Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Dengan gerakan cepat dan kasar, ia menarik tas ransel besar dari bawah ranjang.
Ia menyambar hoodie "Racing is Living" miliknya, celana jeans, dan semua pakaian yang ia bawa dari rumah Abi Husein.
"Rani, tunggu, Rani!"
Yudiz masuk ke kamar dengan wajah yang sangat cemas, tapi Rani tidak menoleh.
"Aku nggak akan tinggal di sini lebih lama lagi, Abi! Aku noda, kan? Aku liar, kan? Oke, aku pergi!" suara Rani bergetar hebat.
Ia menyampirkan tas di bahunya, siap melangkah keluar.
Yudiz menahan lengan Rani yang akan keluar dari kamar.
"Jangan pergi sendirian. Aku ikut."
Rani terhenti, menatap suaminya dengan bingung.
"Ikut ke mana? Ini rumahmu, ini duniamu!"
"Duniaku adalah di mana istriku berada," jawab Yudiz tegas.
"Tunggu di sini, aku akan bicara dengan Abi dan Umi."
Di ruang tamu, suasana jauh lebih dingin daripada udara subuh tadi. Nyai Salmah duduk dengan wajah keras, sementara Kyai Abdullah menunduk dalam, memutar tasbihnya perlahan.
"Abi, Umi. Sepertinya Yudiz harus pindah dan membawa Rani ke rumah yang sudah aku siapkan." ucap Yudiz.
"Umi tidak setuju!" suara Nyai Salmah meninggi saat Yudiz menyatakan keinginannya untuk pindah ke rumah baru mereka sendiri.
"Kamu mau membawa wanita liar itu pergi dari pengawasan kita? Dia hanya akan membuatmu jauh dari agama, Yudiz!"
"Umi, tolong..." Yudiz menyela dengan suara yang sangat tenang tapi berwibawa.
"Rani adalah istriku. Tanggung jawabku. Jika kehadirannya di sini hanya memicu luka bagi Umi dan rasa rendah diri baginya, maka pindah adalah jalan keluar terbaik bagi kesehatan hati kami semua."
Nyai Salmah berdiri dan langsung berjalan menuju ke arah kamar.
"Dia tidak pantas untukmu! Dia memalukan pesantren ini dengan suaranya yang kasar dan penampilannya yang seperti laki-laki!"
Kyai Abdullah akhirnya mengangkat wajahnya dan Beliau menatap Yudiz, lalu beralih ke istrinya.
"Salmah," panggil Kyai dengan nada rendah yang seketika membungkam amarah istrinya.
"Pohon yang baru ditanam tidak akan tumbuh jika terus diinjak-injak dengan alasan mendidiknya. Biarkan mereka pergi."
"Tapi Kyai—"
"Aku merestui kalian, Yudiz. Bawa istrimu ke rumah yang sudah kamu siapkan. Bangunlah duniamu sendiri di sana. Jadilah pelindung baginya, karena dia bukan noda, dia adalah amanah yang dikirim Allah untuk menguji keluasan hatimu."
Yudiz mencium tangan ayahnya dengan khidmat, sementara itu Nyai Salmah membuang muka, hatinya masih dipenuhi rasa tidak suka yang mendalam.
Setelah itu Yudiz masuk ke kamar dan mengajak istrinya keluar dari rumah.
Kemudian mobil sport hitam Yudiz bergerak meninggalkan gerbang pesantren.
Rani duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela ke arah bangunan-bangunan pondok yang perlahan menghilang.
Pipinya masih terasa sedikit perih, tapi ada rasa lega yang aneh di dadanya.
"Kita benar-benar pindah?" tanya Rani pelan.
"Iya. Kita ke rumah kita sendiri. Tidak ada yang membandingkanmu dengan Laila, atau siapapun," jawab Yudiz sambil tetap fokus ke jalanan.
Rani menoleh ke arah Yudiz. Pria ini baru saja meninggalkan kenyamanan rumah orang tuanya demi membela seorang perempuan yang bahkan belum bisa membaca Al-Fatihah dengan benar.
"Kenapa kamu lakukan ini, Abi?"
Yudiz menghentikan mobilnya sebentar di pinggir jalan yang sepi.
Ia menatap wajah istrinya yang sedang bertanya kepada dirinya.
"Karena di sirkuit kemarin, aku belajar satu hal. Kamu tidak suka dibatasi. Dan aku ingin kamu mencintai Allah karena kemauanmu sendiri, bukan karena paksaan atau karena takut pada manusia."
Masih di perjalanan, Rani melihat suaminya yang sedang fokus menyetir.
"Abi, rumah kita seperti apa?” tanya Rani yang penasaran.
Yudis menoleh ke arah istrinya yang kini tak lagi marah-marah, tapi terlihat penasaran.
“Sederhana dan cukup untuk kita belajar saling cinta karena Allah.”
"Ada garasi buat motor trail ku?”
Yudis tertawa keras saat mendengar perkataan dari istrinya.
"Ada, di sana juga ada musholla kecil juga. Jadi, parkir motornya jangan sampai ganggu tempat sujud ya.”
Rani menganggukkan kepalanya dan tidak sabar untuk melihat rumah mereka.
Mobil sport hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan desain modern industrial.
Pagar hitamnya tinggi dan pepohonan hijau di halaman depan memberikan kesan sejuk yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Rani turun dari mobil dengan rasa ingin tahu yang membuncah. Namun, saat Yudiz membuka pintu gerbang otomatis, langkah Rani seketika terhenti. Matanya membelalak sempurna.
Di dalam garasi yang luas itu, tidak hanya ada ruang kosong untuk motornya.
Di sana, sudah terparkir sebuah Husqvarna FE 450 keluaran terbaru, motor trail kelas atas dengan spesifikasi kompetisi yang masih sangat bersih, bersanding dengan motor sport hitam milik Yudiz.
“Abi, itu trail siapa?!” teriak Rani, berlari menghampiri motor gahar itu seolah menemukan harta karun.
Yudiz menyusul di belakang sambil memasukkan kunci mobil ke saku celananya.
“Itu hadiah untukmu. Tapi, sesuai kesepakatan, motor itu punya syarat penggunaan.”
Rani mengelus bodi motor yang masih kinclong itu dengan mata berbinar, namun sedetik kemudian ia teringat kesepakatan maut di sirkuit kemarin.
Ia menelan salivanya dan menoleh pelan ke arah suaminya yang kini berdiri bersandar di pilar garasi dengan senyum penuh kemenangan.
“Janji tetap janji, Rani,” ucap Yudiz, suaranya terdengar seperti lonceng tagihan di telinga Rani.
“Sekarang, mandi, ganti baju yang bersih, dan temui aku di musholla kecil di dalam. Kita mulai Juz satu.”
Malam itu, suasana rumah baru mereka terasa begitu hangat namun mencekam bagi Rani.
Di musholla kecil yang harum aroma kayu cendana, Rani duduk bersila di atas sajadah.
Di depannya, Yudiz duduk dengan tenang, sebuah Al-Qur'an besar terbuka di antara mereka.
Rani menatap huruf-huruf Arab itu seperti melihat kumpulan kode rumit yang lebih susah daripada membaca skema mesin motor.
“Sebelum mulai, ada aturan tambahan,” ujar Yudiz tiba-tiba.
“Apalagi sih, Abi? Menghafal aja sudah bikin kepalaku mau berasap!” protes Rani.
Yudiz memperbaiki posisi duduknya, menatap Rani dengan tatapan intens yang membuat jantung Rani berdegup kencang.
“Agar kamu lebih semangat dan teliti jika kamu salah membaca satu hukum tajwid atau salah pelafalan, hukumannya satu ciuman di kening.”
“Hah? Terus?”
“Jika dalam satu ayat kamu salah dua kali, hukumannya satu ciuman di bibir.”
Wajah Rani seketika berubah merah padam sampai ke telinga. Ia melempar bantal kecil ke arah suaminya.
“Ishhh! Abi mesum! Katanya ustadz, katanya Gus, kok hukumannya begini?!” seru Rani panik sekaligus malu.
Yudiz menangkap bantal itu dengan santai, tawanya pecah melihat reaksi istrinya.
“Ini namanya metode 'pemberian motivasi', Sayang. Biar istrinya fokus dan nggak asal baca. Bagaimana? Mau mulai atau motor trail di depan aku kunci selamanya?”
Rani mendengus keras, mencoba menutupi kegugupannya.
Ia menarik napas panjang, lalu mulai menunjuk huruf pertama dengan jarinya yang sedikit gemetar.
“Alif... laam... miim...” Rani memulai dengan sangat hati-hati, seolah setiap huruf adalah ranjau darat.
“Bagus. Lanjutkan,” puji Yudiz.
“Zaalikal-kitaabu laa raiba fii... fiihi... hudaal lil-muttaqiin...”
“Berhenti,” potong Yudiz pelan.
“Laa raiba fiihi, ada tanda waqaf di sana, dan kamu kurang panjang di bagian mad-nya. Itu satu kesalahan.”
“Eh, itu cuma khilaf sedikit, Abi!”
“Kesepakatan adalah kesepakatan, Istriku.”
Yudiz condong ke depan, Rani memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan bibir Yudiz menyentuh keningnya dengan lembut dan lama.
Ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, sebuah perasaan yang jauh lebih mendebarkan daripada memenangkan balapan manapun.
Saat Yudiz menjauh, Rani membuka matanya, wajahnya makin merah.
“Lanjut! Aku nggak akan salah lagi!” ucapnya ketus, meski hatinya tidak karuan.
Rani kembali membaca ayat berikutnya dengan sangat tegang.
Namun, karena terlalu gugup, lidahnya terpeleset pada kata 'yu'minuuna'.
“Salah lagi. Satu di kening,” bisik Yudiz, matanya berkilat jahil.
Rani mencoba memperbaiki, tapi malah salah di bagian 'ghaybi'.
“Dua salah dalam satu baris,” suara Yudiz terdengar lebih rendah sekarang.
Ia menutup Al-Qur'an di depannya dan setelah itu ia mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya.
“Kamu tahu apa artinya itu, kan?”
Rani meremas ujung hoodie-nya, menatap Yudiz dengan mata bulatnya yang panik.
“A-Abi, ini curang! Aku baru belajar!”
Yudiz tersenyum tipis, mendekat hingga jarak di antara mereka hilang.
“Aku tidak pernah curang di lintasan, begitu juga di rumah kita, Rani." ucap Yudiz dan memberikan ciuman khasnya.