NovelToon NovelToon
Di Balik Kontrak Ibu Susu

Di Balik Kontrak Ibu Susu

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Pernikahan Kilat / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah / Ibu susu / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

🏆JUARA YAAW PERIODE 3 2025 TEMA KREATIF "IBU SUSU"🏆

Dituduh pembunuh suaminya. Diusir dari rumah dalam keadaan hamil besar. Mengalami ketuban pecah di tengah jalan saat hujan deras. Seakan nasib buruk tidak ingin lepas dari kehidupan Shanum. Bayi yang di nanti selama ini meninggal dan mayatnya harus ditebus dari rumah sakit.

Sementara itu, Sagara kelimpungan karena kedua anak kembarnya alergi susu formula. Dia bertemu dengan Shanum yang memiliki limpahan ASI.

Terjadi kontrak kerja sama antara Shanum dan Sagara dengan tebusan biaya rumah sakit dan gaji bulanan sebesar 20 juta.

Namun, suatu malam terjadi sesuatu yang tidak mereka harapkan. Sagara mengira Shanum adalah Sonia, istrinya yang kabur setelah melahirkan. Sagara melampiaskan hasratnya yang ditahan selama setelah tahun.

"Aku akan menikahi mu walau secara siri," ucap Sagara.

Akankah Shanum bertahan dalam pernikahan yang disembunyikan itu? Apa yang akan terjadi ketika Sonia datang kembali dan membawa rahasia besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Dulu, Mami Kartika saat itu masih muda adalah sosok yang penuh semangat, dengan rambut panjang sebahu dan sorot mata penuh mimpi. Ia mencintai seorang pria yang bernama Shamikshema Rajendra, cinta pertamanya, dan juga satu-satunya orang yang benar-benar membuatnya percaya pada janji.

Nirmala merupakan sahabat Mami Kartika sejak remaja, walau usia mereka berbeda dua tahun. Hubungan mereka yang baik menjadi renggang setelah ada kesalahpahaman yang berakibat fatal dalam hidup mereka.

Karika mendapatkan beasiswa kuliah magister ke luar negeri dan ia menolak pada awalnya. Akan tetapi, sang kekasih mendorongnya untuk pergi, katanya, “Kita punya masa depan. Pergilah, raih impian kamu. Aku akan menunggumu di sini.”

Dan ia percaya.

Sebelum berangkat, ia menitipkan pesan untuk Rajendra lewat sahabatnya, Nirmala, karena lelaki itu sedang berada di luar pulau. Pesan sederhana tapi berarti bagi hidupnya.

“Nirmala, aku titip pesan untuk Rajendra, tunggu aku.”

Namun, takdir berkata lain. Saat kembali ke tanah air, hal pertama yang menghancurkan hatinya adalah kabar bahwa Rajendra baru saja menikah.

Dan pengantin wanitanya adalah Nirmala.

Air matanya tak berhenti menetes hari itu. Bukan hanya kehilangan seorang kekasih, tapi juga dikhianati oleh sahabat yang ia percaya.

Lebih menyakitkan lagi, Rajendra marah padanya. Pria itu percaya pada pesan palsu yang dikirim oleh Nirmala.

“Jangan tunggu aku.”

Sejak saat itu, dunia Kartika runtuh.

Rupanya Nirmala diam-diam menaruh hati kepada kekasih Kartika sejak lama. Rajendra selain baik, pengertian, juga pekerja keras. Dia juga butuh waktu lama untuk meluluhkan hati pria itu dan akhirnya menikah. Dari pernikahan itu mereka mempunyai dua orang anak perempuan.

Seiring berjalannya waktu. Karika membangun hidupnya sendiri, menikah dengan Leon, pria blasteran yang setia menemaninya melewati luka-luka itu. Meski hidupnya kini mapan dan bahagia, luka dari masa lalu tak pernah benar-benar sembuh.

Ironisnya, putranya, Sagara, justru jatuh cinta pada Sonia, putri dari Nirmala dan Rajendra.

Awalnya, Mami Kartika menolak hubungan itu. Tapi, Sonia berbeda. Sopan, lembut, cerdas, dan memiliki hati yang jernih seperti ibunya di masa muda, sebelum pengkhianatan itu terjadi.

Pelan-pelan, Sonia berhasil menembus dinding dingin di hati Mami Kartika. Ia membuat Kartika tersenyum lagi, mengajarkannya untuk berdamai dengan masa lalu. Apalagi melihat Sagara yang juga mencintainya. Selama mereka menjadi mertua dan menantu, hubungan terjalin baik dan harmonis.

Namun kini, setelah Sonia menghilang tanpa jejak, semuanya kembali berantakan. Hati Mami Kartika seolah terbuka kembali, luka lama berdarah bersamaan dengan luka baru yang dibuat Sagara.

Sampai sekarang Mami Kartika tidak paham kenapa Sonia bisa pergi begitu saja, tanpa pamit atau ucapan perpisahan.

“Jangan-jangan Sonia tahu siapa jati diri sebenarnya?” bisik Mami Kartika dalam hati.

Tiba-tiba saja dada terasa berat. Pandangannya terarah pada Shanum yang tertawa kecil ketika Arsyla terjatuh di rerumputan dan Sagara segera menolongnya.

“Apa mungkin Sonia tahu sesuatu yang selama ini kututupi?”

Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya.

Sonia bukan gadis bodoh. Ia terlalu jujur, terlalu tajam instingnya.

“Mungkinkah dia mengetahui rahasia tentang masa lalu antara dirinya dan Nirmala? Tentang pengkhianatan, tentang dendam, tentang kebenaran yang tak pernah terucap?”

“Tapi jika benar begitu, kenapa Sonia pergi tanpa membawa apa pun? Tanpa pesan, tanpa jejak?

Tanpa sekadar meninggalkan sepucuk surat untuk suaminya yang jelas-jelas mencintainya?”

Air mata mengalir di pipi Mami Kartika. Ia buru-buru menyekanya, takut ketahuan oleh Sagara yang sedang menggendong si kembar di halaman.

Dia ingin membenci Shanum, wanita yang kini berada di sisi putranya. Akan tetapi, hatinya tidak sanggup. Shanum terlalu lembut, terlalu tulus. Setiap gerak-geriknya menunjukkan kasih yang nyata, bukan pura-pura.

Di sisi lain, rasa kecewa itu tetap tumbuh. Seolah ada bagian dari dirinya yang berkata bahwa kebahagiaan Sagara bersama Shanum adalah bentuk pengkhianatan terhadap Sonia, sama seperti dirinya, dahulu.

***

“Sekarang kamu selalu kelihatan happy dan penuh semangat,” ucap Revan sambil menepuk bahu Sagara. Nada suaranya santai, tetapi matanya penuh rasa ingin tahu.

“Iya,” sahut Farhan sambil menatap sahabatnya yang tengah menandatangani dokumen di meja kerja. “Apa kamu sudah move on dari Sonia?”

Sagara menahan senyum, bibirnya terangkat sedikit, matanya tak benar-benar menjawab. Memang wajahnya kini tampak lebih tenang dibanding setahun lalu, sekarang tak lagi muram seperti dulu. Itu semua berkat Shanum.

Sagara masih menyimpan rahasia besar. Ia belum memberitahu kedua temannya bahwa dirinya telah menikah dengan Shanum. Bukan karena malu, melainkan karena takut istrinya itu akan dicap sebagai orang ketiga alias “pelakor” yang mengambil tempat Sonia di hatinya.

“Aku punya dua anak yang masih bayi. Aku harus kuat dan nggak boleh terus terpuruk dengan luka masa lalu,” jawab Sagara akhirnya, suaranya tenang tapi sarat makna.

Revan dan Farhan saling pandang. Mereka tahu, kalimat sederhana itu menyiratkan sesuatu yang lebih besar. Seolah Sagara sedang berusaha menegaskan pada dirinya sendiri bahwa hidupnya tak boleh berhenti di titik kehilangan.

Farhan bersandar di kursi tamu, memandang langit-langit ruang kerja yang bergaya klasik dengan lampu gantung berwarna kuning lembut.

“Sampai sekarang pun belum ada kabar tentang Sonia, ya?” tanya Farhan lirih.

Sagara diam sejenak. Tatapannya kosong ke arah jendela, ke luar sana, di mana langit Jakarta terlihat mendung.

“Belum,” jawab Sagara pendek. “Seolah dia benar-benar menghilang ditelan bumi.”

Revan mengernyit, suaranya pelan namun tegas. “Menurut kalian nggak aneh? Seorang wanita yang baru melahirkan tiba-tiba pergi begitu saja. Seharusnya ada orang yang sadar di rumah sakit waktu itu. Perawat, satpam, siapa pun.”

Sagara mengangguk perlahan, matanya memantulkan bayangan gelap kenangan. “Yang paling aneh,” katanya lirih, “kamera CCTV di lorong rumah sakit memang merekam Sonia keluar dari ruang rawat. Tapi setelah itu dia hilang tanpa jejak. Nggak terekam saat melewati pintu keluar. Seperti—”

“Seperti sihir,” sela Revan cepat, setengah berbisik.

Keheningan menelan ruangan. Mereka bertiga terdiam. Bahkan suara detik jam di dinding terdengar jelas, seperti memaksa mereka untuk menghadapi kenyataan pahit yang selama ini mereka hindari.

Bagi Sagara, kehilangan Sonia bukan sekadar kehilangan istri. Itu kehilangan separuh dari hidupnya. Wanita yang dulu ia cintai lebih dari dirinya sendiri. Tapi kini, setelah satu tahun berlalu, luka itu mulai sembuh perlahan berkat Shanum dan dua bayi mungil yang selalu menatapnya dengan mata penuh cinta.

Sagara baru akan membuka mulut untuk berbicara lagi ketika terdengar suara ketukan di pintu.

“Masuk,” ucap Sagara.

Pintu terbuka perlahan, dan sekretarisnya, seorang wanita muda dengan kemeja putih dan rambut terikat rapi, melangkah masuk sambil membawa map berisi laporan. Namun, ekspresinya kali ini bukan sekadar formal seperti biasa. Ada sesuatu di matanya yang terlihat ragu, cemas, sekaligus penasaran.

“Pak,” katanya dengan suara pelan, “di bawah ada orang yang ingin bertemu. Katanya dia wanita paruh baya, membawa selebaran pencarian Ibu Sonia.”

Jantung Sagara langsung berdegup kencang. Ia berdiri spontan, membuat kursinya bergeser. “Apa?”

“Iya, Pak. Katanya dia tahu di mana Bu Sonia berada saat ini.”

Revan dan Farhan saling pandang, keduanya langsung berdiri. Wajah Sagara menegang, ekspresi kaget bercampur harapan yang sudah lama padam kini kembali menyala.

“Di mana wanita itu sekarang?” tanya Sagara cepat.

“Menunggu di lantai bawah, Pak,” jawab sekretaris itu.

Tanpa pikir panjang, Sagara sudah melangkah menuju pintu. Langkahnya panjang dan cepat, nyaris berlari. Revan dan Farhan menyusul di belakang, sama-sama tegang. Lift terbuka, dan mereka bertiga masuk tanpa bicara. Suasana di dalam lift terasa sesak oleh ketegangan yang menggantung di udara.

“Setelah satu tahun, baru ada yang bawa kabar,” gumam Revan pelan. “Kamu siap, Gara?”

Sagara hanya mengangguk tanpa menoleh. Matanya lurus ke depan, menatap angka di layar lift yang menurun satu per satu.

Begitu pintu lift terbuka. Mereka langsung melangkah keluar ke lobi. Suasana di bawah cukup ramai, beberapa staf berlalu-lalang, namun perhatian Sagara hanya tertuju pada satu sosok. Yaitu, seorang wanita paruh baya dengan tubuh agak gempal yang berdiri canggung di dekat meja resepsionis. Di tangannya ada amplop besar dan sebuah ponsel.

“Pak Sagara,” panggil resepsionis. “Ini orang yang ingin bertemu.”

Sagara mendekat dengan napas cepat. “Bu, apa benar Ibu tahu di mana istri saya?”

Wanita itu menatapnya dengan mata lembut, wajahnya terlihat lelah tapi jujur. “Iya, Pak. Saya datang ke sini atas perintah Bu Sonia.”

Sekejap, dunia Sagara seolah berhenti berputar. “Apa?”

Namun sebelum wanita itu sempat menjelaskan lebih jauh, langkah kaki lain terdengar dari arah pintu masuk. Seorang pria berjas hitam masuk dengan raut wajah serius, Papi Leon.

“Gara? Ada apa ini?” tanya Papi Leon heran, melihat kerumunan kecil di lobi. Tapi begitu mendengar nama “Sonia” terucap, ekspresinya berubah tegang.

Bu Rahma, wanita paruh baya itu, mengeluarkan ponsel dari tasnya dan membuka sebuah video. Tangannya bergetar saat menunjukkannya pada Sagara.

“Ini, Pak. Video dari Bu Sonia. Beliau minta saya datang ke sini.”

Layar ponsel itu menampilkan sosok wanita berbaring di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, rambutnya terurai, tapi mata itu, mata yang sama dengan istrinya, tak mungkin salah itu adalah Sonia.

“Mas Gara ....” Suara lembut itu terdengar serak, penuh getar. “Aku ... Sonia.”

Sagara menatap layar itu tanpa berkedip. Tenggorokannya terasa kering. Revan dan Farhan menatap bergantian, sama-sama terdiam.

“Bu Sonia mengalami koma dan baru sadar sekitar dua minggu yang lalu,” ucap Bu Rahma perlahan, seolah ingin memastikan semua orang mencerna kata-katanya.

“Apa?!” pekik mereka hampir bersamaan.

“Dia di rumah sakit mana sekarang?” tanya Sagara cepat, suaranya bergetar. “Kenapa bisa sampai di sana?”

1
Erna Lubis
saya suka alur ceritanya
Sandisalbiah
lagian Shanum itu ibu kandung Abyasa, jelas dia punya hak penuh atas anknya mengingat Aby masih balita dan itu gak bisa di tuntun perwaliannya atau gak asuhnya apalagi kondisi Sahnum yg mendukung dgn segala finansialnya.. Elia kan cuma nenek dan dia pun gak punya pekerjaan harusnya pengadilan udah bisa jadikan itu semua sebagai pertimbangan utk menentukan hak asuh.. aneh..
Sandisalbiah
karakter Shanum itu baik dan lemah lembut tp terlalu lemah, seakan gak punya niat buat belah diri ... jelas Elia dan Alana yg berbuat buruk padanya tp di tetap diem seakan semua fitnah yg mereka sebarkan itu kebenaran yg dia Terima dgn kediamannya itu.. hah.. gemes juga jadinya
Sandisalbiah
hadehh.. gerah banget setiap baca bab yg ada dua anomali gak jelas ini.. buruk sifat, akhlak, prilaku.. lengkap semua keburukan di borong.. mana awet lagi gak langsung di eliminasi dr cerita..
Sandisalbiah
dasar maruk.. keadilan buat Alvin atau sekedar niat buat memuaskan ego anda.. nyonya Eli..
Sandisalbiah
ibu dan adik almarhum Alvin juga banyak dosa pd Shanum tp mereka tetap hidup dan semakin sombong dgn mulut beracun mereka itu.. apa gak ada tuh azab buat dua perempuan demit itu
Sandisalbiah
Sonia ingin melepaskan Sagara buat Shanum sebagai bentuk kasih sayang terakhir utk org² yg dia cintai.. suami dan juga saudara kembarnya... Shanum yg pertama mengalah utk kebahagiaan Sonia dan kini Sonia ingin menyerahkan kebahagiaan utk Shanum dlm detik terakhir hidupnya
Sandisalbiah
dua org polisi tdk sanggup menahan satu perempuan yg tangannya sudah terborgol...? itu Soraya yg sring banget atau polisinya lemah.. ampun deh
Sandisalbiah
manusia kalau hatinya di penuhi rasa iri dan dengki maka dia tdk akan pernah mensyukuri apa yg dia punya, apa yg ada di sekelilingnya tp hatinya akan tetap di penuhi ambisi utk memiliki dan mengalahkan yg lain sampai meng halalkan segala cara
Sandisalbiah
dan korbannya adalah ayah kandung Abyasa.. suami Shanum... kudu di hukum yg berat itu perempuan sundal
Sandisalbiah
Soraya.. ih.. pengen banget itu betina segera mendekam di hotel prodio
Sandisalbiah
jelas Soraya jd tersangka utama... dan semoga kasusnya segera terungkap
Sandisalbiah
Soraya ini hatinya penuh dgn kelicikan dan culas... jgn bilang kalau dia lah dalang di balik hilangnya Sonia paska melahirkan... krn dia sepertinya juga terobsesi pd Sagara
Sandisalbiah
setidaknya Shanum memiliki Abyasa..
Sandisalbiah
keputusan Sagara dgn menikah lagi emang salah, dan gak ada perempuan yg mau di madu seperti yg nyonya Kartika katakan itu benar tp pembelaan mereka yg terkesan berlebihan utk seseorang yg jelas² meninggalkan suami dan menelantarkan anaknya sendiri.. itu aneh...
Sandisalbiah
dan biasanya setelah saling terbuka dan membuka hati itu anomali lama bakal muncul menghancurkan semuanya... sosok Sonia yg lama menghilang bakal kembali dan ujungnya Shanum kembali menjadi sosok terbuang dgn luka hati dan laranya
Sandisalbiah
bab ini juga ada typo Thor... tertulis " ada tawa dr tiga laki² " kan si kembar cewek cowok ya..
Sandisalbiah
Shanum harus tetap menempati kamar pengasuh dan bila minat Sagara akan mendatanginya dgn alasan agar dia tdk di cap sebagai wanita penghilang dan menanggung malu, terus kalau sampai Shanum hamil emang gak bakalan jd bulan²an mulut org.. mikir gak itu laki yg punya nafsu besar tp gak punya hati
Sandisalbiah
takdir Shanum yg selalu di genangi lautan air mata.. miris banget, dia tetap akan jd yg tersisi
Sandisalbiah
kenapa ank kembar Sagara justru mirip dgn Shanum dan almarhum suaminya, jgn bilang mereka di tukar pas Shanum melahirkan krn dia yg dlm kondisi tdk sadar...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!