NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian dari Kebenaran

Pagi itu datang dengan rasa asin di udara.

Bukan karena hujan—langit justru cerah—melainkan karena kabar yang menyebar sebelum matahari benar-benar naik. Matteo membaca ringkasannya di layar ponsel sambil berdiri di dekat jendela ruang kerja. Judul-judulnya singkat, rapi, dan berbahaya. Tidak menuduh. Tidak membela. Hanya menyiratkan.

Keputusan Terburu-buru?

Transparansi atau Strategi?

Aliansi Lama Mulai Retak.

Matteo menutup layar. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras. Ia tahu ini balasan Dario—bukan pukulan, melainkan tes tekanan. Siapa yang bertahan saat tidak ada api, hanya keraguan?

Carmela masuk membawa dua cangkir kopi. Ia meletakkannya di meja tanpa bertanya, lalu menatap Matteo.

“Sudah mulai,” katanya.

“Sudah,” jawab Matteo. “Lebih cepat dari yang kuperkirakan.”

Carmela menyandarkan punggung ke meja. “Bagus. Artinya dia tidak punya banyak waktu.”

Matteo menoleh. “Atau dia ingin memaksamu bereaksi.”

Carmela tersenyum tipis. “Aku tidak akan.”

Ujian pertama datang menjelang siang.

Sebuah panggilan dari mitra lama—orang yang selama ini netral, aman, dan mahal untuk dipertahankan. Matteo mengangkatnya dengan nada yang sama sekali tidak defensif.

“Kita perlu bicara,” suara di seberang terdengar formal.

“Tentu,” jawab Matteo. “Kapan?”

“Sekarang. Dan… aku ingin Carmela ikut.”

Matteo menatap Carmela. Alisnya terangkat—bukan ragu, melainkan pertanyaan. Carmela mengangguk. “Kita datang.”

Ruang pertemuan itu dingin dan terang. Kaca-kaca besar memperlihatkan kota yang sibuk—kontras dengan ketegangan di dalam. Dua orang duduk di seberang meja, keduanya berpengalaman membaca manusia.

“Kami menghargai langkah transparansi,” kata salah satunya. “Tapi pasar tidak menyukai kejutan.”

“Pasar menyukai kepastian,” balas Matteo. “Dan kepastian lahir dari konsistensi.”

“Masalahnya,” sela yang lain, “konsistensi Anda kini dipertanyakan.”

Carmela menyimak. Ia menunggu celah—bukan untuk menyerang, melainkan untuk menetapkan kerangka.

“Apa yang membuat Anda ragu?” tanya Carmela pelan.

Keduanya saling pandang. “Nama,” jawab salah satu. “Masa lalu. Dan posisi Anda.”

Carmela mengangguk. “Baik. Saya akan jelas. Saya tidak meminta kepercayaan tanpa syarat. Saya menawarkan akuntabilitas.”

Ia membuka map tipis—ringkasan kebijakan, garis waktu keputusan, dan mekanisme pengawasan. Tidak berlebihan. Tidak defensif.

“Kami tidak menjanjikan dunia,” lanjut Carmela. “Kami menjanjikan proses yang bisa diuji.”

Hening.

Matteo melanjutkan, “Dan jika proses itu gagal, Anda berhak menarik diri. Tanpa drama.”

Pertemuan berakhir tanpa jabatan tangan yang hangat—tapi juga tanpa pintu yang tertutup. Ujian pertama: bertahan.

Sore itu, tekanan datang dari arah yang lebih personal.

Carmela menerima pesan dari seseorang yang lama ia kenal—teman lama yang kini bekerja di lingkaran lain. Pesannya singkat, nyaris bersahabat, tapi nadanya jelas: Jangan terlalu jauh. Ini bukan duniamu.

Carmela membaca, lalu menyimpan ponsel. Ia tidak menunjukkan pada Matteo. Bukan untuk menyembunyikan—melainkan menunggu waktu yang tepat.

Matteo memperhatikan perubahan kecil di wajahnya. “Ada apa?”

“Peringatan,” jawab Carmela jujur. “Bukan ancaman.”

Matteo menghela napas. “Dario suka mengirim pesan lewat orang.”

“Dan orang suka merasa penting,” balas Carmela. “Aku tidak.”

Malam membawa rapat internal yang lebih sulit.

Dua orang kepercayaan Matteo duduk dengan ekspresi berbeda—yang satu yakin, yang lain ragu. Data terbentang, proyeksi disusun. Tidak ada yang berteriak. Justru itu yang menegangkan.

“Kita kehilangan kecepatan,” kata yang ragu. “Transparansi memperlambat.”

“Transparansi menutup kebocoran,” jawab Carmela. “Kita menukar kecepatan semu dengan stabilitas nyata.”

Matteo menatap keduanya. “Kita tidak memenangi minggu ini. Kita memenangi tahun ini.”

Hening.

Akhirnya yang ragu mengangguk. “Baik. Tapi kita butuh simbol.”

“Simbol apa?” tanya Matteo.

“Komitmen,” jawabnya. “Yang terlihat.”

Semua mata beralih pada Carmela.

Ia memahami maksudnya. Dunia ingin tanda—bukan kata. Dan tanda selalu meminta harga.

“Aku bisa melakukannya,” kata Carmela pelan.

Matteo menoleh cepat. “Tidak perlu.”

“Perlu,” jawab Carmela. “Dan aku siap.”

Simbol itu datang keesokan paginya—sebuah keputusan yang membuat berita kecil bergerak cepat.

Carmela mengumumkan peran resminya: bukan figur seremonial, bukan bayangan. Peran itu disertai kewenangan terbatas namun nyata—cukup untuk mengikatnya pada hasil, cukup untuk diuji publik.

Telepon Matteo berdering tanpa henti.

“Ini akan membuatmu target,” katanya ketika mereka akhirnya berdua.

Carmela menatapnya. “Aku sudah.”

Matteo memejamkan mata sejenak. “Kamu tidak berutang apa pun.”

“Aku berutang pada pilihanku,” jawab Carmela.

Balasan Dario tidak lama.

Sebuah wawancara singkat, nada tenang, kalimat manis. Ia tidak menyebut nama. Ia menyebut kekhawatiran. Tentang konflik kepentingan. Tentang emosi. Tentang stabilitas.

Matteo menonton dengan wajah datar. “Dia ingin memancing reaksi.”

“Dan memberi bahan bagi yang ragu,” tambah Carmela.

“Apa langkah kita?”

Carmela berpikir. Lalu berkata, “Tidak ada.”

Matteo menatapnya. “Tidak ada?”

“Kita biarkan proses bicara,” jawab Carmela. “Dan kita siapkan satu hal.”

“Apa?”

“Kebenaran lengkap,” kata Carmela. “Jika dia memaksa, kita tidak akan setengah.”

Matteo terdiam. Kebenaran lengkap selalu berbahaya—bahkan bagi yang berniat baik.

“Kapan?” tanya Matteo.

“Ketika dia salah langkah,” jawab Carmela. “Dan dia akan.”

Salah langkah itu datang pada sebuah forum tertutup.

Dario mendorong pertanyaan yang terlalu jauh, menekan isu yang tidak relevan, memaksakan narasi lama. Di sanalah ia keliru—ia membuat dirinya terlihat tak sabar.

Carmela menyaksikan rekamannya, lalu menatap Matteo. “Sekarang.”

Mereka mengeluarkan pernyataan lanjutan—dokumen yang lebih detail, garis waktu yang tak bisa dipelintir, dan satu klarifikasi yang mengikat. Tidak menyerang Dario. Tidak menyebut motif. Hanya fakta.

Dunia tidak meledak. Dunia mencerna.

Dan saat dunia mencerna, kepercayaan bergerak pelan ke arah yang paling konsisten.

Ujian terbesar datang malam itu—bukan dari luar, melainkan dari dalam.

Matteo duduk sendirian di ruang kerja. Carmela masuk, menutup pintu pelan. Ia melihat kelelahan yang akhirnya muncul—bukan karena takut kalah, melainkan karena berhenti menyembunyikan.

“Aku mendorongmu ke garis depan,” kata Matteo lirih. “Dan aku tidak yakin dunia pantas mendapatkannya.”

Carmela mendekat, duduk di tepi meja. “Aku tidak melakukannya untuk dunia.”

“Untuk apa?”

“Untuk kita,” jawab Carmela. “Dan untuk diriku sendiri.”

Matteo menatapnya. “Jika nanti aku goyah—”

“—aku akan mengingatkanmu,” potong Carmela lembut. “Seperti kamu mengingatkanku.”

Hening itu nyaman. Tidak ada janji besar. Hanya napas yang selaras.

Keesokan harinya, indikator kecil bergerak ke arah yang benar. Satu mitra kembali. Satu proyek dilanjutkan. Satu pintu terbuka.

Tidak menang telak. Tapi cukup.

Dario membaca laporan ringkasnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. Ia tahu—permainan berubah. Ia menyiapkan papan baru.

Dan di vila yang kini terasa lebih jujur, Carmela berdiri di depan jendela, menatap kota. Matteo menghampiri.

“Takut?” tanya Matteo.

“Ya,” jawab Carmela. “Tapi tepat.”

Matteo tersenyum. “Itu jawaban yang bagus.”

Mereka berdiri berdampingan—bukan karena aman, melainkan karena sepakat.

Ujian dari kebenaran tidak selesai dalam satu hari. Tapi hari itu membuktikan satu hal: ketika transparansi diuji, yang bertahan bukan yang paling keras—melainkan yang paling konsisten.

Dan mereka memilih menjadi yang terakhir.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!