Rabella membenci Alvaro, adik angkatnya!
Semua orang tau itu, tapi apa jadinya kalau Rabella malah jadi istri kedua Alvaro karena kecerobohannya sendiri? Setelahnya, Rabella harus menanggung nasib paling buruk yang tak pernah dia impikan!
Apa yang terjadi sebenarnya?
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alnayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah Jahat?
Itu suara Mika, Rabella sangat mengenali suara itu. Tak mau kalau jejak Alvaro dilihat oleh siapapun, terutama Mika, Rabella cepat-cepat mengenakan syal yang diberikan Alvaro.
Juga membenarkan pakaiannya dengan cepat, tak lupa mengatur nafas dan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan. Entahlah, Rabella juga merasa aneh, dia merasa sedang menjalin hubungan terlarang dengan Alvaro. Meskipun pria itu memang benar suami sahnya di mata agama.
Tapi, mengingat bagaimana cara mereka menikah dan berhubungan di ranjang, Rabella jadi muak. Semua orang juga akan terkejut jika mengetahui fakta kalau Alvaro lah yang selalu menariknya ke atas ranjang yang sama.
Terlepas dari pengaruh obat yang membuat Rabella berada di posisi tak menyenangkan ini.
Alvaro yang pertama kali berdiri, begitu pintu ruangannya terbuka dan menampilkan sosok Mika, istri pertamanya.
Wajah yang selalu ceria milik Mika itu langsung berubah jadi masam, ketika melihat sosok yang tidak disukainya. Tentu orang yang tak disukai Mika adalah Rabella.
Mengabaikan perubahan wajah Mika yang spontan itu, Alvaro malah menarik tubuh Mika ke dalam pelukannya.
Wajahnya masih cemberut, di dalam pelukan Alvaro.
Sedangkan Rabella yang menonton adegan romantis di depannya ini hanya bisa memejamkan mata. Muak dengan tingkah Alvaro yang ternyata memiliki dua wajah.
Rabella jadi tak habis pikir, dengan tingkah Alvaro ini. Bagaimana bisa pria itu mempermainkan hati Mika? Sebagai sesama perempuan, jelas Rabella marah.
Tapi, sepertinya percuma saja jika Rabella berbaik hati menyuarakan fakta pada Mika tentang wajah busuk lainnya milik Alvaro.
Ujung-ujungnya, pasti dirinya yang difitnah iri atau ingin merusak rumah tangga orang lain.
Malas melihat pemandangan penuh dusta di depannya ini, Rabella memilih pergi dari sana.
"Permisi, Pak Alvaro terhormat. Saya izin keluar ya, selamat menikmati waktu anda dengan istri tercinta." Setelah berkata demikian, Rabella benar-benar pergi.
Bersamaan dengan itu juga, Alvaro melepaskan pelukannya dari Mika.
Mika langsung protes. "Sayang, kok dia ada di ruangan kamu pagi-pagi gini sih? Kalian beneran gak lembur bareng kan?"
Alvaro hanya terkekeh, melihat Mika yang menuntut penjelasan darinya.
"Ya enggak lah, Sayang. Kak Rabella juga baru datang kok, dia kan emang orangnya rajin. Jadi wajar aja kalau pagi-pagi gini dia udah sampai di kantor," balas Alvaro memberikan penjelasan untuk Mika.
Tapi, penjelasan itu tak bisa memuaskan hati Mika.
Wajahnya masih cemberut. "Terus kalau berangkat pagi, boleh langsung ke ruangan kamu gitu? Kayak cewek gatel aja, gangguin kamu terus? Lagian, kenapa dia harus jadi sekretaris kamu, sih, Sayang? Emang gak ada yang lain gitu? Aku juga bisa loh jadi sekretaris kamu." Masih saja merajuk karena melihat Rabella berada di ruangan Alvaro pagi-pagi begini.
Alvaro menarik Mika untuk duduk di sofa terlebih dahulu, sembari sesekali mencium dagu wanita cantik itu.
Mika sedikit kegelian, tapi dia tak berniat menjauhkan diri dari Alvaro.
"Kalau kamu yang jadi sekretarisnya, bahaya dong, Sayang."
"Bahaya gimana? Kamu gak percaya kalau aku bisa handle semua pekerjaan kamu, hah? Gini-gini aku juga pinter loh, Sayang. Kamu kira aku cuma anak manja doang ya?" Wajah Mika semakin kesal dengan respon Alvaro.
Tapi, pria itu malah terkekeh.
"Kamu salah paham, Sayang. Aku gak bermaksud untuk merendahkan kamu, aku malah percaya banget kalau kamu pintar dan bisa handle semua pekerjaan aku. Tapi, aku merasa bahaya kalau kamu yang jadi sekretaris ku, bukannya kerja, yang ada aku gak tahan kalau ada di dekat kamu terus."
Ucapan Alvaro itu mengundang rona merah di wajah Mika, dia paham arah bicara Alvaro ke mana.
"Ish, kenapa mikirnya ke sana sih? Jadi malu tahu," balas Mika, sembari menjauhkan wajah Alvaro agar tidak terlalu dekat dengannya.
Ditatap serius oleh suaminya itu, sukses membuatnya salah tingkah.
"Aku udah serius loh, Sayang. Lagian, aku gak mau kamu capek. Kamu harus bahagia, harus bisa menikmati hidup happy setelah nikah sama aku. Apa kata papa sama mama kamu, kalau setelah nikah sama aku, kamu malah harus kerja bantuin aku di kantor. Bisa-bisa, aku malah dicap sebagai menantu yang jahat sama mereka."
Kembali Alvaro mendekatkan wajahnya ke Mika, menumpukan dagunya di pundak Mika yang terbuka.
Seolah sedang bermanja-manja dengan kekasihnya, orang lain yang tidak tahu sifat busuk Alvaro mungkin akan mengira kalau pria itu sudah bucin setengah mati pada Mika.
Tapi sepertinya, hanya Rabella yang tahu semua kelakuan busuk pria berparas tampan, suami tercinta dari putri bungsu keluarga Wisma, Mika Wisma.
Mika juga ikut menoleh ke samping, ingin melihat sosok pria yang dicintainya.
"Mama sama papa gak bakal mikir sampai segitunya, Sayang. Kalau mereka sampai mikir gitu, aku tetap cinta dan sayang kamu, kok."
Alvaro ikut tersenyum mendengar ucapan Mika.
"Rasanya aku bersyukur banget bisa nikah sama kamu, Sayang. Kadang aku heran, kenapa kamu mau nikah sama aku yang gak jelas asal usulnya ini?" Alvaro bertanya, sembari semakin menenggelamkan wajahnya di tulang selangka dada atas Mika.
"Eum, kenapa ya?? Mungkin karena kamu ganteng dan pinter hehehee," jawab Mika penuh antusias.
Alvaro tersenyum tipis mendengar jawaban itu, naif sekali. Pikirnya terhadap jawaban Mika barusan.
"Kamu gak takut, kalau aku tiba-tiba berubah jahat sama kamu?" tanya Alvaro dengan suara pelan. Nyaris tidak terdengar, jika saja mereka duduk dengan jarak satu meter.
Namun karena posisi mereka berdua saling berpelukan di atas sofa, Mika jadi mendengar dengan jelas pertanyaan Alvaro barusan.
Keningnya sempat berkerut, bingung dengan pertanyaan Alvaro yang menurutnya aneh. Tapi akhirnya Mika hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Alvaro barusan.
"Aku gak yakin kamu bisa jahat sama aku, kalau kamu sampai jahat sama aku, berarti ada yang nakalin kamu. Misal kak Rabella godain kamu dan nyuruh kamu berbuat jahat sama aku, nah, itu aku baru percaya."
Mika menarik diri dari pelukan Alvaro, memutar badannya juga, untuk duduk saling berhadapan dengan suaminya itu.
Menarik wajah Alvaro dengan kedua tangannya, Mika berusaha mencium pria itu lebih dulu.
Kecupan ringan yang kemudian berubah jadi semakin liar, karena Alvaro hanya menerima saja, tanpa memberikan penolakan.
Namun, ciuman itu harus selesai karena Mika menarik diri.
Masih memegang kedua sisi wajah Alvaro dengan kedua tangannya, Mika menatap pria yang sudah jadi miliknya ini dengan tatapan serius.
"Aku gak bakal biarin Kak Rabella ngerayu kamu, sampai kapanpun kamu cuma milik aku. Jadi jangan coba-coba berpaling dari aku ya, Sayang."
Alvaro tertawa, melihat wajah serius Mika.
Jarang sekali Mika menampilkan ekspresi serius seperti ini, yang malah mengundang tawa Alvaro begitu saja.
"Satu-satunya wanita yang aku cintai hanya kamu, Sayang. Kamu gak usah khawatir soal Kak Rabella, dalam setahun, dia akan pergi dari hubungan kita." Alvaro membalasnya tanpa ragu, bahkan sembari membelai wajah cantik istri pertamanya ini.
"Aku jadi makin cinta sama kamu, Sayang."
Mika langsung memeluk erat tubuh besar Alvaro, namun satu tangannya malah bermain-main di bawah sana. Mempermainkan milik Alvaro.
Sadar dengan tangan nakal Mika, cepat-cepat Alvaro menghentikannya.
"Kenapa? Kamu gak kangen sama aku, Sayang?" Mika langsung protes, begitu Alvaro menghentikan tangannya di bawah sana.
Alvaro hanya memejamkan matanya sejenak.
"Jangan sekarang, Sayang. Please, aku takut gak bisa berhenti dan gak jadi kerja hari ini, pekerjaanku masih banyak loh."
Mika hanya bisa merengut saja mendengar alasan Alvaro barusan. Terpaksa mengalah dan berdiri dari duduknya.
"Ya udah, iya. Tapi nanti malam kamu harus pulang ke rumah ya?!! Jangan lembur lagi, emangnya kamu gak kasihan sama aku yang kesepian di rumah, hah?"
Alvaro ikut berdiri, memegang dua bahu Mika untuk menenangkan wanita itu.
"Malam ini aku pulang kok, Sayang."
Muaachh
Salam perpisahan yang begitu manis, hingga Mika benar-benar pergi dari ruangan Alvaro.
Sepeninggal Mika, Alvaro hanya mengusap bibirnya. Bekas ciuman bersama dengan Mika, tapi entah kenapa di otaknya hanya terbayang sosok Rabella yang sepanjang malam kemarin menghabiskan waktu bersamanya.
Alvaro jadi terkekeh, mengingat malam kemarin saat Rabella menjerit pasrah di bawah tubuhnya.
Benar-benar candu yang memabukkan.