NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:979
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 : Kamar sementara IGD

Suara jarum jam di ruangan itu terdengar semakin jelas, seolah setiap detiknya menekan dada sang dokter. Ia menatap gadis kecil di depannya yang kini hanya menunduk, tangan mungilnya menggenggam ujung bajunya sendiri. Tubuhnya tampak lemah, sementara cahaya dari lampu di langit-langit menyorot wajah pucatnya.

Sang dokter berusaha tersenyum, meski matanya menyiratkan sesuatu yang sulit diuraikan antara cemas dan iba. Ia menunduk perlahan, lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut.

 “Apa yang terakhir kali itu sakit?” tanyanya lirih, seolah takut membuat gadis itu semakin takut.

Gadis kecil itu hanya diam, bahunya sedikit bergetar. Ia menggeleng pelan tanpa berani menatap balik.

“Tidak… hanya kepalaku yang sakit…” jawabnya hampir tanpa suara, suaranya serak seolah keluar dari tenggorokan yang menahan tangis terlalu lama.

Kata-kata itu membuat sang dokter menahan napas sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, menunduk, lalu bangkit perlahan dari posisi jongkoknya. Tatapannya jatuh ke lantai, beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali menatap gadis itu yang kini sibuk memainkan ujung baju di pangkuannya.

 “Apa ada yang kau ingat di hari itu?” tanyanya pelan, suaranya menurun seperti takut merusak suasana. “Atau hanya suntikan yang kau ingat?”

Gadis itu mengerjap beberapa kali, matanya perlahan beralih menatap ke arah jendela besar di sisi ruangan. Di balik kaca itu, malam sudah turun sepenuhnya. Hujan halus mulai menetes, membentuk jejak tipis di permukaan kaca.

“Hal lain?” gumamnya, berusaha mengingat. “Tidak… tidak ada. Hanya jarum suntik.”

Keheningan kembali menggantung. Sang dokter menatap punggung kecil gadis itu, lalu mengusap wajahnya sendiri dengan satu tangan, mencoba menghapus rasa sesak yang tak bisa ia jelaskan. “Baiklah,” katanya akhirnya dengan nada pelan, “tunggu di sini sebentar, aku akan minta perawat untuk menyiapkan kamarmu.”

Ia melangkah perlahan menuju pintu. Suara langkahnya terdengar berirama, menggema lembut di lantai keramik ruangan itu. Sesaat sebelum pintu tertutup, ia sempat menoleh, menatap sekali lagi sosok kecil yang masih duduk diam di kursinya. Kemudian pintu menutup perlahan dengan suara klik halus.

Di luar, koridor rumah sakit terasa dingin. Lampu neon di langit-langit memantulkan bayangan panjang di sepanjang dinding. Dokter itu berjalan ke arah meja administrasi IGD, tempat seorang perawat muda tengah memeriksa berkas-berkas pasien.

“Sus,” panggilnya datar namun terdengar lelah, “cekkan apakah masih ada kamar kosong untuk rawat inap medis.”

Perawat itu langsung menegakkan tubuh, wajahnya berubah tegang. “Baik, Dok. Saya cek dulu.”

Ia segera menoleh menuju monitor, mengetik cepat sambil membuka beberapa file digital dan buku catatan pasien. Suara klik-klik keyboard dan gesekan kertas terdengar cukup lama sebelum akhirnya ia berhenti dan menatap dokter di depannya.

“Semua kamar penuh, Dok,” ucapnya akhirnya. “Yang tersisa hanya kamar VIP dan beberapa ruang sementara di IGD.”

“Penuh?” sang dokter mengulang, nada suaranya menurun. “Semuanya?”

 Perawat itu mengangguk cepat. “Ya, Dok. Apa pasiennya dalam keadaan kritis?”

Dokter itu menggeleng, wajahnya kembali datar seperti menahan sesuatu di pikirannya. “Tidak… tapi untuk sementara, siapkan satu ruang di IGD saja. Siapkan juga obat pereda nyeri kepala dan antibiotik ringan. Aku akan kembali setelah ini.”

Ia mulai berjalan menjauh, namun langkahnya terhenti setelah beberapa langkah. Ia menoleh ke arah perawat itu dengan tatapan yang tak biasa, ada sesuatu di matanya, samar antara dingin dan lelah.

“Oh ya,” ujarnya pelan, “minta seseorang memindahkan pasien yang ada di ruanganku sekarang ke unit gawat darurat. Segera. Aku akan kedatangan pasien baru malam ini.”

“Baik, Dok,” jawab sang perawat sambil mencatat.

Dokter itu berbalik lagi, melangkah perlahan menyusuri lorong yang kini semakin sepi. Hanya suara langkah sepatunya yang terdengar, disertai gemuruh hujan di luar jendela yang kian deras.

Sementara itu, jauh di balik pintu ruangan yang baru saja ia tinggalkan, gadis kecil itu masih duduk diam di tempatnya. Cahaya lampu menyinari wajahnya yang sayu dan untuk sesaat, bibir mungilnya bergerak, membisikkan sesuatu yang tak terdengar di udara yang sunyi.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!