Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mual di sekolah..
"Aku sudah bilang Indira tidak akan kemana mana,karena aku akan mengawasi sendiri perkembangan bayiku," dengus Arjuna keukeh.
"Alasan mu menghamili Indira karena ingin anak mu lahir dari wanita bersih dan baik baik bukan? kamu sudah mendapatkannya. jadi tidak ada alasan lagi bagimu untuk menahan Indira disini,ayah akan mengirimnya kuliah ke luar negeri," tegas Pratama dengan tatapan tajam.
"Jangan ikut campur dengan urusan ku ayah!" desis Arjuna.
"Ayah harus ikut campur,karena sudah melibatkan keluarga! " sambar ayahnya.
kedua pria yang merupakan ayah anak itu bersitegang urat di meja makan.
"Sudah,,sudah! sebaiknya kita cari jalan keluar masalah ini,bukan malah bersitegang urat yang membuat keputusannya tidak jelas." sela Hamidah menengahi.
Indira hanya bisa menundukkan wajahnya sambil meremas tangannya dibawah meja.
Pikirannya kalut,antara sedih dan pasrah.
"Nyonya saya mau kuliah ke luar kota saja,mengenai anak ini saya akan mempertahankannya." Indira memohon pada Hamidah.
"Nak,,nanti kupikirkan ya? saat ini Arjuna sedang emosi,takutnya dia membahayakan mu karena amarahnya." ucap Hamidah lembut.
Indira mengangguk paham. memang saat ini Arjuna sedang mengamuk.
***
Indira bersiap mau berangkat ke sekolah.
Hari ini adalah ujian akhir semester.
Sebentar lagi dia lulus dari jenjang SMA.
Indira lemas sebenarnya,tapi dia harus memaksakan diri berangkat sekolah demi ujian.
"Nduk,,sudah selesai?" Darsih mendatangi putrinya ke kamar mewah yang menjadi kamarnya 7 bulan belakangan ini.
Indira mengangguk lesu,"Sudah bu,,"
"Kalau kamu tidak tahan tidak usah dipaksa nak,,bolos saja hari ini,"
"Tidak bisa bu,ini ujian akhir ku, aku harus masuk sekolah."
"Kalau begitu sarapan lah dulu, supaya badanmu fit,takutnya kamu pingsan disekolah,membuat teman teman mu tahu keadaan mu," ucap Darsih iba.
"Aku tidak selera bu,,"
"Sedikit saja nak,," paksa Darsih.
hueeekkkk..!
Hueeekkkk..!
Indira berlari ke wastafel saat mencium aroma sarapan yang dibawakan ibunya.
Hamidah datang ke kamarnya Indira,melihat Darsih ada disana seketika menanyakan keberadaan Indira.
"Mana Indira nya bik?"
"Ada di toilet nyonya,,muntah muntah,," jawab Darsih lirih.
Hamidah mendatangi Indira yang masih muntah di wastafel.
Indira merasakan tengkuknya dipijat seseorang dari belakang.
"Terimakasih bu,," Indira mengira ibunya yang memijat tengkuknya.
"Sudah baikan?"
Seketika Indira berbalik badan,ternyata nyonya besar lah yang tengah memijat tengkuknya.
"Maaf nyonya,,saya kira tadi ibu saya,"
"Tidak apa apa nak,,maafkan putra ibu ya? gara gara ulahnya kamu jadi seperti ini." tatap Hamidah teduh.
Indira mengangguk kecil.
"Kalau tidak sanggup kesekolah sebaiknya tidak usah pergi,soal ujianmu,kamu bisa mengerjakannya melalui daring,nanti ibu yang bilang pada direktur nya."
Usul Hamidah.
"Tidak usah nyonya,saya kuat kok berangkat ke sekolah,,nanti mualnya hilang sendiri,"
"Baiklah kalau begitu,tapi kalau kamu tidak tahan langsung pulang saja ya? kamu tetap bisa ujian sekalipun kamu tidak datang kesekolah." ucap Hamidah lembut.
"Terima kasih nyonya." Indira menyeka mulutnya lalu beranjak dari sana setelah Hamidah berlalu.
Arjuna sedang melakukan perjalanan tadi malam ke Semarang.
Indira sudah memompa asinya untuk stok Arjuna seharian ini.
***
"Indira,,kamu kenapa? akhir akhir ini kamu kelihatan lemas,kamu sakit?" Bima menghampiri Indira.
"Kak Bima,,aku baik baik saja kak,,hanya sedikit demam." jawab Indira memaksa diri tersenyum.
"Masak sih?" Bima duduk di sebelah Indira lalu mengulurkan tangannya memegang dahi Indira,,"tidak panas." gumamnya pelan.
"Demamnya sudah turun kak,tapi lemasnya masih tertinggal." gurau Indira.
Dia tidak takut lagi kalau Arjuna meneriakinya karena dekat dengan laki laki.
Toh bukan dia yg mendekati,Bima yang menghampirinya.
Baru juga beberapa menit duduk bareng,ponsel Indira berdering,dan si penelepon nya adalah Arjuna.
Indira melihat nama itu terpampang di layar ponselnya,bukan nya mengangkat,malah membiarkan ponselnya sampai selesai berdering.
"Kenapa nggak diangkat?"
tanya Bima.
"tidak penting." jawab Indira singkat.
"Ke kantin yuk?" ajak Bima.
Indira hampir saja menerima ajakan Bima,andai dia tidak mengingat kondisinya saat ini.
Bagaimana kalau dia mual mencium aroma makanan yang ada dikantin?
"Maaf kak Bima,,aku tidak bisa ikut,,aku sudah makan tadi,kakak saja yang pergi ya?" tolak Indira halus.
"Kapan kamu makan?"
"Tadi kak,saat aku ke toilet,sekalian ke kantin makan,karena tadi pagi aku tidak sempat sarapan." ucap Indira berbohong.
"Yasudah kalau begitu,,aku ke kantin dulu ya," Bima pamit.
Indira mengangguk.
***
"Nona,tolong panggilan tuan diangkat,,tuan sedang marah besar saat ini." tiba tiba pengawal mendatanginya.
Indira tertegun.
Baru saja dia melakukan kesalahan yang fatal.
Satu,tidak mengangkat panggilan Arjuna.
Dua,membiarkan laki laki lain mendekatinya,dan mengobrol dengannya.
"Saya sedang sibuk,,nanti saja diangkat." Indira bergegas pergi,kedatangan pengawal itu membuat moodnya berantakan.
***
"Kenapa dia tidak mau mengangkat panggilan ku hah?" teriak Arjuna dari ujung telepon.
"Saya sudah mengatakan pada nona Indira agar mengangkat panggilan tuan,tapi kata nona nanti saja,"
"Berikan ponsel ini sekarang juga! aku mau bicara padanya!"
bentak Arjuna kalap.
Pengawal itu berlari mencari keberadaan Indira dengan langkah panjang.
Indira sedang duduk di meja kelasnya dengan posisi menelungkupkan wajahnya ke meja.
"nona,tuan menelepon." pengawal itu menyodorkan ponsel yang masih menyala itu kepada Indira.
"Bilang saja saya sedang belajar,,saya sedang tidak ingin bicara dengannya."
tanpa Indira sadari semua ucapannya didengar langsung oleh Arjuna.
"Tuan mendengar apa yang nona katakan barusan." ucap pengawal itu sembari menatap ponsel yang tengah disodorkan kepadanya.
Deg!
jantung Indira berpacu cepat,ponsel yang disodorkan kepadanya segera diterimanya.
"Ha-hallo.." Indira berbicara terbata.
"Ohhh,jadi kamu mulai membangkang hah? tidak mau menerima panggilan ku lagi? apa maksud mu hah?" Arjuna mengomel diujung sana.
hueekkkk..!
Indira tiba tiba mual mendengar omelan tuannya.
Tanpa menjawab omelan tuannya,,Indira berlari keluar kelas.
"Dasar majikan tidak tahu diuntung! semua harus dipatuhi,,memangnya aku ini siapanya? istrinya bukan! adiknya juga bukan,saudara apalagi!" dengusnya kesal.
***
"Pa,bagaimana soal Arjuna dan Indira? apa yang harus kita lakukan?" tanya Hamidah pada suaminya.
"Arjuna hanya memanfaatkan kelemahan gadis itu,mentang mentang mereka tergantung pada kita,Arjuna memanfaatkan itu semua. semua alasan Arjuna tidak masuk akal,dia tidak menginginkan Indira sama sekali,,dia hanya ingin tubuh gadis itu,,dan mendapatkan keturunan dari gadis itu,selain itu tidak ada." ujar Pratama geram.
"Lalu bagaimana dengan sekolah Indira?"
"Untuk sementara biarkan saja dulu,,kalau fisik Indira kuat,kita akan menyekolahkan nya ke luar kota,,dengan status sudah menikah,agar dia tidak dibully dikampus."
"Kasihan sekali Indira kan pa? dia tidak tahu apa apa malah dihamili anak kita yang kurang ajar itu!" ucap Hamidah tidak membela kelakuan putranya.
bersambung...
klo gt gn kn cr pnculik kn hamidh.... tutup semua jalur indi dr ank kau