NovelToon NovelToon
TAHANAN OBSESI

TAHANAN OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Misteri / Psikopat / Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.

apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.

mencari ide itu sulit gusy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARIS BERSIKAP SE ENAKNYA

Kayla melangkah menuruni tangga dengan keanggunan yang dipaksakan. Gaun sutra biru itu melambai lembut, menyentuh kulitnya yang masih terasa perih, sebuah pengingat bisu atas kekejian semalam. Di ujung tangga, Aris sudah menunggu di meja makan yang penuh dengan hidangan mewah. Pria itu tampak tenang, menyesap kopinya sambil membaca koran pagi, seolah-olah mereka adalah pasangan normal di sebuah rumah mewah biasa.

"Kau terlihat memukau, Kayla," ucap Aris tanpa mengalihkan pandangan dari korannya. "Warna itu memang diciptakan untukmu."

Kayla tidak menjawab dengan makian. Ia menarik kursi, duduk di hadapan Aris, dan mulai mengambil sepotong roti dengan tangan yang tampak tenang—padahal di dalam hatinya, ia ingin menghujamkan pisau mentega itu ke mata Aris.

"Terima kasih, Aris," jawab Kayla pelan, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar pasrah namun tulus. "Aku sadar, tidak ada gunanya melawanmu. Kau selalu satu langkah di depan."

Aris menurunkan korannya, menatap Kayla dengan mata tajam yang seolah bisa menembus tengkoraknya. Ia tersenyum tipis—senyuman yang membuat bulu kuduk Kayla berdiri. "Keputusan yang sangat bijak, Sayang."

Selama sarapan berlangsung, Kayla mulai menjalankan rencananya. Ia sengaja bersikap sangat perhatian. Ia menuangkan kopi untuk Aris, menanyakan tentang jadwalnya, dan bahkan sesekali memberikan sentuhan ringan pada tangan Aris—sebuah gestur yang membuatnya ingin muntah, namun harus dilakukan demi kelangsungan rencananya.

Tujuan Kayla adalah membuat Aris lengah. Ia ingin Aris percaya bahwa mentalnya sudah benar-benar patah dan dia telah menerima nasibnya sebagai "Maya" yang baru.

Namun, Kayla tidak tahu bahwa setiap kedipan mata, setiap getaran kecil di jemarinya, dan setiap perubahan nada suaranya sedang dianalisis oleh Aris. Aris bukan hanya seorang psikopat; dia adalah seorang ahli perilaku manusia.

"Kau tahu, Kayla," ucap Aris tiba-tiba saat Kayla sedang mengoles selai. "Ada satu hal yang membuat Maya sangat istimewa. Dia tidak pernah pandai berbohong. Matanya selalu mengkhianati lidahnya."

Gerakan tangan Kayla terhenti sejenak, namun ia segera menguasai diri. "Aku bukan Maya, Aris. Aku Kayla. Dan Kayla yang sekarang hanya ingin hidup tenang. Tanpa rasa sakit lagi."

Aris tertawa rendah. "Tentu saja."

Setelah sarapan, Aris mengizinkan Kayla untuk bergerak bebas di lantai utama rumah tersebut. Kayla menggunakan kesempatan ini untuk "menjelajahi" rumah, berpura-pura mengagumi koleksi seni Aris, padahal matanya terus mencari celah keamanan atau benda yang bisa dijadikan senjata.

Ia menemukan sebuah vas kristal berat di ruang tamu, dan di dapur, ia memperhatikan letak laci pisau yang kini dikunci dengan kode digital. Kayla mencoba menghafal gerakan jari Aris saat pria itu membuka kunci-kunci otomatis di rumah itu.

Namun, di setiap sudut ruangan, mata kamera kecil yang tersamar mengikuti setiap gerakannya. Di ruang kontrolnya, Aris memperhatikan melalui monitor dengan tatapan terhibur. Ia melihat Kayla yang sedang berpura-pura membaca buku di perpustakaan, padahal mata gadis itu terus melirik ke arah panel pintu rahasia di balik rak buku.

"Kau sangat cantik saat sedang berencana, Kayla," gumam Aris di ruang kontrol sambil mengusap layar monitor yang menampilkan wajah Kayla. "Kau pikir kau sedang memburuku, padahal kau hanya sedang berlari di dalam labirin yang sudah kubangun."

Sore harinya, Kayla menemukan sebuah ponsel yang "tertinggal" di bawah sofa ruang keluarga. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah kesempatannya. Ia segera menyambar ponsel itu dan bersembunyi di balik tirai besar.

Dengan tangan gemetar, ia mencoba menekan nomor darurat. Namun, saat ia menekan tombol panggil, bukan suara operator polisi yang terdengar, melainkan suara Aris yang keluar dari speaker ponsel tersebut.

"Mencari bantuan, Sayang?"

Kayla mematung. Ia menoleh dan menemukan Aris sudah berdiri di ambang pintu ruangan, bersandar pada kusen pintu dengan tangan bersedekap.

"Aku yang meletakkan ponsel itu di sana," ucap Aris dingin sembari berjalan mendekat. "Aku ingin melihat seberapa jauh kau akan berakting sebagai wanita penurut. Ternyata, kau masih anak nakal yang butuh pelajaran ekstra."

Aris merenggut ponsel itu dari tangan Kayla dan mencengkeram rahangnya dengan kuat. "Jangan pernah mengira kau bisa membodohiku dengan gaun biru dan senyuman palsu itu. Aku tahu setiap pikiran kotor yang kau susun di kepalamu."

Kayla menatap Aris dengan kebencian yang kini tidak lagi disembunyikan. "Maka bunuh saja aku, Aris! Jika kau tahu segalanya, untuk apa menyimpan aku di sini?!"

Aris mendekatkan wajahnya, menghirup aroma rambut Kayla. "Karena membunuhmu terlalu mudah. Aku ingin melihatmu perlahan-lahan menyerah sampai kau sendiri yang memohon padaku untuk menjadikanku duniamu. Dan pengawasan ini? Ini bukan penjara, Kayla. Ini adalah penonton yang menyaksikan proses lahirnya mahakaryaku."

Aris kemudian menyeret Kayla kembali ke lantai atas, bukan ke kamar mewah, melainkan ke sebuah ruangan baru yang penuh dengan layar monitor—ruangan yang memperlihatkan rekaman semua "kegagalan" rencana Kayla sepanjang hari ini.

"Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini," ucap Aris sambil mengunci pintu ruangan tersebut. "Kau akan menonton dirimu sendiri, dan melihat betapa sia-sianya setiap usahamu."

Dinding-dinding ruangan itu tidak lagi terbuat dari beton, melainkan dari cahaya biru pucat yang memancar dari puluhan layar monitor. Di sana, Kayla dipaksa melihat dirinya sendiri. Ia melihat rekamannya saat sedang makan, saat sedang mandi, bahkan saat ia sedang menangis di pojok ruangan. Aris telah mengubah hidup Kayla menjadi sebuah acara realitas yang paling mengerikan di dunia, di mana satu-satunya penonton setianya adalah sang penyiksa itu sendiri.

Hari demi hari berlalu tanpa kepastian. Kayla tidak lagi tahu apakah di luar sana matahari sedang bersinar atau hujan sedang turun. Harapan yang tadinya menyala seperti api kecil, kini padam tertiup oleh kedinginan sikap Aris. Setiap kali Kayla mencoba merencanakan sesuatu, Aris akan muncul dengan senyuman miringnya, membisikkan bahwa dia sudah tahu apa yang akan dilakukan Kayla bahkan sebelum Kayla melakukannya.

Aris kini bersikap sepenuhnya semaunya. Ia tidak lagi peduli pada jadwal atau kepura-puraan. Kadang, ia masuk ke ruangan itu di tengah malam hanya untuk membangunkan Kayla dan memaksanya mendengarkan cerita tentang masa lalunya yang kelam. Di lain waktu, ia akan membiarkan Kayla kelaparan selama dua hari hanya untuk melihat bagaimana rasa lapar mengubah martabat seorang manusia menjadi insting binatang.

"Kenapa kamu tidak makan, Sayang?" tanya Aris suatu sore sambil meletakkan sepiring pasta mewah di depan Kayla yang sudah sangat lemas.

Kayla hanya menatap piring itu dengan mata kosong. Ia tidak lagi punya tenaga untuk marah. "Untuk apa? Supaya aku punya tenaga untuk menonton diriku sendiri dihancurkan olehmu besok?"

Aris tertawa kecil, suara yang kini menjadi melodi horor bagi Kayla. Ia berlutut di depan Kayla, menyisir rambut gadis itu dengan jemarinya yang dingin. "Kau mulai mengerti. Kehancuranmu adalah keindahan. Lihatlah matamu di monitor itu... tatapan kosong itu jauh lebih jujur daripada kemarahanmu yang dulu."

Dengan kasar, Aris menarik dagu Kayla, memaksanya menelan sesuap makanan. Ia memperlakukan Kayla seperti properti miliknya—seperti vas bunga yang bisa ia pindahkan, ia siram, atau ia pecahkan kapan saja ia mau. Tidak ada lagi privasi bagi Kayla; Aris telah merampas segalanya, termasuk rasa malu dan harga dirinya.

Puncaknya adalah ketika Aris membawa sebuah alat pemutar suara dan memutar rekaman suara Kayla saat mereka masih berada di sel bawah tanah—saat Kayla berbisik bahwa dia mencintai Aris.

"Ingat ini?" tanya Aris sambil menatap layar yang menampilkan adegan mereka berpelukan. "Itu adalah momen di mana aku tahu bahwa aku telah memenangkan jiwamu. Dan sekarang, jiwa itu milikku untuk aku mainkan semauku."

Kayla menutup telinganya dengan tangan yang gemetar. "Hentikan... kumohon, hentikan..."

"Aku tidak akan berhenti sampai tidak ada lagi 'Kayla' yang tersisa di dalam tubuh ini," bisik Aris tepat di depan wajahnya. "Aku hanya ingin 'Maya' yang baru. Maya yang tidak akan pernah meninggalkanku."

Sikap Aris semakin tak terprediksi. Ia bisa sangat lembut, menyuapi Kayla dengan cokelat mahal, lalu sedetik kemudian ia akan memborgol tangan Kayla ke jeruji jendela hanya karena Kayla tidak tersenyum saat menatapnya. Ketidakpastian ini membuat mental Kayla benar-benar hancur. Ia mulai kehilangan persepsi tentang benar dan salah, tentang siapa dirinya sebenarnya.

Di bawah pengawasan kamera yang tak pernah berkedip, Kayla akhirnya berhenti melawan. Ia hanya duduk diam, membiarkan Aris mendandaninya, memandikannya, dan melakukan apa pun yang pria itu inginkan. Ia telah menjadi boneka hidup di dalam istana kaca Aris.

Suatu malam, Aris membawa Kayla ke balkon penthouse yang sangat tinggi. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan gaun tipis yang dikenakan Kayla. Aris memeluknya dari belakang, menunjuk ke arah kegelapan hutan di bawah sana.

"Jika kau melompat sekarang, kau akan mati sebagai Kayla yang gagal," bisik Aris. "Tapi jika kau tetap di sini, bersamaku, kau akan menjadi abadi dalam rekamanku."

Kayla menatap jurang di bawahnya dengan pandangan hampa. Keinginan untuk mati pun sudah mulai memudar, digantikan oleh kepatuhan yang mematikan. Ia bersandar pada dada Aris, bukan karena cinta, tapi karena ia tidak lagi memiliki tempat lain untuk bersandar. Dunianya kini hanyalah rumah mewah ini, layar-layar itu, dan pria yang telah menghancurkannya.

Aris tersenyum puas. Ia merasa telah mencapai puncak eksperimennya. Namun, di balik mata Kayla yang tampak mati, sebuah kegelapan baru mulai tumbuh—sebuah kegelapan yang lahir dari keputusasaan yang terdalam, yang mungkin bahkan tidak bisa dideteksi oleh kamera-kamera tercanggih milik Aris.

1
Agus Barri matande
semangat thor
Thecel Put
omg saya sangat suka cerita dengan genre seperti ini❤️‍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!