Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Risma menuntun Sheila menuruni anak tangga jembatan dengan sangat hati-hati. Ia bisa merasakan betapa lemasnya tubuh sahabatnya itu, seolah tulang-belulangnya telah lolos dari tempatnya. Dengan perlahan, Risma membantu Sheila naik ke atas motor dan memakaikan jaket miliknya untuk menutupi gaun Sheila yang kini terasa seperti simbol kehinaan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Risma, Sheila hanya bisa menyandarkan kepalanya di punggung Risma, memejamkan mata rapat-rapat sambil terus menahan ringisan perih setiap kali motor melewati jalanan yang tidak rata. Luka fisik itu nyata, namun luka batin yang digoreskan Devano jauh lebih dalam dan berdarah.
Sesampainya di rumah Risma yang kebetulan sedang sepi, Risma langsung membawa Sheila masuk ke dalam kamarnya. Ia mengunci pintu dan membimbing Sheila duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara, Risma menyiapkan air hangat di kamar mandi.
"Sini Sheil, lepas bajunya. Kamu harus mandi. Bersihkan semuanya," ucap Risma dengan suara bergetar menahan tangis.
Sheila menatap kosong ke depan, tangannya gemetar saat membuka kancing gaunnya. Begitu kain itu terlepas, Risma menutup mulutnya sendiri, menahan jeritan saat melihat memar kebiruan di bahu dan lengan Sheila—bukti betapa agresif dan kasarnya perlakuan Devano.
Di bawah kucuran air hangat, Sheila terisak lagi. Ia menggosok kulitnya dengan sabun berkali-kali hingga memerah, berusaha menghilangkan aroma maskulin Devano dan sensasi sentuhan kasar yang masih terasa menempel di tubuhnya. "Hiks... Ris, tetap gak bisa hilang... aku masih merasa kotor... hiks..."
Setelah selesai mandi, Risma meminjamkan kaus kebesaran dan celana panjang yang nyaman untuk Sheila. Ia kemudian duduk di samping Sheila, menyisir rambut sahabatnya itu dengan lembut seolah sedang menangani barang pecah belah.
"Ris... bagaimana kalau aku hamil? Hiks... aku takut banget," lirih Sheila sambil memeluk bantal erat-erat. Pikiran itu menjadi horor baru yang kini menghantui kepalanya.
Risma berhenti menyisir, ia memeluk Sheila dari samping. "Besok kita ke dokter atau cari solusinya, Sheil. Aku gak akan biarkan kamu hadapi ini sendiri. Dan soal Devano... besok aku akan temani kamu lapor ke sekolah atau bahkan polisi jika perlu. Dia gak boleh lepas begitu saja setelah menghancurkanmu!"
Sheila hanya menggeleng lemah. Ia terlalu malu untuk membayangkan semua orang tahu apa yang terjadi di unit 201. Untuk saat ini, ia hanya ingin tidur dan berharap semua ini hanya mimpi buruk. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, suara tawa Indra dan Bayu tentang taruhan motor sport itu kembali bergema, membunuh sisa-sisa harga dirinya yang masih ada.
Sementara di tempat lain, di sebuah apartemen yang baru saja merenggut seluruh masa depan Sheila, Devano bersama dengan sahabatnya tengah merayakan keberhasilan mereka.
Di dalam unit 201, aroma alkohol dan suara musik electronic mengisi ruangan yang beberapa jam lalu menjadi saksi bisu hancurnya hidup seorang gadis. Indra dan Bayu sedang menenggak minuman sambil tertawa puas, membayangkan motor sport yang akan segera mereka klaim.
Devano duduk di sofa utama, menatap kosong ke arah jendela. Di luar sana, kota terlihat begitu tenang, sangat kontras dengan gejolak yang tiba-tiba muncul di dadanya. Bayangan wajah Sheila yang merintih kesakitan dan tangis histerisnya saat dilempar uang terus berputar di benaknya. Ada rasa iba yang menyelinap, namun dengan cepat ia menepisnya dengan ego dan kesombongan.
"Gila, Dev! Lo bener-bener gak ada lawan. Besok kita langsung ke dealer, kan?" seru Indra sambil melempar bantal sofa ke arah Devano.
Bayu, yang sudah sedikit mabuk, berjalan sempoyongan menuju kamar utama. "Gue penasaran, masih ada bau-bau si cewek bar-bar itu gak ya di dalem? Gue mau rebah di kasur bekas 'pertempuran' lo, Dev."
Saat tangan Bayu hendak memutar kenop pintu kamar tersebut, sebuah suara dingin dan tajam menghentikannya.
"Jangan masuk ke kamar itu."
Bayu terlonjak dan menoleh. Ia melihat Devano sudah berdiri dengan tatapan mata yang sangat tajam dan rahang yang mengeras. Aura di ruangan itu seketika berubah menjadi sangat tertekan.
"Elah, Dev. Kenapa sih? Biasanya juga santai," keluh Bayu sambil mencoba memutar kenop itu lagi.
Dengan langkah cepat, Devano menarik bahu Bayu dan memendorongnya menjauh dari pintu kamar itu. "Gue bilang JANGAN MASUK! Lo tuli?!" bentak Devano dengan suara rendah yang mengancam.
Indra berhenti tertawa dan menatap kedua sahabatnya dengan bingung. "Santai, Dev. Bayu cuma bercanda. Lagian kan tugas lo udah selesai, Sheila udah gak ada di sana."
Devano menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia begitu protektif terhadap kamar yang menjadi saksi kejahatannya. Mungkin, karena di kamar itulah ia masih bisa merasakan sisa-sisa isak tangis Sheila yang menghantui logikanya.
"Kamar itu kotor. Besok gue panggil tukang bersih-bersih buat ganti seluruh seprai dan bakar semuanya. Lo berdua tidur di sofa atau balik ke unit sebelah," ucap Devano datar sambil masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam.
Di dalam kamar, Devano terpaku menatap ranjang yang masih berantakan. Ia melihat sedikit bercak merah di atas seprai gelap itu—bukti kesucian yang ia rampas dengan paksa.
"Sial," umpatnya pelan. Ia merebahkan diri di posisi di mana Sheila tadi terbaring. Wangi parfum Sheila yang manis masih tertinggal di bantal, menusuk indra penciumannya dan membangkitkan rasa bersalah yang seharusnya tidak ia miliki. Namun, ego sang most wanted tetap menang. Ia menutup matanya, berjanji bahwa besok ia akan kembali menjadi Devano yang dingin dan tak tersentuh.
Suasana kamar Risma terasa begitu hening, namun di dalam kepala Sheila, suara-suara kejadian malam itu masih berteriak keras. Ia merapatkan selimut hingga ke dagu, tubuhnya masih terasa gemetar hebat. Setiap kali matanya terpejam, sensasi sentuhan kasar dan wajah dingin Devano muncul seperti monster yang siap menerkam.
"Kenapa aku harus sebodoh ini! Apa yang akan aku katakan pada Bunda," bisik Sheila dengan sangat lirih. Suaranya tercekik oleh rasa sesak di dada. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, menyadari bahwa ia tidak bisa lagi menjadi Sheila yang dulu. Gadis bar-bar yang ceria itu telah mati di unit 201.
Air mata terus mengalir membasahi bantal Risma. Ia membayangkan wajah lembut bundanya yang selalu membelanya di depan guru-guru saat ia berbuat onar di sekolah. Kini, ia merasa telah mengkhianati kepercayaan terbesar dalam hidupnya hanya demi seorang lelaki yang bahkan tidak menganggapnya manusia.
Drt. Drt. Drt. Drt.
Tiba-tiba, ponsel Sheila bergetar di atas meja nakas. Sebuah pesan masuk dari Bunda.
"Sheila, sayang... ini sudah larut. Kenapa belum pulang? Apa tugas kelompoknya belum selesai? Kalau sudah terlalu malam, menginap saja di rumah Risma ya. Hati-hati, sayang. Bunda sayang kamu."
Sheila membaca pesan itu dan seketika terisak lebih keras. Setiap kata sayang dari bundanya terasa seperti sembilu yang mengiris-iris hatinya yang sudah hancur. Ia tidak berani membalas. Tangannya terlalu lemah bahkan hanya untuk mengetik satu kata.
Risma, yang ternyata belum tidur dan memperhatikan sahabatnya dari ranjang sebelah, akhirnya bangun dan memeluk Sheila dari belakang. "Ssttt... sudah Sheil. Jangan dipikirkan malam ini. Biar aku yang balas pesan Bunda kamu, aku bilang kamu sudah tidur karena capek ngerjain Tugas."
"Ris... aku gak akan pernah sanggup menatap mata Bunda lagi," ucap Sheila di antara isak tangisnya. "Aku kotor, Ris... aku menjijikkan."
"Dengar aku, Sheila!" Risma membalikkan tubuh Sheila agar menatapnya. "Kamu bukan sampah. Kamu korban! Devano yang kotor, bukan kamu! Kita akan simpan ini sampai kamu siap. Besok, kita gak usah masuk sekolah dulu kalau kamu belum kuat."
Sheila hanya menggeleng lemah. "Gak, Ris. Aku harus masuk. Aku ingin lihat... aku ingin lihat apakah dia benar-benar sejahat itu menunjukkan motor barunya setelah apa yang dia lakukan padaku."
Di dalam dadanya, selain rasa sakit, mulai tumbuh benih kebencian yang sangat dalam. Sheila berjanji pada dirinya sendiri, meskipun ia telah hancur, ia tidak akan membiarkan Devano Narendra merayakan kemenangannya dengan tenang selamanya.
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/