NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Fajar datang dengan wajah pucat.

Kabut tipis masih menggantung di perkebunan teh, seolah enggan pergi.

Di rumah kecil itu, Titin menatap wajah putrinya yang duduk kaku di sudut ruangan. Mata Galuh sembap, suaranya nyaris hilang.

"Galuh ..." Suara Titin pelan, hampir bergetar. "Katakan pada Ibu, apa yang sebenarnya terjadi, Nak?"

Butuh waktu lama sampai bibir Galuh akhirnya terbuka. Dan ketika kata-kata itu keluar, dunia seakan berhenti berputar. "Ak-aku ... dirudapaksa, Bu. Lingga Buana telah mengambil kehormatanku."

Tangis Titin pecah, "Tidak! Tidak Galuh ...!" Suaranya menggema di ruang sempit itu. Ia merangkul anak gadisnya, menenangkan, sekaligus menggigil menahan amarah. "Anak pejabat itu ... kenapa dia tega berbuat keji kepadamu, Galuh? Kenapa, Nak?" Suaranya serak, nyaris menghilang. Seluruh tubuhnya mendadak tremor, lemas dan napasnya tersendat-sendat.

Galuh menunduk. Mengeratkan pelukan ke tubuh ibunya. "Dia menipuku, Bu. Dia menyuruhku datang ke rumah sunyi ... dia bilang rumah itu akan digunakan untuk acara pertemuannya bersama teman-temannya. Tapi ternyata ... itu semua hanya akal-akalannya saja. Dia mengoyak harga diriku, Bu. Lelaki itu bejat. Dia tak punya hati ..." Raungan Galuh sungguh menyayat hati, membuat Titin memejamkan mata. Napasnya berat, penuh sesak.

Ia tahu siapa keluarga Buana ... orang yang bahkan kepala desa pun menunduk di hadapan mereka. Tapi kali ini, ia tidak peduli.

"Kurang ajar!" Titin mengepalkan tangannya. "Galuh ... sekarang juga, ayo kita pergi ke rumah juragan Zainal. Kita minta pertanggungjawaban dari Si Lingga Buana," katanya tegas.

Galuh menggenggam tangan ibunya erat. "Ayo, Bu. Lelaki itu harus bertanggung jawab. Jika dia menolak, kita ambil jalur hukum saja, ya, Bu."

"Iya, Nak. Ayo!"

Menjelang siang, mereka berdua berjalan ke rumah besar keluarga Buana.

Penduduk sekitar hanya bisa saling berbisik melihat keduanya lewat dengan wajah tegang. Tak ada yang berani bertanya. Tak ada yang berani menatap lama-lama.

Sesampainya di sana, penjaga gerbang melarang Titin dan Galuh masuk karena di dalam sedang ada acara kumpul-kumpul keluarga, tapi suara lantang Titin membuat penjaga itu ternganga.

"Keluar kau Lingga Buana! Kau harus bertanggung jawab pada apa yang kau lakukan pada putriku!"

Tak lama, sang empunya rumah muncul dengan pakaian rumahnya yang mewah, wajahnya terlihat kesal. "Ada apa ini? Kenapa kau berteriak-teriak di depan rumahku, Titin? Kau sungguh tidak punya sopan santun!"

Titin maju, menggenggam tangan Galuh seraya menatap lurus ke arah Lastri dan Zainal Buana yang baru muncul, diikuti anak bungsunya Pitaloka dan beberapa kerabatnya. "Anak juragan ... Lingga Buana ... tadi malam, dia sudah merudapaksa Galuh. Saya datang ke sini mau minta pertanggungjawaban, Juragan."

Suasana hening sesaat, mata semua orang yang ada di sana nyaris loncat dari tempatnya, sampai tawa kecil keluar dari bibir Lastri. "Lingga ... merudapaksa Galuh?" katanya ringan. "Jangan ngarang kamu, Titin. Anak saya tidak mungkin melakukan hal sebejat itu. Jangan menyebarkan fitnah yang tidak-tidak. Saya tidak percaya dengan perkataanmu!"

Galuh menunduk, air matanya mulai menetes. "Saya dan Ibu saya tidak memfitnah, Bu. Semua itu benar. Den Ling-" Suara langkah sepatu memotong kalimatnya.

Lingga muncul di belakang tubuh Zainal Buana yang mengeras. Pemuda berwajah tampan itu berpakaian santai, menatap keduanya dengan pandangan sinis. "Oh, ternyata ada Galuh dan ibunya," katanya datar.

Titin melangkah maju, menudingkan telunjuk ke arah Lingga. "Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan ke anak saya! Kamu sudah merenggut kesucian Galuh!" jeritnya penuh emosi.

Para keluarga dewan itu saling melirik tak percaya, malah terlihat mengejek Galuh dan ibunya.

Lingga tertawa pelan, menatap kedua orang tuanya sekilas, lalu mengangguk dan kembali menatap Galuh. Ia mendekat, senyumnya miring. "Kamu bilang ke ibumu kalau aku maksa kamu? Bukannya kamu sendiri yang godain aku waktu di rumah sunyi? Kamu loh yang nawarin kehormatanmu sendiri ke aku, katanya kamu butuh uang tambahan buat beli hp baru ... malah kamu mohon-mohon di bawah kakiku. Katanya dibayar dua ratus ribu pun nggak masalah ..."

"Tidak!" Suara Galuh pecah. "Aku tidak menawarkan diri! Kau jangan memutarbalikkan fakta! Kau memang merudapak--"

"Cukup!" potong Lastri keras.

Tatapannya menusuk ke arah Galuh dan Titin, dingin dan kejam. "Kamu pikir kami akan percaya padamu?! Tidak Galuh! Kami semua lebih percaya pada apa yang dikatakan Lingga. Dan semua orang pun pasti lebih percaya pada anak kami! Jadi, pergi sekarang juga dari rumahku! Dan mulai detik ini ... kamu ... saya pecat! Dan ibumu ... tak usah datang lagi ke perkebunan!" teriak Lastri dengan mata dan wajah memerah.

Titin terdiam. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia menggenggam tangan Galuh yang bergetar, mencoba menahan tangis. "Kalian semua sungguh kejam! Jika kalian menolak bertanggung jawab secara kekeluargaan, berarti kami akan membawa kasus ini ke jalur hukum! Kami akan melaporkan Lingga ke kantor polisi," ancam Titin penuh emosi.

Keluarga Buana dan para kerabatnya tertawa terbahak-bahak.

"Silakan. Laporkan saja," tanggap Zainal dengan senyum sinis.

Titin menarik Galuh menjauh dari rumah pejabat itu. Kedatangan mereka untuk meminta keadilan, malah disambut dengan ejekan.

Titin menunduk, air matanya menetes ke tanah.

Galuh pun sama. Kehormatannya direnggut secara paksa, dan kini ... harga dirinya bersama sang ibu diinjak-injak tanpa belas kasihan. "Bu," suaranya pelan, nyaris tak terdengar, "Apakah orang miskin seperti kita tidak pantas mendapatkan keadilan?"

Titin berhenti sejenak. Matanya basah, tapi ia tersenyum lemah. "Kita akan mendapat keadilan, Galuh. Besok pagi kita pergi ke kota. Kita laporkan perbuatan keji Si Lingga. Percayalah, Galuh ... keadilan itu pasti akan kita dapatkan."

Namun ternyata hari itu, tidak semudah yang mereka bayangkan.

Beberapa tetangga berdatangan ke rumah Titin, dan mulai melontarkan ujaran kebencian. Mereka sudah termakan ucapan keluarga Buana.

Kini hampir seluruh penduduk kampung Cisaat menuduh Galuh sebagai wanita penjajak selangkangan.

Bahkan pesan-pesan tak senonoh masuk ke nomor gadis malang itu. Bahkan Safwan Haidar pun mengirimkan pesan yang membuat hati Galuh remuk redam.

A Safwan: Galuh ... aku kira kamu gadis baik-baik. Tapi ternyata setelah mendengar berita itu dan juga foto serta video yang dikirimkan Pitaloka, aku kecewa sekali padamu. Aku menyesal sudah mencintaimu. Lupakan tentang hubungan kita. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal.

"A Safwan ..." Galuh mencengkeram erat hp bututnya. "Video dan foto yang tersebar itu editan, A. Itu bukan aku ..." Air matanya menetes deras. Ia pun hanya bisa meraung.

Galuh hanya mengutarakan fakta, tapi semua orang malah berbalik membenci dan mencaci dirinya beserta keluarganya. "Ternyata melawan orang berkuasa itu tidaklah mudah. Namun aku tidak akan putus asa. Besok pagi, lelaki jahanam itu pasti akan langsung masuk penjara," gumam Galuh dengan berapi-api.

______

Malam turun perlahan, menelan langit dengan warna kelam. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah di udara.

Galuh duduk di tepi ranjang, menatap ibunya yang masih terpekur di sudut ruangan, menggenggam tasbih kecil peninggalan neneknya.

Tak ada kata-kata di antara mereka.

Hanya diam.

Diam yang panjang, yang terasa lebih berat dari tangisan.

Galih, adik kecilnya, sudah tertidur di kasur lusuh di sebelahnya, memeluk boneka gajah yang sudah sobek di bagian kepalanya.

Di luar, angin berembus pelan, membuat tirai bergoyang.

"Ibu..." Suara Galuh pelan. "Kalau polisi tidak mau memproses laporan kita bagaimana? Pada siapa lagi kita harus meminta bantuan? Sedangkan semua penduduk desa sudah termakan hasutan keluarga Buana. Kini kita sedang jadi bahan gunjingan semua orang, Bu ..."

Titin mendongak, matanya sembap tapi tatapannya masih lembut. Dia beranjak dari tempatnya, menghampiri Galuh. "Kita masih bisa berdoa, Nak. Mungkin manusia bisa dihasut, tapi Tuhan tidak."

Galuh menatap ibunya lama-lama. Ada getir di sana, ada luka yang mulai mengeras. "Tapi kenapa rasanya Tuhan pun diam, Bu?"

Titin tak menjawab. Hanya menarik napas panjang, lalu membelai kepala putrinya dengan gemetar. "Kadang ... keadilan memang datang terlambat."

Waktu berjalan lambat malam itu. Namun di kejauhan, di ujung jalan setapak yang menuju rumah mereka, langkah kaki saling bersahutan, menembus heningnya malam.

Semakin dekat, suara langkah kaki itu semakin jelas terdengar.

Galuh mendongak, menatap ibunya dengan kening berkerut. "Bu ... kayak ada suara orang di luar."

Titin berdiri perlahan, matanya menatap ke arah jendela kamar Galuh. Dan sebelum sempat mendekat, kaca jendela pecah ... lemparan pertama.

Cairan menyiram lantai, menyebarkan bau bensin yang menyengat.

"YA TUHAN!!"

Asap dari ruang depan mulai mengepul, disusul suara berderak kayu terbakar.

"Galuh! Bawa adikmu keluar sekarang juga lewat pintu belakang!" Jeritan Titin

membelah kepanikan itu. Api mulai menjalar di dinding bambu.

"Kebakaran! Tolooong! Kebakaraaan!" Teriakan Galuh sia-sia, sebab tak satu pun warga yang datang menolong mereka.

Galih terbangun dan langsung menangis ketakutan.

Galuh menarik tangan adiknya, menyeret adiknya ke arah belakang rumah, namun kobaran api lebih cepat.

Atap mulai terbakar, panas menyambar kulit.

Titin mendorong mereka ke pintu kecil di dapur. "Cepat lari ke kebun! Ibu mau mengambil dokumen berharga dulu. Nanti Ibu nyusul!"

Galuh menggeleng keras. "Nggak, Bu! Ibu harus ikut kami sekarang juga!"

"Pergi, Galuh! Selamatkan adikmu!" titah Titin mendorong kedua anaknya dengan sekuat tenaga.

Saat Titin akan berbalik menuju kamar, atap di atasnya retak dan otomatis menimpa tubuhnya. Titin menjerit ... Galuh dan Galih terbelalak dengan mulut menganga. Lalu dalam sekejap mata, rumah sederhana itu luluh lantak dilahap si jago merah beserta ibu mereka.

"IBUUUU!!" Keduanya menjerit, namun lagi-lagi ... dunia seolah tak peduli.

Dunia Galuh runtuh, air matanya mengalir deras. Dalam pelukannya, Galih menggigil. Menatap puing-puing rumah yang menciptakan asap hitam kelam.

"Ibu ... jangan tinggalkan kami!" jerit Galuh hampir tak sadarkan diri.

Bau daging terbakar menyeruak, dan itu membuat tangisan Galuh dan Galih semakin histeris.

Beberapa puluh menit kemudian, barulah penduduk berdatangan. Tapi tak ada yang menenangkan Galuh dan Galih. Mereka malah mengatakan ucapan yang menyakitkan. Seolah rasa empati di dalam diri mereka sudah mati.

"Beginilah nasib wanita penjajak selangkangan dan tukang fitnah. Tuhan langsung menurunkan azab dengan membakar rumahnya. Seharusnya yang mati terpanggang tuh Si Galuh, ini malah ibunya," ucap salah seorang warga.

"Malang bener nasib Si Titin," timpal warga yang lainnya.

Galuh duduk di tanah, tubuhnya berjelaga, wajahnya dingin. Dia mendengar dengan jelas semua hinaan dan cibiran itu. Kedua tangannya memeluk erat tubuh Galih yang ada di pangkuannya, masih sesenggukan dalam diamnya.

Galuh menatap bara yang masih menyala kecil di antara puing-puing. Menatap jasad ibunya yang sudah tak berbentuk yang kini sedang diangkat oleh beberapa warga yang mungkin masih punya rasa empati.

Tatapan gadis itu kosong. Seolah nyawanya sudah hilang bersama nyawa sang ibu. "Aku bersumpah, Bu. Aku akan membalas kematian Ibu. Aku yakin, merekalah yang telah membakar rumah kita," ucap gadis itu tanpa suara.

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!