Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Sang Penyelamat
Senin pagi di SMA Pelita Bangsa terasa seperti adegan pembuka film remaja Amerika di mana sang tokoh utama berjalan masuk dengan efek slow motion.
Biasanya, Julian berjalan cepat, mata lurus ke depan, menghindari interaksi yang tidak perlu. Tapi hari ini, koridor sekolah terasa berbeda.
Setiap Julian melangkah, kepala menoleh.
Setiap Julian lewat, bisik-bisik terdengar.
"Itu Kak Julian..."
"Itu Phantom..."
"Gila, ganteng banget kalau nggak pake mode galak."
Julian masih memakai seragam yang rapi—kemeja dimasukkan, dasi terpasang sempurna. Tapi ada satu hal yang berbeda: senyumnya. Bukan senyum sopan robotik, tapi senyum santai yang memancarkan aura kepercayaan diri baru.
Di tangannya, dia tidak lagi memegang buku tata tertib, melainkan sebuah pick gitar merah yang dia mainkan di sela-sela jarinya.
"Pagi, Jul!" sapa seorang siswa kelas 10 yang biasanya lari kalau liat Julian.
"Pagi," balas Julian ramah.
Sesampainya di lobi, dia melihat mading sekolah dikerumuni banyak orang. Julian mendekat.
Di sana, tertempel pengumuman resmi dengan kop surat Kepala Sekolah.
KEPUTUSAN KEPALA SEKOLAH
Nomor: 099/SK/PB/XI/2025
1. DIBERHENTIKAN DENGAN TIDAK HORMAT:
Sdr. Rian Santoso (Kelas XI IPS 2) dari jabatan Ketua Pelaksana Pensi dan keanggotaan OSIS, terkait pelanggaran berat penyalahgunaan dana sekolah.
2. SKORSING AKADEMIK:
Sdr. Rian Santoso dan Sdr. Doni Pratama dijatuhi skorsing selama 2 minggu dan wajib mengikuti program konseling.
3. PEMULIHAN NAMA BAIK:
Sdr. Julian Pradana dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan sebelumnya dan dipulihkan nama baiknya sebagai siswa teladan.
Julian membaca pengumuman itu dengan perasaan lega yang luar biasa. Keadilan akhirnya ditegakkan. Tidak ada lagi Rian yang licik, tidak ada lagi Doni yang mengancam.
"Puas lo?"
Sebuah tepukan keras mendarat di punggung Julian.
Alea berdiri di sana, menyeringai lebar sambil mengunyah permen lolipop. Di belakangnya, trio The Rebels (Raka, Dito, Beni) berbaris layaknya pengawal pribadi.
"Lumayan," jawab Julian. "Mekanisme keadilan sekolah bekerja lebih cepat dari dugaan saya."
"Itu karena bokap lo nelpon Pak Burhan Sabtu malem," bisik Alea sambil terkekeh. "Gue denger Pak Burhan dimarahin abis-abisan karena hampir mecat 'aset berharga' sekolah gara-gara fitnah murahan."
Julian tertawa kecil. "Papa memang... efisien."
"Eh, Phantom!" seru Raka. "Nanti sore latihan kan? Studio Bising udah gue semprot pewangi ruangan nih, khusus buat lo."
"Tentu," jawab Julian. "Tapi saya harus lapor ke 'kantor pusat' dulu."
Julian menunjuk ruang Kepala Sekolah.
Di dalam ruangan Pak Burhan.
Suasananya canggung. Pak Burhan duduk di kursinya, memandang Julian dan Alea bergantian. Di meja, tumpukan map laporan keuangan Pensi (versi asli yang diselamatkan Julian) tertata rapi.
"Ehem," Pak Burhan berdehem, membersihkan tenggorokan. "Jadi... Julian. Saya harus minta maaf."
Julian mengangguk sopan. "Tidak perlu, Pak. Situasinya memang membingungkan saat itu. Bapak hanya bertindak sesuai prosedur."
"Kamu menyelamatkan uang sekolah puluhan juta rupiah, Julian," kata Pak Burhan, nada suaranya penuh kekaguman sekaligus rasa bersalah. "Kalau kamu dan Aleandra tidak melakukan aksi... ekstrem... di panggung itu, mungkin sekolah ini sudah bangkrut ditipu Rian."
Alea menyenggol lengan Julian diam-diam. Tuh kan, kita pahlawan.
"Jadi, sebagai bentuk apresiasi," lanjut Pak Burhan, "Sekolah mencabut diskualifikasi band The Rebels. Kalian resmi menjadi Penampil Terbaik Pensi tahun ini berdasarkan voting penonton (yang 99% memilih kalian). Piala dan sertifikatnya akan diberikan saat upacara bendera nanti."
Mata Alea berbinar. "Serius, Pak? Dapet piala?"
"Serius. Dan kamu, Julian," Pak Burhan menatap mantan Ketua OSIS itu. "Saya ingin kamu kembali menjabat sebagai Ketua OSIS. Masa jabatanmu masih ada tiga bulan lagi."
Julian terdiam sejenak.
Jabatan itu adalah segalanya baginya dulu. Simbol kekuasaan, simbol kebanggaan ayahnya. Tapi sekarang... prioritasnya sudah berubah.
Julian menggeleng pelan.
"Terima kasih tawarannya, Pak. Tapi saya menolak."
Pak Burhan kaget. Alea juga menoleh kaget.
"Kenapa? Bukannya itu hidup lo?" bisik Alea.
"Itu hidup saya yang lama," jawab Julian tenang. Dia menatap Pak Burhan. "Saya ingin fokus mengejar ketertinggalan materi Olimpiade untuk memenuhi janji saya pada Ayah. Dan sisa waktu luang saya... saya ingin gunakan untuk bermusik."
Julian tersenyum tipis.
"Saya rasa Sarah lebih pantas jadi Ketua OSIS sementara. Dia jujur, teliti, dan dia yang membantu kami membongkar kasus ini dari dalam. Dia layak dapat kesempatan memimpin."
Pak Burhan menatap Julian lama, lalu mengangguk mengerti. "Kamu sudah dewasa, Julian. Baiklah. Saya setuju."
Keluar dari ruang Kepala Sekolah, Alea langsung menghadang Julian di koridor sepi.
"Lo serius nolak jabatan Ketos?" tanya Alea tak percaya. "Lo nggak sayang sama ban lengan biru lo itu?"
Julian bersandar di dinding, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Santai.
"Ban lengan itu berat, Alea. Gue lebih suka megang gitar sekarang."
Alea tertawa, menggeleng-gelengkan kepala. "Lo beneran udah berubah ya. Junaedi udah take over tubuh Julian sepenuhnya."
"Mungkin," Julian mengangkat bahu. "Atau mungkin ini versi upgrade. Julian 2.0."
Tiba-tiba, Julian menatap Alea intens. Tatapan yang membuat tawa Alea mati perlahan dan digantikan oleh detak jantung yang tak beraturan.
"Le," panggil Julian.
"Apa?"
"Lo inget pas kita lari dari panggung ke parkiran?"
"Inget. Kenapa? Tangan lo keringetan parah waktu itu," Alea mencoba melucu untuk menutupi gugup.
"Waktu itu gue belum sempet bilang sesuatu," kata Julian. Dia melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka. Koridor itu sepi karena bel masuk sudah berbunyi lima menit lalu (mereka punya dispensasi dari Kepsek).
"Bilang apa?" suara Alea mengecil.
Julian menatap mata cokelat Alea.
"Gue bilang kita berhasil nyelamatin Pensi. Gue bilang kita berhasil nyelamatin uang sekolah. Tapi sebenernya..." Julian menyentuh ujung rambut merah Alea pelan. "...yang paling penting, lo udah nyelamatin gue."
Alea menahan napas. "Gue nggak ngapa-ngapain, Jul. Gue cuma..."
"Lo ngasih gue alesan buat ngelawan," potong Julian lembut. "Lo ngasih gue keberanian buat ngerobek topeng gue sendiri. Kalau nggak ada lo, gue mungkin sekarang udah nangis di asrama Magelang."
Wajah Alea memerah padam. Dia tidak biasa menghadapi Julian mode romantis begini. Dia lebih siap diajak berantem atau debat Fisika.
"Ya... sama-sama," gumam Alea kikuk. "Lo juga nyelamatin nilai rapot gue. Jadi impas."
"Belum impas," kata Julian.
"Hah? Kurang apa lagi?"
"Gue masih punya utang."
"Utang apa?"
"Bakso," Julian tersenyum miring. "Waktu itu gue belum sempet bayar karena kita buru-buru kabur. Nanti pulang sekolah, gue traktir bakso lagi. Tapi kali ini..."
Julian mendekatkan wajahnya sedikit.
"...kali ini sebagai date. Bukan sebagai tutor dan murid."
Mata Alea membelalak sempurna. Date? Kencan? Julian Pradana mengajak kencan?!
"Lo... lo serius?"
"Gue nggak pernah bercanda soal transaksi keuangan, Alea," goda Julian, tapi matanya hangat. "Gimana? Deal or No Deal?"
Alea menatap cowok di depannya. Cowok yang dulu dia benci setengah mati, cowok yang kaku kayak tiang listrik, tapi sekarang jadi cowok paling keren yang pernah dia kenal.
Alea tersenyum lebar, senyum yang memamerkan giginya.
"Deal," jawab Alea mantap. "Tapi gue mau nambah es campur."
"Berapa pun kalori yang kamu mau, saya traktir."
"Dasar nerd!" Alea tertawa, lalu meninju pelan lengan Julian.
Mereka berjalan beriringan menuju kelas masing-masing. Tidak ada pegangan tangan (karena ini masih area sekolah dan Julian masih punya sisa-sisa etika OSIS), tapi jarak di antara bahu mereka sangat dekat. Sangat, sangat dekat.
Di balik jendela kelas, siswa-siswa melihat mereka lewat.
"Liat deh, Phantom sama Alea."
"Cocok banget ya?"
"Iya. Yang satu pinter, yang satu gila. Pasangan pas."
Julian Pradana, sang penyelamat Pensi.
Aleandra Kamila, sang penyelamat Julian.
Rumus cinta mereka akhirnya menemukan hasil yang seimbang. Kiri sama dengan kanan. Logika sama dengan perasaan.
...****************...
Bersambung.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️