"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Gerbang Pulau Tengkorak
Setelah mendapatkan petunjuk tentang Pak Tua, Puri dan teman-temannya segera menuju ke ujung desa. Rumah-rumah di sana semakin jarang, digantikan oleh gubuk-gubuk reyot yang berderet di sepanjang pantai. Aroma amis ikan dan garam laut semakin kuat, bercampur dengan bau ganggang yang membusuk.
"Di sini tempatnya?" tanya Ayu ragu, menatap gubuk yang hampir roboh di depan mereka. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang lapuk, atapnya bolong di sana-sini, dan jaring-jaring ikan yang robek menutupi sebagian besar bagian depan.
"Ini alamat yang dikasih sama bapak di warung kopi tadi," jawab Fahri, memeriksa secarik kertas yang kumal. "Kayaknya bener di sini."
Puri mengetuk pintu gubuk itu dengan ragu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lebih keras.
"Permisi! Apa ada orang di dalam?" teriak Puri.
Tiba-tiba, pintu gubuk terbuka dengan derit yang memekakkan telinga. Seorang pria tua muncul di ambang pintu. Kulitnya keriput dan kasar seperti kulit pohon, rambutnya putih panjang terurai hingga bahu, dan matanya yang redup menatap mereka dengan tatapan tajam. Pria itu mengenakan pakaian nelayan yang lusuh dan memegang sebatang tongkat kayu yang tampak kokoh.
"Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan?" tanya pria tua itu dengan suara serak.
"Kami mencari Pak Tua," jawab Puri dengan sopan. "Apa benar Bapak Pak Tua?"
Pria tua itu mengamati mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Benar. Aku Pak Tua. Tapi aku tidak punya urusan dengan kalian. Pergi sana."
Pria tua itu hendak menutup pintu, tetapi Puri menahannya.
"Tunggu, Pak! Kami mohon, dengarkan kami sebentar saja," kata Puri. "Kami datang ke sini untuk mencari teman kami yang hilang. Kami percaya, dia pergi ke Pulau Tengkorak."
Mendengar nama Pulau Tengkorak, mata Pak Tua memicing. Ia menatap Puri dengan tatapan yang lebih intens.
"Pulau Tengkorak?" tanyanya dengan nada berbisik. "Kenapa kalian mencari orang di tempat terkutuk itu?"
"Kami percaya, teman kami sedang dalam bahaya," jawab Rio. "Kami mohon, Pak, bantu kami untuk pergi ke sana. Kami dengar, Bapak adalah satu-satunya orang yang berani menginjakkan kaki di pulau itu."
Pak Tua terdiam sejenak. Ia tampak sedang mempertimbangkan permintaan mereka. Wajahnya yang keriput menunjukkan campuran antara keraguan dan rasa penasaran.
"Kenapa kalian peduli dengan anak muda itu?" tanya Pak Tua akhirnya. "Kenapa kalian rela mempertaruhkan nyawa kalian untuknya?"
"Dia teman kami," jawab Puri dengan tulus. "Kami tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
Pak Tua menatap Puri dengan tatapan yang dalam. Ia seolah sedang mencari sesuatu di dalam diri Puri, sebuah kejujuran, sebuah tekad, atau mungkin... sebuah kesamaan.
"Kalian anak-anak muda memang bodoh dan keras kepala," kata Pak Tua akhirnya, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. "Tapi aku menghargai keberanian kalian."
"Baiklah," lanjut Pak Tua. "Aku akan membantu kalian pergi ke Pulau Tengkorak. Tapi ingat, pulau itu bukan tempat yang ramah. Banyak bahaya yang menanti kalian di sana. Jika kalian tidak siap, kalian akan mati."
Puri dan teman-temannya saling bertukar pandang, merasa lega dan gembira. Mereka tahu, mereka telah menemukan orang yang tepat untuk membantu mereka.
"Kami siap, Pak," kata Puri dengan nada mantap. "Kami akan menghadapi semua bahaya bersama-sama. Kami hanya ingin menemukan teman kami dan membawanya pulang."
Pak Tua mengangguk. "Bagus. Kalau begitu, datanglah besok pagi saat matahari terbit. Kita akan berangkat ke Pulau Tengkorak. Tapi ingat," Pak Tua memperingatkan, "Jangan membawa apapun kecuali yang benar-benar penting. Pulau itu tidak suka dengan keserakahan."
Puri dan teman-temannya mengangguk setuju. Mereka berjanji untuk mengikuti semua instruksi Pak Tua.
Setelah berterima kasih kepada Pak Tua, mereka kembali ke penginapan dengan perasaan yang campur aduk. Lega karena telah menemukan jalan menuju Pulau Tengkorak, tetapi juga cemas dan takut menghadapi bahaya yang menanti mereka di sana.
Malam itu, mereka mempersiapkan diri sebaik mungkin. Mereka memeriksa peralatan mereka, menyusun rencana, dan saling memberikan semangat.
"Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di sana," kata Rio dengan nada serius. "Tapi kita harus tetap bersatu dan saling melindungi. Kita tidak boleh menyerah, apapun yang terjadi."
Ayu dan Dina, meskipun masih trauma dengan kejadian di bale pasanggrahan, menunjukkan keberanian yang luar biasa. Mereka bertekad untuk membantu Puri dan Rio menemukan Rendra dan mengakhiri semua ini.
Fahri, sebagai ketua kelompok KKN, merasa bertanggung jawab atas keselamatan semua orang. Ia berusaha untuk tetap tenang dan memimpin mereka dengan bijaksana.
Puri, meskipun merasa takut dan khawatir, memancarkan tekad yang kuat. Ia tahu, ia harus menemukan Rendra dan mengungkap kebenaran tentang Pulau Tengkorak. Ia tidak bisa membiarkan teman-temannya menderita karena kesalahannya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*