"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Tiga Hari di Ambang Keheningan
Bau karbol yang tajam dan bunyi ritmis dari mesin electrocardiogram (ECG) menjadi satu-satunya melodi di ruang ICU rumah sakit ternama di London itu. Sudah tiga hari Gabriella Rachel De Alfa terbaring tak berdaya. Tubuhnya yang mungil tampak tenggelam di balik berbagai selang medis dan perban yang melilit kepala serta sebagian lengannya. Achell koma, terjebak dalam kegelapan yang tak seorang pun tahu kapan akan berakhir.
Jake tidak pernah meninggalkan rumah sakit itu sedetik pun. Wajahnya yang biasanya rapi kini ditumbuhi janggut tipis, matanya merah karena kurang tidur. Di hari ketiga ini, pintu ruang tunggu terbuka, menampakkan dua remaja yang tampak sangat kacau.
Sophie dan Julian. Mereka segera datang dari kota asrama mereka begitu mendapat kabar dari Jake. Sophie berlari menghampiri Jake, air matanya langsung tumpah tanpa bisa dibendung lagi.
"Uncle Jake... bagaimana keadaan Achell? Kenapa dia belum bangun juga?" tangis Sophie terisak-isak hingga tubuhnya terguncang. Ia membayangkan sahabatnya yang ceria kini harus bertaruh nyawa.
Julian berdiri di belakang Sophie, wajahnya pucat pasi namun ia berusaha tetap tegar. Ia mengelus pundak Sophie dengan tangan gemetar, mencoba memberikan kekuatan yang sebenarnya ia sendiri pun hampir kehilangan. "Tenanglah, Sophie. Achell itu kuat. Dia pasti akan kembali pada kita."
Jake mempersilakan mereka duduk. "Dokter bilang kondisinya masih kritis, tapi stabil. Kita hanya bisa menunggu dan berdoa."
"Semua ini karena pria brengsek itu, kan?!" bentak Sophie tiba-tiba, menatap tajam ke arah sudut ruangan di mana Victor sedang berdiri mematung. "Kalau saja Tuan Edward yang terhormat itu punya hati, Achell tidak akan berakhir di sini!"
Sementara mereka berbincang dengan Jake, di ujung koridor yang sunyi, Victor Louis Edward tampak seperti orang yang kehilangan arah. Pria yang biasanya mengendalikan bursa saham dengan satu jentikan jari itu kini terlihat kalang kabut. Ia tidak pulang, tidak mandi, bahkan tidak menyentuh dokumen pekerjaannya sedikit pun.
Victor mondar-mandir di depan kaca ruang ICU. Ia berhenti sejenak, menatap Achell dari balik jendela kaca, lalu kembali berjalan dengan langkah cepat yang tidak beraturan. Setiap kali melihat monitor jantung Achell berfluktuasi sedikit saja, jantung Victor seolah ikut berhenti berdetak.
"Achell, bangun..." bisiknya berkali-kali dalam hati, sebuah doa yang baru pertama kali ia panjatkan dengan begitu tulus dalam hidupnya yang arogan. "Aku akan memberikan apa pun. Aku akan percaya pada apa pun yang kau katakan. Hanya... buka matamu."
Ia merasa seperti tercekik. Bayangan darah Achell di aspal malam itu terus terulang di kepalanya seperti film horor yang tak ada habisnya. Penyesalan yang luar biasa kini menjadi sanksi yang lebih berat daripada hukuman penjara mana pun.
Julian berjalan mendekati Victor. Tidak ada tatapan takut di mata Julian, yang ada hanyalah kemuakan. "Tuan Edward," panggilnya dengan suara rendah namun dingin.
Victor berhenti mondar-mandir dan menatap Julian. "Apa?"
"Anda menghabiskan sepuluh tahun untuk membuat dia mencintai Anda, dan Anda hanya butuh satu malam untuk membunuhnya," ucap Julian tajam. "Jika dia bangun nanti, saya harap Anda memiliki rasa malu yang cukup untuk menjauh darinya. Anda adalah racun bagi hidupnya."
Victor tidak membalas. Ia tidak punya kata-kata untuk membela diri. Ia hanya menatap Julian dengan tatapan kosong, lalu kembali menatap ke arah Achell yang masih menutup mata dengan rapat.
Di dalam ruangan itu, Achell masih berjuang sendirian. Di luar ruangan, harga diri seorang Victor Edward telah hancur total, hancur bersama dengan kepingan pena yang ia hina malam itu. Ia sekarang sadar bahwa uang, kekuasaan, dan gengsi tidak bisa membeli satu detik pun kesadaran dari gadis yang baru saja ia sia-siakan.