Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Cintya terus memacu langkahnya, jantung berdebar seirama dengan deru napasnya yang memburu. Rumah persembunyian itu, yang selama sepuluh bulan lebih menjadi saksi bisu dramanya dan Baby Al, kini ditinggalkannya jauh di belakang, bersama bayang-bayang para pria bertopeng yang menghantui.
Setiap langkahnya terasa berat, bukan hanya karena kelelahan, tapi juga karena ketakutan yang mencengkeram hatinya. Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan dari bayi malang ini?
pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, menciptakan pusaran kecemasan yang tak berujung.
Ajaibnya, Baby Al, yang berada dalam gendongannya, justru tergelak riang, seolah tengah menikmati permainan yang mendebarkan. Tangan mungilnya meraih-raih wajah Cintya, seolah ingin menghapus kerut kekhawatiran yang terpampang jelas di sana. "Dasar bayi, dikira lagi naik roller coaster di Dufan kali, ya?" gumam Cintya, merasa geli bercampur ngeri. Ia mengecup pipi Al sekilas, berharap keberaniannya dapat menular pada si kecil. "Demi kamu, Nak, Bunda akan melakukan apa saja."
Jalan setapak itu akhirnya ngebawa mereka ke jalan raya. Cintya berhenti, dengan nafas ngos-ngosan kayak habis lari maraton. Kakinya terasa seperti jelly, tapi ia tidak boleh menyerah.
"Tenang Cintya. Jangan panik. Pikirkan apa yang harus kamu lakukan," batin Cintya sambil ngatur napas. Matanya memindai sekeliling, mencari tempat aman. "Ingat, kamu itu Wonder Woman KW super yang harus melindungi anak ini dari segala macam marabahaya!" bisiknya pada diri sendiri, mencoba menyemangati.
Baby Al, yang tadinya ketawa riang, sekarang malah nyodorin mainan bola kecilnya ke Cintya. Mata bulatnya menatap Cintya dengan polos, seolah berkata, "Semua akan baik-baik saja, Bunda."
"Duh, meleleh hati Bunda, Nak ...." bisik Cintya, mencium kening Al dengan penuh kasih sayang. Sentuhan lembut itu seolah memberinya kekuatan baru, membuatnya merasa lebih tegar dan berani. "Kamu adalah alasan Bunda untuk terus berjuang, Al."
Tiba-tiba, otaknya nge- restart dan muncul nama: May! Sahabat unfaedah yang selalu siap sedia dengerin curhatannya, meskipun kadang nggak nyambung. Tapi tetep aja, cuma May yang bisa diandelin sekarang.
"Iya! May! Aku harus ke kontrakan May! Dia pasti bisa bantuin aku ngumpet dari para badut bertopeng itu," pikir Cintya. "Semoga aja dia nggak lagi kencan buta sama om-om tajir. Atau pindah kontrakan ke Antartika!"
Setelah menemukan tempat yang ia tuju, gegas Cintya ngacungin tangannya ke udara, nyetop taksi yang lewat. "Pak ke arah kota, jalan suka damai lorong anggrek, ya! Inget ya Pak! Jangan ngebut! Saya lagi bawa penumpang VIP!" ucapnya ke supir taksi, berusaha terdengar percaya diri meskipun hatinya berdebar kencang.
Sopir taksi itu hanya tersenyum mendengar ocehan penumpangnya. "Siap, Nona. Aman!"
Taksi itu melaju dengan cepat meninggalkan jalan raya menuju kota. Cintya memeluk Baby Al erat-erat, berusaha memberikan rasa aman. Ia menatap keluar jendela, waspada terhadap setiap mobil yang lewat.
_______&&______
Arkana mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi. Rumah yang tadinya menjadi tumpuan harapan untuk membawa kembali sang keponakan, kini tampak kosong dan dingin, tanpa jejak Alexie maupun wanita muda itu. Ia merasa kembali menelan pil pahit kegagalan. Kemarahan dan keputusasaan bercampur aduk, membentuk koktail emosi yang menyesakkan.
"Sial!" gerutu Arkana sambil menendang meja di dekatnya, membuat Devano tersentak kaget. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menjinakkan amarah yang membakar hatinya. "Aku harus tetap fokus. Aku tidak boleh menyerah," bisiknya pada diri sendiri, mencoba mencari kekuatan di tengah kekalutan.
"Ar, tenang. Kita pasti bisa menemukan mereka," ucap Devano berusaha menenangkan. "Kita coba cari informasi ke warga sekitar. Mungkin ada yang ngelihat mereka pergi."
Arkana menghela napas panjang dan mengangguk. Ia tahu, ia tidak boleh menyerah. Ia harus terus mencari Alexie, apapun yang terjadi.
Mereka keluar dari rumah dan mulai bertanya kepada warga sekitar. Mereka menunjukkan foto Cintya dan Baby Al, berharap ada yang mengenalinya.
"Maaf mengganggu, Bu. Apa Ibu pernah melihat wanita ini?" tanya Arkana dengan nada sopan, menunjukkan foto Cintya yang sedang menggendong Baby Al.
Setelah beberapa lama mencari informasi, mereka mendapatkan petunjuk dari seorang warga. Warga itu melihat seorang wanita menggendong bayi dan naik taksi menuju ke arah kota.
"Berarti mereka berhasil lolos!" seru Arkana dan Devano bersamaan, mereka merasa lega. Arkana diam-diam merasa sedikit kagum pada wanita yang membawa keponakannya. Dia cerdik dan berani. Tapi kenapa dia melarikan diri dariku?
Hati kecilnya mengatakan jika wanita itu bukanlah orang jahat atau musuh, tapi satu sisi kekhawatiran tetap masih menguasai pikirannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dia sembunyikan?
"Tapi kenapa mereka kembali ke kota?!" tanya Devano bingung.
Arkana mengangkat bahunya. "Mana gue tahu!" jawab Arkana singkat.
"Kita harus segara kembali ke kota sekarang juga! Jangan sampai musuh menemukan mereka lebih dulu!" lanjut Arkana segara berlari ke arah mobilnya.
"Kalau yang bersama wanita itu benaran Alexie, ita harus cepat, Dev! Jangan sampai mereka kenapa-kenapa!" ucap Arkana dengan nada panik.
Devano mengangguk dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
________&&______
Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya taksi yang ditumpangi Cintya tiba di depan kontrakan sang sahabat, May. Langit sudah gelap, pertanda rembulan mengambil alih tugas sang mentari. Cintya membayar ongkos taksi dan turun dengan cepat.
Ia berjalan menuju ke pintu kontrakan dengan penuh harap. Dengan cepat ia mengetuk pintu itu. Jantungnya berdegup kencang, berharap May ada di dalam.
Tok!
Tok!
Tok!
"May! Ini aku, Cintya! Buka pintunya, May!" seru Cintya dengan nada cemas. Ia menempelkan telinganya ke pintu, mencoba mendengar suara dari dalam.
Tak ada jawaban dari dalam tapi lampu dalam kontrakan terlihat menyala. Apa mungkin May sudah tidur? Atau jangan-jangan dia sedang tidak di rumah?
Tanpa Cintya sadari dari belakang seorang wanita muncul sambil menenteng plastik berisi di tangannya.
"Maaf cari siapa ya, Mbak?" tanyanya. "Suara itu ...," Cintya langsung memutar badannya.
"Cintya?! Ya ampun, ini benaran kamu?!" tanya May dengan nada tak percaya sekaligus lega. Matanya memindai Cintya dari atas sampai bawah, lalu beralih ke Baby Al yang berada di gendongannya. "Ya Allah, Cin! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar?! Dan ini bayi siapa?"
Cintya langsung nyengir tanpa rasa bersalah.
"Ceritanya panjang May! Sepanjang jalan film India."
"Ngomong-ngomong boleh masuk gak sih, kaki gue dah pegal bangat nih, habis ikut lomba lari maraton! Sambil bawa beban masa depan!"
" He he! Maaf! Ayok masuk!" ajak May ramah sambil nyengir.
Pus! Si kucing putih yang gak mau ketinggalan gegas menyelinap sebelum pintu benar-benar tertutup rapat.
Aksinya yang tiba-tiba membuat May terlonjak kaget, menatap si kucing dengan penuh tanya?
Cintya langsung menegaskan. "Oh ya, nih bodyguard gue, biarkan dia masuk, ya?"
May mengangguk pelan dengan wajah terkejutnya. "Iya, nggak apa-apa gue cuman kaget aja tadi."
Begitu mereka sudah duduk di ruang tamu yang sempit, May segera memberondong beberapa pertanyaan.
"Cin! sebenarnya ada apa sih? Terus ini bayi siapa? Jangan bilang kamu di kejar-warga karena nyulik anak orang?" tanya May, raut wajahnya masih diliputi kebingungan sekaligus penasaran.
Cintya menghela napas panjang dan mulai menceritakan semua yang telah terjadi pada May. Air mata mulai mengalir di pipinya saat ia menceritakan tentang awal mulai ia menemukan baby Al sampai ia harus pindah kontrakan dan bersembunyi di sebuah rumah sampai akhirnya berakhir di kontrakan May." Cintya tidak menceritakan kalau ia sedang di kejar-kejar penjahat. Karena ia takut May akan semakin khawatir.
May mendengarkan cerita Cintya dengan seksama. Ia merasa iba dan khawatir pada sahabatnya itu. Ia menggenggam tangan Cintya, mencoba memberikan kekuatan.
"Tenang, Cin. gue akan ngebantu lo merawat dan menjaga baby Al," ucap May dengan nada tulus.
Bersambung ....
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus