Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
Maulida Natasya adik dari Lala marah karena Lala menerima begitu saja laki-laki yang datang melamarnya. Lala hanya bisa diam saat sang Adik terus menerus meluapkan kekesalannya. Lala dan Lida memang dua sisi yang sangat berbeda. Jika Lala cenderung diam dan penurut sementara Lida lebih ekspresif dan sering berdebat jika apa yang orang tuanya katakan tidak sesuai dengan isi fikirannya.
"Kenapa Kakak terima gitu aja sih Kak? Kakak kan bisa perkenalan dulu pendekatan dulu. Kalo nanti ngga cocok gimana?" Lida.
"Ya mungkin bukan jodoh Kakak Dek." Jawab Lala dengan santainya membuat Lida semakin gemas.
"Ya ampun Kak. Emang temen kampus Kakak ngga ada yang oke? Temen kantor Kakak tua-tua?" Lida.
"Ngga juga. Ada kok temen kakak yang oke. Temen kantor juga banyak yang masih muda. Memang kenapa?" Lala.
"Kakak,,, kenapa kakak ga milih salah satu di antara mereka aja. Kenapa Kakak terima anak atasan Ayah?" Lida.
"Semua sudah Allah atur Lida. Kita manusia hanya bisa berencana. Udah ah,, kan kakak yang mau nikah bukan adek. Adek sekarang tugasnya cuma satu selesaikan kuliah adek dengan baik terus cari kerja udah gitu aja." Putus Lala.
"Ish... Susah amat sih ngomong sama Kakak." Omel Lida kemudian pergi meninggalkan kamar Lala.
Saat perkenalan beberapa hari lalu Lida memang sedang tidak ada di rumah. Lida sedang ikut bersama kekasihnya di acara keluarga mereka di kota D. Itu juga yang membuat Lida kesal karena kedua orang tuanya tidak memberitahu padanya jika sang Kakak akan di perkenalkan dengan laki-laki. Andai dirinya ada mungkin saja Lala tidak akan langsung menerima begitu saja laki-laki tersebut walaupun laki-laki itu merupakan putra dari atasan Ayah nya.
"Ibu, kenapa ibu juga setuju Kakak di jodohin sama anaknya Pak Priawan?" Rengek Lida.
"Ibu, hanya menyetujui apa yang sudah di putuskan oleh kakak dek." Ibu Tias.
"Ya seenggaknya Ibu kasih kakak wejangan apa gitu Bu. Biar Kakak ngga nerima begitu aja." Lida.
"Sudah cah ayu. Ibu sudah mengatakan apa yang menjadi keinginan kamu saat ini. Dan semua kembali lagi pada Kakak. Jika kakak mau dan menerima ya Ibu bisa apa." Ibu Tias.
"Terus Ayah gimana?" Lida.
"Ayah juga sama. Ayah sudah mengatakan juga pada Kakak jika Kakak tidak perlu merasa berat hanya karena mereka atasan Ayah. Kakak berhak menolak tapi nyatanya Kakak menerima." Jelas Bu Tias.
"Ih,, apa sih yang ada di fikiran Kakak." Lida.
"Sudah,, do'akan yang terbaik aja buat Kakak ya. Kakak belum pernah pacaran jadi mungkin kakak tidak faham bagaimana perkenalan seharusnya." Ibu Tias.
"Iya Bu."
"Ayah kemana Bu? Ini hari minggu kan?" Lida.
"Ayah jenguk Oma di rumah sakit." Bu Tias.
"Oma kenapa? Kok Ibu ngga ikut?" Lida.
"Tadi Ibu dari sana juga sama Ayah. Ini nanti sore Ibu ke sana lagi sambil antar baju ganti Ayah. Kasian Tante Hana kalo harus nunggu Oma di rumah sakit." Ibu Tias.
"Lida ikut kalo gitu Bu." Lida.
"Sip. Kakak juga mau ikut kok..." Bu Tias.
"Ya udah adek siap-siap dulu. Jangan dulu tinggal loh Bu." Lida.
"Iya. Ya udah sana siap-siap." Bu Tias.
Bu Tias memasukkan semua masakannya kedalam kotak bekal karena kedua putrinya akan ikut dengannya ke rumah sakit untuk menjenguk Ibu dari suaminya Pak Budi. Karena Pak Budi hanya dua bersaudara bersama adiknya Hana yang tak lain dan tak bukan adalah sahabat karib Bu Tias.
Lanjut terus ya...