Fiana Adams tak pernah menduga akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertemuan yang singkat di reuni sebuah SMA telah membuatnya terus memikirkan Arjuna Zefanya Tekins. Siapa sangka keduanya justru tak bisa dipisahkan sejak malam itu walaupun mereka harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga mereka adalah orang yang paling berkuasa dan paling bermusuhan sejak zaman dulu. Berbagai tantangan datang dan berusaha memisahkan keduanya. Sampai akhirnya keduanya berada di sebuah pilihan yang sulit. Mempertahankan cinta mereka atau menjaga nama baik keluarga.
Ceritanya di jamin sangat romantis dan bikin baper. Walaupun memang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Tanda Tanya Besar
Arjuna memakaikan baju hangat pada Diana lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Ibu Diana sudah datang ke rumah mereka sambil membawakan sup.
"Jika Diana sudah bangun, panaskan kembali sup ini dan biarkan dia makan sampai habis supaya tenaganya pulih. Nanti ibu antarkan makan siang untuk kalian. Kamu juga beristirahat." kata Inara lalu meninggalkan rumah itu.
Arjuna menarik napas panjang. Ia menatap Diana yang masih tertidur dengan nyenyak. Wajah gadis itu memang sedikit pucat.
Lelaki itu pun duduk di sudut kamar. Ia mengambil foto Fiana yang tersimpan di tas yang dibawahnya. Di sana juga ada cincin pernikahannya dengan Fiana. Kedua cincin itu digenggam erat oleh Arjuna. "Ya Tuhan, apakah memang ada orang yang wajahnya bisa sama walaupun bukan saudara kembar?" Arjuna bertanya lirih sambil memandang foto Fiana lalu menatap Diana yang masih tertidur. Lelaki itu mencium foto Fiana. "Maafkan aku, sayang. Aku sudah menahan diriku untuk tak menyentuhnya namun hasrat dalam diriku begitu kuat ingin memilikinya. Seolah tubuhnya adalah magnet yang menarik ku selalu untuk menempel padanya. Aku bingung. Aku tak tahu ada apa dengan diriku. Bukan karena aku sudah melupakan mu dan mencintainya. Wajah kalian boleh sama, namun rasa cintaku tak mungkin akan berpindah padanya." Arjuna kembali mencium foto itu. "Fiana sayang, mengapa jalan hidup kita harus seperti ini?" Arjuna tanpa sadar menangis. Ia tak tahu harus bagaimana lagi.
*************
Ibu kota sudah kembali tenang. Tak ada lagi berita tentang kematian Fiana Adams dan larinya Arjuna dari tempat pengasingannya. Semua penduduk sudah tahu kalau ternyata Fiana dan Arjuna sudah menikah dan itu merupakan pukulan yang memalukan bagi pangeran Jeremi karena ia begitu tergila-gila dengan Fiana Adams.
Istana melarang kisah mereka diceritakan bahkan pencarian kepada Arjuna Pekins dihentikan karena menurut banyak orang lelaki itu sudah patah hati dengan terjun ke kawanan buaya lapar karena sakit hati sebab Fiana sudah bunuh diri.
Keluarga Pekins dan keluarga Adams memilih untuk tak saling mengungkit lagi. Setiap kali bertemu di tempat umum, mereka berusaha saling menghindar.
Maura Pekins sampai saat ini masih di luar negeri. Ia berusaha menyembuhkan luka hatinya karena keluarga Pekins kehilangan pewaris mereka.
Rina bersama putranya sudah berangkat ke Perancis. Perempuan itu sedang berusaha menghindari Edgar. Ia juga menyimpan sejuta penyesalan atas kematian Fiana. Rina tahu kalau Edgar dibawa tekanan dari Deissy. Namun akhirnya Deissy hidup dalam penyesalan karena ia tak bisa bersama Arjuna.
**********
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Arjuna setelah Diana bangun pagi ini.
"Aku sudah merasa lebih baik. Walaupun sebenarnya kepalaku masih sakit. Kemarin rasanya seperti ditusuk-tusuk sehingga aku merasa tak sanggup berdiri." Diana duduk lalu bersandar di kepala ranjang.
"Ibumu sudah membawakan sarapan. Apakah kamu ingin sarapan sekarang?"
Diana mengangguk. "Tapi aku mau minum air putih dulu."
Arjuna menuangkan air putih di gelas lalu menyerahkannya pada Diana. Perempuan itu menghabiskannya.
"Mau tambah lagi?" tanya Arjuna.
Diana menggeleng. "Aku mau sarapan."
Arjuna meletakan nampan yang berisi makanan di pangkuan Diana. "Kamu ingin aku menyuapi mu?"
"Tidak." Diana menggeleng dengan sedikit tersipu. Ia kemudian memakan sup dan susu hangat yang ada di hadapannya.
Arjuna membuka jendela kamar agar udara segar masuk. Ia kemudian mengambil pakaian kotor yang ada di keranjang baju kotor. "Aku akan mencuci pakaian."
"Jangan. Itu tugasku. Nanti saja kalau aku sudah sembuh, pasti akan ku cuci."
"Biar saja. Kamu kan sedang sakit. Nikmatilah sarapan mu. Aku akan ke bawa dulu." Arjuna segera turun ke bawah.
Desa ini memang semuanya masih serba tradisional. Namun saluran air di sini sudah menggunakan pipa air yang mengalir di semua rumah penduduk. Sumber airnya adalah mata air besar yang sudah dibuat bak besar. Letaknya ada di ujung kampung.
Walaupun di rumah Arjuna sama sekali belum pernah mencuci pakaian, namun pria itu mencoba mencucinya sesuai dengan apa yang pernah dilihatnya saat kecil dulu. Salah satu pembantunya yang bekerja di bagian laundry, sangat menyayangi Arjuna sehingga tak jarang Arjuna menemaninya disaat ia harus mencuci pakaian dengan tangannya. Mama Arjuna tak mau kalau pakaiannya di masukan ke dalam mesin cuci.
Selesai mencuci pakaian dan menjemurnya, Arjuna kemudian kembali ke atas. Nampak Diana yang sementara merapikan tempat tidur.
"Diana, mengapa kamu sudah bangun?"
"Aku sudah merasa baikan." jawab Diana.
"Jangan memaksakan diri. Tidurlah kembali." Arjuna menuntun Diana untuk kembali ke tempat tidur.
"Arjuna, aku baik-baik saja. Aku bosan di tempat tidur terus. Aku.....!" Diana tiba-tiba saja memegang kepalanya.
"Kamu kenapa?" tanya Arjuna.
"Kepalaku sakit lagi."
Arjuna membantu Diana untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Besok jadwal dokter Edgar akan datang. Kamu harus diperiksa agar mendapatkan pengobatan yang tepat." kata Arjuna.
Diana hanya mengangguk. "Mungkin, bekas kecelakaan itu mulai terasa efeknya."
"Kamu pernah mengalami kecelakaan di mana?"
"Waktu aku ke kota bersama beberapa temanku. Waktu itu kami naik kendaraan pick up dari desa ini. Namun saat perjalanan pulang, mobil itu mengalami kecelakaan dan kami yang duduk di belakang semuanya mengalami luka yang cukup parah. Bahkan seorang teman kami meninggal. Wajahku mengalami luka yang cukup parah. Dokter Edgar membawaku ke kota dan melakukan operasi di wajahku."
"Jadi kamu pernah menjalani operasi wajah?"
"Ya. Kenapa?"
Arjuna menatap wajah Diana. "Wajahmu mengalami perubahan? Maksudku wajahmu yang dulu bukan seperti ini?"
Diana menggeleng dengan cepat. "Wajahku tidak berubah. Hanya bekas-bekas lukanya saja yang mengalami perubahan."
Arjuna merasa ada yang mencurigakan di sini. Diana nampak panik saat Arjuna bertanya tentang wajahnya. Lelaki itu pun mengambil selimut dan menutupi tubuh Diana. "Istirahatlah. Aku mau menjemur pakaian dulu." lalu Arjuna pun meninggalkan kamar.
***********
Di sebuah klinik kecantikan di kota Jeju, nampak seorang dokter laki-laki ditemani asistennya memasuki ruangan perawatan pasien. Seorang perempuan sedang duduk dengan wajah yang masih terbungkus perban.
"Good morning.....!" sapa dokter itu.
Gadis itu menoleh. "Good morning dokter."
"Are you ready?"
Gadis itu mengangguk.
Asisten dokter yang adalah seorang perempuan itu membuka perban perlahan.
"Operasinya berhasil. Semua nampak sempurna." kata dokter itu dengan sangat puas.
"Apakah wajahku yang rusak sudah kembali membaik?" tanya gadis itu sambil memegang wajahnya.
"Ya. Obat itu memang merusak permukaan kulit wajahmu. Namun tidak merusak jaringan dalam kulitmu. Aku senang karena semuanya nampak sempurna."
"Boleh aku melihatnya?" tanya gadis itu.
Asisten dokter memberikan sebuah kaca. Gadis itu terpana saat melihat wajahnya. "Tidak mungkin! Wajahku bukan seperti ini. Tidak mungkin! Aku ingin wajahku yang dulu. Aku ingin wajahku yang dulu." teriak gadis itu sambil membuang cermin yang ada di tangannya.
"Ada apa?" tanya seorang lelaki yang baru masuk. Dokter itu menatapnya.
"Tuan, saat kamu datang ke tempat ini, kamu menyerahkan sebuah foto dan meminta aku untuk mengoperasi gadis ini agar nampak seperti yang ada di foto. Lalu kenapa gadis ini mengatakan kalau ini bukan wajah aslinya?"
Gadis itu menoleh ke arah lelaki yang baru masuk itu. "Jelo?"
Lelaki itu berusaha tenang. "Bagaimana keadaanmu?"
"Mengapa kamu menunjukan foto yang salah pada dokter ini? Mengapa kamu ingin merubah wajah ku, Jelo? Mengapa? Apa salah ku padamu?" teriak gadis itu. Ia turun dari ranjang dan mendekati Jelo.
"Wajah mu memang seperti ini. Kamu tak berhak memiliki wajahmu yang dulu. Karena bagi dunia, kamu sudah mati." kata Jelo dengan senyuman licik di wajahnya.
"Kamu brengsek, Jelo. Kamu brengsek!" gadis itu menyerang Jelo dengan membabi buta. Ia berteriak histeris sambil menangis. Dokter itu segera menarik tangan Jelo keluar dari ruangan, sedangkan asistennya langsung menenangkan gadis itu.
"Apa yang kamu lakukan, tuan? Kalau gadis itu menuntut, aku bisa celaka." kata dokter Jung Seo.
"Dia tak akan menuntut. Kamu hanya perlu menenangkan dia. Aku sudah membayar semuanya sampai lunas. Nanti besok aku akan kembali untuk menjemput gadis itu." kata Jelo lalu segera pergi.
Nah....
Ada apa lagi dengan Jelo?
Siapa Diana yang sebenarnya?