NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

​Pukul 06.00 pagi. Mori sudah rapi dengan seragam yang disetrika licin dan tas yang sudah terlampir di bahu. Rencananya matang: berangkat lebih awal, naik angkot, dan menghindari Lian. Dia tidak ingin drama parkiran kemarin terulang, apalagi setelah membaca ancaman Alina semalam.

​Namun, begitu Mori membuka pagar rumahnya, rencananya hancur berkeping-keping.

​Di depan gerbang, Lian sudah bersandar di motor Ninja hitamnya. Dia mengenakan jaket denim yang sama dengan yang dia pinjamkan pada Mori tempo hari, helmnya ia letakkan di tangki motor. Visual Gabriel Guevara-nya yang terkena sinar matahari pagi benar-benar menyilaukan mata.

​"Pagi, Tuan Putri. Kepagian ya bangunnya demi mau ngehindarin gue?" goda Lian dengan senyum miringnya yang khas.

​Mori mendengus, mencoba memasang wajah sedingin es. "Gue nggak mau berangkat bareng lo. Minggir, gue mau ke halte."

​"Gue udah janji bakal jemput. Dan gue nggak suka diingkari," Lian berdiri tegak, menghalangi jalan Mori.

​"Gian, gue serius. Gue nggak mau—"

​Belum sempat Mori menyelesaikan kalimatnya, Lian melakukan sesuatu yang di luar nalar. Tanpa aba-aba, dia merengkuh pinggang Mori dan mengangkat gadis itu.

​"Lian! Turunin! Apa-apaan sih!" jerit Mori kaget.

​Lian tidak membalas. Dengan tenaga yang jauh lebih besar, dia menggendong Mori—gaya bridal style—dan mendudukkannya paksa di atas jok motornya.

​"Lian! Lo gila ya?! Tetangga liat!" Mori berusaha turun, tapi Lian langsung menahan kedua tangan Mori di depan perutnya sendiri.

​"Duduk diem, atau gue bakal gendong lo sampe ke sekolah," ancam Lian dengan nada rendah tapi serius. Tatapannya terkunci pada mata Mori, membuat gadis itu mendadak kehilangan kata-kata.

​Mori akhirnya menyerah dengan wajah merah padam. Dia memakai helm yang disodorkan Lian dengan gerakan kasar. "Gue benci lo, Lian."

​"Benci sama cinta bedanya tipis, Mor. Pegangan yang kenceng," jawab Lian sambil menyalakan mesin motornya yang menderu.

​Begitu motor Ninja Lian memasuki gerbang sekolah, atmosfer mendadak berubah. Semua mata tertuju pada mereka. Berita tentang Lian yang menjemput Mori pagi-pagi buta langsung menyebar lewat grup angkatan.

​Mori turun dari motor dengan terburu-buru, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambutnya yang panjang. Namun, Jessica, Nadya, dan Alissa sudah berdiri di koridor depan kelas dengan tangan bersedekap dan senyum penuh arti.

​"Ciee... yang tadi pagi dijemput pangeran berkuda hitam," goda Jessica langsung saat Mori mendekat.

​"Gendongannya tadi romantis banget nggak sih? Kayak adegan drakor!" timpal Alissa sambil cekikikan.

​"Gue liat lho fotonya di grup kelas, ada yang sempet motret pas kalian di depan gerbang tadi!" Nadya menunjukkan layar ponselnya.

​Mori benar-benar salah tingkah. Pipinya terasa panas sekali. "Apaan sih kalian! Itu... itu tadi gue dipaksa! Gue mau telat makanya dia nawarin!"

​"Masa? Kok tadi gue liat Mori nggak berontak pas duduk di motor?" Jessica makin memojokkan.

​"Dah ah! Jangan bahas itu! Tugas Fisika Bu Lastri udah kalian kerjain belum? Yang halaman 45 susah banget kan?" Mori mencoba mengalihkan pembicaraan dengan sangat canggung.

​Ketiga sahabatnya tertawa melihat Mori yang biasanya tenang dan logis, kini mendadak gagap karena urusan asmara. "Iya deh, pengalihan isu dimulai," sindir Nadya sambil merangkul Mori masuk ke kelas.

​Di kantin saat jam istirahat, Lian kembali dikerubungi oleh gerombolan cewek kelas sepuluh dan sebelas. Mereka mencoba menawarkan bekal, minta foto, atau sekadar mengajak ngobrol. Biasanya, Lian akan meladeni mereka dengan senyum tebar pesonanya.

​Tapi kali ini berbeda.

​Lian yang sedang dikerubungi itu matanya terus mencari-cari ke seluruh penjuru kantin. Begitu dia menangkap sosok Mori yang sedang duduk bersama teman-temannya di pojok, Lian langsung berdiri.

​"Sori ya, gue ada urusan penting," kata Lian pada cewek-cewek itu tanpa melihat mereka sedikit pun.

​Lian lari kecil ke arah meja Mori, mengabaikan seruan kecewa dari penggemarnya. Dia duduk tepat di samping Mori, mengambil botol air mineral Mori dan meminumnya seolah itu miliknya sendiri.

​"Haus banget, Mor," ucap Lian santai.

​"Itu punya gue, Lian!" Mori melotot.

​"Gue tau. Makanya jadi lebih seger," balas Lian dengan kedipan mata.

​Di seberang kantin, Alina menyaksikan itu dengan tangan mengepal di bawah meja. Kemarahannya sudah di ubun-ubun, tapi dia belum berani bergerak karena peringatan Lian kemarin masih terngiang di telinganya.

​Sore harinya, aula kembali digunakan untuk latihan dance berpasangan. Musik hip-hop dengan tempo cepat mulai menghentak. Mori dan Lian berdiri di tengah sebagai center.

​Kali ini, Lian tidak lagi banyak bercanda. Dia benar-benar fokus membimbing gerakan Mori. Ada satu bagian di mana Lian harus menarik tangan Mori, lalu memutar tubuh gadis itu masuk ke dalam pelukannya.

​Saat Mori berputar dan berakhir tepat di dada Lian, tangan Lian menahan pinggangnya dengan sangat posesif. Mata mereka bertemu. Jaraknya begitu tipis hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.

​"Lo bener-bener cantik kalau lagi serius gini, Mor," bisik Lian di sela-sela dentuman musik.

​Mori terdiam, napasnya memburu karena lelah menari—atau mungkin karena debaran jantungnya sendiri. Dia melihat peluh mengalir di pelipis Lian, visual Nicole Wallace dan Gabriel Guevara dalam tarian ini benar-benar mematikan chemistry-nya.

​"Fokus ke gerakannya, Lian. Jangan ke gue," balas Mori lirih, meskipun tangannya tanpa sadar meremas pundak Lian.

​Lian tersenyum tipis. "Gimana bisa gue fokus ke gerakan, kalau pusat dunia gue sekarang ada di depan mata?"

​Latihan sore itu berakhir dengan suasana yang sangat canggung namun manis. Mori menyadari satu hal: dia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kata "benci". Karena setiap kali Lian mendekat, radarnya bukan lagi memberikan sinyal bahaya, melainkan sinyal yang mengatakan bahwa dia... mungkin, mulai jatuh cinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!