kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta di Atas Penderitaan
Suasana di Istana Atlas berubah menjadi lautan kegembiraan yang penuh dengan aroma daging panggang dan anggur merah. Ratu Layla, yang duduk di singgasananya dengan gaun berwarna biru gelap yang berkilauan, memerintahkan pesta besar-besaran untuk merayakan kembalinya pasukan terbaiknya. Musik-musik perang dimainkan oleh para pemusik istana, sementara para prajurit Minotaur dan Centaur berpesta pora di aula besar.
Di tengah hiruk pikuk perayaan, Layla memanggil seorang pemimpin Centaur ke dekat takhtanya. Dengan tatapan dingin ia memberikan perintah yang kontras dengan kegembiraan di aula tersebut. "Bawa sisa-sisa makanan ini, tulang-tulang yang sudah tidak berdaging, dan air yang sudah basi ke gudang bawah tanah," perintahnya datar. "Berikan itu kepada para budak yang telah kita kurung. Aku tidak ingin mereka mati terlalu cepat karena kelaparan. Pastikan mereka tetap memiliki sedikit tenaga, karena esok hari, tangan-tangan kotor mereka akan mulai mengerjakan proyek besar yang sudah aku rancang."
Centaur itu melaksanakan perintah tanpa ragu. Di gudang bawah tanah yang gelap, lembap, dan pengap, ratusan budak dari berbagai wilayah yang telah ditaklukkan hidup dalam kondisi yang mengenaskan. Mereka dirantai di dinding-dinding batu, hanya bisa memandang dengan mata cekung saat sisa-sisa makanan dilemparkan ke hadapan mereka seolah-olah mereka adalah binatang ternak. Suara tawa para prajurit di lantai atas terdengar seperti ejekan bagi mereka yang kehilangan kebebasan.
Keesokan harinya, setelah sisa-sisa pesta dibersihkan, Ratu Layla berdiri di balkon istananya yang tinggi, menatap langsung ke arah pesisir yang jauh. Ia memiliki visi untuk menghubungkan istananya dengan garis pantai melalui sebuah struktur bangunan yang megah dan tak masuk akal. Sebuah jembatan panjang yang sangat lebar, yang akan menjadi jalan utama bagi pasukannya untuk bergerak langsung dari jantung istana menuju kapal-kapal perang tanpa harus melewati jalur umum.
Ratusan budak segera dikeluarkan dari gudang bawah tanah. Di bawah todongan tombak Minotaur dan cambuk para pengawas, mereka mulai memecah batu-batu raksasa dan mengangkut balok-balok logam seberat gunung. Layla mengawasi dari atas, seringkali menggunakan sihir listriknya untuk menyambar tanah di dekat budak yang dianggapnya bekerja terlalu lambat, hanya untuk melihat mereka gemetar ketakutan. "Bangun jembatan ini seolah-olah kalian sedang membangun jalan menuju surga kalian sendiri, karena jika jembatan ini tidak selesai tepat waktu, neraka akan terasa lebih menyenangkan daripada apa yang akan kulakukan pada kalian," seru Layla dari balkonnya.
Pengerjaan jembatan ini menjadi pemandangan yang mengerikan setiap harinya. Para budak dipaksa bekerja tanpa istirahat yang cukup di bawah terik matahari dan dinginnya angin malam. Tidak ada jaring pengaman, tidak ada belas kasihan. Setiap inci jembatan itu dibangun dengan keringat, air mata, dan darah. Penasehat seringkali dikerahkan untuk memberikan penerangan sihir di malam hari agar pekerjaan tidak pernah berhenti sedetik pun
Tiga bulan telah berlalu sejak batu pertama diletakkan. Jembatan panjang yang menghubungkan balkon istana langsung ke pesisir akhirnya berdiri dengan megah,Lantainya terbuat dari marmer hitam yang dipoles, dengan pagar pengaman yang dilapisi perak.Sebagian besar budak yang memulai proyek ini telah tewas; ada yang jatuh dari ketinggian, ada yang mati karena kelelahan kronis, dan ada yang tertimbun material bangunan. Mayat-mayat mereka dibuang begitu saja tanpa nisan,
Ratu Layla berjalan melintasi jembatan baru itu dengan langkah penuh kemenangan, diikuti oleh Panglima Delta. Ia berhenti di tengah jembatan, menghirup udara laut yang segar sambil menatap barisan kapalnya di kejauhan. Meskipun jembatan telah jadi, Layla tidak merasa puas. Baginya, berkurangnya jumlah budak berarti berkurangnya tenaga kerja untuk rencana ekspansi berikutnya yang lebih masif. Ia memalingkan wajahnya ke arah Delta, matanya kembali menunjukkan kilatan haus kekuasaan yang mengerikan.
"Struktur ini megah, namun harganya adalah nyawa para budak itu. Sekarang persediaanku menipis, Delta," ucap Layla dengan nada dingin yang menyayat. "Aku tidak ingin pembangunan kerajaanku terhenti hanya karena kekurangan tenaga kerja. Aku ingin kau menyiapkan pasukanmu kembali. Berangkatlah ke wilayah-wilayah perbatasan yang selama ini menganggap diri mereka merdeka. Hancurkan kota-kota mereka, bakar perlawanan mereka, dan tangkap setiap orang yang masih mampu berdiri. Bawa lebih banyak budak ke Atlas. Aku butuh ribuan tangan lagi untuk memperluas istana ini dan membangun armada yang akan membuat dunia ini berlutut sepenuhnya di bawah kakiku." Delta memberikan hormat militernya,