NovelToon NovelToon
Dendam 172

Dendam 172

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying di Tempat Kerja
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Aku segera berlari ke arah Andika dan meraih dompet dari tangannya. Tarikanku terlalu keras. Tubuhnya sedikit terhuyung sebelum akhirnya mundur beberapa langkah. Aku menatapnya tajam, memberi peringatan tanpa kata. Dia paham. Andika langsung menunduk dan menjauh dari garis pembatas.

Kepalaku berdenyut. Ini TKP, bukan ruang diskusi. Aku tidak boleh lengah, apalagi melibatkan anakku.

Aku membuka dompet itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat kartu identitas siswa.

Nama: Rizki Firmansyah.

Usia: 15 tahun.

Sekolah: SMA Negeri 2.

Aku terdiam sejenak. SMA Negeri 2 adalah sekolah negeri elit, tempat anak-anak dari keluarga berada berkumpul. Dari kejauhan, aku teringat jelas tato kecil di pundaknya saat tubuhnya tergeletak tadi. Di usia lima belas tahun, tato itu bukan hal sepele. Biasanya sekolah akan langsung memberi sanksi. Tapi pada anak ini, jelas ada pengecualian. Dia bukan siswa biasa.

Suara sirene ambulans mendekat, memecah pikiranku. Sebuah ambulans berhenti tak jauh dari garis polisi. Beberapa petugas medis turun dengan tandu dan peralatan evakuasi.

“Tunggu sebentar, Pak,” ucapku sambil mengangkat tangan.

Petugas itu mengangguk dan menahan langkah. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar TKP. Permukaan lantai, posisi tubuh, percikan darah, arah jatuh. Tidak ada benda mencurigakan, tidak ada tanda perlawanan. Lukman sudah memberi tanda dengan cat putih di beberapa titik penting.

“Bagaimana, Pak?” tanya petugas medis.

“Silakan dievakuasi,” jawabku akhirnya. “Hati-hati di bagian kepala.”

Baru saja petugas bersiap mengangkat tubuh korban, suara teriakan keras memecah udara.

“Kenapa kamu diam saja? Cepat cari pelakunya!”

Aku menoleh. Seorang pria berjas mewah menerobos garis pembatas. Wajahnya merah, napasnya tersengal. Matanya menatapku penuh amarah.

“Saya sedang olah TKP, Pak,” jawabku berusaha tetap tenang.

“Lambat sekali!” bentaknya. “Jelas-jelas anak saya dibunuh. Kinerja kalian memang buruk!”

Dadaku mengeras. Lagi-lagi tuduhan itu muncul. Dan lagi-lagi datang dari orang yang terbiasa memerintah.

“Pak, anak Bapak melompat sendiri dari lantai lima. Banyak saksi,” ujar salah satu petugas keamanan gedung.

“Diam kamu!” bentak pria itu kasar. “Dasar satpam rendahan!”

Aku melihat wajah petugas keamanan itu menegang. Namun sebelum aku sempat bicara, dia lebih dulu bersuara.

“Jangan mentang-mentang kaya, Bapak bisa bertindak seenaknya. Banyak saksi yang lihat anak Bapak bunuh diri.”

Pria berjas itu menoleh tajam.

“Aku punya saham di gedung ini. Aku bisa memecat kamu kapan saja!”

Petugas keamanan itu langsung terdiam. Bahunya turun. Ketakutan selalu lebih cepat bekerja daripada kebenaran.

“Rizki tidak mungkin bunuh diri!” teriak pria itu. “Dia juara taekwondo. Mentalnya kuat!”

Aku terpaku. Kalimat itu menghantam pikiranku. Polanya kembali muncul. Anak orang kaya. Prestasi. Tidak ada alasan psikologis yang jelas. Sama seperti dua korban sebelumnya.

“Kenapa kamu diam saja?” bentaknya lagi. “Kejar pelakunya!”

Aku menatapnya.

“Pak, saya menyaksikan sendiri anak Bapak melompat dari lantai lima.”

“Kamu juga percaya dia bunuh diri?” teriaknya. Matanya melotot, urat lehernya menegang.

Dadaku terasa sesak. Di hadapanku berdiri seorang ayah yang kehilangan anaknya. Di sekelilingku, prosedur harus tetap berjalan.

“Pak Andi, Bapak harus lihat ini.”

Rani datang tergesa dan menyodorkan ponselnya. Aku menerimanya. Seperti yang sudah kuduga, rekaman CCTV rooftop lantai lima terpampang di layar.

Aku memutar video itu dan menghadapkannya pada pria tersebut.

“Silakan lihat.”

Dengan enggan, dia menatap layar. Tangannya mencengkeram ponsel itu begitu erat. Saat video menunjukkan detik-detik Rizki berlari dan melompat, pria itu mengangkat ponsel, berniat membantingnya.

Aku refleks merebut kembali.

“Bapak jangan bertindak arogan seperti ini,” ucapku tegas.

“Brengsek!” teriaknya.

Dia jatuh berlutut. Tangannya menjambak rambut sendiri. Lalu memukul-mukulkan kepalan tangannya ke lantai berulang kali.

“Rizki,” tangisnya pecah. “Kenapa kamu meninggalkan Papah, Nak?”

Aku berdiri mematung. Sebagai polisi, aku terbiasa melihat kematian. Tapi menyaksikan seorang ayah hancur di hadapanku, tetap saja menorehkan luka.

Di balik semua prosedur, laporan, dan garis pembatas, ada duka yang tidak bisa disterilkan. Dan di kepalaku, satu hal semakin jelas. Anak-anak ini tidak mati karena keputusasaan. Mereka mati karena sesuatu yang jauh lebih terencana.

“Saya sarankan anak Bapak diotopsi,” ucapku dengan suara terkendali.

Pria itu mendadak bangkit. Tangannya mencengkeram kerah bajuku dan menarikku mendekat. Napasnya panas, matanya merah.

“Jangan macam-macam dengan anakku,” bentaknya. “Tutup kasus ini. Aku akan membawa anakku pulang.”

Beberapa anggota refleks bergerak mendekat, tapi kuangkat tangan memberi isyarat agar mereka tetap di tempat. Ini bukan soal adu tenaga, ini soal kendali.

“Pak,” kataku menahan diri, “untuk memastikan apakah anak Bapak bunuh diri atau dibunuh, otopsi harus dilakukan. Ada kemungkinan zat adiktif atau zat lain dalam darahnya.”

“Brengsek!” teriaknya sambil mendorongku hingga aku mundur setengah langkah.

Lagi-lagi, niat baik dibalas umpatan. Dadaku terasa sesak, tapi aku tetap berdiri tegak.

“Saya tidak menuduh siapa pun,” lanjutku. “Tapi ini tempat umum. Banyak saksi. Banyak yang merekam. Dan hari ini sudah terjadi tiga kematian dengan pola yang sama, terlihat seperti bunuh diri. Karena itu saya benar-benar menyarankan Bapak memberi izin otopsi.”

Tangannya akhirnya terlepas dari bajuku. Dia mundur satu langkah. Tatapannya berubah, tidak lagi sepenuhnya marah. Ada keraguan di sana. Aku tahu apa yang sedang dipikirkannya. Jika ditemukan zat terlarang, jika hasil otopsi bocor, nama baik keluarganya akan tercoreng. Bagi orang seperti dia, reputasi adalah segalanya.

Beberapa detik terasa panjang.

“Tidak,” katanya akhirnya. “Anakku akan aku urus sendiri.”

Nada suaranya dingin, final.

Aku menghela napas panjang. Ada banyak hal yang ingin kukatakan, tapi kutahan. Berurusan dengan orang kaya sering kali jauh lebih rumit daripada menangani pelaku kejahatan biasa. Padahal semua ini demi kebaikan, demi kebenaran.

“Baik, Pak,” ucapku akhirnya. “Kami akan mencatat penolakan otopsi dari pihak keluarga.”

Aku memberi isyarat pada petugas medis. Mereka bergerak kembali, kali ini bukan untuk proses penyelidikan, melainkan hanya pemindahan jenazah sesuai permintaan keluarga.

Dalam hati aku tahu, jika saja otopsi dilakukan dan ditemukan zat asing, semuanya bisa ditelusuri. Riwayat komunikasi, lingkar pergaulan, sumber zat itu. Tapi pintu itu kini tertutup.

Aku berdiri memandangi tubuh korban yang dibawa pergi. Di sekelilingku, TKP mulai sunyi. Namun pikiranku justru semakin gaduh.

Aku mengedarkan pandangan, mencari Andika. Dia duduk di pojokan, punggungnya menempel dinding, lututnya ditekuk. Terlihat kecil di tengah keramaian TKP yang mulai dibersihkan.

Aku menghampirinya dengan langkah tegak. Amarah dan cemas bercampur jadi satu. Begitu berdiri di depannya, kutatap wajahnya tajam. Dia sudah melakukan sesuatu yang berbahaya dan sembrono.

“Dika,” kataku keras, “kesalahan kamu fatal kali ini. Kenapa kamu bertindak sembarangan?” Suaraku bergetar, bukan hanya marah. “Ini membahayakan kamu dan Ayah. Ayah akan telepon Oma Nina. Kamu harus dijemput sekarang.”

Dia menatapku. Tidak takut. Tidak terkejut. Tatapan itu justru tenang, terlalu tenang.

“Yah,” katanya pelan, “besok pagi akan ada pembunuhan. Jam sembilan.”

Aku tercekat.

“Ayah harus ke SMP Nusantara Global,” lanjutnya datar. “Korban berikutnya alumni SMP Nusantara Global.”

Aku menelan ludah. Alih-alih gentar oleh bentakanku, pikirannya justru tertuju pada ancaman berikutnya. Seolah kejadian barusan hanya potongan kecil dari pola besar yang sedang dia susun di kepalanya.

“Dika, ini bukan permainan,” ucapku lebih pelan, mencoba menahan diri. “Kamu tidak tahu seberapa rumit dunia ini.”

Dia tetap diam, menatap lurus ke depan.

Aku menghela napas panjang. Dia tidak mengerti. Aku saja sejak pagi sudah dibatasi. Gerakku diawasi. Keputusanku dipangkas. Tekanan datang dari atasan, dari keluarga korban, dari sistem yang lebih mementingkan ketenangan semu daripada kebenaran.

Dan sekarang, anakku sendiri berdiri di tengah semua ini, berbicara tentang kematian berikutnya dengan nada setenang membahas jadwal sekolah.

Di saat itulah aku sadar, ketakutanku bukan hanya pada pembunuh yang sedang menyusun jadwalnya.

Tapi pada kenyataan bahwa Andika mungkin sudah melangkah terlalu jauh ke dalam dunia yang bahkan aku, sebagai polisi, hampir tidak sanggup menghadapinya.

1
Nurr Tika
bikin penasaran thor
Nurr Tika
makin penasaran
Nurr Tika
sebanarnya meraka maunya pa
Nurr Tika
sebenarnya siapa mereka
Nurr Tika
apakah mereka terlibat akan teror itu
Intan Melani
iya kan si anak y di tolong kakek
Nurr Tika
lanjut,,,,,,
Nurr Tika
diantara mereka ada yg jd mata" siapa ya, lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,,
Nurr Tika
lanjut thor semakin seru
Fitur AI
Semangat ya pak , nanti jangan lupa mampir kenovel aku hehehe...🙏😊
Fitur AI
seharus nya bersukur punya cowo begini
Nurr Tika
lanjut thor
Nurr Tika
benarkah nirmala msh hidup
Nurr Tika
lanjut thor
Intan Melani
aqkya pernah baca thor kayanya y si Nirmala di buang ke jurang sama 2orang cwo. di temuin sama kakek2 terus di obati terus di ajarin bela diri bwt balas dendam.
Nurr Tika
lebih banyak dong thor up nya
Nurr Tika
bikin penasaran thor lanjut
Nurr Tika
lanjut thor,,,,,, apakah ini yg bls dendam pcaranya atau ibunya.
Nurr Tika
lanjut,,,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!