Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Pagi itu, suasana kelas 10-B mendadak tegang bukan karena ujian, melainkan karena Pak Broto, guru Kimia yang terkenal dengan kumis tebal dan tatapan mautnya, baru saja masuk dengan tumpukan kertas laporan.
"Hari ini kita akan melakukan praktikum tentang reaksi kimia," suara Pak Broto yang berat menggema. "Saya ingin kalian bekerja secara berpasangan. Dua orang per kelompok. Dan saya sendiri yang akan menentukan pasangannya."
Satu kelas langsung heboh. Jessica, Nadya, dan Alissa saling pandang, berharap mereka bisa bareng. Mori sendiri cuma bisa berdoa dalam hati agar dia dipasangkan dengan siapa saja asal bukan...
"Lian, kamu sama Mori."
DUARR.
Rasanya ada bom yang meledak tepat di telinga Mori. Dia mematung. Penanya jatuh ke lantai. Di pojok belakang, Lian yang tadinya lagi asik mainin pulpen di jari, langsung tegak. Senyum miring yang paling menyebalkan sedunia pelan-pelan terukir di wajah cowok itu.
"Siap, Pak! Saya akan bekerja keras membantu Mori," sahut Lian dengan suara yang dibuat seolah-olah dia adalah murid teladan paling rajin.
Mori langsung mengangkat tangan. "Maaf, Pak. Apa tidak bisa saya sama Jessica saja? Saya rasa gaya kerja kami lebih cocok."
Pak Broto menurunkan kacamatanya sedikit. "Tidak ada bantahan, Mori. Saya sengaja memasangkan kalian karena Mori adalah murid paling teliti, sementara Lian... yah, Lian butuh banyak bimbingan dalam hal ketelitian. Sekarang, silakan bergabung dengan pasangan masing-masing."
Mori menghela napas panjang, sangat panjang sampai pundaknya turun. Dia bisa mendengar Jessica berbisik, "Sabar ya, Mor. Anggap aja lagi syuting film horor."
Lian menarik kursi di sebelah Mori dengan gaya sok asik. Dia meletakkan tasnya dengan bunyi brak yang lumayan keras, lalu menopang dagu sambil memperhatikan Mori yang lagi sibuk menata tabung reaksi.
"Gue bilang juga apa, Mor," bisik Lian, aromanya wangi parfum mahal yang bikin Mori makin ilfeel. "Takdir itu emang suka bercanda. Kayaknya semesta pengen kita lebih akrab."
Mori nggak menoleh sedikit pun. Dia memakai jas labnya, mengancingkannya sampai ke atas, lalu memasang masker medis. "Denger ya, Lian. Ini tugas Kimia, bukan ajang cari jodoh. Gue mau nilai A, jadi jangan lo berani-berani ngerusak laporan gue dengan kelakuan lo yang nggak jelas itu."
"Galak banget sih, calon partner gue ini," Lian malah ketawa. Dia mengambil satu tabung reaksi kosong, memutar-mutarnya di tangan. "Gue bisa kok serius. Lo mau gue ngapain? Nyampur cairan? Atau lo mau gue nyampur perasaan?"
Mori merebut tabung reaksi itu dari tangan Lian dengan kasar. "Lo baca modulnya. Kerjain bagian perhitungan massa. Biar gue yang urus reaksinya. Dan tolong, mulutnya dikunci."
Lian mengangkat bahu, berpura-pura menyerah. Dia membuka buku paket Kimia, tapi bukannya menghitung, dia malah sibuk menggambar sketsa wajah Mori di pinggir buku. Tiap kali Mori serius meneteskan cairan asam dengan sangat teliti, Lian malah curi-curi pandang, menikmati betapa cantiknya Mori kalau lagi fokus—meskipun mukanya jutek setengah mati.
"Mori, ini campurannya beneran nggak bakal meledak kan?" tanya Lian saat Mori mulai mencampurkan dua zat yang berbeda warna.
"Kalau lo nggak banyak gerak dan nggak nyenggol meja, ini aman," jawab Mori ketus.
Tapi dasarnya Lian, dia nggak betah kalau nggak caper. Saat Mori sedang berkonsentrasi penuh, Lian tiba-tiba mengulurkan tangan, bermaksud ingin mengambilkan botol kecil di dekat Mori. Tapi tangannya malah menyenggol lengan Mori.
Zzzzt!
Sedikit cairan tumpah ke atas meja. Mori langsung menjauhkan tangannya. "LIAN! Gue bilang kan hati-hati!"
"Sori, sori! Gue cuma mau bantuin!" Lian panik, dia refleks mengambil tisu dan mencoba mengelap tangan Mori yang terkena sedikit percikan.
"Nggak usah pegang-pegang!" Mori menarik tangannya dengan sangat kasar, seolah-olah tangan Lian adalah bara api. Mata Mori berkilat marah. "Ini kenapa gue benci banget sama cowok kayak lo. Lo nggak pernah dengerin instruksi karena lo terlalu sibuk sama diri lo sendiri!"
Suara Mori yang lumayan keras bikin seisi lab menoleh. Pak Broto pun menatap tajam dari mejanya.
Lian tertegun. Dia liat tangan Mori sedikit gemetar. Bukan karena takut, tapi karena saking keselnya. Untuk pertama kalinya, Lian ngerasa ada rasa bersalah yang nyelip di egonya. Biasanya, kalau dia bikin kesalahan, dia tinggal ngasih senyum manis dan semuanya selesai. Tapi di depan Mori, senyumnya nggak laku sama sekali.
"Mor, gue beneran sori... Gue nggak sengaja," suara Lian melemah. Dia beneran nggak niat ngerusak praktikumnya.
Mori nggak jawab. Dia mengambil kain lap sendiri, membersihkan tumpahan itu dengan gerakan efisien, lalu melanjutkan kerjanya tanpa sepatah kata pun. Suasana di meja mereka jadi sunyi senyap, sangat kontras dengan meja-meja lain yang ribut dengan tawa.
Selama sisa jam pelajaran, Mori benar-benar mendiamkan Lian. Lian mencoba mengajak bicara, menawarkan bantuan, bahkan mencoba melucu, tapi Mori hanya menjawab dengan gumaman pendek atau sekadar menunjuk kertas laporan.
Lian ngerasa asing. Dia yang biasanya jadi pusat perhatian dan dipuja-puja, sekarang malah ngerasa kayak orang nggak berguna di depan Mori. Dia liat Mori nulis laporan dengan rapi, tulisannya kecil-kecil dan teratur. Mori itu beneran cerdas, mandiri, dan nggak butuh siapa-siapa buat bersinar.
Dan itu justru bikin Lian makin frustrasi. Red flag di diri Lian biasanya muncul dalam bentuk keinginan untuk "menaklukkan" yang sulit. Tapi semakin dia mencoba, radar Mori semakin kencang berbunyi "BAHAYA".
Pas bel pulang bunyi, Mori langsung mengemasi barang-barangnya.
"Laporannya gue yang bawa, gue bakal selesain di rumah," kata Mori dingin sambil menyampirkan tas di bahu.
"Eh, kan ini tugas kelompok. Biar gue mampir ke rumah lo atau kita ngerjain di kafe?" tawar Lian, berharap dapet kesempatan buat menebus kesalahannya tadi.
Mori berhenti di depan pintu lab, dia berbalik dan menatap Lian dengan tatapan yang bikin Lian ngerasa kecil banget.
"Lian, denger ya. Lo pikir gue nggak tau taktik lo? Ngajak ngerjain tugas bareng di kafe, terus nanti lo bakal mulai gombalin gue, minta nomor WA gue, atau mulai bahas hal-hal nggak penting lainnya?"
Mori melangkah maju, mendekat ke arah Lian sampai jarak mereka tinggal satu meter.
"Gue ramah sama Jessica, sama Pak Broto, bahkan sama kucing liar di depan sekolah. Tapi ke lo? Gue nggak punya sisa keramahan itu. Karena lo itu cuma seonggok red flag yang dibungkus muka ganteng. Jadi, jangan harap gue bakal kasih lo celah."
Mori pergi gitu aja, ninggalin Lian yang berdiri mematung di tengah laboratorium yang mulai sepi.
Lian pulang ke rumah dengan perasaan nggak karuan. Dia naik ke motornya, tapi nggak langsung jalan. Dia teringat gimana Mori tadi melotot padanya.
Biasanya, kalau ada cewek yang jual mahal, Lian bakal ketawa dan bilang "Liat aja nanti". Tapi ke Mori, ada rasa perih yang aneh. Mori nggak lagi jual mahal. Dia bener-bener... nggak butuh Lian.
"Sial," umpat Lian pelan sambil memukul setang motornya. "Kenapa gue jadi kepikiran cewek judes itu sih?"
Lian nggak sadar, bahwa setiap kali dia mencoba "menarik" Mori masuk ke dunianya, justru dia sendiri yang perlahan terseret masuk ke dunia Mori. Dunia di mana pesonanya nggak berharga, dan satu-satunya yang dinilai adalah kejujuran dan sikap.