andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Aku duduk di kursi pengemudi. Jam di dashboard menunjukkan pukul 15.00. Jalanan sore itu cukup padat, membuatku harus fokus penuh agar tidak lengah. Tanganku mencengkeram setir, mataku lurus ke depan, ketika suara Andika memecah keheningan di dalam mobil.
“Yah, apa ada tanda di leher lagi ya?” tanyanya dengan nada datar.
Dadaku mengeras seketika. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Pertanyaan itu membuat pikiranku kacau. Anak lelaki berusia dua belas tahun seharusnya tidak memperhatikan hal seperti itu. Aku berusaha menelan kegelisahanku dan tetap menatap jalan.
“Besok kamu ulangan, kenapa kamu tidak belajar?” tanyaku, sengaja mengabaikan pertanyaannya.
“Siapa bilang besok aku ujian, Yah?”
“Mamah yang bilang,” jawabku singkat.
“Nah, ini Ayah selalu dapat kabar bukan dari sumbernya. Harusnya tanya aku,” katanya tenang.
Aku menghela napas pelan. Ada rasa jengkel bercampur tidak enak di dada. “Tidak mungkin mamah kamu bohong, kan?”
“Yah, besok itu tanggal merah. Aku sudah bebas. Paling cuma ada class meeting dan aku malas ikut. Ada hal yang lebih penting. Ini soal keselamatan banyak orang,” ucapnya datar, terlalu dewasa untuk anak seusianya.
Aku terdiam. Tanganku refleks mengendur di setir. Benar, besok memang tanggal merah. Aku lupa. Perasaan bersalah menyelip di dadaku.
“Terus kenapa kamu tidak ikut mamah kamu?” tanyaku lagi.
“Malas,” jawabnya singkat.
“Kenapa?”
“Keluarga mamah selalu memojokkan Ayah. Aku tidak suka. Ayah ini polisi yang jujur dan setia pada negara. Ayah kebanggaanku,” katanya. Nadanya sedikit naik. “Aku pernah memukul Laksana karena dia menjelekkan Ayah.”
Aku menelan ludah. Laksana adalah anak dari kakak istriku. Kepalaku terasa berat mendengar pengakuannya.
“Kenapa kamu tidak cerita sama Ayah?” tanyaku lirih.
“Aku lelaki, Yah. Pantang bercerita duka pada orang tua.”
Aku menggaruk kepala. Ucapannya mengingatkanku pada diriku sendiri di masa remaja. Keras kepala, merasa harus menanggung segalanya sendirian.
“Terus kenapa kamu ke SMK Karya Bangsa?” tanyaku kemudian.
“Di media sosial sudah ramai ada yang bunuh diri. Aku langsung ke sana,” jawabnya.
“Bukankah keluarganya sudah menekan pemberitaan?” ucapku.
“Saat ini menekan berita hampir tidak mungkin, kecuali dia kepala negara. Kalau cuma pengusaha, mana bisa menutup media sosial,” jelasnya.
Aku kembali menggaruk kepala. Sialnya, penjelasan anakku masuk akal. Dadaku terasa sesak. Ada rasa bangga yang muncul, tapi juga ketakutan yang besar.
“Tetap saja kamu tidak bisa terlibat,” kataku tegas. Aku tidak ingin dia terseret masalah orang dewasa.
“Yah, apa salah jika pemikiranku bisa menyelamatkan orang lain?”
“Tapi kamu ini…”
“Yah, tebakanku soal kejadian jam 12.00 sudah terbukti. Apa Ayah masih meremehkanku?”
Aku terdiam. Kata-katanya menusuk. “Satu nyawa itu berharga, Yah. Jangan bilang cuma satu nyawa. Semua kemungkinan, bahkan yang terdengar konyol, harus ditanggapi kalau menyangkut nyawa.”
Aku tahu dia benar. Tapi Andika tidak tahu betapa rumitnya birokrasi, betapa sering kebenaran tertutup oleh prosedur.
“Cukup, Dika. Sekarang kamu pulang,” bentakku.
“Aku mau ikut Ayah.”
“Dika,” bentakku lagi.
“Turunkan aku di sini kalau Ayah tidak mau memfasilitasiku. Aku akan cari jalanku sendiri untuk mengungkapkan kebenaran.”
“Dika,” suaraku meninggi.
“Jangan membentak, Yah. Ini soal nyawa orang.”
Seperti biasa, setiap kali aku membentak Andika, ada rasa bersalah yang langsung mengendap di hatiku. Dadaku terasa berat, napasku tertahan beberapa detik. Aku tahu aku terlalu keras, tapi ketakutan sering membuat suaraku meninggi.
“Maafkan Ayah,” ucapku akhirnya.
“Tidak perlu,” jawabnya datar.
Jawaban itu menusuk lebih dalam dari bentakannya sendiri. Tanganku refleks mengencang di setir.
“Kamu marah sama Ayah?” tanyaku hati-hati.
“Yah, jawab pertanyaanku. Apa di lehernya ada tulisan?” katanya, masih pada satu hal yang sama.
Aku menghela napas. Anak ini kenapa tidak bisa melepas itu dari pikirannya. Kepalaku terasa pening.
“Tidak ada,” jawabku singkat.
“Aneh. Tidak ada, ya. Padahal polanya sama. Terlihat seperti bunuh diri, usia korban kurang lebih sama, berasal dari orang kaya,” gumamnya pelan.
Nada suaranya membuat tengkukku merinding. Aku tak tega mendengar gumamannya yang terlalu serius untuk anak seusianya. Ada dorongan kuat untuk menghentikannya, tapi mulutku justru membuka rahasia yang seharusnya kusimpan.
“Ada. Di dekat telinga. Kodenya 17212001800,” ucapku pelan.
“Ulangi, Yah.”
Aku meliriknya. Andika sudah meraih ponselnya. “172, 1200, 1800,” ulangku perlahan, mengeja angka-angka itu.
Tatapan Andika terkunci pada layar ponsel. Wajahnya berubah tegang.
“Gawat, Yah. Kita cuma punya waktu dua jam,” ucapnya cepat.
Aku melirik jam di speedometer. Jarum menunjukkan pukul 16.00. Perutku terasa mengeras.
“Akan terjadi lagi hal serupa jam 18.00,” gumamnya.
“Sudah, Dika. Jangan terlalu mendalam. Ada rekaman CCTV. Kedua korban bunuh diri,” kataku, mencoba menenangkan, meski suaraku sendiri terdengar tidak yakin.
“Ini bukan bunuh diri, Yah. Ini teror pembunuhan,” jawabnya tegas.
Aku menelan ludah. “Tidak ada yang percaya, Dika. Ayah sudah lapor atasan. Mereka bilang jangan menambah masalah. Hari ini dua bank besar dibobol. Semua fokus ke sana.”
Aku sadar aku sedang curhat pada anakku sendiri. Itu membuatku merasa lemah.
“Bank dibobol?” gumam Andika.
“Bukan dirampok?” tanyanya lagi.
“Saldo hilang miliaran. Sepertinya ulah hacker,” jawabku.
“Ini ada hubungannya, Yah,” katanya cepat.
“Kamu lapar tidak?” tanyaku, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Jangan alihkan pembicaraan, Yah,” jawabnya tajam.
Aku menghela napas panjang. Tak terasa kami sudah sampai di Polsek. Aku mematikan mesin mobil, kepalaku penuh.
“Ayah bikin laporan dulu. Habis itu kita cari makan,” ucapku.
“Yah,” katanya menahan.
“Ayah sedang bekerja. Perlu konsentrasi,” kataku, berusaha terdengar tenang.
Aku turun dari mobil, diikuti oleh Andika. Kakiku melangkah berat. Beberapa rekan yang akrab dengannya langsung menyapa. Andika membalas dengan sopan, seolah semua percakapan barusan tidak pernah terjadi.
Aku duduk di depan meja kerja dan mulai membuat laporan. Jari-jariku bergerak cepat di atas keyboard, mencoba merangkai kalimat formal yang harus terdengar tenang, meski kepalaku dipenuhi banyak pertanyaan. Di sudut ruangan, Andika duduk di sofa. Kakinya bergerak gelisah, tangannya tak lepas dari ponsel.
“Yah, bisa kasih tahu identitas korban kedua?” tanyanya tiba-tiba.
Rahangku mengeras. Aku paling tidak suka diganggu saat bekerja, apalagi oleh anakku sendiri. Ada rasa jengkel yang langsung naik ke dada.
“Dika, jangan ganggu Ayah,” ucapku tegas tanpa menoleh.
Andika terdiam. Dari ekor mataku, aku melihat dia masih mengutak-atik ponselnya. Kepalanya sedikit menunduk, tapi jari-jarinya tetap bergerak cepat. Aku kembali fokus ke layar komputer, berusaha mengabaikannya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan, sampai suara gumaman Andika kembali terdengar.
“Korban pertama, Doni, pernah sekolah di SMP Nusantara Global. Apa korban kedua juga sama?”
Aku berhenti mengetik. Jantungku berdetak lebih cepat. Ada rasa tidak nyaman yang muncul, tapi aku tetap berpura-pura tidak mendengar.
Tak lama kemudian, dia bergumam lagi, lebih pelan tapi jelas. “Korban kedua namanya Alex.”
Tanganku terhenti di atas keyboard. Punggungku terasa menegang.
“Yah, minta data Alex lengkap,” katanya.
Kesabaranku menipis. Aku menoleh dan menatapnya tajam. “Dika, jangan ganggu Ayah.”
Dia mendengus kesal, lalu bersandar di sofa. Wajahnya menunjukkan ketidakpuasan, tapi dia tidak membantah. Dadaku naik turun menahan emosi. Aku kembali ke laporan, meski pikiranku mulai terpecah.
Beberapa menit kemudian, aku tidak bisa menahan rasa penasaran.
“Dari mana kamu tahu Doni pernah sekolah di SMP Nusantara Global?” tanyaku akhirnya.
Andika menoleh. “Itu gampang, Yah. Tinggal masukkan NISN siswa, semua riwayat pendidikan bisa terlihat.”
Jawabannya membuat dadaku terasa sesak. Aku sebenarnya tahu cara itu. Aku hanya tidak menyangka anakku menggunakannya sejauh ini. Ada rasa bangga yang berusaha kutekan, bercampur dengan ketakutan yang sulit dijelaskan.
Iseng, atau mungkin terdorong oleh firasat buruk, aku membuka data korban kedua. Tanganku sedikit gemetar saat mengetik NISN Alex. Aku menatap layar, menunggu hasilnya muncul.
Beberapa detik terasa terlalu lama.
Lalu data itu muncul.
Aku terpaku. Napasku tertahan.
“Alex pernah sekolah di SMP Nusantara Global,” gumamku pelan.
Dadaku terasa kosong sekaligus penuh. Pikiranku berputar cepat, menyusun potongan-potongan yang mulai membentuk pola menakutkan. Aku menoleh ke arah Andika. Dia sudah menatapku sejak tadi, seolah tahu apa yang baru saja kutemukan.