NovelToon NovelToon
Digigit Mbak Janda

Digigit Mbak Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Janda / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Kaya Raya
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa dengan Rania?

Malam itu, Radit akhirnya sampai di apartemennya. Begitu pintu tertutup, ia langsung melepas jasnya dan melempar sembarangan ke sofa, lalu ia menuju kamar mandi.

Air hangat mengalir membasahi tubuhnya. Selama mandi, bayangan wajah Rania yang tadi menatapnya dari balik pagar terus muncul di ingatan.

“Gila… kenapa lucu banget sih,” gumamnya sambil mengusap wajah.

Setelah mandi, ia berganti pakaian: kaus hitam longgar dan celana pendek. Lalu kembali membuka layar ponsel dan membaca pesan dari timnya:

“Pak, proposal sudah dikirim dan diterima investor. Mereka akan menjadwalkan meeting jika diperlukan.”

Radit mengangguk kecil.

“Bagus,” gumamnya. “Berarti besok bisa agak santai.”

Ia merebahkan tubuhnya, namun matanya tidak langsung terpejam. Tangannya refleks mengambil ponsel lagi… dan membuka chat dengan Rania.

“Kalo aku chat duluan… aman gak ya?” Radit menatap langit-langit.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Akhirnya dia mengetik.

Radit: “Udah tidur?”

Belum sempat menekan kirim… ia menghapusnya.

“Enggak. Kayak anak SMA banget,” rutuknya sendiri.

Ia masuk ke dalam selimut, memejamkan mata—namun tak sampai satu menit, ia membuka mata lagi.

“Oke, sekali lagi.”

Dia mengetik ulang.

Radit: “Kamu udah tidur belum?”

Dia menatap tulisan itu lama. Terlalu formal?

Lalu ia menghapusnya lagi.

“Ah, bodoh. Besok ketemu juga.”

Namun detik berikutnya, ponselnya berbunyi.

Rania: “Kamu udah sampai kan?

Radit membeku.

"Kenapa jadi dia yang chat duluan?”

Senyum muncul tanpa ia sadari.

Ia membalas cepat.

“Udah. Kamu istirahat, ya.”

Rania hanya membalas singkat.

“Iya. Makasih.”

Titik. Satu kata itu saja sudah cukup membuat Radit tersenyum lama.

Ia mematikan lampu kamar, menarik selimut lebih tinggi.

“Besok… siang aja jemputnya,” gumamnya. “Biar dia tidur cukup.”

---

PAGI BERIKUTNYA

Matahari belum terlalu terik ketika Radit duduk di ruang tamu sambil membaca laporan singkat dari tim. Pikirannya masih fokus, tapi sesekali ia melirik jam.

09.00.

09.15.

Ia mengetuk meja dengan gelisah.

“Aku bilang siang… tapi ini lama banget.”

Akhirnya ia berdiri, berjalan mondar-mandir.

“Siang tuh jam berapa sih sebenernya? Jam sepuluh masih pagi… kan? Hah?”

Ia mengusap wajah.

“Ya udah. Jam sebelas. Jam sebelas fix.”

Begitu ia memutuskan untuk menjemput jam sebelas, ponselnya berbunyi.

Chat dari Rania.

“Radit, kamu berangkat ke kantor jam berapa?”

Radit membaca itu sambil tersenyum lebar.

“Udah nanya duluan? Bagus…”

Ia cepat membalas.

“Nanti. Aku jemput kamu jam sebelas.”

Balasan dari Rania datang cukup cepat.

“Hah? Ngapain?”

Radit mengetik sambil tersenyum kecil.

“Ngantar kamu ke kantor.”

“Aku pengen liat dulu kamu sarapan atau enggak.”

"Takut kita lembur kayak kemarin”

Butuh waktu lebih lama untuk Rania membalas yang itu.

“Ya ampun… berlebihan banget.”

Bibir Radit terangkat satu sisi,

"Cuma buat mastiin."

Chat itu terkirim.

Menit berikutnya ia terdiam, masih menunggu balasan dari Rania. Tapi nyatanya Rania tak membalas lagi pesannya.

"Sibuk mungkin, sama Aira." ucapnya mengira.

Tanpa menunggu lebih lama, Radit akhirnya mengambil kunci apartemen, merapikan rambut sekadarnya, dan keluar. Ia turun ke lobby lalu masuk ke mobil yang sudah disiapkan sopirnya sejak pagi.

“Pak, langsung ke kantor?” tanya sang sopir.

“Enggak. Ke tempat semalam dulu,” jawab Radit.

Mobil melaju menyusuri jalanan pagi. Radit menatap keluar jendela dalam diam, namun tak berapa lama pesan dari Rania mengganggu pikirannya.

"Radit, maaf. Kamu duluan aja. Aku ada urusan mendadak hari ini"

Radit mengernyit, lalu membalas "urusan mendadak?"

"Iya. Maaf"

Biasanya Rania membalas lumayan panjang dengan emot kecil, namun kali ini tidak.

"Rania, kamu serius?"

Pesannya terkirim, namun tak lagi ada balasan.

Radit menautkan alisnya.

“Aneh.”

Namun ia memutuskan untuk tidak menghubungi ulang. Kalau ia terlalu menekan, Rania justru akan merasa risih. Jadi ia memilih diam. Untuk sekarang.

"Mas, putar balik. Kita langsung ke kantor aja. Ada yang harus saya urus" perintahnya mendadak pada sopir.

---

SESAMPAINYA DI KANTOR

Radit langsung menuju lantai direksi. Beberapa staf menyapa, tapi ia hanya mengangguk sambil tetap berjalan cepat.

To-do list sudah ada di kepalanya: cek laporan, pastikan proposal aman, follow up investor Singapur, dan… menunggu Rania untuk urusan pribadinya.

Saat ia masuk ke ruangannya, Reyhan sudah di sana sambil memegang secangkir kopi.

“Baru datang?” sapa Reyhan ringan. “Muka, kenapa kusut begitu? Kurang tidur?”

Radit memandang adiknya dengan tatapan kosong.

“Biasa,” jawabnya singkat sambil melempar map ke meja.

Reyhan mengangkat alis. “Biasa? Kam tuh kalo ngomong ‘biasa’ tandanya ada yang nggak beres.”

Radit tetap diam, membuka laptop dan memeriksa email. Sementara Reyhan memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya duduk di sofa ruang itu.

“Kopinya enak nih,” katanya sok menawarkan. “Yakin gak mau?”

Radit mendesah, tapi akhirnya berjalan juga, duduk di samping Reyhan.

Baru saja ia akan mengangkat gelas kopi, ponselnya berbunyi.

Radit langsung melihat.

Bukan Rania.

Cuma tim finance.

Ia meletakkan ponsel lagi dengan lesu.

“Hah, pantes,” gumam Reyhan sambil memiringkan kepalanya. “Bukan pacarmu ya?”

Radit mendongak cepat. “Siapa?”

“Ya siapa lagi?” Reyhan menyeruput kopi tanpa dosa.

“Dia sibuk banget minggu ini."

“Nah itu. Emang kamu gak penasaran apa?” Reyhan menatap kakaknya dengan ekspresi ingin memancing.

“Ngapain penasaran. Dia emang orang sibuk.”

“Hmm. Tapi jangan kebanyakan melamun juga.” Reyhan menepuk bahu Radit. “Kadang cewek cuma butuh ruang untuk dimengerti.”

Radit menatap meja kosong di depan mereka.

Namun ada sesuatu yang terasa aneh pagi ini.

"Oh iya, kalau gitu aku ke luar dulu ya. Mau cari angin segar" kata Reyhan sambil berlalu.

“Aneh banget rasanya...”

Ia mengusap tengkuknya frustasi.

___

Saat akhirnya jam menunjukkan pukul 12.03, Rania pun tiba di kantor.

Hal pertama yang Rania rasakan adalah udara yang terasa dingin, tajam dan tidak ramah.

Begitu ia melangkah masuk, beberapa karyawan yang sedang bergerombol di pantry langsung melirik bersamaan.

“Jam segini baru masuk?”

“Ih… enak banget ya, fleksibel banget kerjanya.”

“Pegawai baru tapi berasa punya kantor sendiri.”

“Pantesan… katanya deket sama Pak Radit.”

Rania mendadak berhenti, pura-pura tidak mendengar… walau jelas semua kalimat itu masuk bagaikan duri.

Saat ia melangkah lagi, dua karyawan perempuan melewatinya sambil tersenyum kecut.

“Siang, Mbak,” ucap salah satunya dengan nada manis palsu.

“Siang,” jawab Rania singkat.

Begitu dua orang itu berbalik, ia sempat mendengar potongan suara kecil.

“Gila, pede banget. Makanya jangan numpang nama bos.”

Rania berhenti di depan pintu lift.

Ia memejamkan mata.

Dalam sekejap, semua rasa capek dan sesak itu muncul lagi.

Begitu pintu lift terbuka, ia masuk dengan dagu terangkat, meski hatinya terasa remuk.

Ia tertunduk, merasa dirinya sudah terlalu jauh. Andai Radit tidak memilihnya waktu itu, mungkin sekarang Rania tidak akan terjebak diantara perasaan yang tidak seharusnya.

Saat akhirnya pintu lift terbuka, ia langsung bergegas menuju ke ruangannya. Begitu duduk, ia meletakkan tas dan langsung membuka laptop, berusaha memfokuskan diri pada tugas yang harus dikerjakan, meski pikiran buruk muncul bergantian.

Kalau mereka berani ngomong kayak gitu di belakangku… berarti gosip tentang aku dan Radit udah sejauh itu?

Apa Radit yang bikin semuanya makin kelihatan?

Atau… aku sendiri yang kelihatan bodoh?

Ia menutup wajahnya sebentar.

Kemudian–

BRUK.

Seseorang menaruh kopi di mejanya.

Rania reflek menoleh.

Itu Raya, salah satu rekan kerja yang cukup dekat dengannya.

“Itu cappuccino. Kamu kelihatan pucat banget,” ujar Raya pelan.

Rania memaksakan senyum. “Aku… fine, kok.”

Raya duduk di sisi mejanya.

“Gausah pura-pura. Aku tadi lewat pantry, Ran.”

Tubuh Rania menegang.

“Jangan dengerin omongan mereka. Orang emang paling gampang nge-judge kalo gak tau apa-apa.” sambungnya dengan cepat.

Rania menatap kopi itu lama, sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Thanks, Ray.”

Raya tersenyum tipis lalu kembali ke tempatnya.

KEMBALI KE RUANGAN RADIT

Radit masih duduk di sofa, memandangi layar ponselnya yang tetap sepi.

Tidak ada tanda-tanda Rania.

Tidak ada balasan.

Tidak ada kabar.

Ia mengusap tengkuknya lagi, kali ini lebih gelisah.

"Aneh banget… Rania gak pernah kayak gini."

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir dengan langkah panjang.

Beberapa menit kemudian, ia menekan tombol interkom.

“Zahra, tolong cek apakah Rania sudah hadir di lantai tim produksi?”

“Sebentar, Pak.”

Radit menunggu.

Setengah menit.

Satu menit.

Lalu suara itu kembali terdengar.

“Pak… Rania baru masuk beberapa menit yang lalu. Tapi… saya dengar ada… um…pembicaraan kurang enak di pantry sebelum beliau naik.”

Radit langsung berhenti bergerak.

Tangannya mengepal pelan.

“…pembicaraan apa?”

“Maaf, Pak. Saya tidak enak menyampaikan. Tapi beberapa karyawan membahas soal jam masuk Rania… dan ada yang menyinggung nama Anda.”

Hening.

Ruangan itu mendadak mencekam.

Satu detik.

Dua detik.

Radit menutup mata… menarik napas.

Oke.

Tenang.

Jangan terbawa emosi dulu.

“Baik. Terima kasih, Zahra,” ucapnya datar.

Interkom dimatikan.

Dan di detik yang sama, mood Radit turun ke titik paling dingin hari itu.

“Hari ini… siapa pun yang bikin dia gak nyaman…” gumamnya lirih penuh tekanan,

“…nggak bakal aku biarin.”

Ia meraih jasnya, menggantungkan di lengannya, lalu melangkah keluar ruangan dengan wajah yang begitu tenang… tapi matanya gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!