Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Langit yang Terbakar
Fajar belum menyingsing sepenuhnya. Langit di atas Lembah Obsidian masih berupa kanvas ungu gelap yang memar, namun di bawah sana, Benteng Obsidian bersinar dengan cahaya sihir buatan yang menyakitkan mata. Menara-menara pengawas telah disiagakan, dan Shadow Cannons—meriam kristal raksasa yang tertanam di dinding benteng—berdengung rendah, siap memuntahkan kematian.
Valerius berdiri di punggung Iron-Maw, sang Alpha Drake yang telah tunduk pada Aethela kemarin. Angin di ketinggian ini menderu kencang, menampar wajahnya yang tidak tertutup helm. Di bawahnya, tersembunyi di balik garis pepohonan beku dan ilusi kabut, pasukan Legiun Terbuang menunggu dalam diam.
Jantungnya berdetak dengan irama perang yang sudah lama tidak ia rasakan—campuran antara fokus yang tajam dan adrenalin yang mematikan. Namun, kali ini ada rasa takut yang terselip. Bukan takut mati, melainkan takut rencananya gagal dan ia harus melihat mayat Aethela di atas salju.
Ia menyentuh dadanya, mengirimkan sinyal melalui ikatan batin mereka.
Aku berangkat. Tunggu isyaratku.
Sebuah balasan hangat dan tegas menyapa pikirannya seketika.
Kembalilah padaku dalam keadaan utuh, Naga Bodoh. Atau aku tidak akan memaafkanmu.
Valerius tersenyum miring. Ia menepuk leher bersisik Iron-Maw. "Ayo, kawan lama. Mari kita bangunkan mereka dari tidur nyenyak mereka."
Valerius menarik tali kekang. Dengan satu kepakan sayap yang menciptakan badai mini, Iron-Maw melesat ke udara, diikuti oleh dua lusin penunggang Drake lainnya. Mereka tidak terbang diam-diam. Mereka terbang lurus menuju gerbang utama, meraung menantang langit.
Dari posisinya di garis depan hutan, Aethela melihat Valerius melesat ke langit seperti panah hitam. Ia menahan napas. Di sampingnya, Jenderal Thorne menggeram pelan, tangannya mencengkeram gagang kapak perangnya hingga buku jarinya memutih.
"Anak itu gila," gumam Thorne. "Dia terbang tepat ke mulut meriam."
"Dia bukan sekadar terbang," koreksi Aethela, matanya tidak lepas dari sosok kecil di langit itu. "Dia sedang berdansa."
Di atas benteng, alarm berbunyi nyaring. Suara terompet peringatan menggema. Aethela bisa melihat kepanikan di dinding benteng. Krow dan Alaric pasti tidak menyangka serangan frontal yang begitu nekat.
BOOM!
Meriam Bayangan pertama ditembakkan. Sebuah bola energi ungu pekat melesat ke angkasa, mengarah tepat ke Valerius.
Aethela memekik tertahan dalam batinnya. Namun, di langit sana, Valerius melakukan manuver yang mustahil. Ia memutar Iron-Maw secara vertikal, membiarkan bola energi itu melewatinya hanya dalam jarak beberapa inci, sebelum naga itu menyemburkan api ke arah menara pengawas.
"TEMBAK SEMUANYA!" teriakan komando dari benteng terdengar samar-samar.
Itulah yang mereka tunggu.
Lima meriam lainnya menyala serentak. Dinding benteng bergetar. Mereka menyedot energi langsung dari Jantung Gunung untuk mengisi daya tembakan maksimal.
Aethela memejamkan mata, memusatkan pikirannya pada Jantung Gunung yang kini terhubung dengan darahnya. Ia merasakan aliran energi di bawah tanah—sungai sihir yang deras.
Tolak mereka, bisik Aethela pada gunung itu. Jangan beri mereka kegelapan. Beri mereka cahaya murni.
Valerius melihat lima moncong meriam itu bersinar menyilaukan. Ia tahu ia tidak bisa menghindari lima tembakan sekaligus. Ini adalah perjudian.
Ia merentangkan tangannya, memanggil perisai bayangan di depan skuadron udaranya, bersiap menerima hantaman.
"Sekarang, Aethela!" teriaknya pada angin.
Detik berikutnya, dunia menjadi putih.
Bukan karena tembakan meriam yang mengenai sasaran, tapi karena meriam-meriam itu meledak dari dalam.
Rencana Aethela berhasil. Energi murni dari Jantung Gunung yang dialirkan ke dalam mekanisme meriam bayangan menciptakan reaksi penolakan yang dahsyat. Overload sihir terjadi seketika.
DUAARRRR!
Ledakan berantai menghancurkan sisi utara dinding benteng. Batu obsidian yang kokoh hancur berkeping-keping seperti kaca. Menara-menara pengawas runtuh, membawa serta para pemanah dan penyihir musuh. Asap dan debu membumbung tinggi ke langit, menutupi matahari pagi.
Valerius tertawa di atas angin, meski telinganya berdenging hebat. Ia mengarahkan Iron-Maw menukik ke bawah.
"JALAN SUDAH TERBUKA!"
Getaran ledakan itu hampir menjatuhkan Aethela, tapi Thorne menahannya.
"Sekarang!" teriak Aethela, mencabut pedang pendek yang diberikan Valerius padanya. "SERBU!"
Rasa takut lenyap, digantikan oleh naluri perang. Ia berlari keluar dari hutan, diikuti oleh ratusan prajurit Legiun Terbuang yang berteriak haus darah. Mereka berlari melintasi padang salju menuju celah dinding yang menganga dan berasap.
Dari arah benteng yang panik, hujan anak panah mulai turun.
"Perisai!" teriak Thorne.
Tapi Aethela tidak berhenti. Ia mengangkat tangan kirinya yang mengenakan cincin pasangan.
First Flame, lindungi kami.
Sebuah kubah api putih transparan muncul di atas pasukan garis depan, melelehkan anak-anak panah itu di udara sebelum sempat menyentuh prajuritnya. Para prajurit Legiun melihat ke atas dengan takjub, lalu rasa percaya diri mereka melonjak. Mereka dipimpin oleh Ratu yang dilindungi dewa.
Mereka menabrak barisan pertahanan musuh di reruntuhan gerbang. Pertempuran jarak dekat pecah. Suara denting baja, teriakan, dan bau darah memenuhi udara.
Aethela berada di tengah kekacauan itu. Seorang prajurit bayangan musuh menerjang ke arahnya dengan tombak. Aethela tidak sempat berpikir. Tubuhnya bergerak sesuai latihan yang dipaksakan Valerius padanya. Ia menangkis tombak itu ke samping, lalu menusukkan pedangnya ke celah zirah musuh.
Darah menyembur ke wajahnya.
Aethela terpaku sejenak. Ia baru saja membunuh seseorang.
Jangan berhenti! Suara Valerius bergema di kepalanya. Ini perang, Aethel. Kau atau mereka.
Aethela mengertakkan gigi, menghapus darah dari matanya, dan terus maju. Ia bukan lagi putri yang menangis di taman mawar. Ia adalah Ratu yang bertarung untuk rumahnya.
Valerius mendarat di tengah halaman dalam benteng, Iron-Maw menghancurkan formasi pasukan elit Krow dengan ekornya. Valerius melompat turun, pedangnya menyala dengan api hitam dan putih, menebas musuh dengan efisiensi yang menakutkan.
Matanya mencari-cari di tengah kekacauan. Ia harus menemukan Aethela.
Ia melihatnya. Di dekat reruntuhan gerbang, dikelilingi oleh pasukan Legiun. Aethela bersinar seperti mercusuar. Setiap kali dia mengayunkan tangannya, gelombang kejut sihir memukul mundur musuh.
Tapi kemudian, Valerius melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Di balkon atas, tempat biasanya Raja berdiri, kini berdiri Alaric dan Tetua Krow. Dan di antara mereka, berlutut sosok wanita dengan tangan terikat rantai dan pisau di lehernya.
Elara.
Dan di samping Elara... Raja Malakor, ayahnya, yang tampak lemah dan terikat sihir penahan.
"HENTIKAN!" suara Alaric diperkuat sihir, menggema di seluruh medan perang. "Hentikan serangan ini, atau aku akan membanjiri halaman ini dengan darah rajanya sendiri!"
Pertempuran terhenti sejenak. Prajurit dari kedua belah pihak membeku, menatap ke balkon.
Aethela berhenti, napasnya tersengal. Ia mendongak ke balkon. Jantungnya mencelos melihat Elara yang menangis, dan Raja Malakor yang tampak layu.
Alaric tersenyum penuh kemenangan. "Adikku tersayang. Lihatlah kehancuran yang kau bawa. Apakah kau ingin melihat pelayan setiamu mati? Atau kau ingin melihat ayah mertuamu dipenggal?"
Ia memegang kendali pertempuran ini. Jika mereka terus menyerang, mereka akan menang, tapi para sandera itu pasti mati. Jika mereka menyerah, mereka semua akan dieksekusi.
Valerius berjalan membelah kerumunan, mendekati posisi Aethela. Ia berlumuran darah musuh, matanya menatap tajam ke arah balkon.
"Apa yang kau inginkan, Alaric?" tanya Valerius dingin.
"Aku ingin adikku kembali," jawab Alaric. "Dan aku ingin kau, Valerius, menyerahkan First Flame itu. Kami tahu kau telah membangkitkannya."
Valerius melirik Aethela. Lewat tatapan mata, mereka berkomunikasi tanpa suara.
Jangan menyerah, kata mata Valerius.
Aku tidak akan menyerah, balas Aethela. Tapi kita butuh pengalihan.
"Kau ingin aku kembali, Kakak?" teriak Aethela. Ia melangkah maju, menjatuhkan pedangnya ke tanah sebagai tanda menyerah palsu. "Baiklah. Lepaskan Elara dan Raja Malakor. Dan aku akan menyerahkan diriku."
"Aethela, tidak!" teriak Thorne dari belakang.
"Diam!" bentak Aethela. Ia menatap Alaric. "Satu nyawa ganti dua. Itu tawaran yang adil, bukan?"
Alaric tampak menimbang-nimbang. Keserakahan di matanya terlihat jelas. Dia berpikir dia telah mematahkan semangat Aethela.
"Buka gerbang dalam!" perintah Alaric. "Biarkan sang Putri masuk sendirian."
Aethela mulai berjalan menuju pintu utama benteng. Valerius tetap diam di tempatnya, tubuhnya tegang seperti pegas. Alaric tidak tahu bahwa di balik punggung Aethela, tangan wanita itu sedang membentuk segel sihir rumit—segel yang diajarkan Valerius padanya di dalam gua. Segel untuk memanggil sesuatu yang lebih besar dari pasukan.
Langit di atas mereka memang terbakar oleh asap perang, tapi api yang sesungguhnya sedang Aethela bawa tepat ke jantung musuh. Ia berjalan masuk ke dalam jebakan dengan sukarela, karena ia tahu, kali ini ia adalah bom waktunya.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...