..
"Aku akan tampil cantik di ulang tahun nenek nanti.. Apalagi yang aku pakai adalah gaun itu. Pasti akan lebih cantik, Ya kan kak.." Araka tersenyum.
"Iya.. Ohya? Pakaian untuk Ella sudah di pilih kan?
"Sudah kak.. Itu.." Lentera menunjuk gaun putih yang kini telah di bawa oleh karyawan tadi ke kasir.
Setelah melakukan pembayaran, Araka dan Lentera pergi. Seperginya mereka, Davin mendekat ke arah dimana kasir berada.
"Tuan..
"Aku mau tanya, Gaun merah yang di beli orang tadi, Seharga berapa?" Kasir pun kembali mengeceknya lalu menjawab.
" Harga lima puluh juta Tuan..
"Kalau yang putih tadi?
"Hanya lima ratus ribu Tuan.." Jawab kasir itu lagi.
"Apa!!? Lima ratus ribu?
"Benar, Kenapa Tuan..
"Tidak ada. Ohya, Tolong carikan aku, Gaun yang bagus dengan harga jauh lebih mahal dari gaun yang tadi.." Kasir itu mengangguk kemudian memanggil salah satu karyawan di bagian yang lain.
...****************...
Ella sedang sibuk dengan laptopnya. Sepertinya Wanita itu sedang fokus dan tak mau di ganggu oleh siapapun.
"Nanti malam adalah ulang tahun nenek, Ini gaun bisa kau pakai nanti.." Araka tiba-tiba saja berdiri di depan meja nya. Matanya melihat paperbag yang terletak di atas meja.
"Hm, Terimakasih kasih.." Araka menghela nafas, Hanya itu yang di katakan oleh Ella.
"Kenapa masih disini?
"Aku akan ke ruanganku.." Dengan sikapnya yang dingin Araka kembali ke ruangannya.
Ella yang penasaran pun membuka paperbagnya. Di sana, Ada gaun berwarna putih.
"Pasti di suruh nenek, Kalau bukan mana mungkin dia mau membelikan aku pakaian.." Gumam Ella yang paham maksud Araka.
Ella kembali duduk, Baru saja hendak mengetik. Seseorang datang..
"Permisi Bu Ella..
"Iya..
"Ini ada bingkisan buat ibu.. " Ella melihat satu paperbag yang sama, Namun ukurannya lebih besar.
"Dari siapa? " Wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Saya kurang paham bu..
"Baik lah terima kasih Ya..
"Iya.. Kalau begitu saya permisi dulu Bu.." Ella mengangguk, Karyawan wanita tadi pun undur diri.
Ting..
Sebuah notifikasi masuk ke dalam benda pipih milik Ella.
"Saat acara nanti, Pakai gaun yang aku kirim. Jangan pakai gaun dari tenanganmu yang breng-sek itu...
Baru saja Ella mengetik satu huruf untuk membalas. Satu pesan dari Davin kembali masuk.
"Gaun putih itu hanya seharga lima ratus ribu, Sementara adikmu dia dibelikan gaun seharga lima puluh juta.. Jaga harga dirimu Cinderella, Jangan mau di jatuhkan..
Dada Ella naik turun, Dia tersenyum getir. Ternyata memang sepenting itu Lentera di hati Araka.
"Dia membelikan Lentera gaun seharga lima puluh juta sementara aku hanya lima ratus ribu? Sungguh pria yang setia.." Ucap Ella, Matanya menatap tajam ruangan Araka yang tertutup dengan rapat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Papa.. Mama.." Lentera keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sangat cantik. Gadis itu mengenakan gaun yang di belikan oleh Araka tadi siang.
"Putri Mama emang cantik banget malam ini.. Cocok banget gaun ini nempel di tubuh kamu.." Puji Dewi pada Lentera. Jelas saja gadis itu senang mendapatkan pujian dari Mamanya.
"Iya bener.. Kamu itu emang anak Papa yang paling cantik. " Hendra pun ikut memuji.
"Kenapa kita masih disini? Ayo berangkat, Aku udah gak sabar pengen cepet ke rumah kak Araka.." Ujar Lentera yang memang sudah tak sabar.
"Jangan dulu.. Kita tunggu.. Loh? Ella kok kamu belum siap?" Semua mata tertuju pada Ella yang masih santai dan belum bersiap sama sekali.
"Emangnya mau kemana?" Tanya Wanita itu acuh.
"Kak.. Bukannya malam ini ulang tahun Neneknya kak Araka ya? Kok kakak belum siap?
"Aku tidak akan datang.. Sampai kan saja salamku untuk Nenek.." Mendengar itu, Hendra merasa tak suka. Pria itu maju dan hendak marah.
"Ella! Kau ini..
"Ayah, Ayah gak capek marah-marah terus.. Gak takut kena darah tinggi..
"Kamu..
"Udah Mas, Mending kita berangkat aja yuk.." Tak ingin panjang urusan, Dewi mengajak Hendra dan Lentera pergi. Ella hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan yang angkuh. Semenjak kejadian malam itu, Dewi tak lagi bicara dengannya.
Ibu macam apa yang jelas salah bukannya menghibur anaknya tapi anaknya malah tambah di musuhi.
...****************...
Sementara di rumah Araka, Semua yang berada di ruang tamu itu sedang menunggu seseorang. Lentera dan kedua orangtuanya telah sampai. Para sodara pun juga..
Malam ini memang ulang tahun Nenek Cahya. Namun acara itu hanya mengundang kerabat dekat saja bukan pesta yang mewah.
"Kita mulai saja acaranya..
"Jangan! Ella belum datang.. " Ucap Nenek Cahya. Lentera maju..
"Nek.. Tadi kak Ella bilang dia gak mau datang.." Kata Lentera dengan raut wajah sedih yang di buat-buat.
"Katanya Kak Ella.. Dia...
"KATA SIAPA AKU TIDAK DATANG!!
•
•
•
TBC