Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Basilisk
...୨ৎ A P O L L O જ⁀➴...
“Bangun dan siap-siap, Apollo,” desah seorang petugas keamanan dari luar kamarku sambil menggedor pintu keras-keras.
Mereka lupa kasih dosis aku tadi malam. Artinya sekarang tanganku sudah mulai gemetar karena sakau obat, dan mood aku hancur total. Aku ingin sekali memecahkan beberapa tengkorak. Kalau aku bisa membunuh semua orang di tempat ini, aku bakal bisa hidup nyaman sendirian di sini.
Paragon adalah satu-satunya rumah yang pernah aku punya, dan meninggalkannya bukan sesuatu yang aku mau. Masalahnya cuma satu, semua orang tolol di sini harus disingkirkan tepat waktu.
Sebuah pentungan membentur jeruji pintu kamarku, dan penjaga itu membentak lagi, menyuruhku bangun. Tapi aku tetap di kasur, menghadap ke tembok, menunggu.
Pintu berderit dan terbuka. Suara beberapa pasang kaki masuk ke kamarku. Seseorang langsung meluncur ke kasurku dan menusuk tulang rusukku pakai tongkat. Rahangku mengeras, gigiku gemelutuk, tapi aku enggak bergerak. Hampir enggak bernapas.
“Bajingan, bangun!” gerutu cowok itu.
Aku bisa merasakan udara bergerak saat lengannya terangkat, dia mau pukul tulang rusukku lebih keras kali ini. Senyum pelan muncul di bibirku. Aku berbalik dan langsung cekal lengannya sebelum dia memukul.
Matanya melotot, mulutnya menganga saat aku bangun dari kasur, memaksa dia menengadah untuk melihatku, tinggiku hampir dua meter. Aku menjulang hampir tiga puluh senti di atas dia, dua kali lebih besar.
Dua penjaga lain langsung kaget. Aku bisa cium bau takut mereka, bahkan bertiga lawan satu pun, gampang buat aku.
Aku menunduk ke arah cowok yang masih pegang pentungan itu.
“Bro,” geramku.
Bau urin langsung tercium dari sela kakinya, dan itu kasih aku kepuasan. Lengannya patah, saat aku merentangkannya.
Setelah itu aku lilit lehernya dengan tanganku dan melemparnya ke dinding seberang sel. Tengkoraknya berbunyi keras waktu menabrak tembok.
Energi mengalir liar di tubuhku.
Pagi hari selalu menjadi waktu pikiran aku paling jernih, setelah delapan jam tanpa obat masuk ke tubuhku. Lupa meminum obat malam sebelumnya, membuat otakku makin tajam, walau badanku rasanya hancur.
Aku menyeruduk ke arah penjaga kedua. Dia angkat tongkat dengan jarum tebal di ujungnya. Aku menghindar, tapi penjaga ketiga berhasil memukulku. Obat penenang pun masuk ke tubuhku.
Terus aku dipukul lagi.
Sekarang badanku mulai berat.
Lesu.
Tapi aku enggak peduli. Bahkan dalam kondisi setengah mati begini pun, aku masih mematikan. Aku masih ingin meremas otak salah satu dari mereka sampai keluar dari matanya seperti pasta gigi.
“Apollo!!!” Aku dengar suara Dr. Millo dari ambang pintu. Nadanya nyaris seperti menegur anak kecil.
Aku nengok ke arah dia dan ke dua penjaga itu.
Mereka langsung menerjangku. Tiga orang lain masuk dengan buru-buru, melempar rantai dan menjeratku. Lebih banyak obat penenang disuntikkan ke tubuhku. Raungan pun keluar dari mulutku, tapi tenagaku habis. Aku enggak bisa melawan saat mereka menahanku di lantai.
Dr. Millo masuk ke kamar. Di belakangnya ada perawat mendorong troli penuh dengan jarum suntik. Sepuluh jarum suntik. Tepatnya.
Aku menghitung satu per satu waktu cairan itu masuk ke lenganku. Kadang jumlahnya lebih sedikit, kadang lebih banyak, dan ini baru satu sesi dalam sehari. Pandanganku mulai kabur. Pikiranku nyaris berhenti total.
Di satu titik, aku malah tertawa karena efek obat itu. Perasaan lega menyelimutiku, akhirnya dapat suntikan itu. Aku sudah bertahun-tahun hidup dengan obat-obatan ini. Tanpa mereka, rasanya sangat menyiksa.
Tanpa aku sadari, aku sudah diseret ke lantai atas, tempat pasien normal berada.
Tapi bukan aku.
Bukan.
Aku ini binatang terkutuk yang dirantai di ruang bawah tanah.
Mereka mendorongku sepanjang koridor, menusuk sisi tubuhku dengan tongkat sampai aku tersandung masuk ke ruang perawatan. Pandanganku kabur saat aku menengadah, mencoba menerka apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mataku jatuh ke nampan makanan.
Ingatan itu pun kembali.
Waktu sarapan.
Setidaknya aku sudah pernah membunuh satu dari mereka sebelum akhirnya dibuat teler.
Belum sempat aku menghampiri antrean makanan, seorang bajingan menyebalkan loncat dari kursinya dan jalan ke arahku dengan sepatu bot tingginya.
Astaga.
Setiap kali Torvald jalan ke arahku, ujung-ujungnya selalu buruk. Dan dari raut mukanya sekarang, jelas, dia sedang ingin bermain hari ini. Pasti ada sesuatu yang bikin dia bersemangat.
Dia bicara sesuatu ke aku, tapi cuma jadi gumaman, otakku terlalu lambat untuk menangkap artinya. Dia angkat kedua tangannya taruh di pinggul, terus mulai memperagakan gerakan seks dengan orang tak kasatmata. Itu aja yang masih bisa aku pahami. Bibirku melengkung jijik.
“Abis ditusuk dari belakang sama petugas keamanan, ya?” katanya.
Dia tertawa terbahak-bahak sambil membuat gestur seolah-olah sedang menghisap batang di tangannya, lidahnya menekan pipi dari dalam. Mata aku sekilas mengamati masker Venom yang menutupi seluruh wajahnya.
Kepalaku terlalu kacau untuk menghadapi dia sekarang. Jadi aku sandarkan bahu ke tubuhnya dan lanjut jalan ke antrean makanan.
“Hei, aku belum selesai bicara,” protesnya.
PLAAAAKKKK!
Tamparan keras mendarat di pantatku. Punggungku langsung tegak, mataku membelalak. Satu ruangan mendadak menahan napas.
Aku putar badan, melilit lehernya yang dibalut perban dengan tanganku yang besar dan angkat tubuhnya hampir satu jengkal dari lantai. Aku lari ke pinggir ruangan dan membanting dia ke dinding.
Kekacauan langsung meledak di sekitar kami.
Para pasien dan petugas keamanan malah pasang taruhan, sementara para perawat cuma mendesah dan lanjut bekerja, pura-pura enggak melihat apa-apa. Orang-orang menjerit histeris, melompat dari kursinya masing-masing, naik ke atas meja.
Torvald menendang-nendang sambil tersedak. Jari-jarinya yang bersarung tangan nyoba melepaskan peganganku, tapi gagal. Senyum nyengir muncul di wajahku.
Mungkin hari ini akan jadi hari yang bagus.
Mungkin hari ini akhirnya aku akan membunuh bajingan kecil ini.
Aku sudah terlalu lama mencobanya dan selalu gagal.
Tapi tiba-tiba ....
Rasa sakit yang hampir membuatku lumpuh menyambar dari titik di mana tanganku menyentuh kulitnya.
Sial.
Astaga.
Setiap kali racunnya masuk ke tubuhku, dan sebelum aku sadar, aku sudah tergeletak telentang, enggak bisa bergerak, busa pun keluar dari mulutku.
Torvald menari-nari di sekitar aku, sengaja menginjak jari-jariku.
Semua pasien langsung bergemuruh ribut.
Kayaknya aku sempat dengar Torvald bernyanyi sesuatu di tengah hiruk-pikuk histeris itu, tentang pasien baru dan si rambut merah, sebelum rasa sakit akhirnya menggelapkan segalanya ...
Dan aku pingsan.