Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan
Hujan mulai turun membasahi bumi Berlin yang hangus, seolah mencoba memadamkan sisa-sia tragedi malam itu. Lucas tiba dengan sebuah van hitam bermesin senyap hanya dalam waktu sepuluh menit setelah menerima panggilan darurat Maximillian. Ia tidak banyak bertanya saat melihat kondisi Max yang berantakan, Sophie yang gemetar, dan Hans yang masih tak sadarkan diri dalam dekapan petugas medis yang sebenarnya adalah tim keamanan internal.
“Schwarzwald. Sekarang,” perintah Max dengan nada yang tak terbantahkan.
Mobil melaju menembus kegelapan, meninggalkan kerumunan pemadam kebakaran dan polisi. Di dalam Van, suasana terasa sangat mencekam. Keheningan diantara Maximillian dan Sophie lebih menyesakkan daripada asap yang baru saja mereka hirup.
Hans dibaringkan di kursi belakang dengan tabung oksigen portabel yang dipasang oleh Lucas. Pria itu masih belum sadarkan diri, napasnya pendek dan berat. Sophie duduk disamping ayahnya, menggenggam tangan Hans yang dingin, menggenggam tangan Hans yang dingin, sementara matanya terus melirik ke arah kaca spion tengah.
Di sana, ia bisa melihat mata Maximilian yang tajam terus mengawasinya. Max duduk di kursi depan, membiarkan Lucas mengemudi. Meski bahu Max terus mengucurkan darah yang merembes ke kain jok, ia menolak untuk diobati sampai mereka tiba.
"Lucas, pastikan tidak ada satu pun kendaraan yang membuntuti kita," ucap Max dingin.
Lucas melirik sekilas ke arah tuannya melalui cermin. "Saya sudah mematikan semua pelacak GPS di mobil ini, Tuan Muda. Kita bersih."
Sophie merasa seperti hewan buruan yang tertangkap. Ia tahu ke mana mereka pergi. Schwarzwald Villa adalah kediaman pribadi Max yang tidak terdaftar di aset perusahaan—sebuah benteng tersembunyi di pinggiran hutan yang jauh dari jangkauan siapapun.
...****************...
Setelah perjalanan dua jam yang sunyi, van itu memasuki gerbang besi tinggi yang tersembunyi di balik pepohonan pinus yang rapat. Sebuah bangunan bergaya modern-minimalis dengan dinding kaca antipeluru berdiri kokoh di tengah hutan.
Begitu mobil berhenti, Lucas segera membantu memindahkan Hans ke dalam kamar medis pribadi di dalam vila tersebut. Sophie hendak mengikuti ayahnya, namun sebuah tangan besar mencengkeram lengannya dengan kuat begitu ia turun dari mobil.
"Biarkan Lucas dan tim medis yang mengurusnya," desis Max. Wajahnya kini pucat pasi karena kehilangan banyak darah, namun cengkeramannya tetap sekuat baja. "Ayahmu aman. Dia akan mendapatkan perawatan terbaik yang tidak bisa diberikan oleh rumah sakit mana pun di kota ini."
Sophie hanya terdiam, mengangguk kaku tanpa suara saat melihat ayahnya dilarikan ke dalam kamar oleh Lucas dan tim perawat berseragam abu-abu. Pikirannya masih berkabut. Siapa yang membakar gedung itu? Apakah ini serangan balasan terhadap ayahnya, ataukah seseorang telah mengendus pergerakannya di Hoffmann Motors?
Namun, lamunannya terputus oleh suara napas yang berat dan terputus-putus. Di sampingnya, Maximilian tampak lemah. Wajah pria itu kini seputih kertas, peluhnya bercucuran deras meski udara hutan malam itu menggigit tulang. Cengkeraman tangannya yang tadi sekuat baja kini mulai mengendur berubah bergetar karena kehilangan banyak darah.
Sophie menghela napas kesal, sebuah naluri kepedulian yang tak diinginkan muncul di dadanya. Pria ini selalu bertindak seolah ia memiliki sembilan nyawa, menomorduakan nyawanya sendiri demi orang lain.
"Duduk di sini," perintah Sophie tegas, saat menuntun Max ke sebuah kursi beludru di lobi vila yang megah namun dingin itu. "Diam di sini. Aku akan memanggil petugas medis.”
Saat Sophie hendak berbalik, tangan Max yang dingin dan basah oleh keringat menyambar pergelangan tangannya. Tenaganya tidak besar, namun tatapannya mengunci Sophie dengan intensitas yang menyakitkan.
"Aku tidak butuh medis," desis Max, suaranya parau, nyaris habis. "Aku butuh penjelasan. Sekarang. Papan itu... data di laptopku... kau memanfaatkanku selama ini?"
Sophie mematung. Cahaya lampu gantung vila yang mewah memantul di mata Max, memperlihatkan kehancuran yang coba ia sembunyikan di balik amarah. Sophie ragu. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ayahnya adalah korban, sementara Max tumbuh besar dengan doktrin bahwa Hans Adler adalah pengkhianat?
"Max, ini bukan waktu yang tepat. Kau sedang terluka parah—"
"KATAKAN!" raung Max, suaranya bergema di ruangan yang luas itu, memicu batuk yang membuatnya meringis kesakitan. "Kau mendekatiku, membiarkan aku menyentuhmu, bahkan membiarkanku tidur di sampingmu... hanya untuk mencari celah demi menghancurkan ayahku? Kau menganggapku apa, Sophie? Sebuah batu loncatan untuk balas dendammu?"
Sophie memutar tubuhnya, amarahnya yang selama ini dipendam kini ikut terpancing. "Kau sendiri apa? Kau menjadikanku asistenmu hanya karena dendam pribadimu pada ayahku. Kau ingin aku membayar 'dosa' yang tidak pernah dilakukan ayahku. Kita berdua sama-sama menggunakan satu sama lain, Max!"
"TIDAK SAMA!" Max berdiri dengan sisa tenaganya, langkahnya goyah namun ia tetap berusaha mendominasi. "Aku sudah mulai melepaskan dendam itu! Aku mulai memandangmu hanya sebagai wanita yang kusukai. Aku menjadikanmu pengecualian dalam hidupku, sementara kau... kau menjadikanku target!"
"Karena ayahmu adalah monster!" teriak Sophie, air matanya mulai mengalir. "Data yang aku ambil... itu bukti bahwa Richard Hoffmann menyabotase sistem ayahku! Ayahku bukan pencuri, dia difitnah, dihancurkan, dan dibiarkan membusuk sementara ayahmu membangun kerajaan di atas penderitaan kami!"
Max tertawa sinis, sebuah tawa getir yang penuh luka. "Buktinya? Kau bilang ayahku monster tanpa bukti fisik yang tersisa sekarang? Apartemenmu terbakar, papan itu jadi abu! Kau hanya punya tuduhan dari seorang putri yang hatinya penuh racun!"
"Racun itu datang dari keluargamu!" Sophie melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Max. "Kau kecewa karena aku memanfaatmu? Bayangkan rasanya menjadi aku, Max. Menyukai pria yang ayahnya membunuh ibuku secara perlahan lewat kemiskinan dan kehinaan! Kau tidak tahu apa-apa!"
Kata "menyukai" itu lolos begitu saja dari bibir Sophie, membuat suasana mendadak hening. Max terdiam, napasnya tersengal, matanya menatap Sophie dengan binar yang tak terbaca. Di antara kebencian dan rasa dikhianati, kebenaran tentang perasaan mereka justru meledak di waktu yang paling salah.
Max mencengkeram kerah mantel Sophie, bukan untuk menyakiti, tapi agar ia tidak terjatuh. "Jika kau menyukaiku... kau seharusnya bicara padaku, bukan diam-diam mencurinya."
"Bicara padamu?" Sophie tersenyum pahit. "Dan membiarkanmu memilih antara aku atau ayahmu? Kita berdua tahu siapa yang akan kau pilih, Maximilian."
Pandangan Max mulai mengabur. Kekuatannya habis. Sebelum ia bisa membalas, tubuhnya limbung. Sophie dengan sigap menahan tubuh besar itu agar tidak menghantam lantai, membiarkan kepala Max jatuh di bahunya.
"Max! Maximilian!"
Di dalam dekapan Sophie yang gemetar, Max berbisik sangat pelan sebelum kehilangan kesadarannya, "Buktikan... buktikan kalau aku salah... atau aku sendiri yang akan menghancurkanmu."
...****************...
Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Saat Maximilian akhirnya membuka kelopak matanya, hal pertama yang ia rasakan adalah bau antiseptik yang tajam dan denyut menyakitkan di pelipisnya. Ruangan itu luas, mewah, namun terasa mati—sepi dan sunyi tanpa suara, seolah-olah kehidupan telah dihisap keluar dari sana.
Max berusaha bangun, mengabaikan rasa berat di kepalanya yang terasa seperti dihantam palu besi. Pikirannya langsung melesat pada bayangan Sophie dan perdebatan mereka dini hari.
Dengan langkah yang masih sedikit goyah dan tangan yang menekan bahunya yang sudah dibalut perban bersih, Max melangkah keluar dari kamarnya. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu.
Di sana, di bawah cahaya lampu temaram, ia melihat Sophie. Wanita itu tidak sendirian. Ia berdiri cukup dekat dengan Lucas. Mereka tampak sedang berbicara serius dengan nada rendah. Dari posisi Max, ia bisa melihat bagaimana Sophie menatap Lucas dengan raut wajah yang tampak lebih lunak dibandingkan saat berhadapan dengannya terakhir.
Darah Max mendidih seketika. Sebuah rasa panas yang bukan berasal dari api kebakaran menyulut dadanya: kecemburuan yang primitif dan posesif.
"Apa yang kalian bicarakan?" suara Max yang serak dan dingin memecah percakapan mereka.
Sophie dan Lucas tersentak, menoleh secara bersamaan. Terkejut melihat Max sudah bisa berdiri tegak di belakang mereka.
"Tuan, Anda seharusnya masih beristirahat," Lucas mencoba mendekat untuk membantu, namun Max mengangkat tangannya, memberikan gestur penolakan yang kasar.
"Pergi, Lucas. Tinggalkan kamu," perintah Max dengan nada rendah yang mengandung ancaman. "Jangan biarkan aku mengulanginya."
Lucas sempat melirik Sophie dengan ragu, namun ia tahu lebih baik tidak memancing amarah tuannya yang sedang tidak stabil. Ia menunduk hormat lalu melangkah pergi, meninggalkan keheningan yang jauh lebih berbahaya di antara Max dan Sophie.
Sophie menghela napas panjang, mencoba menekan rasa lelahnya. Ia melangkah mendekati Max. "Max, kau baru saja pingsan karena kehilangan darah. Kembali ke tempat tidurmu sekarang."
Max tertawa sinis, langkahnya mendekat hingga ia berada tepat di depan Sophie, mengurung wanita itu dengan auranya yang mengintimidasi.
"Kenapa? Apa aku mengganggu rencanamu? Setelah gagal memanfaatkanku karena aku sudah tahu kebusukanmu, sekarang kau
mencoba mendekati Lucas?"
Sophie membelalak, tidak percaya dengan tuduhan absurd itu. "Apa maksudmu?"
"Kau pasti tahu bahwa Lucas adalah orang yang memegang semua kunci aksesku," desis Max, matanya berkilat penuh obsesi dan luka. "Apa itu strategimu sekarang, Sophie? Merayu tangan kananku setelah kau tidak bisa lagi berpura-pura mencintaiku?"
Sophie mengepalkan tangannya di balik mantelnya. Amarah membuncah di dadanya, ingin rasanya ia menampar wajah angkuh itu. Namun, ia menarik napas dalam-dalam, memaksa emosinya untuk tetap tenang. Ia sadar, tidak ada gunanya berdebat dengan pria yang harga dirinya sedang terluka dan pikirannya diracuni oleh kecemburuan buta.
"Terserah kau saja, Max," jawab Sophie dengan suara yang sangat tenang, meski matanya menatap tajam. "Aku berbicara dengan Lucas untuk menanyakan kondisi ayahku. Jika kau ingin mati karena infeksi atau kelelahan hanya untuk memuaskan ego dan kecemburuanmu, silakan. Tapi jangan bawa-bawa aku ke dalam delusimu."
Sophie berbalik, hendak meninggalkan Max, namun Max menyambar pergelangan tangannya, menariknya kembali hingga mereka bersentuhan.
"Kau tidak akan pergi ke mana pun, Sophie Adler. Kau tetap di sini, di bawah pengawasanku, sampai aku bisa memutuskan apakah aku harus menghancurkanmu atau tetap memilikimu."
Max tidak memedulikan rasa sakit yang berdenyut di bahunya. Dengan cengkeraman yang tak terpatahkan, ia menyeret Sophie menelusuri lorong vila yang sunyi menuju sebuah ruangan berpintu kayu ek hitam. Ia menendang pintu itu hingga terbuka, memperlihatkan sebuah ruang kerja luas yang berbau aroma kertas baru dan kemewahan yang dingin.
BRAK!
Max melepaskan tangan Sophie tepat di depan meja mahagoni besar yang dipenuhi tumpukan dokumen dan tiga layar monitor yang menyala.
"Duduk," perintah Max. Suaranya tidak lagi serak karena lemah, melainkan tajam dan penuh otoritas, persis seperti hari pertama Sophie menginjakkan kaki di kantor Hoffmann Motors.
Sophie menatap meja itu, lalu menatap Max dengan tidak percaya. "Untuk apa membawaku kesini?"
Max tidak langsung menjawab. Ia melangkah memutari meja, duduk di kursi kebesarannya dengan punggung tegak, mengabaikan fakta bahwa wajahnya masih sepucat mayat. Ia menyalakan layar monitor utama dan mendorong tumpukan map audit ke arah Sophie.
"Tidak ada hari libur untukmu, Nona Adler," desis Max dingin. Matanya yang gelap menatap Sophie tanpa belas kasihan. "Kau ingin bukti untuk menghancurkan ayahku, bukan? Kerjakan audit proyek Munich ini. Selesaikan laporan konsolidasi aset Lutz-Logistics yang tertunda. Aku ingin semuanya selesai sebelum matahari tenggelam. Jika ada satu angka saja yang salah, aku tidak akan membiarkanmu melihat ayahmu malam ini."
Sophie merasakan dadanya sesak oleh amarah. "Apa alasanmu, Max?"
"Alasanku? Aku hanya ingin menunjukkan bahwa akulah yang memegang kendali," balas Max kejam. Ia bersandar, membiarkan luka di bahunya sedikit tertekan, namun ekspresinya tidak berubah. "Kau sudah mencuri data dariku. Kau menggunakan akses yang kuberikan untuk menusukku. Sekarang, kau akan bekerja untukku—secara nyata. Anggap ini sebagai cara untuk membayar 'biaya keamanan' yang kuberikan pada ayahmu di bawah atapku."
Dalam hati, Max merasakan perih yang luar biasa. Ia membenci dirinya sendiri karena harus bersikap sekejam ini pada wanita yang nyaris membuatnya mengkhianati keluarganya sendiri.
Namun, rasa kecewa itu terlalu besar. Ia butuh Sophie tetap berada di bawah jangkauan matanya, di bawah perintahnya, karena jika ia membiarkan Sophie bebas sedikit saja, ia takut ia akan kehilangan kendali dan justru kembali memohon pada wanita itu untuk tetap tinggal.
Sophie menatap tumpukan kertas itu dengan tangan gemetar. Ia tahu Max sedang menghukumnya dengan cara yang paling halus namun menyakitkan: menjadikannya budak korporat di tengah tragedi pribadinya.
"Baik, Tuan Hoffmann," jawab Sophie dengan suara yang bergetar namun penuh tekad. Ia menarik kursi di depan meja Max dan duduk dengan punggung tegak.
Max hanya terdiam, menatap Sophie yang mulai berkutat dengan dokumen-dokumen itu.
Suasana di ruang kerja itu menjadi medan perang sunyi, hanya diiringi suara goresan pena dan ketikan keyboard. Max terus mengawasi Sophie dari balik mejanya, menjaga jarak yang sangat dekat namun terasa ribuan mil jauhnya, seolah-olah mereka adalah dua orang asing yang sedang merencanakan kehancuran satu sama lain di bawah satu lampu yang sama.