NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:971
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak itu tak sejauh yang ia kira

Hari demi hari terurai dalam diam.

Kesibukan menjadi jarak yang tak kasatmata.

Naura tenggelam dalam ulangan semesternya, sementara Hamka berjuang menebus waktu lewat ujian-ujian yang menuntut fokus penuh. Helena tak lagi tinggal di rumah Naura; sejak kondisi Fariz membaik, gadis itu kembali ke rumahnya. Namun kepergiannya tak benar-benar pergi. Ia kerap muncul di sekolah Hamka, menunggu dengan alasan yang selalu berbeda, hanya agar bisa pulang di motor yang sama. Terlalu jelas jika Helena menyukai Hamka.

Hamka bukan tak peka ,ia hanya terlalu lelah untuk memedulikan. Pikirannya penuh: ujian, tanggung jawab, rasa bersalah karena bolos yang terpaksa. Ia tak ingin mengecewakan orang tuanya, tak ingin masa depannya retak oleh satu bab yang terlalu berat. Maka ia belajar lebih giat, mengejar universitas impian seolah itu satu-satunya pegangan.

Namun di sela-sela kesibukan itu, ada satu nama yang kerap menyusup tanpa izin. Tetangga yang dulu dekat, kini terasa asing. Naura. Hubungan mereka tak lagi gaduh oleh pertengkaran kecil atau canda yang kelewat batas yang ada justru sunyi. Dan Hamka sadar, ini bukan genjatan senjata lagi. Ini penarikan diri. Perlahan. Menyakitkan. Tanpa kata.

Edo heran pada temannya itu. Sejak lama ia tahu, bahkan semua orang tahu, perasaan Hamka pada tetangganya tak pernah benar-benar padam. Namun Hamka tetap bertahan pada penyangkalan yang rapi.

“Bukan urusan gue,” ucap Hamka datar, menutup bukunya sedikit lebih keras dari perlu.

Edo menatapnya lama, lalu menghela napas pelan. “Lo boleh bohong ke gue, Ka. Tapi jangan ke diri lo sendiri.”

Hamka tak menjawab. Pandangannya lurus ke depan, tapi pikirannya berantakan. Ia juga pernah melihatnya.Haikal mengantar Naura pulang, langkah mereka sejajar, tawa kecil yang tak dibuat-buat. Interaksi itu tak terlihat seperti sekadar teman satu eskul. Terlalu hangat. Terlalu terbiasa.

Ada sesuatu di dadanya yang mengencang setiap kali ingatan itu muncul. Rasa yang ingin ia singkirkan, tapi justru semakin menuntut diakui. Hamka tahu, ucapannya barusan hanya tameng. Karena di balik wajah datarnya, hatinya sedang gaduh..cemburu yang tak berhak, takut kehilangan yang tak berani ia akui.

***

Hujan datang pelan di sore hari, seolah langit tahu cara menenangkan lelah yang tak sempat diceritakan. Tetesnya jatuh satu-satu, membasuh debu, menghapus jejak langkah yang terlalu berat sejak pagi. Di balik rintiknya, ada kenangan yang ikut luruh tentang rindu yang tertahan, tentang doa yang tak sempat terucap. Sore itu, hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan pelukan sunyi bagi hati yang diam-diam ingin pulang.

Naura masih diam menunggu hujan mereda. Ia baru saja keluar dari supermarket setelah membeli keperluan bulanannya. Saat hujan mulai menyisakan rintik-rintik kecil, gadis itu akhirnya melangkah pergi. Ia tak ingin berlama-lama di sana karena waktu sudah semakin malam. Sialnya, ponselnya tertinggal, sehingga ia tak bisa memesan ojek online.

Untungnya, jarak dari supermarket ke rumahnya tak terlalu jauh. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, ia hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit.

Di tengah perjalanan, langkah Naura tiba-tiba terhenti. Sorot lampu motor dari belakang menyorot tubuhnya, bergerak pelan seolah mengikutinya. Naura tak berniat menoleh. Ia justru mempercepat langkah, jantungnya berdetak semakin kencang.

Motor itu semakin mendekat hingga membuat Naura tersentak. Tubuhnya bergetar, terlebih jalanan yang sepi menambah rasa takut yang merambat di dadanya.

“Naik!”

Hamka membuka helmnya.

Mata Naura membola, tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Ayo cepet, Naw,” ucap Hamka cemas. “Baju lo udah basah. Lo bisa masuk angin.”

Naura masih terpaku beberapa detik, dadanya naik turun menahan panik yang belum sepenuhnya reda. Tangannya mencengkeram tali tas lebih erat, matanya menatap Hamka yang kini berdiri di samping motor, wajahnya serius tapi sorot matanya penuh khawatir. Hujan menyisakan dingin yang merayap ke kulit, membuat tubuh Naura makin menggigil..entah karena cuaca atau karena kehadiran laki-laki itu yang datang terlalu tiba-tiba.

“Ngapain Lo di sini…?” suaranya nyaris bergetar.

Hamka tak menjawab panjang. Ia hanya melepas jaketnya, lalu menyampirkannya ke pundak Naura tanpa banyak tanya. “Jangan keras kepala. Ayo naik,” ucapnya lagi, tegas, seolah menolak segala kemungkinan bantahan.

Naura terdiam. Di tengah jalanan sepi dan lampu kota yang temaram, rasa takutnya perlahan luruh, digantikan perasaan hangat yang tak sempat ia pahami. Akhirnya ia mengangguk kecil, langkahnya mendekat. Saat ia naik ke motor itu, hujan kembali turun tipis dan untuk pertama kalinya malam itu, Naura merasa tak lagi sendirian.

Sepanjang perjalanan, tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka. Mesin motor berdengung pelan, berpadu dengan sisa hujan yang masih menetes dari daun-daun di pinggir jalan. Sunyi itu terasa aneh,bukan canggung, melainkan hangat, seolah keduanya sama-sama menikmati diam yang jarang bisa mereka bagi.

Dengan gerakan pelan dan hati-hati, Hamka menarik lengan Naura agar melingkar di perutnya. Ia tak menoleh, seakan memberi ruang bagi Naura untuk menolak jika tak berkenan. Namun Naura hanya menurut. Tak ada kata, tak ada gerakan menjauh. Tangannya justru mengerat sedikit, merasakan hangat tubuh Hamka yang menembus dinginnya malam.

Angin malam menyapu wajahnya, membawa sisa rasa takut yang perlahan memudar. Di balik helm, Naura menunduk, menyembunyikan degup jantung yang kian tak beraturan. Ia sadar, perjalanan itu tak hanya membawa dirinya pulang ke rumah tetapi juga membawa perasaan yang selama ini ia simpan rapi, makin mendekat ke permukaan.

Makasih,” ujar Naura pelan sambil menyerahkan jaket itu ke arah Hamka.

Laki-laki itu hanya mengangguk singkat. “Cepet ganti baju. Lo itu gampang masuk angin,” ucapnya datar, lalu berlalu, menuntun motornya masuk ke halaman rumah.

Ucapan sederhana itu justru membuat hati Naura menghangat. Meski nadanya terdengar dingin, perhatian Hamka terasa nyata tanpa perlu banyak kata atau penjelasan. Naura berdiri sejenak di teras, memandangi punggungnya yang menjauh.

Sudah lama sekali mereka tak saling banyak bicara. Namun malam itu, dalam sunyi dan sisa hujan yang belum sepenuhnya reda, Naura sadar bahwa jarak di antara mereka tak benar-benar sejauh yang ia kira.

Naura segera masuk ke dalam rumah, karena benar apa yang dikatakan Hamka—ia memang gampang masuk angin. Lima belas menit kemudian, ia sudah berganti dengan baju tidur yang hangat. Rambutnya masih sedikit lembap, tapi tubuhnya terasa jauh lebih nyaman.

Di atas meja belajarnya sudah terhidang secangkir teh yang masih mengepul, lengkap dengan camilan yang tadi ia beli. Naura duduk santai di kursinya, lalu meraih ponsel. Beberapa notifikasi masuk, dari Haikal dan juga Hamka.

Ia belum membuka pesan dari Haikal. Entah kenapa, jarinya justru lebih dulu menekan nama Hamka. Pesan itu terkirim sepuluh menit yang lalu.

Hamka: Jangan lupa mandi. Lo itu biasanya langsung ganti baju tanpa mandi dulu.

Naura berdecak pelan. Kenapa laki-laki itu malah mengungkit kebiasaan jeleknya?

Tanpa pikir panjang, Naura mengetik balasan.

Naura: Udah mandi.

Pesan itu terkirim. Naura meletakkan ponselnya kembali ke meja, namun sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!