Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 30
Keadaan dan penampilan Bram terlihat sangat berantakan. istri barunya yang bernama Ayu, wanita yang dia nikahi secara siri tiga tahun lalu itu terlihat ketakutan melihat keadaan Bima seperti itu. Walau dia tahu jika Bima juga sering berbuat ka-sar padanya selama menikah. Ayu memang tak pernah dia cintai. Dia menikahi karena memerlukan ibu untuk mengurus Arkha. Dan saat ini mereka juga memiliki seorang balita perempuan berusia dua tahun.
"Astaga, mas! Kamu membuat Gisella kaget, dia sampai menangis seperti ini!" kaget Ayu saat Bima melemparkan guci besar yang ada di bawah tangga.
Bukan hanya Ayu dan Gisella yang kaget, Tapi semua orang juga sangat kaget melihat kemarahan dari Bima. Arkha yang sedang duduk di ruang keluarga menikmati cemilannya menatap tajam ke arah sang ayah. Dia sudah tahu jika ayahnya itu akan mengamuk, karena kakaknya sudah tidak ada. Tidak ada orang yang bisa dia siksa seenaknya. Tidak ada orang yang bisa dia suruh untuk mengabulkan semua keinginannya di dunia bawah.
plaaaakkk
Plaaaakkk
"Berisik kau! Bawa pergi anakmu dari sini! Aku tak ingin mendengar tangisannya membuat aku semakin pusing. Apalagi melihat wajahnya, jauhkan dariku! Aku benci dengan anak perempuan! Kenapa kau malah melahirkan anak perempuan, bukannya anak laki-laki!" emosi Bima kepada istri siri ke duanya.
Sedangkan Dewi dia tetap nikahi juga secara siri sebelum dengan Ayu. Wanita itu pintar sekali karena bisa kembali menjerat Bima kembali ke dalam pelukannya.
"Mas ..." panggil Ayu lirih.
"Pergi kau! Aku bilang pergi! Aku tak mau mendengar teriakan Bayimu itu! Apa mau ku buat dia tak menangis selamanya?" emosi Bima dengan mata memerah dan rahang yang mengeras.
Ayu semakin ketakutan melihat suaminya seperti itu. Dia segera pergi dari sana menuju ke rumah belakang agar tangis Gisella tidak terdengar oleh ayahnya. Jangan sampai Bima berbuat kasar kepada anak mereka.
"Kurang ajar kau Aruna! Dasar anak se-tan! Bersembunyi di lubang semutpun aku pasti akan menemukan kamu Aruna! Kau fikir sangat hebat bisa kabur dariku? Lari dan sembunyilah kemanapun kamu inginkan! Aku akan bisa menemukan kamu!" emosi Bima meluap-luap dan berteriak kemudian melemparkan gelas yang berisi minuman beral-ko-hol
Praaaaaang
Gelas dan semua isinya jatuh berantakan. Bi Asih memeluka Arkha yang duduk santai di sana. Arkha sepertinya sudah terbiasa melihat kemarahan ayahnya. Tak seperti dua tiga tahun sebelumnya yang selalu ketakutan saat melihat ayahnya selalu memanggil sang kakak saat sedang emosi dan mencari alasan kesalahan yang tak pernah dia lakukan untuk bisa me-mu-kulnya. Setelah Kakaknya sering menguatkan dia, akhirnya Arkha sudah tak takut dan bersikap biasa.
"Bawa Arkha ke kamarnya bo-doh! Kenapa dia masih di sini! Dasar pembantu bo-doh!" teriak Bima kembali saat melihat Bi Asih memeluk Arkha.
Bi Asih menarik tangan Arkha untuk pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Di luar sana Bima masih mengamuk.
"Den, apa Den Arkha tidak apa-apa? Atau mau bibi balurkan minyak hangat ke tangan Aden?" tanya Bi Asih terlihat sangat khawatir.
Arkha menarik tangan Bi Asih dan mengusapnya lembut, kemudian tersenyum.
"Arkha tidak apa-apa, Bi. Jadi bibi jangan terlalu khawatir seperti itu. Arkha akan menjadi anak yang kuat seperti kakak. Semua yang kita lakukan jangan ad ayang tahu Bi, jangan mencurigakan siapapun. Ingat ya, Bi," bisik Arkha.
"Semoga dimanapun Nona berada, dia dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa," jawab Bi Asih.
Mereka diam di dalam kamar dan menunggu keadaan sudah tenang. Sepertinya Bima sudah masuk ke dalam rumah kerjanya entah mungkin dia pergi ke rumah Dewi mencari kesenangan.
"Bibi pergi dulu, kunci pintu kamarnya dari dalam den," pamit Bi Asih setelah memastikan jendela juga terkunci.
"Iya Bi," jawab Arkha.
Dia menatap ke jendela dan melihat ayahnya pergi bersama dengan beberapa pengawal bahkan dia dalam keadaan sempoyongan. Tangan Arkha terkepal dengan kuat di bawah sana. Dia sudah merasa muak dan lelah tinggal di sini. Dia harus selalu menjadi anak penurut bagi pria itu. Jika dia membantah maka tak segan Bima akan menghukumnya. Walau hukuman yang dia terima tak sesakit dan se ekstrim kakaknya. Tetap saja hal itu membuat luka yang begitu dalam di hati dan diri Arkha.
"Aku harap kakak segera datang dan menjadi malaikat pencabut nya-wamu segera. Bukan hanya kamu saja tapi juga wanita itu dan kedua anaknya!" ucap Arkha pelan.
Sedangkan Bi Asih mendekat ke arah Ayu dan Gisella. Balita kecil itu akhirnya tertidur juga setelah susah payah dia mencoba membuat anaknya tenang karena takut kepada ayahnya. Ayah yang tak pernah peduli kepadanya. Bahkan Bima juga mencarinya kalau dia menginginkan sesuatu darinya. Tak lebih dari hanya memua-/skan naf-/sunya.
"Bu, masuklah dan bawa Non Gisella ke kamarnya. Pak Bima juga sudah pergi. Kasihan di sini dingin dan banyak nyamuk" ajak Bi Asih.
"Baiklah Bi, terima kasih ..." jawab Ayu dan masuk ke dalam kamar Gisella.
Di sana juga Gisella tidur bersama dengan Bi Marni. Bima tak mengizinkan menggunakan baby sitter karena Ayu juga ada di rumah. Hanya saja dia tak ingin anak mereka tidur bersama di kamar yang sama. Bima selalu membenci anak perempuan. Padahal Gisella juga adalah anak kandungnya. Apakah nasibnya akan sama seperti Aruna?
"Masuklah ke dalam kamar Bu. Jangan sampai nanti saat Pak Bima pulang anda malah berada di sini," Bi Marni meminta Ayu untuk pergi.
"Baiklah Bi, titip Gisella ya ..." jawab Ayu seteleh mencium kening Gisella akhirnya pergi ke kamar Arkha untuk melihat keadaan anak sambungnya. Tapi saat akan membuka pintu kamar, pintunya sudah terkunci membuat Ayu akhirnya pergi dari sana. sulit sekali bagi Ayu untuk meluluhkan hati Arkha. Apalagi Arkha sangat cuek kapadanya dari awal dia masuk ke ruang itu sebagai istri Bima. Walau Arkha tak menolak setiap Ayu menyiapkan semua kebutuhannya. Tapi tetap saja sikap cuek Arkha membuatnya merasa sakit. Di abaikan oleh anak sambung. Padahal tujuan utamanya memanglah untuk mengurus Arkha.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/