NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Emas yang Menawar Kematian

Malam itu, Alun-Alun Utara yang hancur lebur diterangi oleh dua cahaya. Satu berasal dari Songsong Agung yang kini telah menjadi pasak batu emas penutup lubang penjara Poseidon. Cahaya lainnya, jauh lebih kecil namun menyilaukan, berasal dari botol kristal di tangan Ratu Kidul.

Cairan di dalamnya kental dan bercahaya keemasan. Ichor. Darah murni para dewa Olympus yang konon bisa membakar kulit manusia biasa jika disentuh sembarangan.

Sekar berlutut di samping tubuh kaku Pangeran Suryo. Ia sudah berhenti menangis. Air matanya sudah kering, digantikan oleh harapan yang rapuh dan menakutkan. Ia membersihkan debu dan darah kering dari wajah sang Pangeran dengan ujung kebayanya yang robek.

"Apakah ini akan berhasil, Gusti?" tanya Sekar lirih. "Bukankah menghidupkan orang mati itu... melanggar hukum alam?"

Ratu Kidul duduk di seberang tubuh Suryo. Wajah cantiknya terlihat sangat tua malam ini, gurat-gurat kelelahan ribuan tahun terlihat jelas di bawah sinar bulan.

"Kematian Suryo bukan kematian wajar, Sekar," jawab Ratu, suaranya berat. "Dia mati karena tusukan elemen air asing yang dipadatkan. Jiwanya belum pergi jauh. Dia masih tersangkut di antara kandhang (raga) dan karang (alam kelanggengan)."

Ratu membuka tutup botol itu. Aroma aneh menguar. Bukan bau amis darah, melainkan bau ozon, ambrosia, dan logam panas. Bau keabadian yang angkuh.

"Tapi ingat, Nduk," lanjut Ratu, menatap Sekar tajam. "Darah ini adalah darah Dewa yang sombong. Jika dimasukkan begitu saja ke tubuh manusia Jawa yang andhap asor (rendah hati), tubuhnya akan menolak. Bisa-bisa Suryo meledak atau bangkit menjadi monster gila."

Sekar menelan ludah. "Lalu... bagaimana caranya?"

"Darah ini harus didinginkan. Harus 'dijawakan' dulu," kata Ratu. Ia menoleh ke arah Bambang, si masinis yang sejak tadi duduk memeluk lutut di dekat reruntuhan kereta, masih syok.

"Mas... tolong ambilkan air," perintah Ratu lembut.

Bambang tersentak kaget. "A-air apa, Gusti? Air mineral?"

"Air dari Kyai Pamuk," Ratu menunjuk cambuk di pinggang Sekar. "Sekar, peras cambukmu."

Sekar bingung, tapi ia menurut. Ia memegang ujung cambuk Kyai Pamuk. Cambuk itu kering. Namun, saat Sekar memusatkan pikirannya, mengingat dinginnya laut dalam dan keikhlasan air, cambuk itu mulai lembap. Tetes-tetes air jernih keluar dari serat-seratnya.

Itu bukan air biasa. Itu adalah air mata penyucian yang tadi dipakai untuk menyadarkan prajurit mayat hidup.

Ratu Kidul menampung tetesan air itu ke dalam botol Ichor.

Cesss...

Saat air bening itu bercampur dengan darah emas, terdengar suara desisan. Cairan emas itu bergolak, warnanya meredup sedikit, menjadi oranye kemerahan. Seperti warna tembaga cair.

"Cukup," kata Ratu. "Air penyucian ini akan menjadi jembatan. Sekarang... buka bajunya."

Sekar dengan tangan gemetar menyibakkan sisa surjan Pangeran Suryo yang penuh darah, memperlihatkan lubang menganga di dada kirinya. Luka itu mengerikan. Jantungnya terlihat berhenti berdetak, pucat dan diam.

Ratu Kidul menuangkan cairan oranye itu tepat ke dalam lubang luka.

"Kembalilah, Satria. Tugasmu belum selesai. Urip iku urup (Hidup itu menyala)."

Cairan itu masuk, meresap ke dalam daging yang mati.

Hening.

Satu detik. Dua detik. Sepuluh detik.

Tidak terjadi apa-apa.

Bambang menunduk, menyembunyikan wajahnya. Sekar menahan napas sampai dadanya sakit.

"Gusti..." panggil Sekar putus asa.

Tiba-tiba, tubuh Pangeran Suryo tersentak hebat. Punggungnya melengkung ke atas, seolah tersengat listrik tegangan tinggi.

Matanya terbuka lebar.

Bola matanya tidak lagi cokelat gelap. Bola matanya berwarna emas cair yang bersinar terang, tanpa pupil, selama beberapa detik. Cahaya emas itu menembus kegelapan malam, menyorot lurus ke langit seperti lampu mercusuar.

Luka di dadanya berasap. Daging dan kulit tumbuh kembali dengan kecepatan yang mengerikan. Tulang rusuk yang patah bergemeletuk menyatu kembali. Lubang itu menutup sempurna, meninggalkan bekas luka berbentuk trisula yang berwarna perak.

Pangeran Suryo menarik napas panjang, rakus, seolah dia baru saja muncul ke permukaan setelah tenggelam berjam-jam.

"HAAH!"

Cahaya emas di matanya perlahan memudar, kembali menjadi cokelat, namun ada kilatan asing yang tertinggal di sana. Kilatan yang mengingatkan Sekar pada kedalaman palung laut.

Tubuh Pangeran jatuh lemas kembali ke tanah, napasnya memburu.

"Gusti! Gusti!" Sekar langsung memeluk kepala Pangeran, menangis sejadi-jadinya. Kali ini tangis bahagia.

Pangeran Suryo mengerjap-ngerjap bingung. Ia menatap langit berbintang, lalu menatap wajah Sekar yang basah oleh air mata.

"Sekar?" suaranya parau, berat, dan... bergetar ganda. Seperti ada suara ombak yang menyertai setiap kata yang diucapkannya. "Kenapa... kenapa rasanya aku baru saja minum air laut satu galon?"

Sekar tertawa di sela tangisnya. "Gusti hidup... Gusti hidup lagi..."

Ratu Kidul tersenyum lega, bahunya merosot turun. Energinya terkuras habis.

"Selamat datang kembali, Anakku," sapa Ratu.

Pangeran Suryo mencoba duduk. Ia memegangi dadanya yang baru sembuh. Ia merasakan jantungnya berdetak lagi. Tapi iramanya berbeda.

Dug... swosh... Dug... swosh...

Jantungnya tidak lagi berdetak deg-deg. Jantungnya berdetak seperti suara ombak yang memecah karang. Pelan, kuat, dan abadi.

"Apa yang terjadi pada tubuhku?" Pangeran melihat tangannya. Urat-urat di balik kulitnya terlihat samar-samar bersinar keemasan.

"Kamu sudah menjadi Hibrida," jelas Ratu Kidul sambil berdiri perlahan. "Tubuh manusiamu mati. Yang hidup sekarang adalah wadah baru yang dialiri darah dewa laut. Kamu... kamu sekarang adalah penjaga dua dunia, Suryo. Daratan dan Lautan ada di dalam nadimu."

Pangeran Suryo terdiam, mencerna takdir barunya. Ia bukan lagi manusia murni. Ia abadi? Atau monster?

"Yang penting Gusti masih Suryo," potong Sekar tegas, memegang tangan Pangeran yang terasa lebih dingin dari biasanya. "Mau darah dewa, darah genderuwo, atau darah biru, Gusti tetap Pangeran yang nekat naik kereta hantu sama saya."

Pangeran Suryo menatap Sekar, lalu tersenyum—senyum yang tulus, meski terlihat lebih misterius dari sebelumnya. "Terima kasih, Sekar. Kamu benar. Aku tetap aku. Cuma... mungkin sekarang aku jadi lebih jago berenang."

Mereka tertawa kecil. Tawa yang terasa asing di tengah reruntuhan itu, tapi sangat dibutuhkan.

Di kejauhan, fajar mulai menyingsing. Cahaya matahari pagi mulai menyinari Yogyakarta.

Pemandangannya memilukan namun indah.

Kota itu hancur. Gedung-gedung runtuh, jalanan retak. Tapi lapisan karang yang menutupi kota semalaman kini telah berubah menjadi debu putih halus seperti salju. Ubur-ubur mati di atap-atap gedung menguap menjadi kabut pagi.

Dan orang-orang...

Di halte Trans Jogja, di dalam rumah-rumah, di jalanan... patung-patung manusia yang terbungkus karang itu mulai retak.

Krak... krak...

Lapisan kapur itu rontok. Dan dari dalamnya, warga Yogyakarta keluar. Mereka batuk-batuk, bingung, kedinginan, tapi hidup. Mereka selamat.

"Mereka kembali..." bisik Bambang, melihat dari kejauhan sekelompok orang berjalan terhuyung-huyung di Jalan Malioboro. "Kota ini selamat."

Sri Sultan Hamengku Buwono, yang sejak tadi diam mengamati dari pinggir pendopo, berjalan mendekat. Langkahnya tertatih, tapi tegak.

Ratu Kidul menoleh pada Raja Yogyakarta itu. Pertemuan dua penguasa tanah Jawa—yang nyata dan yang gaib—akhirnya terjadi di dunia fisik.

Ratu membungkuk sedikit, tanda hormat pada sesama penjaga.

"Tugas saya selesai, Sri Sultan," kata Ratu. "Tamu sudah dikurung. Pangeran sudah kembali. Sisanya... membangun kembali rumah yang rusak, itu tugas manusia."

Sri Sultan mengangguk takzim. "Terima kasih, Kanjeng Ratu. Hutang nyawa ini... tidak akan bisa dibayar dengan sesajen manapun."

"Bayarlah dengan menjaga tanah ini lebih baik," pesan Ratu. Tubuhnya mulai memudar menjadi kabut hijau seiring dengan naiknya matahari. "Jangan biarkan lubang di alun-alun itu terbuka lagi. Dan jaga anak-anak ini... mereka adalah pusaka yang lebih berharga dari keris manapun."

Ratu menatap Sekar dan Suryo terakhir kali, lalu menghilang sepenuhnya, menyisakan aroma bunga sedap malam yang terbawa angin pagi.

Sekar berdiri, membantu Pangeran Suryo bangkit.

Mereka berdiri di tengah Alun-Alun Utara yang kini memiliki monumen baru di tengahnya: Payung Batu Emas raksasa yang menyegel dewa asing di bawahnya.

"Pekerjaan rumah kita banyak sekali, Gusti," kata Sekar, melihat kehancuran di sekeliling mereka.

Pangeran Suryo menepuk bahu Sekar. Tangannya terasa berat dan kokoh.

"Kita bangun lagi," katanya mantap. "Satu per satu. Bata demi bata. Dan kali ini... kita pastikan pondasinya lebih kuat."

Sekar mengangguk. Ia meraba saku kebayanya. Cambuk Kyai Pamuk masih di sana, tapi Jantung Samudra sudah hilang, larut dalam penyelamatan Raja dan Pangeran. Ia tidak menyesal.

Perang Lautan yang Tidak Pernah Tidur telah berakhir. Tapi pagi baru di Yogyakarta baru saja dimulai. Dan Sekar tahu, hidupnya tidak akan pernah kembali menjadi abdi dalem biasa yang cuma menyapu halaman.

Dia adalah Penjaga Kunci. Dan Pangeran di sebelahnya adalah Sang Pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!