Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemberat dari Tanah Makam
Poseidon terus membesar. Tubuh airnya menyerap kelembapan dari udara, dari tanah, bahkan dari pepohonan yang tersisa di sekitar alun-alun. Daun-daun beringin mengering dan rontok dalam hitungan detik, berubah menjadi debu cokelat. Sang Dewa bukan lagi sekadar raksasa; ia adalah badai hidup yang ingin menjadikan Jawa sebagai gurun garam.
"Lihat aku!" gema suaranya, membuat gendang telinga sakit. "Aku adalah siklus air! Aku adalah hujan dan sungai! Bagaimana kalian bisa mengubur sesuatu yang tidak memiliki bentuk?"
Sekar berdiri di samping Ratu Kidul. Tangannya yang kecil menggenggam kantong kain kumal berisi tanah Imogiri. Di sisi lain, tombak Baru Klinting tergeletak di pasir, bilah hitamnya masih bergetar, seolah sedang menunggu perintah terakhir.
"Air memang tidak punya bentuk," bisik Ratu Kidul, matanya menatap tajam ke arah monster itu. "Tapi air selalu patuh pada wadahnya. Dan tanah... tanah adalah wadah yang paling tua."
Ratu menoleh pada Sekar. "Sekar, lemparkan tanah itu. Bukan ke tubuhnya. Tapi ke kakinya."
"Ke kakinya?"
"Ya. Paksa dia menapak bumi. Selama dia melayang di atas bantalan air, dia tak tersentuh. Kita harus membuatnya 'membumi'."
Sekar mengangguk. Ia berlari maju, mendekati pusaran angin di bawah tubuh Poseidon.
Angin kencang menerpa wajahnya, membawa butiran pasir tajam. Sekar melindungi matanya dengan lengan. Jaraknya tinggal sepuluh meter dari pusat badai.
Poseidon melihatnya. "Mau main pasir lagi, Kecil?"
Sebuah tentakel air melesat turun untuk menepuk Sekar.
Tapi Sekar sudah siap. Ia tidak menghindar. Ia justru melompat menyongsong tentakel itu.
Di udara, ia membuka ikatan kantong kain itu.
"Ini salam dari raja-raja yang pernah kau remehkan!" teriak Sekar.
Ia menebarkan tanah hitam itu ke udara.
Hanya segenggam tanah. Secara logika, tanah itu seharusnya hilang tertiup angin badai.
Tapi ini tanah Imogiri. Tanah yang telah menyerap doa dan tahlil selama ratusan tahun. Tanah yang beratnya melebihi emas.
Saat butiran tanah itu menyentuh tentakel air Poseidon, sesuatu yang ajaib terjadi.
Sreett...
Air itu tidak membasahi tanah. Tanah itu yang meminum airnya.
Seketika, tentakel bening itu berubah warna menjadi cokelat keruh. Lumpur.
Dan lumpur itu berat.
"Apa?!" Poseidon tersentak. Ia merasa salah satu kakinya tiba-tiba menjadi sangat berat, seolah digelayuti jangkar besi. Tentakel itu jatuh menghantam tanah dengan suara bugh yang padat. Tidak bisa diangkat lagi.
Sekar mendarat berguling, lalu menebar sisa tanahnya ke arah kaki-kaki tentakel yang lain.
Reaksinya berantai. Tanah itu membelah diri secara magis, menyebar seperti wabah, menginfeksi tubuh air murni Poseidon.
Kaki demi kaki berubah menjadi lumpur liat yang kaku.
Poseidon meraung panik. Ia mencoba terbang naik, kembali ke angkasa. Tapi separuh tubuh bagian bawahnya kini terbuat dari tanah liat basah yang menempel erat pada gravitasi bumi.
"Kotoran apa ini?! Lepaskan aku!"
"Itu bukan kotoran," suara Ratu Kidul terdengar dari langit. Sang Ratu turun perlahan, selendang hijaunya berkibar menjadi jaring cahaya. "Itu adalah Bumi. Kau terlalu lama di laut sampai lupa betapa beratnya dosa di daratan."
Ratu Kidul menghentakkan kakinya ke tanah Alun-Alun.
DUM!
Tanah di antara dua pohon beringin kembar (Waringin Kurung) retak.
Retakan itu melebar, membentuk lubang hitam menganga. Angin dingin berbau melati keluar dari sana. Itu bukan lubang biasa. Itu adalah gerbang menuju sumbu imajiner bawah tanah—saluran purba yang menghubungkan Keraton dengan Laut Selatan, tapi kali ini, arusnya dibalik.
Lubang itu menghisap.
Poseidon, yang kini berat karena lumpur, mulai terseret ke arah lubang itu. Kaki-kaki lumpurnya membuat parit-parit dalam di pasir alun-alun saat ia berusaha menahan diri.
"TIDAK! AKU TIDAK AKAN MASUK KE LIANG TIKUS ITU!"
Poseidon menggunakan tangan-tangan atasnya yang masih berupa air murni untuk mencengkeram gedung-gedung di sekitar alun-alun. Ia berpegangan pada tiang bendera, pada atap masjid, pada apa saja.
Kekuatannya masih terlalu besar. Lubang itu tidak cukup kuat menghisapnya.
"Dia bertahan!" seru Sekar, melihat bangunan-bangunan mulai runtuh ditarik oleh Dewa yang panik itu.
"Dia butuh diikat," kata Ratu Kidul. "Dia butuh rantai."
Sekar menoleh ke arah Baru Klinting.
Tombak itu masih tergeletak di sana.
Sekar berlari mengambilnya. Saat ia menyentuh gagangnya, ia tidak merasakan panas lagi. Ia merasakan denyut nadi.
Tombak itu bukan lagi benda mati. Di dalamnya, jiwa naga Baru Klinting telah bangun sepenuhnya setelah mencicipi darah dewa tadi.
"Naga..." bisik Sekar. "Kamu dulu dihukum melingkari gunung karena rakus. Sekarang... maukah kamu menebus dosamu dengan melingkari sesuatu yang lebih besar?"
Tombak itu bergetar hebat di tangan Sekar. Bilahnya memanjang, meliuk, menjadi lunak seperti karet tapi keras seperti baja.
Tombak itu berubah wujud.
Bukan lagi sebatang besi lurus. Ia menjadi seekor ular naga hitam legam yang panjangnya tak terkira, dengan sisik-sisik api yang menyala.
Naga Baru Klinting.
Naga itu tidak menyerang Sekar. Ia menatap Sekar dengan mata emasnya, lalu mengangguk.
Sekar tidak perlu melemparnya.
Naga itu melesat sendiri dari tangan Sekar. Ia terbang bagaikan kilat hitam, melilit tubuh raksasa Poseidon.
SRAAAK!
Lilitan pertama mengikat tangan-tangan Poseidon ke badannya. Lilitan kedua mengunci lehernya. Lilitan ketiga membungkus ekor lumpurnya.
"Lepaskan aku, cacing tanah!" teriak Poseidon, meronta sekuat tenaga.
Tapi Baru Klinting bukan tali biasa. Semakin Poseidon meronta, semakin kuat lilitannya. Sisik-sisik api naga itu membakar kulit air Poseidon, membuat airnya mendidih dan menguap, mengurangi massa tubuhnya.
"Sekarang, Gusti!" teriak Sekar pada Ratu Kidul.
Ratu Kidul mengangkat kedua tangannya. Dari lubang di tanah itu, air bah menyembur keluar—bukan untuk mendorong, tapi untuk menarik. Air itu membentuk tangan-tangan raksasa yang menggenggam kaki lumpur Poseidon.
"Turunlah, Tuan Tamu," ucap Ratu dingin. "Kamar bawah tanahmu sudah siap."
Kombinasi berat tanah makam, lilitan naga api, dan hisapan air Ratu Kidul akhirnya tak terbendung.
Cengkeraman Poseidon pada dunia atas terlepas.
"TIDAAAAAAKKKK!!!"
Jeritan Poseidon menggema, memecahkan kaca-kaca jendela di radius lima kilometer.
Tubuh raksasanya jatuh. Tersedot masuk ke dalam lubang di antara dua beringin itu.
BLAM!
Ia lenyap ditelan bumi.
Tapi lubang itu tidak langsung menutup. Suara raungan marah masih terdengar dari dalam, semakin lama semakin jauh, semakin dalam. Bumi bergetar hebat, seperti ada kereta api yang melaju vertikal ke bawah tanah.
Sekar merangkak ke bibir lubang, napasnya memburu. Ia mengintip ke dalam kegelapan.
"Apakah... apakah dia sudah sampai?"
Ratu Kidul mendarat di samping Sekar. Wajah cantiknya terlihat lelah, pucat pasi. Ia menempelkan telinganya ke tanah.
"Belum," jawab Ratu. "Dia masih melawan di tengah jalan. Dia mencoba menjebol dinding tanah untuk naik lagi."
Ratu menatap Sekar.
"Kita butuh pasak, Sekar. Penutup lubang. Sesuatu yang tidak bisa dia geser dari bawah."
Sekar melihat sekeliling. Alun-alun hancur lebur. Tidak ada batu yang cukup besar.
"Apa yang bisa menutup lubang sebesar ini?"
Ratu Kidul tersenyum sedih. Ia menunjuk ke arah puing-puing Bangsal Pagelaran yang runtuh. Di sana, di antara reruntuhan kayu dan genteng, ada satu benda yang anehnya masih utuh berdiri tegak, meski tiang penyangganya sudah hilang.
Payung Kebesaran Keraton. Songsong Agung.
Payung emas berlapis kain sutra kuning itu berdiri tegak di atas puing, tidak tersentuh debu sedikitpun.
"Kehormatan," kata Ratu Kidul. "Hanya kehormatan Raja yang bisa menyegel arogansi Dewa."
Sekar mengerti.
Ia berlari mengambil payung besar itu. Berat. Sangat berat. Bukan berat fisik, tapi berat aura.
Ia menyeret payung itu ke bibir lubang.
"Bantu saya, Gusti!"
Ratu Kidul dan Sekar memegang gagang payung itu bersama-sama.
Di bawah sana, suara Poseidon terdengar makin dekat. Dia naik lagi!
"Tutup!"
Mereka berdua menancapkan Payung Agung itu tepat di tengah-tengah lubang—seperti menancapkan paku payung ke peta.
JLEB!
Saat ujung payung menyentuh tanah, payung itu mekar sendiri.
Krak... krak... krak...
Payung itu membesar, melebar, hingga menutupi seluruh diameter lubang. Kain kuningnya berubah menjadi batu emas. Gagangnya tumbuh ke bawah, menjadi akar tunggang yang menembus jauh ke dalam, mengejar Poseidon, dan memukul kepalanya kembali ke dasar.
DUM!
Tanah berhenti bergetar.
Lubang itu tertutup rapat oleh payung yang kini telah menjadi monumen batu emas berbentuk jamur raksasa.
Hening.
Benar-benar hening.
Ubur-ubur di langit sudah hilang. Karang-karang di jalanan mulai memutih dan rontok menjadi debu kapur. Air laut yang menggenang surut seketika, meresap kembali ke tanah.
Sekar jatuh terduduk, bersandar pada batang batu payung itu.
"Sudah?" tanyanya, suaranya parau.
Ratu Kidul mengangguk pelan. Ia duduk bersimpuh di atas pasir, merapikan rambutnya yang kusut.
"Sudah, Nduk. Dia sekarang ada di dalam sangkar naga, di bawah lapisan tanah makam, ditekan oleh payung raja. Dia tidak akan keluar sampai kiamat... atau sampai orang Jawa lupa caranya menghormati tanah."
Sekar mendongak menatap langit. Awan hitam mulai bubar. Bintang-bintang mulai terlihat. Salah satu bintang jatuh melintas.
Pangeran Suryo... batin Sekar pedih.
Kemenangan ini terasa hampa.
"Jangan sedih dulu," kata Ratu Kidul tiba-tiba, seolah membaca pikiran Sekar. Ratu bangkit berdiri, menatap ke arah tubuh kaku Pangeran Suryo yang masih tergeletak di pendopo yang hancur.
"Kenapa, Gusti?"
"Karena kamu lupa satu hal, Sekar," Ratu tersenyum misterius. "Kita baru saja menangkap Dewa Laut. Dan darah dewa... memiliki khasiat yang menarik."
Ratu berjalan mendekati mayat Pangeran. Di tangannya, ia memegang sebuah botol kecil.
"Tadi, saat Baru Klinting melukainya... aku sempat menampung sedikit tetesannya."
Sekar terbelalak. Harapan, yang tadi mati suri, tiba-tiba menyala kembali di dadanya.